The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 6



BAB 6


“Kalian diperintahkan Pak Burhan untuk menemui beliau di tengah lapangan,” kata Pakde. “Jangan lupa siapin tenaga kalian.”


“Memangnya kita disuruh ngapain, Pakde?” tanya Alan polos.


Pakde terkekeh, lalu dia hanya menyuruh anak-anak itu agar buru-buru ke lapangan untuk menemui Pak Burhan sesuai perkataan yang disampaikan oleh Pakde.


Bangun pun berjalan lebih dulu di depan teman-temannya, sedangkan Pandu, Joye, dan Alan mengikuti tepat di belakangnya.


Sesampainya di sana, Pak Burhan menyambut mereka dengan senyuman yang penuh dengan kemenangan dan bahagia.


“Kalian baris yang rapi!” perintah Pak Burhan.


Keempat siswa itu pun melaksanakan perintah Pak Burhan. Matahari terik yang menerpa mereka yang berdiri rapi di tengah lapangan, sehingga mereka harus menyipitkan mata. Sedangkan Pak Burhan sendiri berdiri di bawah pohon yang tidak secara langsung terkena terikan matahari. Bangun melihat alat kebersihan seperti ember, sapu, alat pel, dan peralatan yang lainnya tepat berada di depan Pak Burhan.


“Hari ini, saya akan bebaskan kalian dari semua pelajaran karena saya tahu kalian tidak suka pelajarannya begitu juga dengan gurunya. Bagaimana, baik kan saya?” ucap Pak Burhan dengan bibir yang menyeringai, tak lupa dengan gaya nya yang jemari tangan mengelus dagu dan jambangnya. Bangun ingin menghapus senyuman yang ada raut wajah gurunya itu.


“Saya tentu saja tidak akan melepaskan kalian dari hukuman atas pelanggaran berat yang kalian lakukan kemarin. Pelanggaran tentu harus dibayar dengan konsikuensinya.” Senyum licik masih bertahan, sehingga mengiringi ucapan Pak Burhan.


“Dengarkan baik-baik! Ini dia peraturannya! Satu, kalian harus membersihkan tempat-tempat yang sudah ditunjuk untuk kalian bersihkan! Dua, tidak ada yang boleh keluar dari tempat itu sebelum saya meng-check kembali keadaan tempat itu sudah bersih! Tiga, jika kalian tidak melakukan hukuman ini, bisa dipastikan besok saya akan memanggil kedua orangtua kalian ke sekolah! Empat, kalau kalian berhasil menyelesaikan hukuman ini, poin hukuman kalian tidak akan bertambah. Tapi kalau kalian gagal, lima puluh poin bisa menjadi pertimbangan untuk membuat kalian tidak naik kelas. Lima, apakah kalian semua mengerti?”


“Mengerti, Pak!” Joye, Pandu, dan Alan menyahut secara bersamaan, tetapi tidak dengan Bangun. Ia hanya diam dan menatap Pak Burhan.


“Bangun Adighuna, kamu mengerti atau tidak dengan apa yang saya sampaikan?”


“Ya, ya, ngerti, Pak,” jawab Bangun tanpa minat.


Bangun sadar dia sudah mengantongi banyak sekali poin indisipliner. Penambahan poin hukuman dan pemanggilan orangtua adalah ancaman serius yang tidak bisa dia sepelekan begitu saja.


“Bagus, bagus! Ini yang saya suka. Pandu Andikaraja , kamu bertugas untuk membersihkan seluruh toilet di bangunan bagian timur!”


Pandu tersentak, sampai-sampai wajahnya pias. Bangunan timur adalah gedung siswa kelas sepuluh. Ada tiga lantai, masing-masing lantai punya dua tolet laki-laki dan perempuan. Membersihkan sebegitu banyak toilet laki-laki dan perempuan dan bilik-bilik di dalamnya adalah perkara mengerikan. Belum lagi pamornya di mata adik-adik kelas akan hancur gara-gara pekerjaan ini. Itu yang lebih dia cemaskan.


“Alan Andriansyah, toilet di bagunan bagian utara!”


Glek...


Meskipun beban moral yang ditanggungnya tidak seberat Pandu, tetap saja membersihkan semua toilet gedung kelas sebelas, tingkatannya sendiri, sangat tidak menyenangkan. Dia hanya akan jadi bulan-bulanan anak kelas sebelas.


“Joyeandra Saputra, toilet di bangunan bagian barat!”


