The Thistle

The Thistle
5 - Tamu dari Nerdia Selatan



WinkGef sedang membaca buku BirdNerd Black saat


pelayannya memberitahunya bahwa ada seorang bangsawan dari Nerdia Selatan ingin


bertemu dengannya. WinkGef meminta pelayannya membawa tamu itu masuk ke ruang


kerjanya. Dan alangkah terkejutnya WinkGef begitu lelaki cebol bertubuh bulat


itu muncul di hadapannya. Tingginya sama dengan FayLinn.


”Selamat siang, Tuan Sprout, ” sapanya ramah.


”NixWatt ...”


WinkGef langsung mengangkat tubuh cebol di


hadapannya dan mengguncang-guncangkannya.


”Hentikan WinkGef ! Hentikan !” teriak NixWatt


seraya terbahak.


WinkGef tertawa terbahak-bahak. Sungguh dia tidak


menyangka sahabat di masa kecilnya itu akan datang mengunjunginya. NixWatt


meronta-ronta, tapi WinkGef tidak mempedulikannya. Dia malah memeluk NixWatt di


pinggangnya dan berputar-putar sambil terbahak, sementara NixWatt


berteriak-teriak ketakutan.


”Salah sendiri kau datang ke sini. Aku akan


memutarmu sampai kau tak sanggup lagi melihat Zinnia !”


NixWatt pun pasrah dengan perlakuan sahabatnya.


Percuma berteriak-teriak, hanya akan membuat WinkGef senang dan tidak akan


membuatnya berhenti. Namun, akhirnya WinkGef kelelahan, karena bobot NixWatt


tentu saja tidak seringan FayLinn.


”Kenapa ? Capek ?”


WinkGef pun menurunkan NixWatt. Nafasnya


terengah-engah, namun wajahnya kelihatan cerah. Senyum mengembang, menghiasi


wajah tampannya. Bajunya kusut masai, bahkan beberapa sulaman terlepas. NixWatt


terkekeh, sambil berusaha mengatasi rasa pusingnya.


”Aku senang melihat kau tersenyum, ” ucap NixWatt


setelah dia mampu berdiri kokoh, ”aku turut berduka cita atas ZinLinn. Dia


wanita yang baik.”


WinkGef mengangguk. Sejenak tadi dia lupa dengan


kesedihannya. NixWatt telah membangkitkan masa lalunya. Persahatan yang sudah


lama mereka jalin, sampai kemudian WinkGef menikah dan NixWatt pindah ke Nerdia


Selatan.


WinkGef memerintahkan pelayan yang sejak tadi


berdiri di pintu masuk ruang kerjanya, untuk menyiapkan hidangan makan siang


bersama NixWatt. Mereka berdua lalu duduk di meja bundar. WinkGef mengangkat


tubuh NixWatt dan meletakkannya di meja, sementara dia sendiri duduk di kursi


tak jauh dari NixWatt.


”Ah, kebiasaan jelek, ” ujar NixWatt, tapi


kegembiraan tampak jelas di wajahnya.


”Bagaimana kebun


Rouya-mu ?” tanya WinkGef bergairah. Sudah lama dia tidak mendengar kabar sobat cebol di hadapannya itu. Lelaki


yang menghilang di hari pernikahannya dengan ZinLinn, tanpa alasan.


WinkGef masih menyimpan pertanyaan itu sampai


sekarang. NixWatt adalah sahabatnya yang paling mendukung hubungannya dengan


ZinLinn, saat NotchWood melarangnya. Bahkan NixWatt sampai mengorbankan satu


BirdNerd-nya untuk menemui NotchWood di Hutan Rouya Biru. BirdNerd itu mati


dipukul NotchWood saking marahnya dia mengetahui bahwa WinkGef akan menikahi


ZinLinn.


”Aku tidak berkebun Rouya, ” sahut NixWatt.


WinkGef mengernyitkan kening dan mengamati rambut


hijau mengkilat NixWatt yang tertata rapi. Semerbak Rouya Hijau tercium jelas.


