The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 10



Bab 10


Tanpa menunggu reaksi dan jawaban dari Randu, Mimpi langsung pergi meninggalkan Randu.


‘LIhat, nah, lihat kan, barusan, aku bersosialisasi? Aku berhasil mematahkan teori brilian Mila tentang aku. Tapi sejak kapan aku membutuhkan pembuktian atas apa yang orang lain pikirkan tentangku,’ gumamnya di hati.


Tidak akan ada yang menemukan Mimpi di perpustakaan, karena memang dia tidak sedang pergi ke sana. Perpustakaan terletak di deretan bangunan depan, di sisi selatan, sementara cewek itu bergegeas menuju gedung belakang, tepatnya arah utara.


Mimpi lewat koridor tengah karena tidak mau mengambil risiko bertemu dengan badboy yang populer itu, siapa lagi dia, Bangun Adhiguna. Apalagi yang punya kepentingan dengan gedung belakang, atau tembok belakang seperti kasus Bangun yang Mimpi ketahui dari akun gosip sekolah. Yang paling penting, Mimpi tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui keberadaan satu-satunya tempat di mana dia menemukan kenyamanan di sekolah ini.


Untungnya, tembok belakang dengan adanya keberadaan Bangun sekarang berkebalikan sisi dengan tempat yang dituju Mimpi sekarang.


Mimpi pun harus mengambil kunci dengan gantungan stoberi kecil yang dia sembunyikan di dalam pot batu bungenvil ungu nomor dua dari ujung koridor sebelah kiri.


“Di mana sih? Whoa, ketemu juga akhirnya.” Mimpi mengangkat kunci yang ia temukan dengan riang gembira. Setelah hari yang benar berat yang ia rasakan, satu hal menyenangkan semacam bertemu kunci ruangan saja berhasil membuatnya bahagia hatinya.


Mimpi mulai membuka pintu gudang, yang paling ujung kanan, dan ya, yang disinyalir berhantu itu. Dia melewati lorong sempit ruangan yang dihiasi pemandangan tumpukan kardus, lalu melewati ceah antara dinding dan lemari besar ke ruangan yang sedikit lebih luas.


Jika pertama kali memasuki gudang ini, pemandangan yang tampak hanya ruang pesergi panjang sempit penuh tumpukan kardus buku menjulang tinggi dan rak-rak tinggi yang juga dipenuhi kardus buku dan barang-barang lain. Sebagian orang hanya akan melihat gudang penuh sarang laba-laba. Yang lian tidak akan berani dekat-dekat karena reputasinya sebagai gudang berhantu. Dan sebagaimanan gudang berhantu, tidak akan ada yang mau masuk lebih dalam. Petugas kebersihan masuk ke ruangan ini satu semester sekali untuk menumpuk kardus buku di lorong. Dia tidak pernah merapikan dan membersihkannya sama sekali.


Tentu saja ini menguntungkan bagi Mimpi. Padahal, ketika kau melewati celah sempit di ujungnya, sebuah ruangan menyenangkan akan menyambutnya. Mimpi ingat, dia menghidupkan kipas angin kecil saat meeting kelas semester ganjil tahun lalu. Dia memasukkan barang-barang lain satu per satu jika ad a kesempatan, hingga sekarang, lebih dari setahun klaim kepemilikannya atas tempat ini. Tempat persembunyian sempurna di mana Mimpi menghabiskan jam istirahat atau momen melarikan diri dari kelas.


Ini seperti tas rahasia milik Newt Scamander dalam kisah fantasi Fantastic Beasts. Dan apabila Newt mendapatkan hewan langka, ia akan memasukkannya ke dalam tas rahasia. Seperti Mimpi saat ini menyulap ruangan menjadi perpustakaan pribadi untuk menghabiskan waktu luang. Entah untuk membaca atau mengerjakan tugas.


“Huh! Akhirnya, buku PR Bahasa Inggris yang ketinggalan kemarin. Harus dibawa, nih...” ucapnya mengingatkan dirinya untuk membawa buku tersebut.


