The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 9



Bab 9


DA*M IT!


Mimpi hanya sanggup menuliskannya saja. Dengan ukuran huruf sangat besar hingga bisa dibaca dari jarak sepuluh meter. Tapi buru-buru dia sembunyikan coretan itu di bawah tumpukan kertas kosong yang seharusnya dia isi dengan notula.


Mimpi mengatur napas yang mendadak susah dikendalikan. Mila benar-benar membuatnya geram. Perumpamaan yang Mila gunakan terhadap si A, anak perempuan yang terisolasi dari lingkungan dan tidak bisa bersosialisasi dengan baik....


Sial! Mimpi bahkan bisa mereka ulang kejadian beberapa menit lalu dengan sempurna!


“Selamat pagi, teman-teman. Saya Randu selaku moderator dari Kelompok 4 Sosiologi, akan memandu kalian untuk pembahasan materi tentang Perubahan Sosial.” Randu yang memiliki bakat public speaking yang baik, pandai berbicara di depan umum, cakap dan cakep. Meskipun, menurut Mimpi, kecakapan cowok itu tidak pada mata pelajaran dan cakepnya tidak memberi keuntungan bagi kelompok selain untuk dipajang dan ditugaskan sebagai pemandu diskusi. “Disebelah saya ada Karin selaku penyaji pertama.”


Karin berdiri setelah namanya disebutkan, memamerkan senyuman yang paling manis pada guru, lalu duduk kembali. Karin lumayan pintar, jagi mmebuat tampilan presentasi, dan rajin mengetik makalah. Siapa pun yang sekelompok dengannya akan berbahagia.


“Di sebelah Karin ada Mila yang selaku penyaji kedua.”


Mila pun melakukan yang sama dengan Karin, memamerkan senyuman yang paling manis. Si juara kelas yang sering dijuluki Miss Perfect karena segalanya harus sempurna. Bintang utama kelas XII IPS 3, bahkan satu sekolah.


Di sebelahnya ada bintang utama, yaitu aktris figuran. “Lalu ada Mimpinya. Notulis diskusi.”


Sewaktu namanya disebut, Mimpi berdiri secepatnya dan duduk lebih cepat lagi. Mendapat sorotan walaupun hanya kedipan mata, terasa janggal baginya. Dia berharap segera kembali ke tempat duduknya di ujung kelas. Apalagi mengingat poninya yang tidak tumbuh secepat kilat setelah apa yang dia lakukan kemarin.


Untungnya Randu mengambil alih atensi dan memoderasi jalannya diskusi. Pertama, Karin menjelaskan materi bagiannya. Mimpi hanya mencatat poinnya saja. Setelah itu sesi Kari selesai, Mila mengambil alih.


Sebenarnya Mimpi sudah terbiasa dengan gaya bicara Mila yang berlebihan. Mila selalu tampak berusaha mencitrakan dirinya terlihat pintar di depan publik. Padahal Mila memang lah cukup pintar. Bagi Mimpi, rasanya jadi aneh segala sesuatu yang berlebihan itu tidak menyenangkan.


“Di sini saya mengutip perkataan Robert Morrison yang menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.”


Mimpi mencatat nama yang disebutkan oleh Mila. .


“Menurut saya, perubahan ini bisa terjadi karena faktor internal dan eksternal. Saya akan memberikan contoh perubahan karena faktor internal. Misalnya, ada seorang siswi, yang mencoba beradaptasi di suatu kelompok sosial. Sebut saja dia si A. hubungan sosial yang berjalan normal bisa menjadi tidak normal ketika ada seseorang yang tidak bisa menjaga keseimbangan hubungan sosial. Contohnya? Si A tidak terlibat dalam interaksi sosial dalam kelompoknya. Si A cenderung menarik diri dari lingkungan dan tidak mau terlibat jauh dalam hal interaksi maupun sosialisasi. Si A menjadi aneh, menyedihkan, karena dia adalah...,” Mila berusaha menyembunyikan tawa, “produk sosialisasi yang gagal.”


