
Bab 27
Di detik-detik terakhir Mimpi justru mengemas barang-barangnya ke dalam tas, dan berjalan cepat melewati taman menuju ruang rahasianya.
Sifat impulsif yang dimiliki Mimpi kambuh.
Dia mengatur napasnya yang tersengal karena berjalan cepat dan suntikan adrenalin memacu tubuhnya. Mimpi membuka pintu gudang dengan tangan yang masih gemetar. Pintu terbuka, dia melihat sosok Bangun yang sedang membuat sesuatu di dinding ruangan itu.
Bangun mematung beberapa saat melihat sosok yang muncul di hadapannya secara tiba-tiba, sebelum menyambut Mimpi dengan sumringah di wajahnya dengan berlebihan.
Masih napas yang ngos-ngosan, Mimpi mengungkapkan keinginannya, “Gue mau ikut... bolos..., asal lo mau menjawab pertanyaan fakta tentang lo hari ini. Bukan cuma one fact, tapi...” Mimpi berusaha meredakan gemuruh di dadanya. Apa alasannya hanya untuk memenuhi tantangan membolos dari Bangun? Atau dia memang ingin mengenal Bangun Adhiguna lebih jauh? Mimpi tidak tahu mengapa dirinya melakukan hal itu.
Bangun segera bergegas menutup kaleng cat dan merapikan barang-barangnya. Setelah itu, mereka berdua bergegas pergi ke tembok belakang, akses Bangun yang biasanya keluar-masuk sekolah dengan bebas. Tembok belakang itu berada di ujung berlainan dengan ruangan rahasia Mimpi. Pantas saja mereka tak pernah bersinggungan selama masa pelarian diri masing-masing.
Apa yang sedang aku lakukan sekarang? Mimpi membatin dengan perbuatannya kali ini.
Sementara itu, Bangun sudah berhenti di depan pohon trembesi yang paling dekat dengan tembok. “Pernah manjat pohon?” Bangun bertanya.
Mimpi hanya menggeleng pelan seraya meneliti pohon yang ada di depannya.
Bangun terkekeh mendengar itu. “Masa kecil lo kurang bahagia.”
Meskipun kenyataan masa kecil Mimpi kurang bahagia, Mimpi tak merasa ditonjok dengan ucapan Bangun kepadanya. Dia justru tertawa.
“Kesiniin tas lo,” kata Bangun.
Mimpi menyerahkan tasnya, sedangkan Bangun memakai ransel kecil di depan. Sementara ranselnya sendiri berada di punggung. Pemandangan yang membuat Mimpi menahan senyumannya lama.
“Lihat gue!” titah Bangun.
Bangun memberikan tutorial memanjat pohon secara langsung agar Mimpi menginjak dahan ini dan mencengkeram batang itu. Begitu terus sampai Bangun berhasil ke puncak tembok.
“Ayo buruan naik!” ucap cowok itu. “Kalau lo berubah pikiran, tas lo gue sita,” ucapnya dengan seringai.
Merasa mendapat tantangan, Mimpi segera mendekatkan diri ke arah pohon itu. Untung saja dia masih mengenakan seragam sekolah.
Mimpi mulai memanjat, menepis kekhawatiran apakah dirinya akan terjatuh, atau bagaimana jika ada guru yang menangkap basah kelakuannya itu. Dia mengikuti instruksi yang diberikan Bangun tadi. Semakin lama, semakin tinggi, hingga akhirnya dia menyejajari posisi Bangun.
“Sekarang, kita turun. Lihat gue lagi. Pegang dahan yang gue pegang. Bergerak ke cabang yang gue pijak,” perintahnya.
Bangun melakukan aksinya itu untuk turun dari tembok dengan berpindah ke dahan pohon di arena luar sekolah. Dan setelah cowok itu mempraktikannya, Mimi mengekori di belakang Bangun.
Tindakan yang dilakukan Mimpi setelah mengikuti tutorial dari Bangun ternyata berhasil.