Sepertinya bercampur dengan aroma bunga Tier, bunga berkelopak satu yang


terkenal di Nerdia Selatan. NixWatt adalah orang yang paling malas merawat


rambut. Kini dia sudah berubah.


”Tidak semua bangsawan berkebun Rouya, ” ucap


NixWatt yang menangkap keheranan WinkGef, ”aku berdagang aneka Rouya dan


BirdNerd. Bisnis yang menguntungkan di Nerdia Selatan. Aku juga membuka tempat


khusus untuk merawat rambut dan bulu BirdNerd. ”


”Apa ? Tempat khusus untuk merawat rambut dan bulu


BirdNerd ? Apa orang mau membayar untuk itu ?”


”Tentu saja. Mereka tinggal datang dan para pegawaiku


akan merawat rambut mereka. Semunya dilakukan di Istal. Aku punya dua istal.


Rouya Hijau, Rouya Biru. ”


”Istal Rouya Biru ? Dari dulu kamu memang selalu


aneh, Nix.”


NixWatt terbahak. Semua orang menganggapnya gila saat


mendirikan Istal Rouya Biru, tapi justru tempat perawatan di sana paling ramai.


Bahkan WinkGef menyebutnya bunuh diri saat hendak mengajukan diri untuk


memberitahu NotchWood bahwa WinkGef akan menikahi ZinLinn. Dan memang, kabarnya


NixWatt berjalan kaki dari Hutan Rouya Hijau ke Nerdia Selatan. Sejak itu,


WinkGef tak pernah melihatnya lagi. Hanya suratnya datang beberapa kali.


”Kupikir kau sepandai diriku, tapi ternyata tidak.



WinkGef tertawa. Dia melirik ke luar jendela


ruangan dan pandangan matanya menangkap BirdNerd turun di halaman depan


rumahnya. FayLinn dan salah seorang pelayan baru datang dari Akademi. WinkGef


bangkit dari duduknya.


”Ada yang datang ?” tanya NixWatt.


”FayLinn. ”


”FayLinn ?”


”Anakku. Kau tidak akan percaya, dia begitu mirip


dengan ZinLinn. Ayo, kukenalkan kau padanya.”


NixWatt melompat dari atas meja dan mengikuti


langkah WinkGef. Baginya, langkah lelaki itu selalu lebih cepat dan lebih


lebar.


”FayLinn, ayah akan ....”


FayLinn tidak menggubris. Dia langsung lari


menaiki tangga, menuju kamarnya. Pelayannya segera menghampiri WinkGef.


”Maafkan Nona FayLinn, Tuan. Dia tadi sangat marah


karena Nona LouElla menegurnya. Nona FayLinn tidak mengerjakan tugasnya. ”


”Hm, aku akan bicara dengan dia nanti.”


Pelayan itu mengangguk dan naik ke kamar FayLinn.


WinkGef membalikkan badan dan melihat NixWatt menatapnya.


”Maaf bila dia belum sempat aku kenalkan.


Kepergian ZinLinn pukulan yang berat bagi dia. ”


”Tidak apa-apa, Wink. Aku ada di Nerdia beberapa


hari untuk urusan bisnis. Aku akan sering bertandang ke sini. ”


”Mengapa kau tidak tinggal di rumahku saja.”


”Tidak, terima kasih. Sebenarnya aku sudah


beberapa hari di Nerdia dan aku sudah menempati sebuah kamar di Istal terbesar


di Nerdia. Dari pemilik Istal itu aku mendengar tentang ZinLinn. ”


WinkGef mengangguk. Tak lama, NixWatt berpamitan.


Melihat NixWatt terbang bersama BirdNErd-nya, tiba-tiba perasaan aneh


menyelimuti WinkGef. Entah kenapa, dia tidak lagi percaya pada sahabatnya itu.


