
BAB 38
“Hentikan...,” kata Mimpi lirih.
“Mimpi, ini bukan urusan kita,” bisik Papa.
Hati Mimpi terenyuh. Rasanya dia ingin memeluk Bangun saat itu juga. Namun, tangan Papa menggenggam erat tangan Mimpi. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa membantu Bangun Adhiguna.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Bangun Adhiguna? Bisa mencari masalah saja! Orangtua kerja demi kebutuhan dirimu, tapi kamu selalu berbiat seenaknya! Contoh kakakmu, Surya! Dia apa pernah mengecewakan orangtua?! Dulu Ayah sering dipanggil ke sekolah untuk menerima penghargaan untuk kakakmu. Sekarang kamu sebaliknya! Mau jadi apa kamu?! Belum puas kamu mempermalukan orangtuamu?”
“Pak, tolong tahan emosi!” sela Pak Burhan.
Bu Aini nyaris berdiri, ikut berupaya melerai untuk membicarakan baik-baik masalah yang telah terjadi.
“Ayah dan Pak Burhan itu sama saja!” Tiba-tiba Bangun berteriak. “Selalu saja nama itu, itu, itu dan itu. Surya, Surya, dan Surya saja!”
Ayah Bangun terperanjat dengan teriakan anaknya.
“Ayah gak tahu apa-apa tentang aku bahkan dengan hidupku sekali pun! Ayah gak pernah tahu itu! Ayah selalu membanding-bandingkan aku dan Surya! Ayah pikir aku suka?!” Suara Bangun semakin meninggi. “Dari dulu ayah selalu banding-bandingkan aku, seolah aku enggak ada harganya di mata ayah. Surya selalu jadi anak emas dan kebanggan Ayah. Memangnya Ayah tahu keknapa aku bodoh dan Surya pintar?! Ayah gak tahu, karena Ayah enggak pernah mau tahu dan ayah gak pernah mau tahu*?
Wajah Bangun memerah saking marahnya. Sampai Mimpi tak berani menatap cowok itu lama-lama karena hatinya tak tahan melihat situasi ini.
“Apa Ayah tahu kalau selama ini setiap ngeliat buku aku selalu membayangkan darah... darah yang keluar dari mulut Mama? Apa Ayah pernah tahu hal itu?”
Ayah Bangun terperangah mengetahui hal itu. Hal yang telah disembunyikan oleh Bangun sejak lama merupakan informasi baru yang diterima bagi sang Ayah. Tak ada lagi ayunan tangan atau suara dari mulut pria pria baruh baya itu.
Hanya Mimpi yang terkejut. Bu Aini dan Pak Burhan saling berbisik-bisik.
Bangun melanjutkan berbicara. “Surya enggak gagal! Dia gak pernah gagal menjadi kebanggaan Ayah. Ayah kecewa saat Surya tak bisa memenuhi keinginan Ayah?! Lalu Ayah memaksakan keinginan itu ke aku. Ayah memaksa aku masuk ke IPA, masuk sekolah yang sama dengan Surya, untuk menjadikan aku sebagai cadangan kalau-kalau Surya gagal. Tapi Ayah salah! Surya gak pernah gagal! Kalau saja dia mau menjadi pilot seperti Ayah, dia adalah orang pertama yang mudah lulus dari tes penerbangan. Tapi Ayah gak pernah tahu kalau Surya gak pernah mau menjadi seperti Ayah! Surya sengaja menabrakan diri ke trotoar untuk tidak mengikuti tes itu sehingga ia gagal. Gak ada yang tahu kecuali aku....”
Bu Aini keluar ruangan, lalu kembali membawakan botol minuman untuk tamu mereka. Ayah Bangun menenggak minumannya hingga tandas.
Bu Aini kembali memanggil Bangun dan Mimpi untuk menceritakan secara jelas dan rinci untuk masalah ini.
Mimpi melirik Bangun. Dan ia pun menganggukkan tanda setuju. Lalu Mimpi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi secara terperinci yang sudah diminta oleh Bu Aini. Orangtua yang berada di sana hanya duduk menjelaskan penjelasan yang dituturkan oleh Mimpi.
