The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 37



Bab 37


Mendadak pintu ruangan terbuka. Sosok itu muncul di ambang pintu. Mimpi membelalakkan matanya lebar.


“Bukan Mimpi pelakunya, Pak! Sayalah yang bertanggung jawab untuk semuanya!”


Flash back.


Bangun pernah dihukum di ruang wakil kepala sekolah. Tanpa pengawasan, dia masuk ke sebuah ruangan sempit dan menyaksikan sebuah televisi besar menampilkan rekaman kamera CCTV seluruh sekolah. Dia menghafal di mana saja letak kamera pengintai sekolahnya. Dia gunakan pengetahuannya itu untuk mencari jalan ke tembok belakang untuk melarikan diri dari sekolah tanpa ketahuan.


Namun, semalam Bangun tidak bisa menghindar dari sorotan CCTV. Meski begitu, pihak sekolah tak akan tahu itu dirinya. Mereka hanya akan melihat sosok tinggi berjubah dan bertudung hitam di layar. Banyak sosok tinggi di sekolahnya bisa jadi tersangka.


Bangun melakukannya dengan sangat cepat, menggunakan mata semprot paling besar. Dengan teknik cepat dan presisi untuk membuat mahakaryanya, Bangun membuat wajah, kumis, topi dan tulisan besar “BURHAN CAPLIN” beserta dengan kutipan dari tokoh kartun tersebut yang didapatnya dari internet dengan sedikit modifikasi.


...“LI(F)E IS A TRAGEDY WHEN SEEN IN CLOSE-UP, BUT A COMEDY IN LONG SHORT.”...


Bangun mencoret huruf “F” di kata “life”, merujuk kebohongan Pak Burhan yang berjanji tidak akan melaporkannya kepada Ayahnya.


Bangun memang memiliki bakat seni rupa dimensi. Dia pernah membuat mural di dinding ruang kelasnya, tengah malam, sebelum penilaian lomba kebersihan dan keindahan antarkelas. Kejadian itu menghebohkan penghuni kelasnya. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, tidak ada yang berminat untuk mengusut karena kelas mereka keluar sebagai pemenang pertama. Apalagi Bangun selalu menggunakan sarung tangan saat melakukan aksi, sehingga bisa dipastikan tidak akan muncul bekas cat semprot di tangannya.


Flash back off.


“Saya yang menggambar wajah Bapak di lapangan upacara. Saya yang pakai gudang itu tanpa izin.”


Seketika wajah Pak Burhan semringah bahagia. Seolah Bangun memberitahu kalau beliau menang undian berhadiah rumah dan mobil.


“Aha, ini dia jagoan kita,” ucap Pak Burhan jemawa. “Silahkan duduk di sebelah Mimpi, Nak. Ceritakan semuanya.”


Bangun menahan keinginan untuk menonjok wajah Pak Burhan sekarang. Ekspresi wali kelasnya itu... benar-benar memuakkan.


“Saya...,” Bangun menghela napas cepat, “yang bertanggung jawab atas semuanya. Saya yang mengubah gedung itu jadi ruangan rahasia, tempat bersembunyi saat jam pelajaran... setelah Bapak mengetahui tempat sembunyi saya di kafe belakang sekolah.”


Bangun menarik napasnya dengan perlahandan dihembuskannya pula dengan perlahan, agar tidak terlihat bahwa dia gugup sekali saat ini. Raut wajah Bangun benar-benar serius saat mengatakan hal itu. Meskipun tak menoleh ke kanan, Bangun bisa menyadari Mimpi menatapnya sedari tadi.


“Kamu tahu apa akibat ucapan itu, Bangun? Kamu masih ingat perjanjian terakhir Ibu dengan orangtuamu?” tanya Bu Aini. “Kalau sekali lagi kamu berbuat keonaran, kamu akan dikeluarkan.”


“Saya yang bertanggung jawab untuk semua itu, Bu, Pak,” kata Mimpi tiba-tiba.


Bangun menoleh ke arah Mimpi dan menatapnya terkejut.


“Saya memanjat lewat tembol belakang, memutar jalan untuk meminimalisir terpantau CCTV, dan saya... yang mencoret itu di lapangan. Saya juga yang bertanggung jawab untuk ruangan rahasia itu.


“Bukan, Pak! Saya pelakunya!” sela Bangun.


Mimpi tak menghentikan ucapannya. “Sudah hampir dua tahun saya di sana. Dan tak ketahuan.”


“Bukan dia, Pak. Saya pelakunya!” kata Bangun dengan volume lebih keras.


“Kalian ini apa-apaan? Jangan mempermainkan saya!” bentak Pak Burhan.


Pak Burhan dan Bu Aini saling berbisik. Tak lama kemudian, keduanya meninggalkan ruangan, menyisakan Bangun dan Mimpi di sana.


Selagi mereka berdua saja, keadaan menjadi canggung. Jelas bukan seperti ini pertemuan yang mereka rencanakan. Tak ada Bangun yang mengembalikan buku Mimpi, tak ada suasana yang lebih hangat dan bersahabat.


“Lo gak harus mengakui itu semua!” kata Bangun.


“Melakukan itu gak akan bikin gue dikeluarkan dari sekolah,” sahut Mimpi.


Bangun terdiam. Dia tak pernah dibela sedemikian besar sebelum ini.