“Woaa!” Mimpi memekik bahagia saat kakinya menapaki tanah. Dia tertawa, menertawai rasa takut yang tadi sempat menyelubungi pikiran serta tubuhnya. Dia juga menertawai keberaniannya untuk berbuat nekat.
Bangun menepuk pundak Mimpi, seolah mengesahkan membolos adalah perbuatan yang terpuji yang patut dibanggakan.
“Gak sia-sia gue kasih lo tutorial. Hebat,” pujinya. “Temen gue ada yang gak berani manjat pohon, jadi gue kudu pasang tali tambang biar mereka bisa keluar,” jelas Bangun.
“Terus, talinya mana?” tanya Mimpi.
“Sudah dicopot sama Pak Burhan.”
“Nih, tas lo.” Lanjut Bangun menyerahkan tas ransel Mimpi yang dibawanya tadi.
Mereka berjalan bersisian, menyeberangi jalan kecil, lalu memutar menuju jalan utama. Mimpi mengekori Bangun hingga mereka berdua sampai di kafe yang biasa Bangun nongkrong. Cowok itu tersenyum kepada satpam sekalian tukang parkir.
“Sama siapa tuh? Cewek baru?” celetuk pria berusia sekitar tiga puluhan tahun. Dia membantu Bangun mengeluarkan sepeda motornya. Bangun meringis menanggapi, sedangkan Mimpi memasang ekspresi yang dia juga tak tahu harus bagaimana.
“Pinjamin dia helm, dong Bang. Yang wangi, jangan yang bau apek, ya...,” ucap Bangun.
Pria itu terkekeh mendengar permintaan Bangun sambil menyorongkan helm kepada Mimpi, yang langsung dibalas cewek itu dengan senyuman canggung dan anggukan kepala.
“Naik aja!” seru Bangun.
Bangun menepuk jok motor tepat di bagian belakang hingga Mimpi naik ke sepeda motor, lalu keduanya melaju ke jalanan. Mimpi sendiri masih bertanya-tanya akan ke mana mereka sepagi ini. Ia mengecek arlojinya, baru pukul sembilan lewat sepuluh menit.
Mimpi memegang erat bagian belakang sepeda motor besar itu. Dia tidak memeluk Bangun atau sekadar memegang jaket cowok itu. Lagi pula, Mimpi mau dibawa ke mana oleh Bangun?
Mimpi masih berpikir ke mana mereka akan pergi. Karena tempat pusat perbelanjaan belum buka dikarena kan masih jam sembilan pagi.
Muncul suatu dugaan baru di pikiran Mimpi.
“Kita ke Ragunan?” tanya Mimpi. Dari bayak tempat kencan romantis di buku yang pernah dibacanya, kebun binatang tidak termasuk lima daftar favorit teratas. Eh, tunggu, kok kencan? Astaga.
Begitu sampai di area parkir, Mimpi segera turun dan melepaskan helm yang merekat di kepalanya. Bangun membuka helm dan meletakkan di atas motornya sambil mengambil helm yang disodorkan ke arah Bangun untuk dikaitkan ke atas motornya. Bangun menyaksikan wajah Mimpi yang lucu atau menggemaskan.
Mimpi hanya terbengong, bingung. Bingung dengan pilihan Bangun yan memilih kebun binatang untuk bolos.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Mimpi penasaran.
“Mengunjungi nenek moyang. Biar dikata kurang ajar sama nenek moyang!” jawab Bangun.
Mimpi semakin gemas yang menyerempet dengan kesal. Dia menggembungkan pipinya, lalu mengikuti Bangun yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. “Apa ini bagian dari tugas yang diberikan sama Bu Aini kemarin?” Mimpi masih saja penasaran dengan Bangun.
Bangun hanya berdehem untuk memberikan jawaban kepada Mimpi. Dimasukkannya tangan ke saku celana abu-abu itu.
“Gak jelas banget!” Mimpi berucap.