Dia duduk di atas karpet berwarna biru di lantai. Karpet lipat yang dia bawa saat kelas sebelas semester pertama. Kemudian, dia bersandar ke lemari kokoh dan mulai melanjutkan tugasnya.


Sambil membuka-buka kertas notula yang dibawanya malah membuatnya mengingatkan peristiwa di kelas tadi. Terutama saat membaca catatannya mengenai penjelasan Mila saat presentasi tadi. Menyebalkan!


Mimpi mengingat itu hanya dapat mengumpat saking sebalnya. Ia tak menyadari kali ini meremas kertas itu, lalu melempar ke kotak sampah di sudut ruangan.


Tuk...


Kertas itu masuk tepat ke dalam tong sampah.


“Mila menyebalkan! Ngeselin! Mila...” serangkaian serapah yang tidak berhasil membuatnya lega, tapi setidaknya bisa sedikit mengurangi kekesalan dalam hatinya saat ini.


Teringat tugas notula yang harus dikumpulkan segera, Mimpi bangkit dari duduknya dan memungut kembali semua kertas yang sudah menjadi gumpalan bola di dalam tong sampah.


“Huftt....!” Ia membuang napasnya kasar. Mimpi berjongkok, membuka gumpalan kertas dan berusaha meratakannya kembali di atas paha.


‘Pekerjaan yang melelahkan!’


Tepat saat akan berdiri, dia mendengar sesuatu.


cekrek!


Bunyi pintu yang dibuka.


Seseorang akan memasuki ruangan!


Mimpi menahan napas! Tak lama dia mengembuskan pelan-pelan, berupaya menetralisir perasaan paniknya. Bukan kali pertama petugas keberhasilan masuk ke gudang saat dia berada di dalam. Biasanya Mimpi akan mematung hingga orang itu keluar lagi. Tapi ini bukan jadwal petugas kebersihan masuk.


Mimpi berdiri perlahan di sudut ruangan, mencoba mencari tahu siapakah yang masuk itu. Dia mengintip dari sela-sela tumpukan barang yang ada di rak.


Hampir saja dia mengumpat saat menyadari siapa yang dilihatnya!


‘Bangun Adhiguna?! Mau ngapain dia ke sini?!’


Mimpi bertahan di posisinya, mengintip lagi dari celah dan dia dapat melihat jelas apa yang terjadi pada Badboy yang satu itu!


Bangun membawa masuk dua ember berisi alat kebersihan sambil bergumam entah apa. Dia melihat-lihat seluruh isi lorong itu, lalu berjalan hingga ke celah antara dinding dan lemari. Mimpi pun harus menahan napasnya dan berdoa jangan sampai badboy yang satu ini mendapatinya.


Tak lama berselang, ujung gagang sapu menyebabkan pintu gudang tertutup. Mengakibatkan debaman yang cukup keras. Sepertinya badboy, Bangun, tak menyadari itu, karena dia panik seakan benar ada hantu yang menutup pintu dan menguncinya di dalam sana untuk dijadikan tumbal.


Mimpi hanya dapat meringis menyaksikan kepanikan seorang badboy tampan seantero sekolah Tunas Jaya yang digemari para wanita itu khususnya. Apalagi, Bangun Adhiguna menggebrak pintu sambil berteriak.


“BUKA WOIII......! BUKA!”


Mimpi mengikik, tak lupa ia membungkam mulut dengan kedua telapak tangan karena, ‘ahahah ayolah, ini sangat konyol dan lucu! Bangun yang badboy dan menyebalkan itu, menjelma menjadi anak kucing imut dan lucu yang takut dengan air.


Rasanya Mimpi ingin sekali memberi tahu badboy itu kalau pintu gudang ini rusak dan selalu mengunci sendiri. Tapi tentu saja tidak semudah itu, ferguso... Mimpi tidak sebaik itu untuk memberitahukan sebuah informasi.