“Sorry, untuk semuanya.” Dia memandang wajah Mimpi dengan lekat.


“Maaf kalau ternyata... setelah semua terekspos baru gue bisa paham kondisi lo.”


Mimpi tersenyum dan menepuk tangan Bangun, dan itu terasa dingin dikulit Bangun.


...****************...


Mimpi tahu apa yang dilakukannya itu salah. Seharusnya dia bilang saja kalau semua itu perbuatan Bangun. Jauh lebih gampang ketimbang mengambil alih tanggung jawab. Dia hanya merasa... Bangun tak pantas dikeluarkan dari sekolah. Dia tak ingin Bangun dikeluarkan dari sekolah.


Tindakan heroiknya itu berbuntut panjang. Dia ditinggal berdua dengan Bangun. Setiap kali Bangun ingin berbicara, Mimpi melarangnya. Selama beberapa waktu, mereka melewatkan jam pelajaran. Mimpi hampir tak tahan berduaan saja dengan Mimpi. Dia lega akhirnya Pak Burhan dan Bu Aini muncul lagi.


Saat pintu ruangan terbuka, ada tambahan dua orang di belakang dua guru tadi. Salah satunya adalah Ayahnya!


“Papa,” ucap Mimpi lirih.


Mimpi tak tahu harus menampakkan ekspresi wajah bagaimana di hadapan ayahnya. Mereka tak memiliki kedekatan yang cukup antara seorang ayah dan anak perempuan. Setahunya, Papa baru saja pulang dari tugas di London subuh tadi. Rona wajah kelelahan dan jetlag masih terlihat di wajah Papa. Dan sekarang Papa harus menghadapi masalah lain lagi, yaitu dirinya.


Ekspresi Papa tak terbaca oleh Mimpi. Mimpi bertanya-tanya apakah Mami sudah menceritakan tentang dia pingsan dan pemberitaan viral itu.


“Maaf, Pa...,” kata Mimpi. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Papa.


“Apa lagi yang kamu lakukan?! Belum cukup bikin malu orangtua?!”


Kata-kata Mimpi diinterupsi oleh suara pria lain.


Ayah Bangun melayangkan satu ayunan tangan menyasar ke arah kepala Bangun. Mimpi memekik saking terkejut dengan perbuatan ayah Bangun. Bangun hanya mengaduh nyaring dan melindungi kepalanya selagi ayahnya tanpa ampun menampar dirinya.


“Ayah, hentikan!” teriak Bangun di depan semua orang.


“Tolong, Pak. Kita bisa bicarakan baik-baik.” Suara Bu Aini terdengar seolah dari kejauhan di telinga Bangun. “Silahkan duduk dulu, Bapak-bapak. Biar kami ceritakan kronologis kejadiannya,” Bu Aini mencoba menjelaskan.


“Ayah, berhenti!” teriak Bangun lagi.


Mimpi beranjak dari tempatnya berdiri dari jarak antara mereka menuju ke arah Bangun. Dia masuk dan merentangkan tangannya di antara Bangun dan Ayahnya Bangun. Matanya membelalak dan menantang Ayah Bangun.


“Mimpi! Jangan! Nanti kena!” teriak Papa.


Secepat Mimpi menyelinap di antara dua orang itu, secepat itu juga Ayah Bangun berhenti.


Mimpi bersyukur dia tidak kena tamparan Ayah Bangun. Padahal dadanya sudah bergemuruh hebat.


“Seharusnya lo enggak usah lindungi gue,” bisik Bangun.


“Jangan merasa kalah sama cewek. Lo tetap cowok meskipun gue coba lindungi,” balas Mimpi.


Selagi ayah Bangun menenangkan diri, ruangan hening.


Untung saja akhirnya keadaan bisa dikendalikan. Semua orang duduk. Pak Burhan dan Bu Aini menceritakan kembali kejadian perkara, yang terdengar seperti kaset rusak di telinga Mimpi. Sesekali dia melirik Bangun. Pandangan cowok iu terpaku lurus pada ujung taplak meja. Rahang Bangun mengeras, raut wajahnya sedingin es, tangannya mengepal erat. Dia juga melirik Ayah Bangun. Pria itu tak lepas menatap puteranya dengan ekspresi marah tak berkesudahan.


“Jadi kesimpulannya, ada dua pelanggaran yang sudah diperbuat salah satu dari mereka, karena kami belum memutuskan. Pertama, mengubah fasilitas sekolah untuk kepentingan pribadi. Kedua, melakukan pelecehan terhadap guru dan perbuatan tidak menyenangkan dengan mencorat-coret lapangan upacara. Perbuatan itu sangat fatal sekali, terutama jika benar pelakunya adalah Bangun Adhiguna. Karena berdasarkan surat perjanjian dengan ibunya Bangun beberapa waktu lalu, jika satu kali lagi Bangun melakukan kesalahan, dia siap hengkang dari sekolah ini,” kata Bu Aini. Dia mengangguk ke arah Papa Mimpi dan Ayah Bangun.


Mimpi melihat wajah pria itu, ayah Bangun masih terlihat murka. Ayunan tangannya menyasar kepala Bangun sekali lagi. Cowok itu diam dan tak memberikan perlawanan.


“Hentikan...,” kata Mimpi lirih.


...****************...


tbc