Bisnis perawatan rambut dan bulu BirdNerd adalah hal yang tak pernah


didengarnya. Kenapa NixWatt malah membuka bisnis di bidang yang dia sendiri


tidak menyukainya ? Merawat rambut.


OoO


NotchWood datang satu bulan setelah kematian


ZinLinn. Dia ingin mengajak FayLinn mengunjungi makam ibunya. WinkGef tidak


bisa banyak berkata-kata.


”Kurasa FayLinn sudah siap mengunjungi makam


ibunya, ” ucap NotchWood, ”dia berhak datang ke sana untuk melepas rindunya. ”


WinkGef mengangguk.


”Aku akan menyuruh salah seorang pelayan untuk


mendampinginya. ”


”Tidak perlu. Aku sendiri yang akan mengantarnya


pulang.”


WinkGef menatap NotchWood. Seperti biasa,


mertuanya itu selalu keras kepala. Tapi kali ini, WinkGef tidak ingin berseteru


denganya. Bagaimanapun, FayLinn memerlukan NotchWood. Lelaki yang bertalian


darah dengan ibunya. Mengalirkan darah asli Zinnia ke tubuhnya.


”Aku ingin menanyakan satu hal padamu, ” ucap


WikGef berhati-hati.


NotcWood memunggunginya. WinkGef tidak heran


dengan sikap mertuanya. Dari dulu, tak pernah dia bisa meraih hati lelaki tua


itu. Dia hanya bisa mendapatkan hati anaknya.


”Apa yang dikatakan NixWatt sewaktu dia datang ke


Rouya Hijau ?” tanya WinkGef, masih dengan kehati-hatian, ”kemarin dia datang


ke sini dan menyampaikan kesedihannya atas kepergian FayLinn. Aku sangat


menghormati dia. Dan aku menyesali kenapa dia sampai harus berjalan kaki ke


Nerdia Selatan, bahkan meninggalkan kebun Rouya-nya di sini.”


NotchWood tidak bergeming. Lama, suasana hening.


WinkGef pun tidak yakin akan mendapatkan jawaban.


”Kalau kau tidak berkenan menjawabnya, tidak


apa-apa. Tapi tolong bila bertemu dia, jangan kau bunuh lagi BirdNerd-nya. ”


”Aku tetap akan membunuh BirdNerd-nya. Meskipun


dia punya istal dengan BirdNerd di setiap rantingnya, aku akan membunuhnya


semua. ”


WinkGef terperangah. Dia tidak menyangka, ternyata


kejadian itu bukan saja karena pernikahannya dengan ZinLinn. Tapi kemarahan


sebesar itu, pastinya karena sesuatu yang lain. Apakah NixWatt telah berbohong


padanya lewat surat-suratnya selama ini, mengatakan bahwa selamanya NotchWood


tidak merestui pernikahannya dengan ZinLinn dan begitu murka karenanya.


”Apakah ...”


”Jangan sampai kau mengatakan di mana lelaki itu


sekarang. Atau aku akan menimbunnya dengan tanah Nerdia. ”


”NotchWood ...”


”Kalau kau menyayangi FayLinn, jangan dekati


lelaki itu lagi. ”


WinkGef menelan ludah. Mungkin, inilah sebab


kenapa perasaaan itu meresahkannya sejak kemarin. Bahwa hatinya berbisik untuk


tidak lagi mempercayai NixWatt, sahabatnya sejak di Akademi.


”Kakekkk !”


NotchWood membalikkan badan dan menjumpai FayLinn


berlari ke arahnya. Dia pun mengembangkan tangannya lebar-lebar dan FayLinn pun


menghambur ke pelukannya.


WinkGef tiba-tiba teringat kalimat yang pernah


ditulis NixWatt.


”Sampai


kapanpun, Zinnia asli tidak akan menerima keturunan manusia. Maka jangan berharap banyak pada lelaki tua


itu. Dia hanya akan menyusahkanmu.



”NotchWood, apa aku boleh ikut ?”


