The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 17



Bab 17


Bangun tidak memberikan tanggapan apa pun. Sebenarnya Mimpi tidak ingin bersinggungan lagi dengan sosok cowok terpopuler yang sering muncul di akun lambe sekolah. Dia tidak pernah peduli dan tak tertarik dengan kehidupan cowok itu. Walaupun Bangun tidak melanggar perjanjian di antara mereka berdua.


Cuma dia yang tahu kunci ruangan itu! Gak mungkin ada orang lain yang tahu selain dia!


Sepanjang perjalanan menuju kelas Bangun, dia meanrik dan menghembuskan napasnya dalam-dalam untuk meredakan emosinya. Namun nyatanya, kekesalan itu tidak bisa hilang begitu saja.


Mimpi bahkan tahu dia tidak punya nyali untuk melabrak cowok itu secara langsung. Dia berisiko menjadi sorotan anak-anak ghibah yang ada di mana-mana, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain melabrak dan bertanya langsung kepada sang pelaku. Keberaniannya menjadi sebesar prasangka bahwa Bangun adalah sang pelaku pencuri kunci itu yang artinya telah melanggar perjanjian mereka.


Mau tidak mau Mimpi memaksakan dirinya menuju kelas Bangun Adhiguna. Sayangnya, teman sekelasnya lebih dulu tiba dan Mimpi melihat Bangun yang telah menggandeng lengan Mila. Mereka turun ke lantai bawah. Tak berdiam diri di situ saja melihat kejadian itu, ia pun mengikuti keduanya.


Mereka menuju jalan ke arah gudang yang membuat Mimpi ingin berteriak. Jangan sampai Bangun membawa Mila ke ruangan rahasianya. Kalau saja sekarang Bangun memiliki kunci gudang itu, pasti ia akan bermaksud untuk membuka dan masuk ke dalam ruangannya. Mimpi pun bersiap-siap akan menangkap basah pencuri kuncinya.


Tak diduga, mereka berhenti, masih berjarak cukup jauh dari gudang yang dituju.


Mimpi pun buru-buru mencari spot yang tak terlihat dan memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan di antara mereka berdua. Ada apa sebenarnya?


“Udah deh! Lebih baik kita udahan aja ya!” Suara Mila terdengar penuh amarah.


“Ap..Apa?! Kamu sedang bercanda, kan?! Gak serius, kan, kamu?!”


Meskipun tak bisa melihat secara langsung bagaimana raut wajah Bangun yang terpatri saat ini, Mimpi bisa menebak bagaimana ekspresi cowok itu saat Mila mengungkapkan pernyataan barusan.


Mimpi tertegun beberapa saat. Benar kalau dia sedang kesal dan menahan amarah dengan Bangun Adhiguna. Dan benar pula kalau Mila adalah orang yang tidak disukainya. Mendengar secara langsung bagaimana proses putusnya sepasang kekasih itu..., entah kenapa dia menjadi merasa canggung.


Mimpi menyadari Bangun yang terkejut akan kehadiran dirinya yang tiba-tiba muncul. Detik sebelumnya, Mimpi tidak peduli apakah Bangun patah hati setelah ucapan Mila barusan atau apa pun perasaan yang dimiliki Bangun saat ini. Mimpi boleh saja mengakui kepentingannya seputar kunci yang dicarinya, tapi Mimpi malah terdiam beberapa langkah di hadapan Bangun dengan perasaan yang campur aduk. Pikirannya sibuk memaki dirinya sendiri yang entah kenapa menjadi iba terhadap keadaan cowok itu.


Tanpa basa-basi Bangun merogoh saku dan menunjukkan kunci itu kepada Mimpi. Benar dugaan Mimpi.


“Sori,” ucap Bangun dengan suara yang parau.


Mimpi hendak berkomentar pedas, tapi sialnya tidak ada suara apa pun yang keluar dari bibirnya. Dengan cepat Mimpi menyambar kunci yang ada ditangan cowok itu dan langsung memasukkannya ke saku.


Bangun membuka suaranya, memecahkan kecanggungan di antara keduanya.


“Ada barang-barang gue tertinggal di sana. Mesti diambil sekarang juga. Lo boleh ngecek kalau curiga gue ambil barang-barang lo.”


Bangun pun membalikkan badannya, memimpin jalan menuju gudang rahasia. Alih-alih mengikuti, Mimpi justru memindai lokasi sekitar, berharap tidak ada seroang pun yang sadar akan keberadaan keduanya bahwa mereka telah bersama saat ini untuk menjadi saksi mata. Begitu merasa aman, Mimpi pun segera menyusul Bangun yang berjalan di depannya.


Mimpi masih saja memaki dirinya sendiri dalam hati. Menyumpahi kebodohannya, kenapa dia tidak bisa memarahi cowok yang ada di depannya ini?


‘Kasihan tahu, cowok yang di hadapan lo saat ini, tuh, habis diputusin sama pacarnya, Mila!’ Mimpi membatin.


‘Dih, ngapain pakai kasihan segala? Bodo amat lah! Dia kan sudah nyuri kunci lo dan gak nepatin janjinya ke lo!' Kata hati yang lain.


...****************...


selamat membaca gratis ❣️