
BAB 36
Seorang guru BK memanggilnya ke ruangan BK tak lama setelah bel tanda istirahat berbunyi. Untung dia belum melarikan diri ke ruangan rahasia. Mimpi menduga pemanggilan dirinya ini berhungan dengan viralnya berita tentangnya beberapa waktu lalu. Mimpi harap mereka berhasil mengusut siapa siswa di balik akun itu.
Di ruangan itu tidak hanya ada Bu Aini selaku guru BK, tetapi ada juga Pak Burhan. Mereka sedang mengamati sesuatu di layar komputer. Mimpi duduk di kursi di depan kedua guru itu.
“Coba kamu berdiri,” perintah Pak Burhan dengan nada tegasnya.
Mimpi pun menurut.
Bu Aini menatapnya dengan lekat, sebuah cara memandang yang tak lagi asung bagi Mimpi belakangan ini. Mimpi menahan ekspresinya agar tak kelihatan jengah.
“Postur tubuhnya mirip, kan?” kata Pak Burhan.
“Tapi saya tetap tidak percaya, Pak. Dia gak punya motif,” jawab Bu Aini lirih.
Mimpi masih berdiri, dahinya berkerut mendengar pembicaraan mereka.
“Nah, duduk,” perintah Pak Burhan kembali. Lagi-lagi Mimpi mematuhinya. “Kamu bisa nebak kira-kira kenapa kamu dipanggil kemari sekarang?”
Tentu saja dia punya asumsi. Namun, Mimpi memilih untuk menggeleng alih-laih menyuarakan prediksinya.
“Kamu benar gak tahu?” suara Pak Burhan terdengar menyudutkan Mimpi.
Mimpi sekali lagi menggeleng. “Gak tahu, Pak,” jawabnya.
“Kalau ini kamu tahu?”
Pak Burhan meletakkan plastik hitam di meja, lalu membuka isinya. Peralatan lukis.
Seketika wajah Mimpi pucat pasi. Dia meremas jari jemarinya. Mendadak dia seolah tak bisa berbicara. Bisu.
Pak Burhan kembali mengambil alih situasi. “Ini barang bukti yang saya temukan di suatu tempat. Urusan dengan tempat itu nanti sama Bu Aini. Tapi, temuan ini ada hubungannya dengan saya. Kamu mau menjelaskan sesuatu, Nak?”
“Saya harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu, Nak. Atau seseorang.”
“Saya...” kerongkongan Mimpi tercekat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang.
“Jadi, kamu pelaku yang membuat gambar saya di lapangan upacara? Atau pelakunya orang lain?”
Seharusnya Mimpi mudah saja untuk memberitahukan barang itu milik siapa. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.
“Apa perlu saya jelaskan duduk perkaranya di sini? Pertama, saya menemukan gudang sekolah dialihfungsikan secara sepihak oleh oknum tak bertanggung jawab. Kedua, saya menemukan barang bukti cat dan kuas ini yang ada hubungannya dengan peristiwa beberapa bulan lalu. Ketiga, dari benda-benda ini yang disimpan di ruangan itu, banyak sekali barang-barang atas nama Mimpinya Tika Swastri, XII IPS 3. Keempat, mengingat waktu itu saya pernah menghukum Bangun Adhiguna di sana, tidak menutup kemungkinan dia bisa tahu ruangan itu dan menjadikannya markas.” Pak Burhan terlihat berapi-api menjelaskan duduk perkaranya.
Satu-satunya yang Mimpi khawatirkan adalah ruangan rahasia miliknya itu. Tamatlah riwayatnya sekarang. Dia seharusnya tak ada urusan dengan Bangun Adhiguna versus Pak Burhan.
“Saya...saya tidak tahu, Pak.”
“Kalau tidak tahu kenapa bisa ada benda-benda dengan namamu di sana?!” Suara Pak Burhan sedikit meninggi.
Pak Burhan melihat layar komputer, lalu membacakan pelanggaran yang dimiliki oleh Mimpi yang sudah terpampang di layar komputer itu. “Mimpi Tika Swastri. Hampir tida tahun sekolah tak pernah ada pelanggaran berat kecuali Jumat, 15 November...” Pak Burhan menatapnya dengan lekat, kali ini nada bicaranya sedikit melunak. “Nah, kalau kamu kooperatif sama kami, dan kalau benar tak bersalah, kami tidak akan menambah daftar pelanggaranmu di sini. Kami baru saja melihat ulang CCTV kejadian itu. Postur tubuh kamu lumayan cocok dengan sosok yang berhasil terekam di sana. Jadi, apa kamu mau mengakui itu perbuatanmu atau kamu mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan ini?”
Mimpi hanya tertegun. Suaranya sudah di ujung lidah, tapi tetap saja tidak ada yang berhasil lolos dari bibirnya. Dia tergugu. Pandangannya beralih ke Bu Aini yang setidaknya sedikit meneduhkan pandangan ketimbang tatapan Pak Burhan yang menyelidik. Dia harus bagaimana? Mengakui bahwa itu semua miliknya ataukah memberitahu yang sesungguhnya? tbc
Mendadak pintu ruangan terbuka. Sosok itu muncul di ambang pintu. Mimpi membelalakkan matanya lebar.
“Bukan Mimpi pelakunya, Pak! Sayalah yang bertanggung jawab untuk semuanya!”
...****************...
tbc
segini dulu. jarinya gak bisa disinkronisasikan.
terimakasih sudah baca. 🎉