The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 29



Bab 29


Lengkap semua tugas satu per satu yang telah Bangun serahkan. Tetapi Bu Aini dan Pak Burhan tidak percaya begitu saja terhadap Bangun. Napakah ini murni dia seorang diriyang mengerjakan atau kah ada seseorang yang mengerjakan dibalik semua tugas-tugas ini?


Pak Burhan dan Bu Aini pun segera melakukan pengetesan terhadap Bangun.


“Coba kamu buktikan kalau kamu mengerjakan ini semua sendirian!” Pak Burhan tampaknya tak mau kalah telak. “Sebutkan apa yang kamu ketahui tentang konsep benda terapung pada fluida statis! Kalau kamu mengerjakan tugas ini, kamu pasti tahu.”


Bu Aini mengerutkan dahinya, seakan tidak senang dengan perlakuan menghakimi dari Pak Burhan kepada Bangun. Sayangnya Pak Burhan duduk membelakangi Mimpi sehingga Mimpi tidak bisa mengamati bagaimana ekspresi guru itu.


Bangun tidak merasa gugup sedikit pun, ia segera saja menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh Pak Burhan dan menjelaskannya. “Benda terapung terjadi jika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis zat cair. Bisa juga dijelaskan dengan konsep gaya berat dan gaya apung. Gaya berat benda lebih kecil daripada gaya apung, maka benda akan terapung.”


Mimpi memperhatikan Bangun dari kejauhan mata memandang. Ia tidak tahu apakah jawaban yang diberikan Bangun merupakan jawaban yang tepat atau malah sebaliknya.


Pak Burhan hanya diam saja, tidak menanggapi jawaban dari Bangun Adhiguna.


Jelas sekali terlihat ekspresi kepuasan di wajah Mimpi karena Bangun bisa menjawab pertanyaan itu denga akurat yang disinyalir benar.


“Apakah perlu saya menjelaskan tugas yang lainnya juga, Pak, Bu?” tawar Bangun. Hatinya sudah berbunga-bunga dengan kemenangan yang dia rasakan hari ini.


“Cukup. Sudah cukup. Nanti Ibu kirimkan tugasmu ke guru mata pelajatan masing-masing. Sekarang kamu bisa kembali ke kelas.”


Ucapan Bu Aini tidak mendapat penolakan dari Pak Burhan.


Bangun kemudian berdiri dan berbalik. Senyuman yang tertahan tadi di bibirnya merekah begitu saja saat meninggalkan ruangan BK.


...****************...


Mimpi mendapati ruangan rahasianya kosong, tak berpenghuni saat istirahat pertama. Ketiasaan Bangun mengakibatkan atmosfer ruangan menjadi berbeda, membuatnya jadi susah bernapas. Dia merasakan kekecewaan. Terbesit harapan di hatinya, mungkin cowok itu datang di istirahat kedua. Entahlah.


Kenyataannya, cowok itu tidak datang juga. Tak ada tanda-tanda keberadaannya di sini antara jam istirahat pertama dan kedua.


Mimpi duduk di kursi singgahsananya, menelungkupkan kedua tangannya di atas meja dan membiarkan kepalanya terkulai di sana. Pandangan Mimpi tertuju pada kain putih yang masih menutupi rak buku di depannya.


Dia terus saja memikirkan ucapan Bangun tentang mendiang ibunya yang meninggal karena kanker paru-paru. Yang menyebabkan dia menjadi trauma dengan buku.


Flash back.


“Satu fakta tentang ge yang perlu lo tahu sekarang... nyokap gue seseorang yang suka dengan buku dan hampir mirip sama lo.”


“Sebelum nyokap gue meninggal, dia lagi bacaain novel klasik buat gue... Darah menciprat dari mulut dan hidung nyokap gue, membanjiri buku. Nyokap sampai pingsan, gak lama petugas medis datang, bawa ke rumah sakit. Mobil ambulans meraung-raung di depan rumah.” Bangun mengepalkan tangannya saat menceritakan itu. Dia menampakkan wajahnya yang sangat murung. Sesaat dia menarik napasnya panjang lalu mengembuskannya perlahan.


“Yang melekat dalam ingatan gue... bercak darah yang banyak di buku... semakin lama semakin banyak, mengalir deras... gak mungkin bakal sebanyak itu juga sampai bukunya basah semua, kan? Ingatan masa kecil gue kayaknya emang kacau.”


Terlihat sekilas Bangun terkekeh, tapi tak mengurangi murah yang di wajahnya. Dia berusaha untuk mengusir bayang-bayang mengerikan dari peristiwa yang tengah diceritakannya.


Sedangkan Mimpi yang mendengarkan cerita itu hanya dapat mengutuk dirinya sendiri karena kehabisan kata-kata. Tak berkutik sedikit pun bahkan sekadar memberikan penghiburan bagi cowok di hadapannya.


