The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 26



Bab 26


Bangun tak ingin melanjutkan penasarannya tentang satu fakta yang dimiliki oleh Mimpi. Dia sendiri tidak pernah nyaman ketika orang-orang membicarakan keluarga atau pun orangtua. Dia sendiri tidak akan sanggup menceritakan mendiang sang ibu nya kepada orang lain atau tentang sang ayah yang selalu memaksakan kehendak terhadap dirinya.


Bangun berinisiatif membuka kotak bekalnya. Mimpi sudah memuji masakan Bunda, mengatakan bahwa dia beruntung memiliki ibu seperti Bunda. Itu membuat perutnya bergejolak. Dia menyadari kebaikan Bunda yang berlimpah untuknya itu dia balas dengan banyak sekali membuat masalah.


Dia teringat saat Bunda membelanya di depan Ayah atau di hadapan para guru di sekolah. Perasaan bersalah membuatnya merasa menyesal.


“Jadi...,” Mimpi memecahkan keheningan yang melanda di antara dua pemuda pemudi itu setelah keduanya menyelesaikan makan siang, “apa one day one fact lo hari ini?”


“Dulu gue dan Nanda best friend.”


Kalimat itu meluncur dari bibirnya, Bangun melihat Mimpi sedang melongo. Dia berdecak, perasaan aneh karena menceritakan soal Nanda kepada orang tua luar selain ruang lingkup kawanannya berganti menjadi jenaka karena ekspresi Mimpi. Semua orang pasti tak menyangka fakta yang satu ini, bahkan Mila sekali pun.


“Oh,” respons Mimpi kembali ke wajah datar.


“Penasaran kan lo?” tanya Bangun setelah melihat guratan yang ada di wajah Mimpi yang memperlihatkan memang Mimpi sedang menahan penasarannya.


“Seminggu sebelum masuk SMA, gue dan Nanda berantem. Dia mengkhianati gue. Gue sudah bela dia dari kemarahan bokapnya, yang ternyata membuat gue menyerahkan diri untuk mendapat amukan dari bokap gue. Gue bela dia supaya dia mendapat keringanan hukuman, tapi sebaliknya. Dia malah gak bela gue. Dari situ gue belajar untuk gak terlalu baik sama orang. Ketika kita sudah melakukan banyak hal kepada orang lain dan ternyata gak dapat timbal balik apa pun, sama saja seperti kita mengharapkan sesuatu yang gak ada."


Mimpi menegakkan posisi duduknya, menunjukkan bahwa ia tertarik dengan cerita fakta yang disuguhkan kepada dirinya. Mungkin, satu anak SMA Tunas Jaya tak ada yang percaya bahwa Bangun Adhiguna dan Nanda, musuh bebuyutan sejak kelas sepuluh.


Bukan cerita baru jika ada ketegangan antar kedua cowok terkenal itu. Perkelahian keduanya kembali berlanjut seminggu setelah MOS berakhir. Insiden kedua itu melambungkan nama Bangun Adhiguna dan Nanda di sekolah baru mereka. Nama Bangun Adhiguna melambung menjadi viral saat itu. Belum lagi ketika orang-orang mengetahui kalau dia adalah adik kandung dari Surya Adhiguna yang sifat dan kepribadian mereka berdua sangat bertolak belakang. Sejak saat itu Bangun semakin terkenal.


Bangun sangat mengenal Nanda sampai ke sifat buruk yang dimiliki oleh cowok itu. Bangun tahu Nanda tidak akan diam begitu saja ketika kalah populer. Jika Bangun terkenal sebagai cowok bad boy, biang masalah dan lain sebagainya, Nanda akan berlaku sebaliknya. Mudah bergaul dan bersedia menolong siapa pun, untuk mendapatkan predikat itu. Malaikat tak bersayap. Nanda juga memiliki publik speking yang menunjukkan bahwa dirinya pandai berbicara, mudah mengambil simpati orang lain termasuk para gutu. Sampai pada akhirnya, Nanda berhasil menjadi ketua OSIS di sekolahan ini.


Setelah di analisa, satu kesamaan Bangun dan Mimpi, mereka tidak akan mengganggu jika tak diusik duluan. Namun, perbedaan terbesar antara keduanya, jika Mimpi terlihat pasif menanggapu gangguan, Bangun tak segan membuat perhitungan dengan siapa pun yang menghalangi jalannya. Apalagi jika orang itu adalah Nanda, mantan sahabat.