Akhirnya dengan negosiasi yang alot, Pak Burhan dan Bu Aini sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan secepat mungkin.
“Perkara ini tak akan dibawa ke rapat bulanan tapi dengan beberapa catatan penting. Ruangan rahasia Mimpi akan dikembalikan ke fungsinya semula. Mimpi atau siapa pun tak boleh lagi masuk ke sana. Dia diminta mengambil barang-barnagnya dari tempat itu dengan batas waktu sampai akhir pekan,” kata Bu Aini. “Selanjutnya, permasalahan terkait Pak Burhan dan Bangun.” Bu Aini menganggukkan kepala kepada Pak Burhan.
“Saya minta maaf, Bangun. Saya tak menyangka kamu begitu dendam karena saya mengingkari janji. Sebagai seorang pendidik, saya sudah mencontoh yang tidak baik karen asudah mengingkari janji,” kata Pak Burhan.
Mimpi tak menyangka, Pak Burhan berani mengakui kesalahan di hadapan Bangun. Sepertinya Bangun berpikir sama dengannya. Dia terdiam cukup lama sebelum menanggapi ucapan itu.
“Ya, Pak.”
Mimpi terheran-heran saat Bangun bersalaman, bahkan mencium tangan Pak Burhan.
“Dengan salaman ini, permasalahan terkait Pak Burhan dan Bangun sudah selesai, keduanya sudah saling memaafkan,” kata Bu Aini.
Ayah Bangun mengangkay tangannya. “Apakah Bangun akan dikeluarkan dari sekolah, dengan adanya perjanjian kemarin antara Bu Aini dengan istri saya?” tanyanya.
Bu Aini menggelengkan kepala. “Untuk itu saya harus bertanya kepada Bangun sendiri.”
Bangun mengangkat pandanganya ke arah Bu Aini. “Maksud Ibu?”
“Apakah kamu ingin keluar dari sekolah ini?” tanya Bu Aini
.
Semua orang menunggu jawaban dari Bangun Adhiguna.
“Tidak, Bu,” jawab Bangun dengan tegas..
“Kalau begitu Bangun akan terus bersekolah di sini. Satu hal saja, kami berharap kamu belajar dari semua ini.”
Mimpi akhirnya bisa bernapas dengan lega saat mengetahui Bangun tidak dikeluarkan dari sekolah. Satu per satu permasalahan mereka selesai.
^^^
“Apa... kamu mau menemani Papa makan?” Papa mengemudikan mobilny akeluar dri parkiran SMA Tunas Jaya.
Mimpi tak menyangka dengan adanya pertanyaan yang terlontar dari bibir sang Papa dan apa yang di dengarnya itu membuatnya terlonjak kaget.
“Papa lapar nih, makanan di pesawat kurang enak,” imbuhnya lagi. “Temani Papa, ya?”
Mimpi diam lama sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian ia teringat akan adanya kasus wartawan beberapa hari yang lalu. Itu cukup membuatnya takut makan di luar. Ia pun segera membuat dialog takut Papa akan membelokkan mobilnya ke arah restoran. .
“Emmm... makan di rumah saja? Takut ketemu sama wartawan. Lagian kata Mami. Mami sudah menyiapkan makanan di rumah.”
Papa menaikkan alisnya, “Mami?”
Mimpi menganggukkan kepalanya. Wajar saja Papa kaget. Mimpi pun tak mengira perkembangan hubungannya dengan Mami sampai ke tahap ini. Sejak percakapan di ruang keluarga itu, sikap Mami kepadanya perlahan berubah.
Tanpa berlama-lama lagi, Papa menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka pun meluncur pulang ke arah rumah yang pastinya sudah ditunggu oleh Mami dan Belia.
...****************...
Bangun mengendarai motornya ke kawasan yang memang sudah lama tak dikunjunginya. Tidak banyak perubahan di sana. Tak sulit juga untuk menemukan tempat yang dulu biasa dikunjunginya untuk membunuh waktu luangnya.
