
Bab 15
Sementara di Grup WhatsApp yang diketuai oleh Bangun Adhiguna sendiri telah ramai dipenuhi dengan pesan anggotanya yang memberikan informasi ke dalam Grup itu.
Alan
Guys, gue dikasihtahu sama Nia, katanya Nanda lagi rapat OSIS persiapan buat cari pelaku. Feeling gue sih pasti ada razia besar-besaran.
Bangun
Gak heran, sih, gue. Dia kan carmuk!
Joye
Masih dendam sama Nanda?
Bangun pun membalas lagi pesan yang ada di grup itu.
Yoi.
Joye pun tertawa
HAHAHAHA...
Tapi beneran bukan elu, Bro?
Bangun
Lu orang masih percaya kalau gue senekat itu?
Semua anggota pun seraya bersamaan mengatakan “percaya” dalam grup itu untuk membalas pesan dari Bangun. Dan Bangun hanya tertawa sambil mengumpat.
Bangun pun mengembalikan ponselnya ke dalam sakunya, lalu berpura-pura mencatat di bukunya. Ponselnya bergetar menandakan obrolan di grup masih saja berlangsung. Bangun tidak memedulikan hal itu. Kantuknya semakin menyergapnya, bahkan ketika dia berupaya memahami rangkaian proses kimia yang tengah berlangsung.
Bangun meminta izin untuk pergi ke toilet.
Begitu dia selesai melakukan ritual membasuh mukanya di wastafel, lewat pintu toilet yang terbuka dia melihat rombongan anak-anak OSIS lewat. Bangun pun buru-buru keluar dari toilet. Melihat para anggota OSIS itu membagi kelompok lalu menyebar masuk ke kelas-kelas seperti yang diprediksi oleh Alan tadi.
Di antara rombongan OSIS yangmasuk ke kelasnya, Bangun melihat wajah Nanda dan seketika itu ia teringat akan sesuatu.
Begitu ia kembali ke kelas, Pak Burhan sudah ada di sana untuk menantinya.
“Dari mana kamu?” tanya Pak Burhan.
“Toilet, Pak,” jawab Bangun dengan napas yang masih sedikit memburu.
Bangun melihat beberapa cowok sudah berjajar di depan kelas. Satu kesamaan mereka, yaitu punya postur tubuh tinggi.
“Kamu tahu kenapa mereka berbaris di depan kelas?”
“Gak tahu, Pak,” jawab Bangun santai.
“Jangan pura-pura gak tahu kamu!” ucap Pak Burhan dengan suara baritonnya.
“Beneran, Pak. Saya dari pagi cuma di dalam kelas, ke toilet karena mengantuk, Pak!”
“Memangnya pelajaran begitu membosankan sampai kamu mengantuk? Gak ingat bakal ada ujian semester sebentar lagi?!”
Bangun melihat ke arah guru Kimianya hanya berkacak pinggang dan mendenguskan sedikit napasnya kasar. Membalas tatapan Bangun yang tertuju kepadanya.
“Gak bosan, sih, Pak. Cuma mengantuk aja.”
“Kurang tidur?” tanya Pak Burhan kemudian.
“Mungkin, Pak,” Bangun menjawab singkat. Dia tahu sedang dipancing oleh Pak Caplin yang satu ini.
Tapi tidak sampai disitu saja kecurigaan Pak Burhan terhadap Bangun. Ia terus saja bertanya, “Ngapain aja kamu semalam sampai kurang tidur?”
“Menyiapkan kejutan monthaversary buat pacar saya, Pak.”
“Jangan main-main kamu, ya!”
“Saya serius, Pak.” Bangun membalas tatapan marah dari Pak Burhan.
Setelahnya hening kembali. Pak Burhna memilih untuk undur diri, lalu menuju kelas sebelah. Cowok-cowok berpostur tinggi yang berbaris di depan dipersilahkan duduk kembali ke kelasnya dan melanjutkan kembali pelajaran yang telah tertunda beberapa saat.
Bangun pun kembali ke bangkunya dan mendapati tasnya sudah di obrak-abrik. Dia tahu bahwa sesorang telah menggeledah tas nya mencari barang bukti, tapi mereka tidak menemukan yang mereka cari.
**
Ponselnya pun bergetar terus. Entah dari Grup WhatsApp dari ganknya, atau akun gosip sekolah, atau dari Mila yang mengajaknya ketemuan. Lebih tepatnya meminta penjelasan. Pasti pengakuan di depan Pak Burhan tadi sudah menyebar Rencana kejutan untuk pacarnya itu gagal total.
Bel pertama berbunyi, menandakan istirahat pun akan berlangsung. Saat Bangun mencapai pintu kelas untuk keluar istirahat, Mila menghadang dengan tangan yang sudah terlipat di dada dengan raut wajah yang murka.