Joye sudah menduga akan hal itu, sehingga dia tidak terlalu kaget. Yah, meskipun bersinggungan dengan kakak kelas bukan perkara mudah. Seterkenal apa pun geng The Hurura di SMA Tunas Jaya, kakak kelas mereka sepertinya kurang peduli.


“Tugas kamu adalah...,” lanjut Pak Burhan. Pak Burhan sengaja menikmati efek dramatis dari tunda-menunda penyampaian hukuman untuk Bangun. Bangun pun kesal, tapi jika dia menunjukkan kekesalan jelas akan membuat Pak Burhan semakin senang.


Dia mempertahankan ekspresi datarnya.


“Kamu! Akan membersihkan gudang belakang sekolah! Terutama yang paling kanan!”


Seketika hening. Jika Pandu atau Joye merasa hukuman paling parah, hukuman Bangun jauh lebih menyedihkan plus mengerikan. Membersihkan gudang sekolah, termasuk yang paling kanan pula.


Ketiga temannya menatap iba ke arah Bangun Adighuna. Jika yang lain akan menghadapi anak-anak SMA Tunas Jaya selama menghadapi hukuman, kemungkinan besar Bangun akan berhadapan dengan makhluk gaib atau makhluk tak kasatmata. Gudang itu berhantu!


...****************...


Sebetulnya, deretan-deretan gudang itu dulunya adalah kelas-kelas para siswa. Setelah renovasi besar-besaran sepuluh tahun lalu, kelas-kelas itu tidak terpakai, lalu diubah menjadi gudang. Petugas kebersihan pun mengklarifikasikan gudang agar mudah melakukan penyimpanan. Ada gudang peralatan olahraga di sebelah kiri. Gudang meja dan kursi berada diruang tengah. Lalu, ada ruang penyimpanan buku-buku lama, arsip-arsip kantor, rak-rak perpustakaan, dan lemari usang di ujung kanan.


Semua anak-anak SMA Tunas Jaya tahu kalau gudang paling kanan berhantu. Tempat itu selalu gelap, bahkan di siang hari pun tempat itu juga gelap. Karena dikelilingi pohon trembesi yang sama tuanya dengan sekolah ini. Dan tidak sedikit cerita, dari siapa pun yang uji nyali ke sana, bahwa mereka mencium bau melati dan mendengar bebunyian yang tidak lazim.


Bangun menatap dahan-dahan pohon trembesi berdaun lebat yang menaungi depan gudang. Dia tidak bisa mengelak bahwa pohon ini turut menambahkan kesan angker tempat itu. Bulu kuduknya seketika meremang, mengingat dia harus menjalani hukumannya seharian.


Jika setiap teman-temannya hanya mendapat satu ember berisi air, sikat, dan alat pel, maka Bangun mendapatkan dua. Ember pertama sama seperti yang lain. Sedangkan ember kedua berisi sapu, dua jenis kemoceng, serta dua kain lap. Bangun harus membersihkan semua gudang itu, ruangan yang bertahun-tahun ditinggalkan.


“Nah, Bangun, Bapak akan melihat hasil kerja kamu pukul setengah enam sore,” kata Pak Burhan.


“Pak! Saya gak seharian kan ngerjain ini?” seketika Bangun melayangkan protesnya terhadap Pak Burhan. Pak Burhan tak menjawab pertanyaan siswanya itu, tetapi ia hanya menyeringai dan tersenyum senang di sepanjang hari. Bangun pun seketika berpikir jam setengah enam sore itu keadaan sekolah sudah sepi, bahkan Pakde, petugas kebersihan sekolah pun sudah pulang!


“Semua kunci akan saya buka. Dan tentu saja, dimulai dari yang itu,” Pak Burhan menunjuk gudang paling kanan.


Maka cerita hantu gudang yang diwariskan turun-temurun itu pun ke setiap angkatan, berseliweran di kepala Bangun. Bangun pun mengembuskan napasnya dengan berat. Pak Burhan pun berjalan menuju gudang sebelah kanan dan memegang kunci untuk membuka pintu gudang itu.


Setelah membuka kunci, Pak Burhan pun meninggalkannya sendiri. Samar-samar Bangun mendengar siulan, entah dari Pak Burhan entah halusinasinya saja atau jangan-jangan dari dalam ruangan ini. Seketika Bangun pun merasa bergidik sendiri. Tak sadar dia pun menendang ujung pintu dengan ujung kakinya, sehingga sakit yang dirasakan pun sampai ke tulang keringnya.


“Anjir... sakit anjir....”


...****************...


gue lanjut aja lah ini kisahnya walaupun entah menarik gak menarik


mumpung kalian biasa baca tanpa biaya


selamat membaca ❣️