“Kenapa lo bisa musuhan dengan Nanda?”


Pertanyaan Mimpi mengembalikan Bangun yang berkelana terlalu jauh ke belakang untuk mengingat kejadian itu. Persahabatan yang telah tercoreng, membuat Bangun geram dan nyaris menggebrak meja. Namun, ia tersenyum. Melampiaskan kekesalan kepada orang yang tak ada sangkut-pautnya dengan masa lalu hanyalah sebuah kebodohan.


“Lo sudah gue kasihtahu banyak, Mimpi,” jawab Bangun dengan lembut. Baru kali ini Bangun memanggil sosok kakak kelasnya itu dengan nama. Untung saja bell tanda masuk berbunyi.


Mimpi beranjak dari duduknya, meninggalkan Bangun sendirian di ruangan itu. Meskipun, setelah berbicara barusan, Bangun merasa kemarahannya kepada Mila dan Nanda atau kepada guru BK yang tak menghukum keduanya menguap begitu saja. Ada perasaan aneh yang menyelubungi dirinya. Perasaan yang aneh membuatnya hangat.


Alih-alih ingin melanjutkan tugas, Bangun mengambil kuas untuk memulai lagi mengguratkan warna pada tembok teritorinya.


...****************...


Jika masa hukumannya selesai, Bangun takut nantinya dia merindukan sosok berpenampilan aneh di hadapannya itu.


“Lo pernah bolos gak, sih?” tanya Bangun.


“Bolos pelajaran? Pernah lah.”


“Masa?” Bangun terlihat tidak memercayai ucapan Mimpi.


Mimpi mengangguk seolah dia sedang membicarakan prestasi besar yang diperolehnya.


“Tergantung guru yang ngajar, sih. Kalau gurunya gak rajin absen, gue berani bolos. Maik ke sini, baca buku sampai gue puas. Tapi kalau gurunya suka ngabsen, gue cari aman sih,” ucap Mimpi. “Biasanya guru gak bakal merasa kehilangan gue. Menurut orang gak dianggap itu mengenaskan, tapi itu gak berlaku bagi gue. Gak dianggap tuh jadi anugerah tersendiri buat gue.”


“Kenapa itu gak pernah berlaku buat gue?”


“Risiko orang terkenal dan populer ya gitu. Itu salah lo sih,” jawab Mimpi.


“Ah, perasaan lo aja kali,” kali ini Bangun mengelak.


“Siapa coba di sekolah ini tak kenal dengan nama Bangun Adhiguna?” Mimpi bertanya sambil memutarkan bola matanya.


“Udah lah, kita bolos aja, yuk! Bukan bolos pelajaran. Bolos keluar sekolah.” Tanpa basa-basi Bangun mengutarakan ajakannya pada Mimpi.


Yang benar saja? Bangun mengajak bolos keluar sekolah? Sepanjang perjalanan melintasi koridor dan taman yang sepi, Mimpi terus saja terngiang ajakan Bangun.


Semakin cepat pikiran itu berkelebat, semakin cepat Mimpi menepisnya. Enak aja bolos! Mimpi memberikan jawaban serupa sebelum pergi meninggalkan Bangun dengan ide gilanya. Pelajaran setelah senam Jumat adalah Sejarah. Gurunya, Bu Ruth, sukar ditebak. Beliau kadang suka memperhatikan hal detail baik dalam memberikan pelajaran atau saat mengamati murid-muridnya. Bu Ruth tidak seperti Pak Aman yang cuek dengan murid-muridnya, yang tak peduli apakah mereka memahami atau tidak dalam pelajaran, asalkan kelas tidak ribut.


Mimpi mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya dengan cepat saat dia duduk di meja nya. Masih banyak teman sekelas nya yang belum berganti baju olahraga dengan seragam. Mimpi melihat mereka lalu-lalang sambil menghitung persentase ketertarikan terhadap ajakan Bangun.


Di detik-detik terakhir Mimpi justru mengemas barang-barangnya ke dalam tas, dan berjalan cepat melewati taman menuju ruang rahasianya.


Sifat implusif yang dimiliki Mimpi pun kambuh.


...****************...


selamat membaca ❣️