“Harusnya yang gue inget itu wajah nyokap, ya. Karena di hari itu, di umur gue yang delapan tahunan itu, terakhir kalinya gue ketemu nyokap. Besok paginya nyokap sudah gak ada.”


Bangun memejamkan matanya sejenak. Mimpi menggenggam tangan Bangun yang terkepal. Mimpi merasakan tangan Bangun yang dingin di kulitnya. Bangun membiarkan tangan Mimpi, justru kepalan itu melonggar.


“Kanker paru-paru.”


“Turut berduka,” ucap Mimpi melemah.


Flash back off.


...****************...


Di sisi lain, pemikirannya tidak lagi dipenuhi konflik yang terjadi antara karakter-karakter fiksi di buku yang sedang dibacanya. Ia merasakan sedikit berbeda dengan dirinya sendiri.


Sayangnya, seseorang di pikirannya itu tak memberikan petunjuk apa pun tentang keberadaannya sekarang. Mimpi merasa ada yang hilang dalam hidupnya.


Namun, dia tak mau berlama-lama terkubur bayangan Bangun di dalam benaknya. Ditepisnya semua ingatan tentang apa yang sudah mereka lakukan bersama dalam waktu belakangan ini. Apalagi dia harus mengerjakan hukuman dari Bu Aini, yaitu menulis kalimat “SAYA BERJANJI TIDAK AKAN BOLOS SEKOLAH LAGI” sebanyak lima ratus kali dan menulis perjanjian di atas materai.


Alih-alih menulis, Mimpi bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju teritori Bangun.


Mimpi memandang tembok yang dipenuhi oleh cat abstak. Mencoba untuk memahami apa yang telah tersirat di dalam lukisan tembok itu. Tapi dia hanya mendesah pelan, dan tak memiliki ide sama sekali untuk mendapatkan petunjuk apapun. Mungkin Bangun hanya iseng saja memadupadankan beragam warna di sana.


Mimpi menyerah, mencoba mendekati kardus di belakang pintu, tempat Bangun meletakkan peralatan melukisnya. Mimpi tetap tidak bisa membaca maksud dari Bangun. Ia beranjak keluar dari ruangan itu.


Ternyata Bangun lebih misterius dari yang dia kira.


Daripada terus memikirkan cowok itu, Mimpi mencoba menjalani hari seperti biasa, sebelum seorang Bangun Adhiguna menginvasi hidupnya. Dia bergegas menuju kantin sekolah. Namun, dia justru masuk ke kantin Pak Min. “De javu banget sih gue,” gumamnya.


Satu momen minggu lalu Mimpi masuk ke kantin yang di dominasi anak-anak cowok. Mimpi maju ke kinter dan mengucapkan pesanannya. “Nasi goreng pedas sama es teh manis, dibungkus,” ucapnya, “atas nama Mimpi.”


Sembari menunggu pesanan dibuatkan, Mimpi duduk di meja kosong dekat konter. Dia mengitari pandangan ke seluruh kantin, berharap menemukan Bangun di salah satu meja.


Aha! Bangun ada di sana. Arah jam sepuluh dari tempat duduk Mimpi. Dari kejauhan, Mimpi mengamati cowok itu sedang mengaduk nasi gorengnya dengan enggan. Sementara anggota geng nya mengobrol seru di sekelilingnya.


Selagi masih memperhatikan Bangun, muncullah sosok Nanda dan Mila. Orang-orang pun menatap Bangun dan dua sejoli secara bergantian. Seorang teman Bangun, kalau tidak salah itu bernama Pandu, menyikut Bangun dan pandangan cowok itu beralih dari nasi goreng ke arah Mila dan Nanda. Mimpi menduga dua orangitu sengaja masuk ke kantin ini selagi ada Bangun. Mimpi melihat dnegan lekat ekspresi Bangun berubah karena kehadiran pasangan sejoli itu.


Mimpi tak menyadari ia sudah mengepalkan tangannya melihat Mila datang. Cewek itu terlihat angkuh seperti biasanya. Saking geramnya, Mimpi tak sengaja menyenggol kotak sendok dan garpu. Yang menimbulkan suara bising seketika di sana.


Treng!


Mimpi cepat-cepat menunduk untuk membereskan kekacauan yang baru saja dibuatnya. Memunguti satu per satu sendok dan garpu yang berserakan dan mengembalikan ke posisi semula.


Saat itulah Bangun menyadari kehadiran dirinya. Pandangan keduanya mengunci. Bangun sekdikit teralihkan dari kemurkaannya terhadap sepasang kekasih itu.


Mimpi mengambil momen, dia menggeleng pelan, memberi sinyal pada Bangun agar tidak membuat keributan di kantin. Dia kembali mengamati pandangan Bangun yang berpaling darinya. Jelas sekali terlihat amarah di wajah Bangun.


“Atas nama Mimpi,” kata seseorang dari konter Pak Min.


Mimpi mendekat, mengambil pesanan, lantas pergi. Tak ada lagi yang bisa dilakukanya di tempat ini.


...****************...


bersambung