
Bab 11
Bangun Adhiguna membuka matanya, lalu mendapati wajah dengan sepasang mata di balik kacamata aneh yang mengerjap beberapa kali di hadapannya. Siapa ini?
Apa yang telah terjadi padanya?
Ya, dia ingat. Dia terjatuh dengan muka yang ditimpa buku jatuh dan terbuka, kepalanya pun ditimpa buku lain, lalu dia pingsan. Momen mengumpulkan nyawanya ini benar-benar membingungkan.
Sekarang giliran dia yang mengerjap matanya berulang kali. Dengan pemaksaan kesadaran, Bangun Adhiguna sang badboy menegakkan tubuhnya dan bersandar ke kardus-kardus di belakangnya. Indra penciuman nya mengenali bau minyak kayu putih yang menyengat di lubang hidungnya. Dan ia merasakan panas di dekat lubang hidungnya itu. Dia pun kemudian menyentuh hidungnya dengan jarinya dan menemukan jejak minyak di jarinya.
Di depannya telah berdiri seseorang. Bangun Adhiguna berusaha memfokuskan penglihatan untuk melihat seseorang yang ada di hadapannya itu. Dan itu adalah...
“AAAAAAKKKKKKKKHHHHH....!” Bangun refleks berteriak nyaring di hadapan wajah seseorang itu.
“Heh, bisa diem gak, sih? Gak usah pake teriak kek gitu kali...!” hardik si cewek yang ada di hadapannya itu. Tangan kiri di pinggang, sementara telunjuk kanannya menunjuk wajah Bangun Adhiguna untuk menyuruhnya diam.
‘Kenapa cewek berponi aneh ini ada di sini? Seharusnya tempat ini kosong dan berhan-’ pikirnya dan ‘tunggu... tunggu dulu... ada yang gak beres ini...!’ pikir Bangun lagi.
“Ngapain lo di sini?!” tanya Bangun.
“Harusnya gue yang nanya sama lo. Ngapain lo di sini?!” balas cewek berponi aneh itu. “Ini teritorial gue!” tegasnya. Cewek itu melewati celah sempit, lalu menghilang begitu saja dari hadapan Bangun Adhiguna.
“Hah? Ngomong yang jelas, woi...!”
Bangun bangkit berdiri dari duduknya, kali ini berhasil menggunakan kisi-kisi rak sebagai pegangan. Kepalanya yang masih sedikit pusing. Namun, semburan informasi ini benar-benar membuatnya penasaran. Dia mendekat ke celah tempat cewek itu yang baru saja di lewatinya, dan mengintip ke baliknya. Betapa terkejutnya Bangun Adhiguna ketika melihat sisi lain gudang itu yang menyajikan pemandangan yang tak akan diduga siapa pun di sekolahan ini.
Ada karpet bulu berwarna biru dengan tiga bantal kecil di atasnya. Dinding nyaris dipenuhi rak-rak buku dengan punggung buku berwarna sama. Estetik dan autentik! Meskipun setelahnya Bangun merinding dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ada pula meja yang tampak reyot, tapi dicat ulang dengan warna putih oleh orang yang tidak ahli mengecat. Di atas meja ada tumpukan buku tersusun rapi dan vas bunga dengan beberapa tangkai mawar merah di dalamnya.
Kini wangi melati itu tercium lagi, tapi dia merasakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya. Ternyata itu merupakan pewangi ruangan yang berbau melati.
Bangun Adhiguna membuka mulut, terkejut dengan situasi yang jauh dari prediksinya itu. Cewek dengan tatapan menghunus tajam dan kedua tangan disedekapkan ke depan dadanya, menunjukkan dominasi yang mengancam kepadanya. Jika tidak pernah bertemu sebelumnya, Bangun akan menganggap dia adalah orang yang mengerikan dan sangat berbeda dari tampilan luarnya yang terlihat culun. Dan ini tidak bisa dibenarkan!
Bangun perlahan melangkahkan kakinya, mendekat ke arah meja.
