The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 8



Bab 8


Mimpi tidak suka menjadi sorotan bahkan terkenal. Dia tidak suka bersinggungan dengan orang-orang yang menjadi sorotan bahkan populer di sekolahan Tunas Jaya. Dia hanya menjadi penikmat, sebagai penonton, dan sekadar orang luar yang hanya sebagai asteroid kecil yang berputar mengelilingi orbit lingkaran yang ada di semesta.


Mimpi selalu heran, kenapa orang-orang selalu haus dan mau berbuat apa pun hanya demi atensi ketenaran dalam akun gosip yang ada di sekolah. Dan sering sekali mendekati bahkan orang-orang populer hanya untuk panjat sosial. Haus akan perhatian? Bisa dibilang begitu. Apa menyenangkan seperti itu?


Bagi Mimpi, lebih menyenangkan jadi dirinya yang sebagai penonton saja. Pada momen-momen tertentu dia pun bisa kabur dari pelajaran dan takkan ada yang menyadarinya. Atau ketika tak ada yang mau satu kelompok dengannya, Mimpi bisa mengerjakan semuanya sendiri. Jauh lebih cepat, lebih nyaman, tanpa ada protes sana-sini. Tak ada benalu yang menyebalkan yang hanya ingin nama mereka tercantum di lembar tugas tanpa terlibat sedikit pun.


Dia aneh dan tidak ada yang peduli dengannya. Mimpi selalu mensyukuri hal itu.


Namun, fotonya masih terpampang di akun gosip Tunas Jaya. Mimpi berniat untuk mengirimkan pesan direk terhadap admin pemegang akun itu untuk menghapus fotonya yang terpampang. Tapi itu akan memberikan kesan kalau Mimpi peduli akan hal itu. Dia pun tak peduli, tapi rasa berangnya tak mau pergi.


‘Tapi kan sekarang bintangnya bukan kamu, Mimpi? Harusnya kamu senang dong..’ dalam hati Mimpi bergemuruh. Mimpi pun mengembuskan napasnya perlahan.


Andai saja di sela foto pertama dan kedua tidak ada insiden tabrakan, Mimpi akan berterima kasih kepada Bangun. Gara-gara itu semua dia mendapatkan luka di siku kanan dan menyebabkan dia terdampar di ruang UKS.


“Punya mata gak, sih?!”


Mimpi masih ingat jelas dalam bayangannya betapa keras bentakan itu. Bahkan suara cowok itu masih terngiang-ngiang di telinganya.


Semua berawal dari pelajaran kedua, Bahasa Inggris, mata pelajaran yang sangat disukainya, meskipun sang guru tidak pernah memperhatikan dirinya. Jangan salah, dia sungguh menikmati perlakuan yang seperti ini agar tidak mendapat perhatian dari sang guru. Jangan mencolok secara akademik. Jawab pertanyaan hanya saat diminta. Jangan jadi biang onar atau suka bolos atau tidak mengumpulkan tugas. Terakhir, tapi yang paling utama, jangan cari perhatian terhadap guru. Tidak aktif, tapi juga tidak terlalu pasif. Jadi pertengahan saja sudah cukup.


Masalahnya, buku Mimpi yang berisi PR Bahasa Inggris itu tertinnggal di suatu tempat. Dan dia baru menyadari beberapa menit sebelum pelajaran Bahasa Inggris itu dimulai. Asal tahu saja, guru satu itu sangat terkenal killer dan sangat disiplin terhadap anak-anak yang tidak mengerjakan PR. Menjadi pajangan di depan kelas selama pelajaran berlangsung. Jelas ini jenis perhatian yang tidak diinginkan oleh Mimpi jika hukuman itu ia terima. Apalagi setelah poninya bermasalah, yang aslinya mirip dengan mie indomie (?). Mimpi tidak ingin masuk akun gosip yang ada di sekolah karena dia yakin anak-anak kelasnya tak segan-segan menjadi kontributor akun gosip itu.


Sebelum pelajaran Sejarah berakhir, Mimpi meminta izin ke toilet. Setelah keluar dari kelas, Mimpi berlari secepat kilat yang dia bisa untuk mengambil buku PR-nya yang tertinggal di suatu tempat dan itu sangat berharga untuk saat ini.


Dia tidak mau mengingat-ingat lagi ucapan yang telah diucapkan kasar terhadap Bangun kepadanya, apalagi mengingat bagaimana reaksi Mimpi setelah itu terjadi. Semua super menyebalkan. Andai saja Mimpi memiliki kemampuan menghilangkan ingatan, dia akan menghilangkan ingatan Bangun saat itu juga untuk menghapus kejadian yang telah terjadi pada saat itu.


“Sudah baikan?” Suster jaga di UKS bertanya kepada Mimpi. “Jadi melamun.”


Mimpi hanya tersenyum canggung. Dia tidak jadi mengambil buku PR-nya. Justru mengambil jalan aman ke UKS. Tubuhnya yang kurus bertumbukan dengan tubuh cowok tegap hingga terhempas ke lantai. Siku kanannya tergores pot batu besar di pinggir koridor. Kakinya sakit, hingga dia berjalan terseok-seok. Yah, Mimpi bersyukur kepalanya tidak terbentur sesuatu yang bersifat tajam. Dia hanya butuh istirahat, begitu kata suster setelah menjelaskan bahwa tekanan darah Mimpi cukup rendah. Mungkin efek kurang tidur semalam dan mungkin juga akibat banyak hal yang berkecambuk dipikirannya. Dan mungkin juga akibat tabrakan dadakan itu. Semua hanyalah bagian dari bola-bola salju yang semakin membesar.


Suster membuatkan surat izin, sehingga menyelamatkan Mimpi dari hukuman guru Bahasa Inggri yang terkenal disiplin dan killer itu. Dia tidak nyaman hanya tiduran di UKS, meskipun ada ponsel yang menyibukkan dirinya saat ini. Seakan-akan suster itu memberikan perhatian. Perasaan Mimpi kurang nyaman. Tadi ada cewek yang pingsan karena hukuman tadi pagi. Namun, cewek itu sudah dibawa pulang oleh orangtuanya. Jadi Mimpi hanya sendiri yang berada di ruangan UKS saat ini yang menjadi pasien satu-satunya.


Mimpi pun bertanya kepada suster itu, “Saya bisa kembali ke kelas?”


“Boleh saja kalau sudah baikan. Tapi tanggung, sejam lagi bel pulang sekolah. Di sini saja istirahat kalau masih kurang sehat.” suster itu melanjutkan kegiatannya di meja untuk menulis.


Entah menulis apa.


Mimpi terdiam sesaat, menimbang-nimbang opsi manan yang lebih baik. Bengong sembari melancarkan jurus stalking di media sosial? Setidaknya itu bisa menghilangkan kebosanan yang tengah dilandanya saat ini, alih-alih masuk kelas dengan siku yang diperban dan poni yang cetar membahana. Ah, untung ada aplikasi noveltoon di ponselnya untuk membaca novel-novel online yang telah dia favoritkan. Setidaknya, kalau bosan melihat Instagram, Tiktok, dia bisa membaca novel online di ponselnya, ya salah satunya ini. Novel dengan judul The Secret, You and I, yang membuatnya senyum-senyum sendiri saat melihat ponsel itu.


Mimpi mendesah, lalu mengiakan saran dari suster.


...****************...


promo sendiri aja gue 👻👻🎃🎃