The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 33



Bab 33


Serius! Ini jauh lebih buruk ketimbang saat Mimpi disorot karena poni anehnya itu. Ini juah lebih mengerikan dengan tatapan-tapanan yang penasaran dan tak sedikit menghujat jatuh kepadanya sejak Mimpi memasuki gerbang sekolah. Sesampainya di kelas, pandangan dan tatapan meremehkan masih saja menghampirinya.


Mimpi pun tak mau kalah. Ia juga menatap balik orang-orang menatapnya sinis. Mereka hanya berani di media sosial, tapi penakut untuk menyerang langsung secara face to face.


Kecuali Mila. Dia duduk di bangku Mimpi dengan posisinya yang sudah siap menghakimi dan mencari kebenaran akan hal itu. Mila yang melihat Mimpi berjalan menuju ke arah bangkunya, dan saat itu dia langsung mencerca Mimpi dengan tuduhannya.


“Oh, jadi ini cewek yang dekat sama Bangun Adhiguna?” tanya Mila. Cewek itu memindai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu berhenti lama pada poni yang dimiliki Mimpi.


Mimpi hanya membalas ucapan itu dengan tatapan datar. Dia sudah menduganya akan ada drama yang di alaminya pagi ini di sekolah. Dia hanya diam saja dan tak ingin membuang energinya untuk Mila.


“Heh, jawab dong kalau orang ngomong!” Mila geram karena pengabaian yang dilakukan oleh Mimpi.


“Bukan urusan lo!” Mimpi mencibir dan datar.


“Oh, jadi lo emang deket ya sama Bangun?” Mila berpura-pura berpikir. “Tapi aneh, ya. Kenapa Bangun sendiri bilang ke gue kalau itu gak benar?”


“Maksud lo apa?” tanya Mimpi yang terpancing.


“Baca aja sendiri chat gue sama Bangun. Katanya, lo bukan siapa-siapa. Cuma cewek yang kebetulan pernah bantu dia doang. Dan kayaknya lo ngarep lebih sama dia, deh.” Mila meninggikan suaranya agar seluruh siswa dan siswi yang berada dalam kelasnya itu mendengar pernyataan Mila barusan.


Mila tak ingin hanya ngomong belaka. Ia pun memperlihatkan layar ponselnya.


Mimpi hanya melihat sekilas, berusaha tidak kepo untuk membacanya. Namun, sejujurnya, dia juga penasaran. Dia membaca sebaris kalimat yang menyakitkan. Mimpi pun mengabaikan perasaan yang muncul seketika di hatinya.


“Ini bangku gue. Lo pergi sana!” kata Mimpi. Tangannya sudah berkeringat mencengkram tas ransel dengan kuat.


Mila masih saja bertahan di sana beberapa detik, sebelum dia benar-benar beranjak dari bangku tempat Mimpi. Dia merasakan sekelebat kemarahan yang terpampang nyata di wajahnya Mimpi. Seketika itu dia beranjak pergi kembali ke tempat duduknya.


Mimpi sungguh emosi dengan kelakuan Mila terhadapnya. Ia menghempaskan tas ranselnya di atas meja dengan keras. Ia pun membenamkan wajahnya di dalam lengannya. Dia sudah lelah dengan semua ini, baik siapa pun yang kasak-kusuk membicarakan dirinya, dia tetap tidak peduli.


...****************...


Setelah bel berbunyi yang menandakan jam istirahat pertama berbunyi, Bangun menelepon Mimpi ke nomor WhatsAppnya. Mimpi sedang di menuju ruangan rahasianya. Dia membiarkan getaran itu beberapa saat hingga mati dan berbunyi lagi sampai tiga kali. Lelah dengan itu, ia pun mengangkat telpon dari Bangun juga.


Dengan ketus, Mimpi langsung menjawab, “APA?!”


“Gue minta maaf,” ucap Bangun melemah.


Di telinga Mimpi, kata yang terucap dari Bangun itu tulus. Perasaan bimbang yang muncul di hati Mimpi sebelum membalas ucapan Bangun. Setelah itu ia mengambil napas panjang, dan mulai mengularkan suara.


Mimpi tak memerdulikan lagi, dia langsung berjalan cepat, menghindari siswa dan siswi yang berpapasan dengannya. Mengabaikan suara yang saling berbisik antara satu dan lainnya.


Jika memang yang dikatakan oleh Mila benar, selama ini Bangun hanya menganggap dirinya cewek yang pernah membantunya, kenapa rasanya sakit saat memikirkan itu.


Perasaan sedih yang seketika itu muncul tanpa permisi. Sungguh Mimpi tidak bisa menahan itu. Satu hal yang dia inginkan sekarang hanyalah ruang yang sunyi, yang dapat menenangkan dirinya dan perasaaan yang berkabut di hatinya.


...****************...


Tidak hanya Mimpi yang terpuruk semenjak postingan itu ditersebar. Belum selesai permasalahannya dengan Nanda maupun anggota The Huruhara, Bangun mendapatkan masalah baru yang harus dihadapinya.


Bangun sadar, ia telah menyeret Mimpi dalam permasalahan besar. Dia secara tak langsung membuat Mimpi terjebak karena meminta pertemuan mereka di luar ruangan. Bangun berada di ruang terbuka otomatis membawa para pengghibah yang telah menguntitnya. Jadi, kemarahan Mimpi kepadanya bisa dia maklumi. Mimpi berhak marah. Cewek itu sungguh terjebak dalam sesuatu yang sangat dibencinya yaitu menjadi sorotan.


Bangun berusaha untuk meminta maaf kepada Mimpi yang berkali-kali diabaikan. Bahkan melalui whatsapp tak pernah dibalas oleh cewek itu. Akun instagramnya pun di blokir. Sia-sia usahanya.


Bukan harapannya yang datang, justru pesan dari Mila-lah yang muncul di laman whatsappnya. Cewek itu muncul untuk sesuatu yang tak ada hubungannya dengan dirinya. Mila mengirimkan pesan yang berisikan ejekan kepada Bangun yang mengucapkan bahwa selera Bangun yang turun level. Tak seperti dirinya yang cantik dan pintar. Emm, lumayan pintar.


Mila


“Wow, putus dari gue, selera lo turun ya, Bangun.”


Bangun pun membalas,


“Kenapa? Cemburu ya?”


Mila


“Cemburu? Yang bener aja cemburu sama cewek kek dia? Enggak banget...”


Bangun geram dengan apa yang dibahas oleh Mila. Ingin tahu kehidupan dan terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain dengan adanya tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Bangun hanya membalas keseluruhan chat dari Mila dengan sebuah pernyataan. “Jangan ganggu urusan hidup gue!”


Sungguh, Bangun tak habis pikir kenapa orang-orang dengan senang hati menuduh dan melebeli Mimpi dengan cewek aneh, kuper, asosial, atau padanan lainnya. Ego Bangun tersenggol karena sindiran Mila. Satu sisi ingin menolak tuduhan itu, sisi lain hatinya menunjukkan bahwa dia memang memiliki perasaan lebih untuk Mimpi.


...****************...


selamat membaca ❣️


terima kasih sudah mendukung.