
Bab 32
Tak ada rasa senang di dirinya selain rasa benci. Dan itu hampir ke semua orang. Sungguh matanya tak mau terpejam, Bangun beranjak dari ranjangnya dan melihat ke sisi tembok putih dekat pintu. Dia mulai menggerakkan tangannya dan kuas pun bergerak sesuai arahan tangannya. Dia mulai melukis. Dia meneumkan ketenangan dengan melukis.
Sebagai teritorial di rumah, di sana Bangun mengurung diri dari kebisingan dunia luar. Tak seorang pun teman yang ia izinkan masuk ke kamarnya.
Lukisan yang baru saja dikerjakannya membentuk seorang cewek tampak samping, rambut dicepol ke atas, berponi seperti mi instan yang entah sejak kapan terlihat menggemaskan, kacamata berbingkai besar seperti kucing menghiasi wajahnya. Bahunya tidak tegap, seolah dia gentar untuk menghadapi dunia. Pandangannya menunduk pada benda di kedua tangannya. Yang menandakan ia sedang membaca sebuah buku.
“Bangun... Nak...”
Bangun mendengar suara Bunda dari balik pintu. Bangun membuka pintu kamarnya, membiarkan Bunda masuk ke dalam. Dia merasa sedikit beruntung telah melukiskan sosok Mimpi di balik pintu, hingga Bunda tak langsung menyadarinya.
“Makan malam sudah siap. Ayo kita makan dulu.”
“Gak lapar, Bunda,” kata Bangun.
Bunda menatap Bangun dengan lembut. “Barusan Nanda ada kemari, tapi sudah pulang,” kata Bunda memberitahu.
Bangun kaget, tapi berhasil disembunyikannya. “Ngapain?” Suara Bangun terdengar lebih ketus dari yang dia maksud.
“Dia nyari Bunda. Katanya kangen sama Bunda. Makanya Bunda gak panggil kamu buat turun ke bawah.” Bunda tersenyum hangat yang melunturkan kekesalan Bangun.
“Nanda juga tanya Miko. Bunda ceritain aja kalau Miko ada di kuburan belakang di bawah pohon jambu. Katanya, ‘Banyak banget yang Nanda lewatkan selama ini.’”
Miko adalah kucing Bangun yang mati keracunan sembilan bulan yang lalu. Usut punya usut, Bangun menemukan bukti bahwa seorang ibu-ibu, tetangga satu blok dari rumahnya, meracuni kucing ras itu. Dua hari kemudian, tembok rumah tetangganya itu penuh dengan coretan kata-kata kasar dengan cat semprot.
“Bangun,” Bunda kembali menatap lekat wajah Bangun. “Bunda tahu kamu ada masalah sama Nanda. Bunda gak mau ikut campur. Bunda cuma pengin ngomong sama kamu. Kalau kamu punya masalah dengan siapa pun itu, selesaikan, bicarakan. Persoalan gak bakal kelar kalau kalian cuma saling diam tanpa bicara.”
Bangun dan Nanda sudah mengobrol dengan mediasi teman-temannya. Meskipun obrolan siang itu ditinggalkan begitu saja oleh Bangun.
“Kamu lapar?” tanya Bunda lagi.
“Iya, Bunda.” Akhirnya Bangun mengekori Bunda menuju ruang makan. Hanya mereka berdua yang ada di rumah ini. Dia tidak tega membiarkan Bunda makan malam sendirian.
Begitu makan malam selesai, Bangun kembali ke kamar. Lukisan Mimpi masih ada di dinding. Sebuah pemikiran untuk menggoda Mimpi pun muncul. Walaupun itu hanya terbesit dipikirannya saat ini.
...****************...
Bangun masih menunggu cewek itu datang. Padahal sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Sepertinya Mimpi tidak akan muncul. Bangun berbalik, dia akan ke kantin atau ke kelas. Namun, tak disangka seseorang berdiri di belakangnya, berjarak beberapa langkah dari dirinya berdiri. Bangun pun tersenyum karena penantiannya tidak sia-sia.
“Hai,” sapa Bangun.
“Hai,” balas Mimpi.
Bangun dan Mimpi sama-sama merasa aneh bertemu seperti itu. Kecanggungan mereka bertahan cukup lama hingga akhirnya Mimpi menyerahkan sebuah buku untuk Bangun.
“Ini harus bener-bener dibaca,” ucap Mimpi.
Bangun menerima sebuah buku bersampul putih. Bukan putih warna sampul bukunya, tapi ini seperti..., “Lo bungkus dengan kertas minyak?”
“Supaya lo gak nge-judge buku itu dari covernya.”
Bangun merasa tak perlu membuka isinya untuk tahu itu buku apa. Sejujurnya, dia sudah bisa menebak, tapi dia buka juga.
“Gue cuma pengin lo keluar dari ketakutan lo sama buku,” kata Mimpi.
“Hahaha...” Mimpi tertawa.
Tawa Mimpi terdengar aneh di telinga Bangun.
“Lo gak berhutang apa-apa sama gue. Dan lagi gue gak kesepian, enak aja!” kilah Mimpi. “Lo gak akan mungkin bisa berhasil merubah gue.”