“Jadi... ini adalah ruangan rahasia?” Bangun yang bertanya sambil menetralkan nada suaranya, berusaha untuk menghindari ekspresi yang terkesan di balik wajah tampannya itu.
“Ya! Kalau lo gak membongkarnya,” jawab cewek yang berdiri masih dengan tatapan menghunus tajam, dan itu terkesan dingin.
“Jadi, kemarin lo lari dan nabrak gue itu... tujuannya mau kemari?” Bangun menebak.
“Dan itu bukan urusan lo!”
“Kita harus bicara!” ucap si cewek itu sambil berjalan mendekati Bangun.
“Dari tadi juga udah bicara!” balasnya.
Mereka berdiri berhadapan. Postur keduanya nyaris sama, hanya saja Bangun sedikit lebih tinggi dari cewek itu. Setelah Bangun amati, cewek itu, sangat kurus. Mungkin kurang gizi. Hipotesanya membuat Bangun tergelak geli sendiri di dalam hatinya. Dan sedikit terukir di bibirnya tawa yang berupa senyuman itu. Apalagi saat Bangun melihat poni si cewe yang “mengerikan”.
“Gak usah ketawa lo! Gue punya rahasia lo!”
“Rahasia macam...? Macam apa?”
Cewek itu merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah video kepada Bangun. Video yang berdurasi sekitar tiga menitan itu mampu membuat perasaan Bangun campur aduk dan juga takut. Video apa itu? Dan dia melihat detik-detik dirinya pingsan. Menyaksikan saat dia terjatuh dan tersungkur ke atas buku yang terbuka.
Bangun refleks hendak mengambil ponsel itu dan berniat untuk menghapusnya, tapi sayangnya si cewek itu cukup sigap untuk menyelamatkan barang bukti.
“Kalau lo sampai ngebongkar rahasia tempat ini, video lo akan gue sebar! Gue bikin viral satu sekolahan dan gue pastikan ada di akun gosip, biar seluruh siswa tau rahasia lo yang ketakutan di gudang! Dan semua gak akan menyangka seorang Badboy, Bangun Adhiguna, idola para siswi seantero sekolah takut sama hantu! Memalukan!”
Bangun Adhiguna hanya bisa menatap mata cewek itu. Dia tidak pernah memedulikan reputasi, tapi dia tidak suka dipermalukan seperti cara ini. Dia tidak suka berada di posisi yang lemah. Bangun hanya bisa mematung, rahangnya seketika mengeras dan dia berpikir sejenak.
Setelah dalam momen saling tatap menatap beberapa saat, akhirnya seringaian muncul di wajah Bangun Adhiguna.
“Kalau lo sebarin video itu, sama aja lo sendiri ngebongkar rahasia tempat ini. Video itu gak akan mungkin terekam sendiri. Orang-orang tahunya cuma gue sendirian yang ada di ruangan ini.”
Seketika cewek itu tergelak.
“Dan orang-orang tahu kalau lo ketakutan setengah mati sama ruangan berhantu!”
Bangun pun menggelengkan kepalanya. Dia harus berada di posisi yang memberikan penawaran.
“Gini aja. Lo bantu gue beresin semua gudang ini dan rahasia lo aman bersama gue,” kata Bangun, menaikkan satu alisnya.
Alih-alih menjawab atau mengiakan, cewek itu justru menyerangnya terus dengan tatapan tajam. Dia berjalan melewati Bangun, sengaja menabrak bahu kirinya, lalu berlalu melewati celah sempit tadi.
“Awww!” Bangun mengaduh berlebihan, menikmati kemenangan.
Kemenangan ganda yang di dapatnya kali ini. Pertama, dia berhasil membalikkan ancaman cewek aneh itu. Kedua, niat busuk Pak Burhan kepadanya tidak berhasil. Untuk menjalankan hukuman membersihkan gudang, dia bakal punya sekutu kali ini. Akan mempersingkat waktu dari yang diperintahkan oleh Pak Burhan pagi tadi. Sangat menyebalkan dan mengerikan kalau sampai semua petugas sekolah pulang terlebih dahulu sebelum hukumannya selesai.
...****************...
selamat membaca ❣️