The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 25



Bab 25


Bangun sungguh terganggu dengan adanya pembicaraan tadi siang bersama dengena Mimpi. Pencari perhatian? Yang benar saja? Namun, dia pikir-pikir, setelah Bangun bertanya dengan hati kecilnya, dia menyadari hal itu. Selama ini dia lakukan adalah untuk mencari perhatian saja. Sayangnya, hati kecilnya sering tertutup dengan keangkuhan yang besar hingga dia lupa untuk menyadari hal itu.


Tidak ada yang terang-terangan mengatakan itu kepadanya karena tidak berani dengannya. Bahkan teman-temannya sendiri tak pernah mengatakan hal itu kepadanya.


Bangun tertawa geli mengingat ucapan Mimpi yang mengatainya pencari perhatian.


Sejujurnya dia malu mengakui kalau memang itu adalah kenyataan dirinya. Sejak kejadian ibu kandungnya meninggal, Bangun mencari cara untuk mendapatkan perhatian sebagai bentuk pelarian diri dari ingatan buruk itu. Dia begitu menikmati peran sebagai anak piatu berumur delapan tahun.


Diam-diam dia bangga karena menjadi orang terakhir yang berkomunikasi sebelum keadaan sang ibu memburuk. Bangun menikmati perhatian orang yang kasihan padanya. Dia telah menodai kematian ibunya untuk mendapat keuntungan berupa perhatian dari orang-orang.


Yah, dia menyadari bahwa dia masih kecil waktu itu.


Namun, nyatanya, seiring bertambahnya usia, motif Bangun sebagai pencari perhatian berubah-ubah. Dia ingin semua perhatian tertuju padanya, meskipun dengan cara yang salah sekali pun.


Baru kali ini Bangun memikirkan ucapan jujur seseorang. Seperti babak belur setelah seseorang mengeroyok dirinya. Bangun menendang kaleng kecil berisi cat tembok, sehingga cairan coklat tua mengalir di lantai ubin. Bangun mengeluarkan makian yang dijawab dengan keheningan. Bangun mengambil kain lap di belakang pintu dan menuangkan air mineral bekalnya. Setidaknya untuk satu dari banyak peristiwa dalam hidupnya. Segera ia membereskan kekacauan yang ia timbulkan sendiri.


...****************...


Keesokan harinya.


“Mila masuk sekolah?!” tanya Bangun.


Mimpi mengerutkan dahi, melipat kedua tangannya di dada. Bangun duduk berselonjor dan menghalangi jalannya.


“Tiga hari ini masuk terus, kok,” jawab Mimpi yang masih berdiri di dekat pintu.


“Dari senin?”


Baru kemarin mereka membahas ketidaksukaan Mimpi kepada Mila, masa iya mereka membahas cewek itu lagi. Mimpi hanya mengangkat bahu tanda tidak mau tahu.


“Minggir,” Mimpi melangkahi kaki Bangun yang menghalangi jalannya. Begitu Mimpi duduk di kursi kesayangannya dan menopang dagu dengan tangan di atas meja, Bangun muncul dan duduk di atas karpet bulu.


“Kenapa lo gak ngasih tahu gue?” tanya Bangun menghampiri Mimpi.


“Kenapa gue harus ngasih tahu sama lo? Kan itu bukan urusan gue. Lo sendiri tahu gue gak suka sama Mila.”


“Harusnya mereka dapat skors juga!” Bangun menggumam dengan wajah tertekuk menahan geram.


“Karena kejadian di taman belakang itu?” Mimpi memastikan.


“Aneh. Seseorang melakukan sesuatu yang pernah lo lakuin pada orang lain,” Bangun berujar lagu dengan kemarahan yang sedikit mereda.


“Maksudnya?”


“Enggak. Bukan apa-apa, kok.”


“Terus lo ngapain di sini? Sana balik ke teritori lo. Ngapain, kek! Selama lo di sini gue sering jarang baca!”


Bangun beranjak dari duduknya dan pergi ke teritorinya.


Akhirnya Mimpi bisa menikmati ketenangan. Istirahat pertama dinikmati dengan membaca novel klasik. Namun, perhatiannya berkali-kali teralihkan, ia tidak konsentrasi untuk membaca. Ia teralihkan dengan kain putih yang menutupi rak buku kesayangannya. Kenapa Bangun tidak menurunkan kain putih itu? Entahlah. Ia kembali mencoba untuk memusatkan seluruh konsentrasi untuk membaca novel klasiknya, namun dia heran kenapa Bangun tidak berisik seperti biasanya? Apa yang dilakukan oleh cowok bad boy itu? Mimpi penasaran, apalagi atmosfer yang ada di sana hanyalah keheningan. Keheningan yang biasanya Mimpi rasakan sebelum adanya Bangun di ruangannya.


