The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 30



BAB 30


Bangun merasa ada yang berubah dengan teman-temannya setelah kejadian penonjokan itu. Ditambah dengan Bangun yang tak pernah bertemu dengan anggota gengnya selama menjalani skors selama seminggu. Bangun curiga Joye dan Pandu sedang merencanakan sesuatu. Semakin lama kecurigaan nya semakin membesar. Dia mencoba mengorek sesuatu dari Alan. Tapi tetap Alan bungkam, tak berani berucap satu kata pun. Mungkin Alan pun tidak tahu apa yang sedang direncanakan teman-temannya. Atau bisa jadi Alan mengetahui dan diminta untuk diam. Kalau benar seperti itu, berarti Alan mengalami kemajuan karena sudah pandai berakting dengan meyakinkan.


Meskipun begitu, Bangun tetap saja bersikap bahwa segalanya baik-baik saja. Hidup bahkan perasaannya baik-baik saja. Bangun terlanjur berjanji kepada cewek yang tadi menggelengkan pelan kepalanya, seolah meniupkan mantra anti-amarah yang ajaib mampu meredakan marah yang di alami oleh Bangun. Bangun tak akan lagi mengusik hidup Mimpi ataupun mengunjungi ruangan rahasia milik mereka. Tapi jangan lupa, Bangun pemilik sepertiga ruangan sesuai perjanjian mereka, meskipun dia tak lagi bisa mengklaim.


Bangun bersandar ke batang pohon trembesi di depan ruangan rahasia Mimpi. Bel berbunyi menandakan jam istirahat telah berakhir. Sejak saat itu pula terpaku, menatap pintu itu, namun janji untuk tidak saling usik membuatnya tak bisa melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dia tahu, sudah banyak yang dilakukan Mimpi untuknya dalam waktu supersingkat itu. Tak ingin melibatkan cewek itu lagi dalam hidupnya. Jadi, dia hanya mematung dengan kedua tangan berada di saku, sudah cukup menenangkan bagi Bangun.


Alih-laih memandangi ruangan itu lagi, dia justru memilih untuk kembali ke kelasnya.


...****************...


Agaknya Bangun perlu bersyukur anggotanya tidak ada yang menyinggung soal Nanda dan Mila di kantin. Di grup WA hanya ada pesan Alan yang mengajak Bangun ke kafe belakang sekolah selepas pulang sekolah. Bangun membalas dan menyetujui ajakan Alan, karena sudah lama sekali mereka tak berkumpul bersama.


Alan ingin mengirim pesan bahwa dia harus ke ruangan guru, lalu langsung menuju kafe. Joye dan Pandu ternyata sudah duluan menuju kafe itu. Bangun merasa ada yang aneh, tapi dia lelah berspekulasi. Dia pun memacu motor tanpa melewati tembok yang biasa dia lewati kalau ingin bolos atau ke kafe itu. Bangun pun memarkirkan sepeda motornya di parkiran kafe. Kang parkir menanyakan cewek manis berkacamata yang pernah bersama Bangun.


“Astaga, Bang, please, jangan rame,” balas Bangun. Meskipun nada bicaranya tetap datar, perasaan Bangun tak sedatar suaranya. Dia menyadari bahwa Mimpi memang manis. Dia segera menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Bangun tak boleh memikirkan Mimpi saat berkumpul dengan teman-temannya.


Bangun tak terkejut saat melihat Alan, Pandu, dan Joye di meja paling ujung.


Pandu melambai tangan ke arahnya. “Bangun, sini.”


Namun, Bangun dikejutkan kehadiran seseorangy ang duduk membelakanginya.


“Bre***ek!” umpat Bangun. Seketika dia mematung, berhenti melanjutkan jalannya. Padahal meja teman-temannya dan mantan temannya itu tinggal lima langkah dari tempatnya berdiri saat ini.


Alan berdiri, wajahnya tegang. Wajah teman-temannya pun terlihat sama.


“Duduk, Bro,” ujar Alan. Ada keraguan dalam suaranya.