NotchWood menatap WinkGef. Dia tahu, lelaki di


hadapannya itu menyangsikan ketulusan hatinya. NotchWood tidak menjawab. Tapi


dia langsung menggendong FayLinn dan menaikannya ke BirdNerd miliknya. WinkGef


mengikutinya tanpa berkata-kata. Saat ini, dia harus menentukan siapa yang


harus dia percaya. NotchWood atau NixWatt.


OoO


FayLinn begitu gembira dengan perjalanan ke Nerdia


Timur. Sepanjang jalan, dia berceloteh tiada henti. Sesekali NotchWood terbahak


mendengar ceritanya. WinkGef hanya mengamati mereka dari BirdNerd-nya dan ikut


tersenyum melihat keceriaan kedua orang itu. Agar FayLinn tidak kelelahan, mereka


berhenti di dua Istal.


”Itu rumah kakek !” seru NotchWood seraya menunjuk


jauh ke cakrawala.


Warna biru langit hampir menyatu dengan warna biru


Hutan Rouya Biru.


”Hutan Rouya Biru !” pekik FayLinn gembira, ”rumah


ibu !”


WinkGef menatap Hutan Rouya Biru, dan ingatan


tentang ZinLinn kembali tergambar di pelupuk matanya. Saat dia pertama kali


bertemu dengannya, sungguh dia masih ingat getaran hangat di dadanya. Wanita


itu begitu sempurna baginya. Walau dia Zinnia sejati, dan pernikahan mereka


menuai kontroversi dari berbagai pihak, tapi saat itu WinkGef tak ingin


melepaskan ZinLinn. Walau dia harus mengundurkan diri dari Enya, walau tak


pernah mendapat keramahan NotchWood, walau harus kehilangan NixWatt. Kini semua


telah berakhir. Tinggal FayLinn yang harus dijaganya seumur hidupnya, untuk


mengenang ZinLinn.


BirdNerd WikGef


dan NotchWood mendarat tak jauh dari pondok NotchWood.


“Itu rumah


kakek, lebih jelek dari rumahmu, “ ucap NotchWood sembari menunjuk pondoknya


yang sudah berpintu.


“Itu rumah kakek ? Aku suka rumah kakek. Kecil.


Aku tidak perlu capek-capek naik tangga !”


melompat turun dan berlari menuju pondok NotchWood. Membuka pintunya perlahan


dan masuk dengan hati-hati.


”Ayah ! Ada gambar ibu !” teriak FayLinn.


WinkGef menatap


NotchWood, tak percaya. Ada gambar


ZinLinn ? Bagaimana mungkin ? Tidak ada yang menggambar raut wajah di Zinnia.


WinkGef bergegas turun dari BirdNerdnya dan setengah berlari masuk ke dalam


pondok.


FayLinn tengah berdiri di tengah pondok. Tidak ada


apa-apa di dalamnya. Tidak ada perabot apapun, kosong melompong. Hanya sebuah


tongkat setinggi FayLinn, berwarna biru yang tampak mengeluarkan air dari


ujungnya terus menerus. Tapi lantai pondok yang terbuat dari kayu sama sekali


tidak basah.  Air yang keluar dari ujung


tongkat itu membentuk sebuah bola air berwarna bening. Ada seraut wajah di


sana, sedang tersenyum.


”FayLinn ?”


”Ayah .. lihat, itu ibu.”


WinkGef mendekatkan wajahnya di bola air itu. Ada


wajah ZinLinn di sana, tersenyum. Wajahnya, rambutnya, semuanya biru. Senyumnya


masih indah dan manis seperti biasanya. Perlahan, WinkGef mendekatkan tangannya


ke arah bola itu dan berusaha menyentuh wajah ZinLinn.


”Jika kau melakukannya, kau tidak akan bisa


melihat dia lagi, ” ucap NotchWood tiba-tiba, membuat WinkGef menurunkan


tangannya.


”Bagaimana, bagaimana kau bisa membuat ini ?”


tanya WnkGef penasaran.