Kejadian selanjutnya bertambah seru. Mimpi tidak ragu-ragu mengambil ponsel dari saku, dan menyalakan kamera dan mengubahnya dalam mode video. Ia mengambil video yang menurutnya lucu yang dialami oleh badboy, Bangun Adhiguna, ini. Siapa tahu akan berguna di kemudian hari. Pembalasan dendam mungkin? Hihihi


Dan beruntung cahaya matahari siang semakin masuk dari jendela tinggi.


‘Sayang sekali kalau tidak diabadikan, hahaha....’


Dari celah sempit di antara tumpukan kardus di sisi lemar, Mimpi merekam dan bergerak tanpa suara, mengikuti pergerakan Bangun. Cowok itu berkeringat dingin hingga Mimpi bisa melihat buliran air di pelipis nya, bahkan ekspresi nya penuh ketakutan, air tumpah, lalu tangannya mencengkram kardus sebagai pegangan tapi ternyata kardus itu terjatuh dan isinya terburai. Mimpi yang melihat itu tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Di raut wajahnya pastinya Mimpi tertawa dalam diam sambil merekam kejadian yang langka itu. ‘Hahahha’


Mimpi sampai heran dengan dirinya sendiri yang menikmati momen-momen ini. Saat buku yang membentur wajah cowok itu, ekspresi Bangun sangat jenaka. Lucu. Rasanya Mimpi ingin tertawa terbahak-bahak di depan cowok itu saat ini.


Dan Bangun pun bangun dari jatuhnya dengan wajah memerah bak kepiting rebus, melangkah menghindari kekacauan, tapi dia tergelincir dan mencari pegangan lagi ke kardus berisi tumpukan buku lagi, buku-buku terbuai dan menimpanya lagi.


“HAHAHAHA”


Saking bersemangatnya Mimpi lupa harus menyembunyikan dirinya. Kikikan samar itu seperti terdengar ditelinga Bangun Adhiguna. Tapi untungnya, cowok itu terlalu sibuk dengan nasib nahas yang menimpanya.


“Bau melati ini, bikin kepala gue makin pusing. Gue enggak mengganggu di sini! Biarin gue keluar! WOY!” Bangun berteriak kencang.


Mimpi menggigit bibir bawah untuk menahan tawanya. Kemudian, sebuah buku tebal menimpa kepalanya, lalu terjatuh di lantai dengan posisi membuka. Cowok itu tersungkur sehingga kepalanya jatuh tepat di atas buku yang terbuka.


Dengan tangkas Mimpi memindahkan posisi kamera di celah-celah yang dia hafal titik-titiknya. Mimpi sudah hafal dengan tempat itu, dia mendapatkan angle terbaik untuk merekam momen berharga dan langka ini.


Bangun tersungkur. Terjatuh. Dia sudah kalah. Tidak ada pergerakan lagi setelah insiden itu, dan Mimpi pun mematikan kameranya. Tak lupa dia menyimpan video yang telah dia rekam tadi di ponsel galerinya.


Sungguh Bangun tidak bergerak sama sekali.


Mimpi bergumam pelan. “Apa yang terjadi dengan badboy itu? Apa dia pingsan?”


Mimpi memastikan tidak ada orang lain yang masuk ke gudang selain dirinya dan Bangun, cowok badboy itu. Dia keluar dari persembunyian. Dia mendekati tubuh Bangun, memastikan kalau cowok itu benar-benar pingsan.


“Kasian... hihihi. Sok sih! Gitu aja takut, untung gak sampe ngompol di celana lu, boy... hihihi...” gumamnya sambil menjulurkan jari telunjuk untuk memeriksa apakah masih bernapas.


“Oh, masih ada!” ujarnya disertai ******* lega. Setidaknya badboy satu ini belum mati.


“Trus, gue ngapain ini?” pikir Mimpi bingung.


...****************...


tinggal aja udah tinggal... ntr dia bakal bangun terkejut terus jerit-jerit


wkwkwkwk