
Bab 28
Memang sebuah kemajuan karena akhirnya mereka bertukar nomor ponsel, tidak lagi berinteraksi via Instagram. Mimpi jadi mengingat-ingat cara pertama kali meminta nomor WhatsAppnya.
“Alamat email lo apa?” Mimpi bertanya kepada Bangun dengan gaya yang siap untuk dicatat.
“Catat ya... coolbadboybang at-”
“Serius ih!” Mulai geram dengan tingkah Bangun yang terlihat tidak serius.
“Haha, sorry. Siniin hp lo, biar gue tulis sendiri.”
Bangun menyeringai saat Mimpi menyerahkan ponselnya. Dia menatap aneh apa yang dibuat oleh cowok bad boy itu ke dalam ponselnya. Bangun dengan asyik mengetik di ponsel itu.
Ponsel Bangun berbunyi dengan dering yang lumayan nyaring, membuatnya tertawa.
“Nih, ponsel lo. Alamat email gue kirim ke wa lo aja, ya.” Bangun mengembalikan ponsel Mimpi. Mimpi menatap layar ponselnya. Ada tampilan nomor kontak baru dengan nama alay. Saat Mimpi mengecek panggilan keluar, telrihat nomor ponselnya baru saja melakukan panggilan ke nomor kontak Bangun Ganteng.
Bangun beranjak dari tempat itu, berjalan bersiul dengan hati yang gembira. Entah ada yang aneh dengan anak satu itu.
Mimpi hanya bisa bergeming dengan hasil yang dilakukan oleh Bangun barusan. Pencuri nomor ponsel!
Malam Sabtu berakhir dengan Mimpi mengirimkan email berisi tugas Bangun. Setelahnya mereka tak lagi berkomunikasi.
Pada hari Senin, sesuai dengan prediksi, tidak ada yang menyadari Mimpi membolos pelajaran di hari Jumat kemarin.
Sesampainya di kelas, seperti biasa Mimpi menjadi yang tidak terlihat.
“Mimpinya Tika Swastri,” seseorang memanggil namanya.
Mimpi mendongak sementara semua pasang mata menoleh ke arah dirinya.
Seorang guru BK berdiri di depan pintu kelas, “Ke ruang BK sekarang,” ucapnya.
Dugaan Mimpi keliru. Dia sudah berada di bangku, lalu berjalan diiringi ratapan anak-anak sekelasnya. Dia masih gentar dengan peristiwa semacam ini. Tangannya berkeringat dikepalannya. Memang tidak semenyeramkan dan semengenaskan saat Mila menyasarnya di kelas Sosiologi, tapi menjadi sorotan tetap membuatnya merasa kacau. Dia berjalan dengan dagu dan bahu tegak sementara ekor matanya melirik siapa saja yang berbisik tentangnya.
Ini pertama kalinya Mimpi memasuki ruang BK, jadi dia tidak tahu mekanisme hukuman yang akan diterimanya seperti apa. Namun, dari bisik-bisik dua adik kelas di sampingnya, Mimpi mendapatkan informasi bahwa pelanggaran semacam terlambat sekolah langsung ditangani guru piket, sementara untuk pelanggaran lainnya para pelaku harus berhadapan dengan guru BK. Dan berdasarkan pengamatan terhadap muka dengan Bu Aini-guru BK senior, Mimpi jadi tahu kalau mereka akan kena sidang untuk menentukan beberapa penambahan poin pelanggaran mereka.
Setelah orang ketiga selesai kena sidang, pintu ruang BK terbuka dan muncullah Bangun beserta Pak Burhan. Tak ada senyuman dan tanda-tanda keakraban dari keduanya. Bangun kembali ke sosok yang dingin, yang tak dikenali Mimpi selama minggu belakangan ini.
“Ini lah jagoan kita, Bu. Ingin melaporkan hasil skorsnya,” ucap Pak Burhan dengan nada yang dibuat-buat.
“Bangun Adhiguna,” ucap Bu Aini sambil mempersilakan cowok itu dan Pak Burhan duduk.
Anak-anak di bangku panjang dalam ruangan itu kasak-kusuk. Mungkin mereka senang sidang mereka ditunda untuk beberapa saat ke depan atau justru karena kesempatan yang langka ini menyaksikan Bangun ditindak.
“Jadi, mana tugas kamu selama seminggu ini?” tanya Bu Aini tanpa basa-basi.
Bangun membuka ranselnya.
“Matematika,” menyodorkan langsung ke arah Bu Aini.
“Fisika,” menyodorkan kepada Pak Burhan untuk dikoreksi oleh sang pengajar.
“Sejarah, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Kimia, Basaha Inggris...,” dan Bangun menyebutkan semua mata pelajaran yang tugasnya sudah dia selesaikan.
Lengkap semua tugas satu per satu yang telah Bangun serahkan, tetapi Bu Aini dan Pak Burhan tidak percaya begitu saja terhadap Bangun. Apakah ini murni dia seorang diri yang mengerjakan atau kah ada seseorang yang mengerjakan dibalik semua tugas-tugas ini?
Pak Burhan dan Bu Aini pun segera melakukan pengetesan terhadap Bangun.
...****************...
Akankah Bangun dapat menjelaskan semua tugas-tugasnya di depan Pak Burhan, Bu Aini, dan para siswa dan siswi yang dihukum?
Tenang, beberapa episode lagi bakalan tamat.
selamat membaca, Jan lupa tinggalkan dukungan kalian. thanks.