The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 7



Bab 7


“Semua kunci akan saya buka. Dan tentu saja, dimulai dari yang itu,” Pak Burhan menunjuk gudang paling kanan.


Maka cerita hantu gudang yang diwariskan turun-temurun itu pun ke setiap angkatan, berseliweran di kepala Bangun. Bangun pun mengembuskan napasnya dengan berat. Pak Burhan pun berjalan menuju gudang sebelah kanan dan memegang kunci untuk membuka pintu gudang itu. Setelah membuka kunci, Pak Burhan pun meninggalkannya sendiri. Samar-samar Bangun mendengar siulan, entah dari Pak Burhan entah halusinasinya saja atau jangan-jangan dari dalam ruangan ini. Seketika Bangun pun merasa bergidik sendiri. Tak sadar dia pun menendang ujung pintu dengan ujung kakinya, sehingga sakit yang dirasakan pun sampai ke tulang keringnya.


“Anjir... sakit anjir....”


Pak Burhan tak hanya membual. Beliau benar-benar menghukum Bangun dan ketiga temannya untuk membersihkan semua yang telah diperintahkan oleh beliau. Khusus untuk Bangun seorang, dia melihat Pak Burhan membuka satu per satu kunci pintu gudang. Setelah membuka gudang paling ujung kiri, beliau lenyap dari pandangan.


“Puas Burhan ini, ku rasa!” Bangun berujar, sekadar memberi suara pada keheningan yang ada di gudang itu. “Gue gak bakalan nyerah gitu aja! Burhan harus tau gue enggak bakalan nangis ketakutan hanya karena hukuman sialan kek gini!”


Bangun menyerngitkan alisnya dalam. ‘Sialan! Jangan sampai gue disangka gila!’ gumamnya dalam hati nya. Bangun melirik ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang yang terlihat. Yah, mau tidak mau, dia HARUS segera masuk ke ruangan itu, menjalankan hukuman dengan menumpulkan indra-indranya yang entah bagaimana ceritanya menjadi terlalu peka saat ini.


Perlahan jari jemari Bangun memegang kenop pintu.


Cekreekkkk....


pintu pun terbuka.


Bangun mengintip ke dalam melalui celah di daun pintu. Dilihatnya pemandangan berupa tumpukan kardus yang tak beraturan, sarang laba-laba di mana-mana. Indra penciuman Bangun menghirup sesuatu. Dia yakin inilah sensasi mencium bau melati di tempat itu yang disinyalir berhantu.


“Bangke emang! Anjir! Gue gak takut ege, gue gak takut!”


Bibirnya menggumamkan kata-kata seolah melafazkan mantra yang dapat melindungi dirinya. Bangun yang selalu dikenal bodoh amat dan sangar. Tapi percayalah, jika bersinggungan dengan kehidupan gaib yang seperti saat ini, tidak penting bagaimana tanggapan orang tentang kepribadiannya!


Tangannya bergetar, tapi dia berhasil membuka pintu ruangan itu lebih lebar dengan mendorongnya perlahan. Pemandangan tumpukan kardus membuat Bangun semakin lesu. Apa dia perlu menyusun benda-benda itu supaya rapi? Apalagi banyak buku berserakan di lantai. Sungguh tak enak dipandang. Namun, gudang ini tidak sebesar yang di kira, hanya berbentuk persegi panjang sempit. Jika bangun berdiri dengan pintu tepat di sisi kirinya, maka di hadapannya terdapat lorong panjang dengan tumpukan kardus di sisi kiri dan lemari panjang di sisi kanan.


Meskipun aroma melati mempermainkan saraf hidungnya dan membuat otaknya mengingat setiap spekulasi menyeramkan yang berbau mistis, Bangun berusahan memulai pekerjaannya dengan perlahan. Pertama, dia mengambil dua ember yang masih berada di luar pintu. Kedua, ia meletakkan keduanya di dalam ruangan. Bangun mengeksplorasi lorong sempit penuh kardus dan sarang laba-laba itu. Dia mulai berjalan untuk melihat ujung ruangannya.


Setelah berjalan untuk melihat ujung ruangan itu, ternyata di ujung ruangan ada semacam celah antara lemari dan dinding. Bangun pun penasaran apa ada ruangan lagi di baliknya.


Tiba-tiba pnti di belakangnya berdebam tertutup sendiri. Seketika itu Bangun terkesiap dan segera dia berlari menghampiri pintu, mencengkram kenop, dan berupaya untuk membukanya.


Brak...


Brak...


Brak...


“WOI, BUKA PINTUNYA, WOI...!” Dia terus berusaha untuk menggedor-gedor pintu itu berkali-kali, tetapi sayang, upaya yang sia-sia.