...****************...


Bangun tahu Mila dan Nanda tidak mendapat hukuman saat Alan keceplosan ngomong di grup. Joye dan Pandu seolah menutupi fakta dengan mengalihkan topik pembicaraan, tentang Nina gebetan baru Pandu dan Syla mantan pacar Joye. Bahkan tentang Bu Anik, guru yang selama ini tidak pernah menjadi bagian obrolan di grup mereka.


Alan mengirimkan pesan via japri untuk memberikan jawaban tugas Matematika yang diminta oleh Bangun untuk Alan kerjakan.


Bangun yang masih menunggu jawaban dari Alan atas pertanyaan untuk memastikan benar atau tidak hukuman yang tidak dijalani oleh Mila dan Nanda, meyakinkan argumennya bahwa ada sesuatu yang disembunykan. Tetapi yang ditunggu tak kunjung tiba. Alih-alih benci ataupun murka kepada mereka, Bangun justru tertawa sendiri. Jadi, begini rasanya dikucilkan semua orang.


...****************...


Sebelum ini Mimpi hanya mengenal satu arti kata bahagia, yakni ketika dirinya sendiri dalam kesunyian dan hanyut oleh buku yang tengah dibacanya. Kini Mimpi mendapatkan arti kebahagian baru, saat melihat sisi lain Bangun yang tidak bisa dilihat orang lain. Maksudnya, yah, siapa sangka bad boy yang digemari para siswi di satu sekolah bisa patah hati gegara Mila.


Mimpi melihat ekspresi merana itu yang terpatri di wajah Bangun. Sewaktu Bangun mengekor ke teritorinya, Mimpi sedikit merasa kasihan. Namun, kembali lagi dia tertawa senang dalam hati.


“Menu makan siang kita hari ini, apa?” tanya Mimpi yang sudah duduk di kursinya.


“Buka aja,” jawab Bangun datar.


“Lo belum makan?” tanya Mimpi.


Bangun hanya bergeming. Dua kotak makan utuh di atas meja menjawab pertanyaan Mimpi.


“Ayo, makan!” kata Mimpi.


Bangun tetap saja bergeming.


Mimpi mengabaikan Bangun yang hanya bergeming. Seperti kemarin, tangan Mimpi tak sabar untuk membuka kotak makan yang ada di meja. Menu apakah itu?


“Wow, nyokap lo masak cordon bleu?” Dia meringis setelah mendapatkan isi dari kotak makan itu. Dilihatnya lapisan daging dan melihat keju meluber dari sela-selanya.


Bangun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Mimpi dengan intens.


“Lo kalau makan selalu belepotan gitu?” ucap Bangun tanpa dosa.


“Maksud lo?”


Bangun gemas dengan tingkah Mimpi yang makan dengan belepotan.”Ada keju di ujung bibir kanan lo.”


Telunjuk kanan Mimpi sigap mengusap sudut bibirnya. Ah iya, bener. Dia tersipu malu, sedikit. Demi mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menjalar, Mimpi berkata, “Satu fakta tentang gue....” Dia meneguk air mineral dari botol sebelum melanjutkannya. Bangun menegakkan punggung dengan antusias.


“Gue gak pernah dimasakin sesuatu yang enak begini sama nyokap gue.”


“Kenapa? Nyokap lo gak bisa masak?” tanya Bangun.


“Nyokap kandung gue terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga barunya. Sementara nyokap tiri gue terlalu sibuk untuk menganggap gue gak ada.” Sedikit sedih mengungkapkan hal itu.


Beberapa detik kemudian, Mimpi terkesiap dengan ucapannya barusan. Dia tidak memaksudkan membagi sebagian kecil kehidupan pribadinya yang selama ini tertutup rapat. Dia hanya ingin mencairkan suasana, tapi bekal makan siang ini membuatnya mengingat ibunya. Apa yang mau di kata, nasi sudah menjadi bubur.


“Sekarang, giliran lo yang kasihtahu one day one fact!” kata Mimpi sigap tak ingin melanjutkan ucapannya.


Alih-alih melanjutkan permainan fakta-faktaan itu, Bangun segera membuka kotak makanan yang ada di depannya, lalu memakannya.


Tak ada yang berkomentar. Mereka makan dengan damai.


“Bener juga...,” ucap Bangun memecah keheningan. “Gue baru tahu masakan nyokap gue ternyata enak. Selama ini selalu makan dan gak pernah memikirkan....”


“Lo sangat beruntung punya nyokap yang pintar masak,” potong Mimpi.


...****************...


Jadi pen masak juga 😂


selamat membaca dgn cerita yang gak menarik ❣️