Bangun langsung bertanya, “Kenapa dia ada di sini?!” di dengar dari telinga siapa pun, nada bicara dari Bangun sangat dingin dan menusuk. “Apa-apaan, sih ini?!”


Dilengkapi dengan pandangan yang sudah mengkilat setelah menyasar Nanda. Satu per satu dia memindai teman-temannya mencoba mencari jawaban dari ekspresi mereka masing-masing. Sepertinya mereka sudah merencanakan pertemuan ini jauh-jauh hari. Menjebak Bnagun di tempat umum agar kejadian penonjokan tak berulang. Batin Bangun hanya bisa mengumpat kesal. Pandangan Bangun beralih menatap kembali ke arah Nanda. Dia mengamati wajah itu, mantan temannya. Bangun menyesal tak menghabisi wajah itu, mengingat tonjokannya dulu tak lagi menginggalkan bekas sedikit pun di wajahnya.


“Bangun....” Kali ini Nanda yang berbicara.


Bangun sudah ingin menghajar Nanda, tapi dia tidak mau memancing perhatian pengunjung kafe itu. Jadi, Bangun memilih untuk menurunkan egonya. Dia mengembuskan napas cepat sebelum kakinya melangkah mendekat. Satu kursi kosong yang sudah disediakan untuknya, tepat berhadapan dengan Nanda, disambarnya dengan kasar.


Pandu, Joye, dan Alan saling bersitatap. Akhirnya Alan membuka percakapan untuk pertama kali. “Bangun, sorry. Kamu gak bermaksud untuk menjebak lo atau diam-diam menyusun rencana di belakang lo.” Alan mengambil sedikit oksigen yang lewat di sekitarnya dengan perlahan. “Kami cuma mau apa pun masalah lo dengan Nanda selesai.”


Nanda mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja.


“Bro, kami semua mau kita kembali baikan seperti dulu.” Pandu menambahkan. “Kami lagi gak bela lo, Nda!” pandangan Pandu berpaling ke arah Nanda. “Ulah lo dengan Mila, yang entah apa maksudnya, itu sudah kelewatan.” Pandu menatap Bangun. “Lo juga, Ngun. Jangan karena selama ini kami ada di pihak lo, lo anggap semua yang lo lakuin itu bakal kami dukung. Perkara tonjokan lo itu benar-benar buat kita mikir banyak.” Pandu berdiam sejenak.


“Oh... jadi ini yang buat kalian menghilang pas gue diskors? Dan kalian gak ngabarin kalau si bre***ek itu gak dapat hukuman apa pun atas perbuatannya sama Mila?!” Bangun menunjuk wajah Nanda dengan jari telunjuknya tepat di wajah Nanda, kemudian memandangi teman-temannya.


“Pelan kan suara lo, Ngun,” Alan mengingatkan. “Asal lo tahu, gue, Pandu, dan Joye memang mikit banyak. Selama ini kita semua tahu kalian berdua itu kenapa. Tapi setelah dipikir-pikir mungkin lo sendiri aja yang terlalu baper, Ngun. Dan lo memang pantas dapat hukuman waktu itu.”


Bangun hendak beranjak dari tempat itu kalau saja Joye tidak menahannya.


“Jangan pergi dulu, Ngun!” kata Joye. “Lo boleh pergi setelah ini, lo juga boleh musuhin kami semua. Tapi kami pengen apa yang terjadi dengan lo dan Nanda selesai,” lanjutnya lagi. “Nda, ngomong, Nda!”


Pandangan mereka beralih kepada Nanda.


Nanda sudah pucat pasi, bahkan membuka mulut saja tampaknya susah. Karena Nanda tak juga bersuara, akhirnya Bangun kembali mengempaskan dirinya ke kursi dan mengambil alih pembicaraan.


“Bener lo suka sama Mila?” tanya Bangun.


Setelah menunggu sepersekian detik, tapi dia terasa sangat lama bagi Bangun. Dan Nanda menjawab, “Ya. Itu benar. Gue memang suka sama Mila.”