“Sialan! Pasti Pak Burhan sengaja nih ngunci gue di dalam sini!” umpatnya.


Kemudian dia berhenti melakukan usaha yang dianggapnya sia-sia. Ruangan itu benar-benar hening. Tak ada satu pun suara terdengar bahkan dari luar sekali pun. Bahkan angin pun tidak ada yang menyapa menghampirinya. Hanya seberkas cahaya siang yang menyelinap masuk di antara dedaunan trembesi hingga masuk lewat jendela tinggi, cukup menerangi ruangan di mana ia berada saat ini. Mata Bangun pun yang menyipit karena cahaya mulai terbiasa dengan adanya cahaya yang menyelinap masuk dan dia bisa melihat isi ruangan dengan lebih jelas.


Setelah bermenit-menit bergelut dengan keheningan, Bangun meraih gagang sapu. Namun, saat hendak melangkah, tangan kirinya menyenggol tangkai alat pel di dalam ember. Dia berusaha menahan agar air di ember tidak tumpah. Dan nyatanya, gagal. Air yang berada dalam ember pun tumoah sehingga membuat genangan di lantai ruangan itu.


“Huft... sialan! Sialan!” umpatnya, diiringi ucapan yang lain.


Kepanikan Bangun pun terlihat berlipat ganda.


Dia berusaha untuk menggulung bagian bawah celana panjangnya. Ia mengarahkan fokus agar bisa melupakan hawa mistis yang mendominasi perasaannya saat ini. Dia berjongkok, meraih peralatan yang terkena air, lalu memindahkannya ke bagian lorong yang masih kering, di dekat tumpukan kardus.


Begitu Bangun ingin berdiri, dia berpegangan pada sebuah kardus yang dikiranya kardus itu kuat menahan beban tubuhnya, tapi isinya malah berjatuhan. Dengan serempak buku-buku yang berada di atas kardus itu pun berguguran bersamaan sehingga menimpa kepalanya, dan mendarat di genangan air.


“Oh, s*it”!”


Bangun menjerit dengan umpatannya. Sedikit pening dengan adanya kejadian timpa menimpa benda yang jatuh menyerang kepalanya. Dia berpikir sejenak apakah penghuni gudang ini tidak menerima kehadirannya sehingga ingin mengusirnya secara kasar? Tapi kenapa dia malah terkunci di ruangan ini. Apa benar Pak Burhan menguncinya dari luar?


“Menyengat banget sih ini bau! Bikin kepala gue pusing deh! Gue gak pengen mengganggu di sini! Biarin gue keluar!” Bangun pun akhirnya berteriak entah kepada siapa. Mungkin kepada rumput yang bergoyang di luar sana.


Kesadarannya semakin menipis. Katakanlah akal sehatnya jadi kacau. Bayangan seseorang yang sudah meninggal atau makhluk melayang mulai mengacaukan isi kepalanya. Dia tahu ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus keluar dari ruangan berhantu ini.


Dilompatinya genangan air yang ditimbulkan olehnya sendiri, seolah air itu adalah darah. Tapi pendaratan yang dilakukannya tidak sempurna, sehingga kaki kirinya terkilir. Refleks tangan kirinya mencari pegangan.


Rupanya Bangun tetap tidak belajar dari pengalamannya. Isi kardus yang dipegangnya pun sama berjatuhan dan menambah tumpukan buku di lantai. Bangun pun meraih bagian lemari, tapi sialnya lemari itu bergetar pertanda lemari yang sudah rapuh, membuat semua kardus menjadi miring. Makin banyak buku-buku berjatuhan dari kardus-kardus, bahkan dari tingkatan paling tinggi sekali pun. Kemudian, satu buku tebal tepat menimpa di kepala Bangun. Buku itu pun terbuka saat jatuh di lantai.


Bangun tersungkur dan tak bisa mengendalikan tubuhnya karena merasa melihat darah di halaman buku tersebut. Apalagi saat wajahnya jatuh tepat menimpa halaman buku yang terbuka itu. Ia pun tak sadarkan diri.


Seandainya kejadian ini memiliki saksi mata, apa yang harus dia katakan? Kalau ada orang yang menemukan dirinya pingsan, tak sadarkan diri dengan tumpukan buku yang berserakan, apa yang harus dia katakan? Bagaimana penjelasannya? Bangun tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada diri nya.


Jangan-jangan yang mengetahuinya menebarkan gosip, “Si Badboy pingsan, tak sadarkan diri di ruangan berhantu! Si Badboy penakut! Hahahaha....”


...****************...


Hahaha Badboy konon, tapi takut sama hantu 👻🎃👻