Kemudian, Bangun berbalik tiba-tiba. Nyaris saja keduanya bertabrakkan jika saja Mimpi tidak cepat mundur dua langkah dari posisinya saat itu.
“Jangan banyak mikir, deh. Gak baik buat kesehatan jiwa dan raga,” ungkap Bangun, lalu dia berbalik lagi menatap jalanan lurus.
“Lo bisa naik sepeda?” tanya Bangun tiba-tiba.
“Ya bisa lah!” jawab Mimpi ketus. “Memangnya mau pakai sepeda?” tanyanya lagi.
Bangun tak menjawab pertanyaan Mimpi, dia hanya berjalan menuju tempat penyewaan sepeda. Mereka menyewa dua sepeda. Mimpi mulai mengayuh sepedanya, berusaha untuk mendahului cowok yang ada di depannya saat ini. Tapi cowok itu selalu saja usil, berusaha membuat Mimpi hampir terjatuh dengan pura-pura menabrak. Keduanya sesekali berhenti untuk melihat binatang yang mereka lewati sambil mengambil potret dari kamera ponsel.
“Lo gak mau foto sama komodo? Atau gajah? Atau beruang?” tawar Bangun yang melihat Mimpi asyik mengarahkan ponselnya ke salah satu binatang yang ada di hadapannya.
“Gak. Lo aja sana foto sama kembaran lo,” sahut Mimpi ketus.
“Siapa kembaran gue?”
“Noh, buaya kan?” Sambil melirik ke arah Bangun.
Bangun tergelak. “Ya udah, kita cari di mana lokasi buaya.” alih-alih menunggu tanggapan cewek itu, Bangun dan sepedanya sudah berjalan pergi meninggalkan Mimpi.
Mimpi mendengus kesal setelah ditinggalkan oleh Bangun. Ingin rasanya berpisah dan menikmati sendiri-sendiri, tapi di urunkannya niatnya itu. Ia pun mengikuti ke mana arah Bangun berjalan.
Bangun benar-benar mewujudkan apa yang dikatakan oleh Mimpi. Ia mengunjungi kandang buaya! Bahkan dengan semena-mena, dia meminta Mimpi mempersiapkan kamera ponselnya untuk mengambil gambar dirinya. Dia sudah bersiap dengan segala gaya dan pakaian yang telah dirapikannya itu, bersiap dengan pose terbaiknya. Tanpa senyum dan bersikap dingin, ia berpose menyebalkan. Meskipun pandangan mengarahkan pada dua ekor buaya yang tampak sedang bersantai. Pose sok Bangun sekali tak membuatnya daya pikat luntur. Mungkin itu hanya menyebalkan bagi Mimpi. Entahlah. Dan untungnya Mimpi trmsuk fotografer yang amatiran yang cukup handal. Bahkan dari kamera ponsel saja, dia bisa menghasilkan jepretan bagus.
“Posting ke Instagram, ah...” gumam Bangun. Jari jemarinya sudah mengutak-atik hasil jepretan tadi. “Apa ya captionnya? Ada ide gak?”
Mimpi cuek saja dengan pertanyaan yang meminta ide dari dirinya, ia pun melengos dan menuju tempat parkir sepedanya. Dia memacu sepeda dengan cepat meninggalkan Bangun yang masih sibuk mengunggah foto dirinya di Instagram milik cowok itu.
Jauh dia berada dalam jangkauan Bangun, Mimpi merogoh ponselnya dan mengecek instagramnya. Muncullah di beranda Instagram dirinya, postingan Bangun berlatar belakang dua ekor buaya dengan caption “happy”. Dasar gak nyambung! Mimpi bergumam melihat postingan itu. Dia heran dengan cowok itu, memposting dengan wajah dingin tanpa senyum tetapi dengan caption yang seperti itu. Sangat tidak nyambung!
Dilihatnya Bangun meyusul dirinya dan mendahului Mimpi, maka Mimpi berinisiatif memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian mengejar Bangun yang ada di depannya.
...****************...
selamat membaca ❣️