The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 14



Bab 14


Semiggu telah berlalu.


Setelah kejadian itu, hukuman dari Pak Burhan, Bangun menjelma menjadi anak yang baik dengan tidak membuat onar apa pun. Dia tidak terlambat ke sekolah, meskipun tiap malam hanya berhasil tidur kurang dari tiga jam.


Di kelas, setelah melempar tas ransel dan jaketnya ke meja sebelah, dia menelungkupkan kedua tangan di atas meja sendiri dan berhasil tidur.


Ia membiarkan keseruan yang ada di pagi itu.


...****************...


Mimpi melihat hampir seluruh siswa SMA Tunas Jaya berkerumun di pinggiran lapangan upacara. Hanya saja, Mimpi tidak perlu turun menuju tempat kejadian perkara. Dia cukup menikmati dari balkon yang ada di depan kelasnya di lantai tiga. Dari sini pun, gambar itu terlihat cukup jelas, sebuah grafiti pilox hitam membentuk wajah Pak Burhan yang berkostum Charlie Chaplin.


Tidak ada yang menggubris bel masuk meski sudah berbunyi sedari tadi. Mereka masih saja asyik berkerumun di lapangan. Bahkan tidak ada pinggiran balkon yang kosong. Mimpi mendengar berbagai macam asumsi dan perkiraan siapa yang menjadi tersangka. Akun lambe sekolahan pun sudah mengunggah foto grafiti itu. Tidak butuh waktu lama hingga muncul ratusan komentar dari para followers mereka.


Mimpi hanya mendengar ghibahan Mila dan gengnya saat dia kembali ke kelas.


“Itu bener gak sih, pacar lo yang bikin kerjaan, Mil?” tanya Sera.


“Mana lah gue tahu,” kata Mila dengan nada suara yang terdengar tak senang. “Gue rasa mungkin aja iya. Nanda sudah gue suruh menindak ini, sih,” lanjutnya lagi.


Mimpi berjalan melewati mereka, berusaha bersikap tak acuh pada ghibahan mereka itu. Dia tak peduli apakah Nanda si ketua OSIS akan bergerak mengusut kejadian ini ataukah Mila turut andil dalam menggerakkan Nanda. Ataukah Bangun juga terlibat di dalamnya. Yang jelas, setelah kejadian minggu kemarin bersama Mimpi di guang rahasianya, Mimpi dan Bangun sudah menyepakati untuk tidak pernah bersinggungan atau pun bertegur sapa dalam hal apa pun.


“Bangun! Oi, Bangun!” Pandu menepuk bahu Bangun dengan keras hingga membangunkan cowok itu. “Lo kan, pelakunya?!”


“Keren banget lo, Bro! Gue gak nyangka aja lo bisa sekeren ini!” timpal Joye.


Bangun hanya bisa menengadah,mendapati tiga anggotanya yang sudah duduk di depannya. Bangun pun menyipitkan kedua matanya, dia masih sangat mengantuk dan ingin tidur lagi.


“Hah? Kalian ngomong apaan, sih?!” Bangun menjawab pertanyaan mereka. Dan uapan lolos dari mulutnya yang tanpa di tutup itu, membuat Joye yang duduk paling dekat dengannya mengumpat.


“Jingong lo, anjir! Bau banget, sumpah!”


“HAHAHA,” Bangun tertawa. Dia mengucek matanya yang masih menyipit.


“Semalam lo ke mana, Bro?” cecar Alan.


Bangun kembali menguap. Dengan enggan cowok itu memberi penjelasan. “Hari ini enam bulan gue jadian sama Mila,” jawabnya. “Gue bikin kejutan buat dia.”


Alan, Pandu, Joye saling bersitatap. Tidak percaya.


“Apaan , sih?!”


“Itu... grafitinya muka Burhan!” kata Pandu. Dia memperlihatkan foto dari akun gosip sekolah tepat ke depan muka Bangun yang masih dengan muka bantalnya.


“Pak, Ndu,” tegur Alan, yang tidak diindahkan Pandu atau siapa pun yang ada di sana.


Bangun menyadari seisi kelas mendadak hening, seolah menanti jawaban dari Bangun Adhiguna, sang badboy.


“Kok pada mandangin gue, sih? Masih banyak yang gak suka sama beliau, kan?” ucap Bangun.


“Tapi cuma lo yang berani berbuat begitu, Bro,” ujar Pandu lagi.


“Jadi kalian nuduh gue?” tanya Bangun dengan ekspresi datarnya.


“Lagian, kalian kek gak tau aja gitu tulisan tangan gue sejelek ceker ayam. Masih bagus ceker ayam dari gue. Kalau gue pelakunya, gak bakal gue bikin estetik kek gitu.”


Alan mengangguk antara percaya atau tidak dengan penjelasan Bangun pada mereka semua yang mendengarkan.


“Kalau gitu pujian tadi gue cabut, deh,” kata Joye.


“Udah sana! Pada balik ke tempat duduk masing-masing! Orang ngantuk juga, masih aja diganggu dengan berita gak penting!” Bangun melirik ke kerumunan yang mendadak terbentuk di sekitar mejanya.


“Gak ada bukti yang mengarah ke gue. Dan gak ada bukti juga itu perbuatan gue. Jadi, kalian jangan berasumsi macam-macam,” imbuh Bangun lagi sebelum ia kembali dengan posisi semula.


Ketiga temannya pun menatap ke arah Bangun dan sama-sama berpikir, ‘Dan cuma lo yang bisa menghilangkan barang bukti kalau emang itu perbuatan elo.’


Belajar mengajar pun berlanjut seperti biasanya. Mereka semua tidak terpengaruh adanya grafiti yang melekat di dinding. Entah siapa yang membuatnya. Masih menjadi misteri ilahi yang ada di sekolah itu.


Nanda sebagai ketua OSIS pun mengadakan rapat OSIS dadakan untuk mencari pelaku yang sebenarnya.


Pelik!


...****************...


hihihi


selamat membaca ❣️