The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 31



Bab 31


Mami dan Mimpi tidka pernah memiliki kesamaan dalam hal apa pun. Kalaupun harus mempunyai korelasi, itu hanyalah sebatas koneksi yang terhubung melalui Papa. Selebihnya, hubungan yang terjadi hanyalah dingin.


Setiap kali Mami mengomel atau mendiamkannya, Mimpi justru menikmati itu. Ketiadaan komunikasi adalah cara keduanya agar terhindar dari perasaan canggung akibat obrolan basa-basi. Meskipun Mimpi di rumah tidak pernah dianggap, keadaan itulah yang selama ini membuat Mimpi nyaman. Hidup dalam kesunyian adalah sebuah kenyamanan.


Sebenarnya, Mimpi hanya bagian masa lalu dari Papa. Kehadiran dirinya di rumah Mami memang mendadak dan tanpa direncanakan, membuat hidup Mami terguncang. Sejak ditinggalkan oleh Mama-ibu kandungnya. Mimpi tinggal bersama Kakek. Sayangnya, setelah kakek meninggal, Mimpi terpasak masuk ke dalam kehidupan baru Papa dan Mami.


Entah mengapa, akhir-akhir ini Mimpi merasa hampa. Dia merindukan suara, semacam teguran di sela makan atau sedikit gangguan, yang membuat interaksi basa-basi yang selalu dihindarinya selama ini. Perasaan itu menjalar dalam dirinya. Hingga dirinya menyadari bahwa merindukan momen tersebut sama saja dengan merindukan cowok bernama Bangun.


‘Hah? Aneh, ngapain rinduin dia?’ gumaman di dalam hati.


...****************...


Selepas makan malam yang canggung, Mimpi segera beranjak ke kamar, meraih buku bacaan di nakas. Sesekali dia mengecek ponsel untuk mengetahui notifikasi dari aplikasi media sosial. Tak berapa lama, notifikasi yang ditunggu berbunyi, tetapi sayangnya bukan dari Instagram, melainkan dari WhatsApp nya. Dilihatnya notifikasi itu, dan Bangun mengirimkan pesan kepada dirinya.


“Woi...”


Mimpi membacanya dengan perasaan heran.


^^^“Ngapain chat gue?”^^^


“Iseng.” ucap Bangun membalas pesanan Mimpi.


^^^“Males lah gue balas chat lo ini.”^^^


“Dih, ketus banget. Kenapa sih? Gak suka kalau gue chat lo.”


^^^“Gue lagi baca buku. Jangan ganggu gue.”^^^


“Sorry, deh kalau gue ganggu lo, gak bermaksud gue. Kenapa lo gak nulis cerita lo sendiri?”


^^^“Kepo deh lo!”^^^


“Lo takut terkenal? Atau jangan-jangan lo punya fobia ketenaran?”


Mimpi menjawab pesan Bangun dengan hufur kapital. Ia sangat malas apabila ditanya soal ketenarannya waktu kecil. Bahwa sebenarnya dia adalah seorang, mantan artis cilik waktu kecil.


“Kenapa bisa begitu? Lo harus mencoba melawan rasa benci lo dengan menjadi terkenal.”


^^^“Lo gak akan paham.”^^^


“Ok, gini. Besok ketemu pas istirahat jam kedua di koridor belakang kantin, ok? Sekalian lo bawain buku satu buat gue, gue bakal baca.”


Mimpi tak ingin membalas pesan dari Bangun walaupun banyak pesan yang baru saja dikirimkan oleh cowok itu tentang pertanyaan yang... tidak untuk diingat.


Benaknya dipenuhi kebisingan tak biasa. Perasaan gemuruh timbul di dadanya, dan sesuatu yang mengaduk perutnya. Ada rasa senang karena diperhatikan. Bangun mengetahui banyak tentang dirinya, jauh lebih banyak dari yang dia kira. Dia akan membawakan satu buku untuk Bangun baca.


...****************...


Esok hari.


Bangun menunggu Mimpi di balik pilar koridor yang sepi, sesuai lokasi kesepakatan keduanya. Lagi-lagi semacam perjudian. Bangun sendiri tidak punya petunjuk apakah Mimpi akan datang. Padahal dia sudah mengirimkan pesan melalui WhatsApp kalau dia sudah berada ditempat. Tetapi sayangnya, Mimpi ingin pertemuan mereka tidak di sana, melainkan di ruangan rahasia mereka. Bangun masih saja merayu Mimpi untuk keluar dari zona nyamannya, dari persembunyiannya, tapi yang namanya Mimpi dia tidak ingin mengabulkan permintaan Bangun. Akhirnya Mimpi pun tidak muncul.


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu di kafe belakang sekolah dan pengakuran Nanda, Bangun memacu kencang sepeda motornya secepat mungkin. Dia segera pulang, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia ingin memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, namun tak bisa. Pikirannya penuh dengan kelebatan kenangan masa lalu. Kemarahan sang Ayah, kematian sang Ibu, kekesalan terhadap Surya, pengkhianatan Nanda, dan putus cinta dari Mila.


Tak ada rasa senang di dirinya selain rasa benci. Dan itu hampir ke semua orang.


Sungguh matanya tak mau terpejam, Bangun beranjak dari ranjangnya dan melihat ke sisi tembok putih dekat pintu. Dia mulai menggerakkan tangannya dan kuas pun bergerak sesuai arahan tangannya. Dia mulai melukis. Dia meneumkan ketenangan dengan melukis.


...****************...


jan lupa masih ada rahasia yang belum diketahui anak-anak Tunas Jaya.


Bentar lagi mau tamat.


Makasih yang udah baca. walaupun gak mau komen atau nge-gift. thanks. ❣️