Bangun memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir dan berjalan mendekat ke lapangan basket. Ia memperhatikan seseorang yang asyik mendribble bola basket yang siap di lempar ke dalam ring.
Bangun bertepuk tangan walaupun nyatanya bola yang dilempar tidak masuk ke dalam ring itu. **
“Lo bikin gue gagal bikin tiga poin! Tahu dari mana gue ada di sini?” tanya Nanda, tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
“Insting,” jawab Bangun, tubuhnya bersadar santai. Kemudian, dia melempar air mineral botol yang sedari tadi sudah ada di sana. “Banyak yang gak berubah dari hidup lo.”
Nanda terkekeh karena berhasil menangkap botol itu
“Sebenarnya gue tadi ke rumah, Dina bilang lo di sini, ya udah gue samperin aja. Makin cantik ya si Dina,” komentar Bangu.
“Tahun depan masuk SMA. Tapi gue enggak nyaranin dia measuk SMA Tunas Jaya sih.”
Nanda duduk di samping Bangun. “Takut ketemu lo, terus adik gue lo pacarin,” katanya.
Bangun tertawa hebat.
“Gue baru dengar soal Miki.” Nanda menepuk bahu Bangun pelan.
“Miki sudah tenang di alamnya yang baru,” kata Bangun.
Hening.
“Gue.. guek minta maaf untuk semuanya, Bangun.”
Bangun tersenyum. Sebenarnya, di lubuk hatinya, Bangun sudah mencoba memaafkan Nanda sejak lama. Namun, egonya masih tinggi. Apalagi kesempatan berbicara tidak ada. Inilah kesemptan baginya.
“Gue Juga, Nda....”
Nanda meminum air mineralnya beberapa tegukan. Dia berdiri, mengambil bola di lapangan, lalu melemparkan ke arah Bangun.
“Lama gak sparring sama lo,” ucapan Nanda disertai senyuman.
“Siapa takut,” balas Bangun.
Permainan mereka diselingi obrolan apa pun. Banyak hal yang terjadi di hidup masing-masing. Bangun menyayangkan akibat permusuhan panjang di antara mereka.
“Gimana ceritanya lo bisa tahu kalau Mimpi dipanggil Pak Burhan waktu itu?” Bangun memblokir pergerakan Nanda, menangkap bola sambil melompat, lalu mendribble keluar area three point.
“Oh itu. Dari akun lambe. Gue sama anak-anak OSIS sudah menyelidiki siapa admin akun lambe. Terlebih setelah gue sendiri kena. Tapi lo mesti tahu kalau foto kissingg itu gak bener. Lo bisa gue tunjukin foto aslinya kalau lo mau.”
Bangun menggeleng. Dia sudah tidak peduli apa pun tentang Mila.
Nanda bedehem. “Nah, setelah kejadian itu gue makin gencar menyelidiki mereka.”
Bangun melempar bola dan...
“Dan.. ketemu?” tanya Bangun.
Masuk.
Nanda memungut bola, danmendribble santai, kembali ke posisi menyerang.
“Ketemu. Mereka bukan siapa-siapa, kok, cuma sekumpulan cewek-cewek iseng enggak ada kerjaan. Adminnya ada di setiap tingkatan. Mereka kasih info ke OSIS sebagai, katakanlah suap, supaya gak dilaporkan ke Bu Aini. Salah satu infonya tentang ruangan berhantu yang ternyata gak berhantu, tapi ada aktivitas mencurigakan. Pas gue tanya curiganya kenapa, Mimpi disebut. Anak OSIS langsung ke sana bareng Pak Burhan. Barang-barang lo dan Mimpi ada di sana,” terang Nanda.
“Oh, waw...,” Bangun merespon Bangun sambil berganti posisi menjadi penyeang. dia men-dribble bola. “Tapi karena cuma tahu Mimpi yang sering ke sana, makanya mereka anggap barang-barnag gue punya Mimpi. Keadaan jadi berkembang ke tuduhan kalau Mimpi yang bikin grafiti muka Pak Burhan?”