”Hanya Zinnia sejati yang biasa. Kami menyebutnya


bola kenangan. Kita menyimpan semua kenangan orang-orang yang sudah


meninggalkan kita di sana. Bila selain Zinnia sejati menyentuhnya, maka bola


itu akan hancur. Dan butuh waktu lama untuk membuatnya lagi. ”


WinkGef menatap bola itu dengan seksama. Ya, tak


mungkin manusia paling pandai di Nerdia mampu membuatnya. Bola air itu sungguh


fantastis.


”Kakek yang membuatnya ?” tanya FayLinn penuh rasa


ingin tahu, seraya membelalakkan bola matanya yang bulat dan indah.


”Tentu saja, sayang. Hanya kakek yang bisa


membuatnya. ”


”Dari apa kakek membuatnya ?”


”Dari air kesedihan dan kenangan kakek terhadap


ibu kamu. ”


”Bagaimana caranya ? Ajari aku, Kek !”


”Kau tidak akan bisa, Fay...”


”Ayolah, Kek ....” rengek FayLinn.


WinkGef meraih tangan FayLinn, lalu berjongkok di


hadapannya.


”Sayang, kamu harus sehebat kakek untuk bisa


membuat gambar ibu. Kau juga bisa membuat gambar ayah. ”


”Tapi ayah kan belum mati...”


NotchWood berdehem.


”Kita akan ke makam ZinLinn sebelum hari gelap.


Ayo. ”


NotchWood meninggalkan pondok. FayLinn masih berat


meninggalkan gambar ibunya.


”Fay, ayo. Sebentar lagi malam. ”


”Tunggu, Yah, ” pinta FayLinn.


Sejenak dia mendekati bola air itu dan memasukkan


tangannya ke dalam bola tersebut.


”Fay, jangan !”


WinkGef tertegun. Bola itu tidak hancur karena


sentuhan FayLinn. Mungkin karena dia masih keturunan Zinnia. FayLinn


mengelus-elus rambut ZinLinn dan juga pipi gambar wanita cantik itu.


”Aku sayang ibu, ” ucap FayLinn. Matanya membasah.


”FayLinn, ayo kita keluar !”


WinkGef menarik tangan FayLinn, sehingga keluar


dari bola air itu. Bola air itu tidak rusak. WinkGef bergegas menarik FayLinn


keluar pondok, dia tidak ingin NotchWood tidak lagi memberinya kesempatan untuk


datang ke pondok ini. Di sini ada ZinLinn yang telah mengobati kerinduannya.


OoO


NotchWood berjalan menyusuri sebuah jalan setapak,


masuk ke dalam Hutan Rouya Hijau. WinkGef mengikutinya seraya menggendong


FayLinn. Pemandangan di sekeliling mereka hanyalah biru dan biru. Pohon Rouya


Biru seperti pohon Rouya yang lainnya. Batang, daun dan buahnya biru. Namun


bila tumbuh dan berdesak-desakan di dalam hutan, Rouya Biru terasa begitu


indah. Seperti memasuki dunia yang berbeda. Tak banyak orang mau memasuki Hutan


Rouya Biru, sebuah kawasan hutan terluas di Nerdia Timur. Karena memang tidak


ada yang menyukai buah Rouya Biru yang terkenal pahit. Beberapa petani kadang


mengambil batang pohonnya untuk dijadikan pondok, tapi aromanya kurang


menyenangkan. Daun-daunnya yang panjang kerap digunakan untuk membuat kantong


air bagi orang sakit. Karena daun-daunnya berkhasiat untuk meredakan rasa


sakit.


”Aku suka hutan ini, ” ucap FayLinn seraya menatap


langit. Bahkan batas antara langit dan hutan tidak jelas terlihat.


”Jiwamu memang berasal dari sini, FayLinn, ” sahut


NotchWood.