Bangun seolah melihat dirinya sendiri di dalam ekspresi dan jawaban Nanda. Pertanyaan yang sama pernah Surya tanyakan kepadanya. Sebuah jawaban dan sorotan mata menantang, ingin menunjukkan bahwa apa yang di perbuat adalah benar.


“Gue gak peduli lo benar-benar suka sama Mila atau gak. Atau apakah yang lo lakuin itu hanya untuk balas dendam ke gue. Asal lo tahu, gue pacaran sama Mila dulunya buat ngerebut dia dari Surya, dan lo gak tahu itu. Lo udah hilang dari hidup gue. Tapi yang perlu lo tahu, akhirnya gue beneran sayang sama Mila lebih daripada yang lo semua kira.”


Bangun mengambil napas. Sepertinya ucapan Bangun masih panjang lagi.


“Dan lo tahu apa yang cewek itu bilang waktu kami putus? Katanya dia cuma penasaran gimana rasanya pacaran sama gue. Sama cowok yang katanya paling banyak dibicarakan orang! Ternyata gue di mata dia gue cuma orang yang suka cari perhatian.”


Semua yang ada di sana merasakan keheningan saat Bangun menyelesaikan kalimatnya. Selama ini Bangun memang tak pernah menceritakan itu kepada siapa pun, bahkan kepada teman-temannya.


“Terus lo datang utnuk pamer kemesraan sama Mila. Lo dan cewek itu cuma mau panasin gue doang, kan? Lo cuma mau balas dendam ke gue, kan?”


Nanda, yang selama ini terkenal pandai beretorika dan disayang para guru SMA, hanya diam tak berkutik.


“Sejak diskors, gue jadi banyak berpikir. Asal lo tahu, sekarang gue gak peduli. Mau kalian jungkir balik di depan gue, mau kalian pamer di depan gue dengan kemesraan kalian itu, gue gak peduli! Kalaupun ternyata dugaan gue bener kalau lo cuma mau balas dendam sama gue, lo pengecut, Nda! Pengecut!”


“Gue...,” Nanda kehabisan kata-kata. Ia tidak dapat membalas perkataan yang dilayangkan oleh Bangun.


“Mungkin kalian semua penasaran, kejadian gue berantem sama Nanda gak sesimpel yang kalian kira. Bukan cuma tentang gue yang ngelindungin Nanda tapi dia ujungnya khiantin gue. Bukan itu.” Bangun meraih tas ranselnya dan bersiap untuk pergi.


"Urusan gue selesai. Gue bakalan maafin lo, kalau lo setidaknya jujur sama diri lo sendiri dan berani mengakui perbuatan lo.” Bangun melangkahkan kakinya dan keluar dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang.


Jujur, perasaan sesak menguasainya kalau mengingat kejadian dulu. Bangun tahu bagaimana rasanya dikhianati teman dekat sendiri. Nanda, yang dia anggap saudara, justru merusak pertemanan mereka.


Nanda berantem dengan musuhnya di SMP, sampai Bangun datang untuk meolongnya. Dia menghadiahkan bogeman kepada cowok itu, membuat cowok itu harus menginap di rumah sakit beberapa hari. Di hadapan orangtua Nanda, Bangun membela temannya dengan mengatakan bahwa itu semua tanggung jawab Bangun. Sayangnya, berita itu sampai di telinga sang Ayah. Tak seperti harapan Bangun, Nanda tak membela Bangun sama sekali. Akibatnya, Ayah menaggap otak di balik kejadian itu adalah Bangun. Tak di sangka Ayahnya mengamuk memba** buta.


Bukan sekadar perkara sakit di wajah atau kepala yang trkena ayunan tangan ayahnya. Lebih daripada itu. Kesetiakawanan Bangun yang tak terbalas dari Nanda-lah yang melukai hatinya begitu dalam hingga saat ini.


...****************...


yang nyakitin Lo nantinya ya orang terdekat Lo. waspada aja.


selamat membaca.