“Hai,” ucap BAngun menyapa dengan santai.
“Kita perlu bicara!”
“Gak di sini. Ayo.” Bangun menggandeng tangan ceweknya melewati koridor. Tatapan mata penasaraan para siswa dan siswi mengiringi mereka.
Tanpa mereka berdua sadari, seorang terang-terangan menguntit di belakang mereka.
Bangun membawa Mila turun, menuju jalan setapak ke gudang Mimpi, tentu dia tidak akan membawa Mila mendekati teritorial rahasia Mimpi. Mendadak Bangun jadi teringat kepadanya. Mimpi pasti murka dengan Bangun kalau saja ia mengetahui Bangun membawa Mila ke arah sana, tapi... sekarang bukan saatnya mencemaskan wanita cupu itu.
Setelah Bangun menggeret Mila, dengan segera Mila menghentikan langkah mereka berdua. Tepat di koridor yang sepi. Bangun memastikan tidak ada yang mengikuti atau mencuri dengar. Mata-mata akun ghibah sekolah sangat bertebaran.
“Ngapain sih bawa aku ke sini? Gak tahu apa gudang itu berhantu?” ucap Mila ketus.
“Biar gak ada yang denger pembicaraan kita,” ucap Bangun.
“Biar gak ada yang denger pengakuan kamu?” tuduh Mila serta merta.
“Pengakuan apa, sih? Pengakuan aku sayang sama kamu?” Bangun tersenyum menatap Mila yang cemberut.
Mila memalingkan mukanya sebelum memulai tuduhannya, “Ngaku aja deh, kamu kan yang udah bikin heboh satu sekolah?!”
Andai saja itu bukan Mila, Bangun pasti sudah menjawab kasar pertanyaan itu, bukan urusan elo! Tapi ini Mila, pacarnya. Yang semula hanya membuat Surya marah dan akhirnya berhasil membuat Bangun jatuh cinta setengah mati. Bahkan Surya yang telah lulus tiga bulan yang lalu, hubungan Bangun dan Mila masih berlanjut sampai dengan detik ini.
“Hmmm. Memangnya ada masalah apa?!”
“Memangnya ada masalah apa?!” Mila berucap dengan nada yang murka. “Kamu itu cari perhatian atau apa sih?”
“Kok kamu marah?”
“Udah deh! Lebih baik kita udahan aja!”
Betapa terkejutnya Bangun mendengarkan apa yang terlontar dari bibir Mila. Dari banyaknya kemungkinan kalimat kemarahan Mila kepadanya, ungkapan putus hubungan barusan membuatnya terperangah. Dengan mulut menganga seperti ikan Koi yang kelaparan.
Cowok badboy ini cukup sadar dengan hubungannya ini dengan Mila sedikit merenggang, mungkin karena cewek itu sudah berada di tingkatan akhir SMA. Dia tahu Mila semakin sibuk. Tapi gelagat yang ditunjukkan Mila terasa aneh dan sudah terendus lama. Karenanya Bangun menyiapkan kejutan enam bulan jadian mereka. Bengal-bengal begini, Bangun juga terkenal dengan keromantisannya.
“Ap..Apa?! Kamu sedang bercanda, kan?! Gak serius, kan, kamu?!” Terpaku. Tentu saja. Bangun masih tidak percaya dengan ucapan Mila.
“Jujur, aku udah bosan sama kamu,” ujar Mila dengan entengnya mengucapkan kata itu. Kemarahan yang muncul di kalimat sebelumnya mendadak senyap.
“Dulu aku cuma penasaran sama kamu. Emang gimana sih rasanya pacaran sama cowok yang paling banyak dighibahin orang? Yang terkenal, populer, dan yah semua orang tau kamu siapa. Dan honest, ternyata... biasa aja. Kamu itu masih bocah, yang masih suka cari perhatian dan pengin dilihat semua orang. ‘Lihat aku! Kakakku boleh jadi perhatian karena kepintarannya. Aku gak perlu untuk jadi pintar untuk bisa jadi terkenal!’ Ha ha ha, Basi, Bangun!”
Ungkapan Mila yang baru saja didengar itu benar-benar menohoknya. Seolah ada batu besar yang memukul tubuhnya, membuat kaki lengket ke lantai hingga tidak bisa bergerak.
“Kita udahan ya, Bangun Adhiguna.” Mila mengucapkan itu lagi dengan nada yang melunak seraya ujung bibirnya naik. Mila pun menepuk lengan kiri Bangun.
“Baik-baik selama aku tinggal, ya....” Kemudian, ia pun berlalu meninggalkan Bangun yang masih berdiri mematung di sana.
...****************...
Ok, putus!
selamat membaca ❣️