Nanda menganggukkan kepalanya. “Gue tahu dari akun lambe kalau lo dekat sama Mimpi. Gara-gara itu otomatis gue ingin kasihtahu lo kalau Mimpi dibawa ke ruang BK.”
Raut wajah Bangun jadi serius, “Sebenarnya lo tahu kan kalau gue yang membuat grafiti itu?”
Nanda menganggukkan kepalanya mengiyakan tebakan Bangun benar.
“Thanks untuk itu, Nda,” ucap Bangun tulus. Dia melempar bola ke arah Nanda.
“Gue minta maaf soal Mila. Gue memang pantas dapat tonjokan dari lo waktu itu. Gue kira Mila beneran suka sama gue, ternyata dia cuma bosan sama lo doang. Bukan karena dia benar-benar suka sama gue.”
Bangun tersenyum menanggapi. Lagi pula, wajar kalau Nanda, bahkan Surya, suka sama cewek itu. Bagi Bangun, Mila adalah masa lalunya.
“Dimaafkan,” jawab Bangun santai. “Ayo main lagi.”
Mereka pun menikmati permainan bola basket one by one dengan perasaan yang damai. Tak ada sesal lagi diantara mereka berdua.
...----------------...
Sejak kejadian di ruang BK, Ayah jadi banyak diam dan merenung. Suasana canggung tercipta selama Ayah di rumah semakin kentara. Bunda sudah tahu semuanya dari Bangun. Menurut Bunda, sebaiknya mereka membiarkan Ayah mencerna semua yang terjadi di beberapa hari yang lalu.
Kemudian, Ayah menghentikan sikap diamnya. Waktu itu Bangun baru pulang dari sekolah. Dia berjalan melewati ruang keluarga.
“Kapan kamu libur sekolah?” tanya Ayah.
Bunda menghentikan aktivitasnya secara otomatis saat suara Ayah menguar dari tempat mereka duduk. Matanya saling bertemu dengan mata Bangun. Ada pancaran heran di mata masing-masing.
“Akhir Desember,” jawab Bangun.
“Kita akan liburan ke Paris, sekalian mengunjungi Surya di sana.”
Bangun dan Bunda saling berpandangan.s eolah salju bulan Desember datang lebih awal, bahkan muncul di atas kepala mereka saat ini.
Senyuman lega dan bahagia terukir di raut wajah Bunda. Bagi Bunda, bagi Bangun, ini adalah pertanda baik. Satu langkah kemajuan mengingat Ayah selama ini tak pernah memedulilkan Bangun, bahkan tak pernah berkomunikasi dengan dirinya selain melancarkan kemarahan.
Ada pelangi setelah hujan. Habis gelap terbitlah terang.
...****************...
Penerimaan adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Butuh dua tahun lebih bagi Mami untuk menerima keberadaan Mimpi masuk dalam hidupnya. Mungkin butuh waktu lama lagi bagi Mama, untuk menerima dan sadar kalau Mimpi pernah mengemis perhatiannya.
Namun, Mimpi tak butuh waktu lama untuk kembali menerima Bangun dalam lembaran cerita hidupnya.
Lo
Penerimaan terhadap takdirnya sebagai mantan orang terkenal pun sudah dia mulai. Mimpi kembali terbiasa melihat wajah-wajah penasaran. Dia bahkan sudah bisa mengangkat dagu dan tersenyum kepada orang asing, sesuatu yang dulu tak pernah disukainya. Entahlah, dia hanya tak menyangka penerimaan akan cepat sekali datang.
“Selamat tinggal, ruang rahasia.”
Dua orang yang awalnya tak saling tegur sapa, bersinggungan dengan adanya masalah yang diciptakan dari salah mereka berdua, bersama-sama saling melindungi bahkan menyelesaikan masalah yang sering muncul. Dan sekarang, waktunya untuk menikmati pertemanan yang erat, tanpa sadar sudah terjalin di antara mereka.
Sekian.
^^^
Terima kasih yang sudah membaca novel ini. Tanpa sadar kalian mendukung novel ini juga. Terima kasih banyak. Sampai jumpa di lain cerita yang mungkin berbeda dari yang lainnya.
Salam.