“Kenapa?” tanya Bangun heran.
“Lo gak bakal bisa, karena gue yang gak bakal pernah mau.” Mimpi membalikkan badannya, bersiap untuk pergi ke kelasnya.
“Dah, bad boy,” ucap Mimpi pelan.
“Sampai ketemu... besok?”
“Sampai ketemu lagi kalau lo sudah kelar baca bukunya.” Mimpi menjawab tanpa berpaling menghadap ke arah Bangun.
“Gue tetap berhutang sama lo, buat narik lo, Mimpi,” kata Bangun.
“Gue gak akan buat lo sendirian lagi!” lanjutnya.
Ketika Mimpi berbelok di sudut koridor, dia tak tampak lagi di pandangan mata Bangun. Namun, cowok itu yakin Mimpi mendengar semua yang dikatakannya.
Dia menatap buku yang ada ditangannya. Mimpi tak perlu memberikan buku yang membuatnya trauma agar menarik diri Bangun keluar dari trauma yang dia alami. Karena Mimpi sendiri sudah banyak berkontribusi untuk memberikan perubahan dalam hidupnya. Bahkan selama sendirian di ruangan rahasia, Bangun sesekali membuka buku. Sedikit demi sedikit Bangun belajar agar bisa kembali membaca tanpa harus pingsan atau diganggu bayangan yang selalu muncul di dalam pikirannya yang mengakibatkan delusi sesaat. Usahanya itu pun punya satu alasan agar dia bisa membaca buku bersama dengan cewek itu.
...****************...
Bangun Ganteng
Mimpi, sorry...
Sebuah notifikasi WhatsApp dari Bangun untuk Mimpi. Hanya saja tak mendapat balasan dari sang empunya penerima pesan. Terlihat bahwa centang biru menghiasi chat yang menandakan Mimpi telah membaca pesan itu.
Mimpi ingin mengeblok nomor ponsel Bangun, tapi dia mengurungkan niatnya.
Mimpi menyadari bahwa Bangun tak bersalah apa-apa atas kejadian yang menimpa dirinya, tapi amarahnya membutuhkan lampiasan. Dia bisa saja mengalamatkan amarah itu kepada admin lambe-lambean yang dimiliki sekolahnya itu. Tapi mereka sama gaibnya dengan makhluk halus pengganggu. Energi Mimpi terkuras habis untuk dirinya sendiri. Kemarahannya kepada Bangun hanya sanggup dia tunjukkan dengan mengabaikan cowok itu, baik melalui chat WhatsApp bahkan direk pesan melalui Instagram. Bagi Bangun yang merasakan hal itu, pengabaian lebih menyakitkan ketimbang Mimpi berteriak marah atau memukuli dirinya.
Flash back on.
Unggahan foto terbaru dari lambe-lambean sekolah SMA Tunas Jaya di laman Instagram yang menampilkan foto Mimpi memberikan sebuah buku kepada Bangun. Yang diambil secara diam-diam dari mata-mata atau kontributor akun lambe sekolah. Seketika segalanya menjadi runyam karena foto itu. Belasan, mungkin puluhan, akun yang mengirimkan pesan pribadi ke Instagram Mimpi sebelum memblokir akun Instagram milik Bangun. Tentu saja ia tahu akun anonim yang mencecarnya. Mimpi sungguh bergidik ngeri membaca satu per satu pesan itu. Dia dikata-katai dengan perkataan yang sangat tidak pantas dan sebagainya. Tanpa berpikir panjang, Mimpi tahu banjir teror itu pasti ada hubungannya dengan akun lambe sekolah SMA Tunas Jaya yang baru saja mengunggah foto itu.
Tidak ada besok untuk pertemuan antara Bangun dan Mimpi. Bahkan untuk besoknya lagi, atau mungkin selamanya. Tidak. Amarahnya seketika mengepul bagai abu vulkanik yang siap meledak. Bagaimana bisa kejadian tersebut terekspos? Mimpi benar-benar kesal.
Dilihatnya lagi postingan itu dan menuju ke laman komentar yang membanjir. Sudah pasti isinya bakalan menyakiti hatinya apabila ia membacanya. Astaga, Mimpi sungguh benci akun lambe itu. Dia membenci semua yang mendukung akun lambe itu bahkan yang mengunggah foto dirinya. Sia-sia selama ini Mimpi berusaha menjadi anak biasa-biasa saja yang tidak akan pernah menjadi sorotan publik. Dengan satu ketukan saja, ia memblokir akun Bangun yang berteman dengan dirinya di Instagram. Pada akhirnya, karena Bangun, dia kembali tersorot banyak orang.
Sepanjang malam Mimpi tidak bisa tidur memikirkan nasibnya besok.
...****************...
kalau ada typo, ya maaf. kadang aneh padahal udah ngetik pake keyboard dan udah dicek malah banyak yang typo. kek bab sebelumnya. :/ Dilayar besar aman tak ada typo pas dibaca banyak typo. kadang Gedeg sendiri 🤣
selamat membaca ❣️