WinkGef mendesah panjang. Ingatannya tentang


ZinLinn semakin kuat. Aroma Hutan Rouya Biru telah membantunya mengingat


semuanya.


”Di sana. ”


FayLinn dan WinkGef melihat ke arah yang ditunjuk


oleh NotchWood. Sebuah altar di kaki bukit. WinkGef ingat, di lereng bukit itu,


ZinLinn menyembuhkannya, sekaligus merajai hatinya.


NotchWood menyentuh altar yang terbuat dari batu


itu. Di atasnya berserakan bunga Rouya Biru.


”Ibu di dalam sini ?” tanya FayLinn, ikut-ikutan


menyentuh batu altar tersebut, yang tingginya setinggi pundaknya..


”Ya. Ibumu aku semayamkan di bawah batu ini. Dia


sangat menyukai bukit di atas sana. Di sana dia membangun sebuah goa, tempat


dia biasa bermain semenjak kecil. Ayahmu pernah naik ke goa itu.”


”Benarkah, Ayah ?”


WinkGef mengangguk dan mencium kening putrinya


haru. Semua hal di sini telah mengingatkannya pada ZinLinn, sehingga dia tidak


bisa berkata apa-apa lagi.


”Kakek, aku ingin ke goa ibu, ” pinta FayLinn.


NotchWood menggeleng dan berkata dengan sedih,


”Aku tidak pernah ke sana, Fay. Aku sudah berjanji pada ZinLinn. ”


”Ayah tidak berjanji seperti itu kan ? Ayah pasti


bisa mengantarku ke sana. Aku ingin bermain di goa ibu, seperti ibu dulu. ”


WinkGef melirik NotchWood yang hanya menunduk


menatap altar di hadapannya. Sejurus kemudian, dia bersiul dengan keras.


BirdNerd-nya datang dan kebingungan mencari tempat mendarat. Pohon-pohon itu


begitu besar dan tinggi. Satu-satunya tempat yang agak lapang adalah di sekitar


altar.


”Naiklah ke altar !” perintah NotchWood.


WinkGef naik ke atas altar dan BirdNerd-nya melihatnya,


maka dia pun menukik perlahan. WinkGef melompat dan tempatnya digantikan oleh


BirdNerd.


”Kalian saja yang ke sana, ” ucap NotchWood seraya


mengangkat FayLinn naik ke atas BirdNerd.


”Kakek harus ikut, aku tidak mau pergi tanpa


kakek, ” pinta FayLinn.


WinkGef diam, tidak memberi komentar. Dia yakin,


BirdNerd-nya mampu mengangkut tiga orang, apalagi FayLinn masih kecil. NotchWood


tampak ragu sejenak, tapi kemudaian dia menyusul WinkGef menaiki BirdNerd.


Dengan agak bersusah payah, BirdNerd WinkGef  membubung ke atas Hutan Rouya Biru dan


terbang menyusuri lereng bukit.


”Itu goanya !” seru WinkGef spontan begitu melihat


goa yang tampak tersembunyi di balik semak-semak.


BirdNerd turun perlahan, tepat di pintu goa. Ada


lereng yang sengaja dibuat mendatar, sepertinya memang untuk tempat mendarat


BirdNerd. WinkGef turun lebih dulu, diikuti NotchWood yang masih ragu. FayLinn


dalam gendongannya langsung melorot turun dan berlari masuk ke dalam goa.


Suasana goa itu masih tetap sama seperti dulu.


Beberapa batu yang disusun menjadi tempat duduk. Dinding-dinding yang berhias


sulur-sulur Rouya Biru. FayLinn paling bersemangat menyusuri dinding dan


mencari-cari sesuatu. Dia berharap ada benda milik ibunya tertinggal di sana.


Ada beberapa gambar Pohon Rouya yang diukir di dinding goa.


”Ayah, bukankah ini Pohon Rouya di rumah kita ?”


tanya FayLinn menunjukk ke sebuah gambar pohon di sudut goa.