Tangan Mimpi berhenti menulis ketika dia menyadari objek serangan Mila adalah... dirinya. Apalagi Mila sengaja menoleh ke arahnya sebelum mengakhiri kalimatnya. Seolah dia perlu menunjukkan bahwa, “iya, lo yang sekarang sedang gue bahas.”


Teman-teman di kelasnya pun mengulum senyum dan diam-diam tertawa. Meskipun begitu, itu tidak membuat Mila menghentikan penjelasan teori yang menakjubkan itu.


“Sesuai dengan teori Robert tentang sosiologi, bisa dikatakan bahwa kehadiran sosok A yang gagal dalam proses sosialisasinya bisa mengakibatkan perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.” Mila mengakhiri penjelasnnya dengan senyuman manis merekah di bibirnya.


Sementara Mimpi tahu bahwa senyuman itu lebih mirip seringaian. Mila menatapnya lagi, dan dibalas Mimpi dengan pandangan tak acuhnya.


Damn! Apa maksudnya Mila menjadikannya sebagai contoh perubahan sosial yang gagal?! tanganya sibuk menulis untuk meredam kedongkolannya atas teman satu kelompoknya itu. Mimpi tahu semua orang di ruangan ini melihat ke arahnya sekarang. Mereka tidak lagi peduli dengan poni dua sentimeter yang sempat jadi bahan ghibahan akun gosip sekolah, tetapi mereka peduli dengan reakasi Mimpi atas ucapan Mila barusan.


Selama ini Mimpi tidak punya masalah dengan Mila atau siapa pun terhadap kelasnya. Mengapa teman sekelompoknya itu menganggapnya gagal dalam proses bersosialisasi? Bukankah mereka yang tidak melibatkan Mimpi dalam pekerjaan kelompok selain memberi tugas receh macam jadi notulis?


Apa jangan-jangan Bangun mengadukan insiden tabrakan kemarin sehingga Mila tega melakukan ini padanya?


Mimpi tidak lahi peduli dengan kelanjutan ucapan Mila. Dia mengarahkan fokus sebagai notulis ketika Randu membuka sesi tanya jawab. Ditutupnya kertas bertuliskan umpatan itu dengan kertas baru, lalu dia mulai menuliskan segala pertanyaan dan jawaban.


“Jangan lupa untuk mengumpulkan hasil diskusi hari ini juga di meja Ibu di ruang guru,” kata guru Sosiologi saat kelas berakhir.


Jam pelajaran kedua kosong, yang diumumkan oleh ketua kelas karena guru tidak dapat hadir dikarenakan mengikuti pelatihan. Beliau meninggalkan tugas, tapi sebenarnya sudah Mimpi kerjakan, jadi, tak ada alasan bagi Mimpi untuk tetap berada di dalam kelas. Apalagi dia tidak tahan setiap kali ada yang berbisik sambil memperhatikan, menoleh terhadap dirinya.


“Mimpi!”


Mimpi hampir melewati pintu kelas saat seseorang memanggilnya namanya dengan lantang.


“Randu,” Mimpi berbisik. “Ada apa?”


“Lo mau ke mana? Noyula tadi udah kelar?”


Mimpi menjawab, tapi mungkin suaranya terdengar pelan sehingga Randu meminta dia mengulang kalimatnya.


“Gue ngelarin notula di perpus,” ucapnya dengan suara yang lebih keras.


“Jadi lo tau harus cari gue di mana. Tapi biar gue sendiri yang mengumpulkan ke ruang guru.”


Tanpa menunggu reaksi dan jawaban dari Randu, Mimpi langsung pergi meninggalkan Randu.


‘LIhat, nah, lihat kan, barusan, aku bersosialisasi? Aku berhasil mematahkan teori brilian Mila tentang aku. Tapi sejak kapan aku membutuhkan pembuktian atas apa yang orang lain pikirkan tentangku,’ gumamnya di hati.


...****************...


kadang menyebalkan si kalau punya temen yang suka satire gitu apalagi satu kelompok aaaa......


memojokkan yg dia gak tau, kalau kita bukan produk gagal bersosialisasi woi, Mila tolong...!!


Jan lupa tinggalkan jejak yaw,


:)


selamat membaca!