WinkGef mendekat. Semua gambar tampak sama. Hanya


FayLinn yang berimajinasi gambar pohon itu adalah gambar pohon di rumahnya.


”Lihat, ada gambar bangku di bawah pohon. Dan


pohon yang satu ini, sepreti pohon di perkebunan. Ada ayunan milikku dan milik


ibu.”


WinkGef tertegun. Ucapan FayLinn benar. Gambar dua


pohon itu adalah gambar pohon milik mereka. Bahkan ayunan itu pun sama persis,


ada sebongkat batu besar di sampingnya. WinkGef tak pernah diijinkan oleh kedua


wanita terkasihnya untuk menaiki ayunan, maka dia hanya duduk menemani di


bongkah batu itu.


”Ibumu memang pandai menggambar, ” ucap WinkGef,


”ayah baru tahu.”


”ZinLinn tidak bisa menggambar, ” tukas NotchWood.


”Iya, ayah. Ibu tidak bisa menggambar, ” sahut


FayLinn.


”Lalu ? Siapa yang menggambar ini semua ?”


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan WinkGef.


Akhirnya, NotchWood dan WinkGef pun bersikap seperti FayLinn. Menelusuri


dinding goa, menikmati semua gambar yang terpampang di sana.


”Ada yang masuk ke goa ini selain ZinLinn, ” ucap


WinkGef, sambil mendekati NotchWood, ”seseorang yang menjemput ZinLinn saat dia


menolongku di goa ini. Siapa dia NotchWood ?”


NotchWood diam. Kebiasaan yang menyebalkan bagi


WinkGef, namun dia tidak mau memprotes.


”Ayah, ada gambar BirdNerd di sini. Tapi kenapa


warnanya hitam ya ?”


WinkGef dan NotchWood terperangah dan langsung


menghambur mendekati FayLinn.


Di hadapan mereka, ada gambar seekor BirdNerd


berwarna hitam sedang ditunggangi oleh sesorang yang memakai jubah bertudung


berwarna hitam pula. Wajahnya tidak kelihatan, hanya warna hitam samar-samar.


”BirdNerd Black, ” gumam WinkGef.


NotchWood terpaku di tempatnya. WinkGef berdiri di


hadapan NotchWood.


”Jadi, siapa dia sebenarnya ? Dan apa hubungannya


dengan ZinLinn ? NotchWod ?”


NotchWood memalingkan muka.


”Semula aku tidak percaya bahwa ZinLinn terkena


sihir BirdNerd Black. Tapi melihat ini semua, apa aku harus tidak percaya.


Katakan padaku, NotchWood. Siapa dia ? Mengapa dia membunuh ZinLinn !”


”Dia tidak membunuh ZinLinn !” sergah NotchWood.


NotchWood meninggalkan goa. Bertepuk tangan lima


kali dan tak lama kemudian BirdNerd putihnya datang. Dia meninggalkan WinkGef


dan ZinLinn begitu saja. WinkGef geram. Kini dia mulai tidak percaya pada


NotchWood. Lelaki itu selalu penuh rahasia.


”NixWatt, NotchWood. Siapa yang harus aku percaya


? Enya Moss ? Huh !”


WinkGef menghempaskan tubuhnya di sebuah batu


datar. FayLinn menghampirinya dan menyerahkan sesuatu. Buah Rouya Kuning yang


masih segar.


”Darimana kau dapat ini sayang ?”


”Tadi ada di lantai, di sudut sana. ”


WinkGef memeriksa buah itu. Masih segar. Buah


Rouya baru akan layu dua minggu setelah dipetik. Seseorang pasti baru saja


masuk ke goa ini dan tanpa sengaja menjatuhkannya. Pasti orang yang sama. Orang


yang menggambar dinding-dinding goa ini.


”Apa BirdNerd Black menyukai Rouya Kuning ?”


WinkGef termangu. Bintang Memra mulai tergelincir,


menuju senja. WinkGef bergegas mengajak FayLinn meninggalkan goa.


OoO