
Bab 23
“Ini terakhir kalinya lo ribetin gue!” Tegas Mimpi. “Dan bawa bekal sendiri!” lanjutnya lagi.
Bangun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia segera duduk di kursi di hadapan Mimpi dan menghampar nasi goreng pesanannya di meja. Menyantapnya dengan lahap.
“Gue bakal nge-relain ruangan ini buat lo. Tapi gue mau kita buat kesepakatan yang lo nya sendiri gak boleh melanggar aturan ini!” Mimpi mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini yang sudah mempertimbangkan keputusan untuk mengungkapkan kesepakatan ini dengan matang. Tapi bukan berarti dia mengibarkan bendera putih terhadap Bangun. Justru dia mengibarkan bendera perang terhadap cowok bad boy di hadapannya itu. Dia sendiri berpikir bahwa melarang Bangun untuk tidak datang, menempati ruangannya pun sulit. Karena Bangun akan terus-menerus akan datang, bahkan dia sendiri sudah membuat duplikat kunci itu.
Bangun masih melahap nasi gorengnya ketika ia mendengarkan kesepakatan yang diungkapkan oleh cewek di depannya, ia hanya mengacungkan jempolnya tanda menyetujui kesepakatan itu.
Tanpa basa-basi, Mimpi menyebutkan syarat-syarat yang ada dalam kesepakatannya.
“Pertama, gue minta, lo harus merahasiakan tempat ini dari siapa pun dan jangan sampai ada yang tahu bahkan tercium keberadaan tempat ini! Inget, video lo pingsan saat lo dihukum oleh Pak Burhan, itu masih gue simpan di dalam ponsel gue! Dan satu rahasia yang gue juga tahu bahwa lo...” Mimpi tidak melanjutkan ucapannya. Dia tahu mungkin Bangun mengetahui rahasia yang diketahui oleh Mimpi.
Bangun menatap sekilas ke arah Mimpi, kemudian mengacungkan jempolnya tanda setuju. Bangun beranggapan bahwa tempat ini adalah tempat terbaik untuk bersembunyi selama masa skors. Walaupun harus bersama cewek yang kelihatan di depan sangat culun dan cuek, ternyata cukup cerewet juga.
“Kedua, ruangan lo ada di depan, di balik rak ini.” Sambil menunjuk rak pemisah ruangannya dengan ruangan sempit penuh dengan buku lama perpustakaan.
“Hah?!” Bangun terkejut dan ingin melayangkan protes terhadap Mimpi.
“Kenapa? Ruangan itu sudah lumayan bersih juga sekarang. Ingat kan, kita yang membersihkan itu beberapa minggu lalu?” Mimpi kembali mengingatkan. “Pokoknya gue gak mau tahu! Besok lo harus ada di ruangan itu!’
Mimpi menarik bibirnya, tersenyum senang. Merasakan kemenangan berada di pihaknya.
“Ketiga! Jangan ada komunikasi apa pun di antara kita!”
“Kenapa?” tanya Bangun tiba-tiba.
“Gue gak punya kepentingan untuk terlibat sama lo. Apa pun itu!”
Bangun memamerkan senyuman mautnya.
Sementara Mimpi sungguh mengutuk dirinya sendiri yang melihat senyuman itu. Seharusnya Mimpi memindahkan tempat persembunyian kunci itu dari dulu. Seharusnya Mimpi mengusir Bangun dari ruangan rahasianya dan melaporkan Bangun kepada Pak Burhan atau Bu Aini atas semua pelanggaran yang telah Bangun lakukan dan Mimpi mengetahuinya.
...****************...
Pagi itu, terlihat Bangun memarkirkan motornya di kafe belakang sekolah, tempat insiden penggerebekan Bangun bersama kawan Cs. Saat bolos pelajaran Matematika. Dia mampir untuk membeli segelas kopi espresso dingin, yang sudah di bungkus ke plastik yang terikat kuat sehingga aman untuk dia bawa. Dia memanjat tembok belakang yang tingginya lebih dari dua meter. Dulunya ada tali tambang yang bisa Bangun pakai untuk memudahkan ia memanjat. Namun, pihak sekolah sudah memotong tali tambang itu. Sebenarnya tak berpengaruh baginya, toh dia masih bisa memanjat tembok itu melalui pohon trambesi di dekat tembok itu.
Bangun memanjat dahan paling dekat dengan tembok, lalu dia menyeberang. Perlahan-lahan dia turun dan melompat dengan mudah. Sambil berjalan menuju ruang rahasia milik Mimpi, dia menyeruput kopi yang baru saja di belinya.
Bangun membuka ruangan dengan perlahan. Aroma melati menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya. Dulu ruangan itu sangat menyeramkan baginya, sekarang membuat dia nyaman berada di sana. Tempat persembunyian yang sempurna. Kemarin Bangun hanya menghabiskan waktu untuk tidur, menikmati ruangan itu. Memandang rak yang penuh dengan buku-buku dalam kesendirian panjang memunculkan sekelebat bayangan yang sangat ingin dihapusnya. Bayangan yang terkadang muncul secara tak terduga membuat Bangun pingsan tak sadarkan diri beberapa waktu lalu di tempat ini. Bayang-bayang itu menampilkan mimpi-mimpi buruk yang ingin dibuangnya. Anehnya, bayangan itu tak pernah muncul saat dia bersama dengan Mimpi.
Dipandanginya dinding bercat putih polos di samping pintu itu yang masih penuh dengan tumpukan buku-buku, ia berinisiatif untuk membersihkannya dan terlintas ide untuk melampiaskan kekesalannya dengan membuat lukisan sederhana di dinding bersih itu. Bangun melakukannya dengan perlahan.
Setelah beberapa menit selesai memberesi tumpukan buku itu, ia pun melakukan ritual sederhana sebelum tangannya memulai apa yang ia ingin lakukan. Meskipun dia belum tahu dia ingin melukis apa, perlahan jemarinya membuka penutup cat yang selama ini dia sembunyikan di ruangan itu. Bangun mengambil kuas, sambil memikirkan apakah dia akan memulai pengerjaan di dinding ini dari sisi kanan bawah atau sebaliknya.
Tepat pukul sembilan lewat lima belas menit, bel istirahat pertama berbunyi. Dia bersiap menanti kedatangan pemilik ruangan ini. Perjalanan Mimpi ke ruangan ini memakan waktu sekitar tiga menit, bahkan kurang.
Kriieettt
Perlahan terdengar pintu di buka dengan perlahan, Bangun menyambutnya dengan senyum sumringah yang terukir di bibirnya.
Mimpi membelalakkan matanya. Terkejut dengan perbuatan cowok bad boy di depan nya itu, bahkan yang sudah berada di dalam ruangannya. Seketika ia kesal melihat cowok di depannya itu saat ini.
“Ap... Apa yang lo lakukan dengan ruangan ini?!”
Mimpi mengembuskan napasnya kasar, lalu berjalan masuk ke teritorialnya sambil menghadiahi pandangan yang menyiratkan ketidaksukaannya terhadap lelaki itu. Tangannya mengetuk-ngetuk meja saat dia duduk. Kain putih penutup rak buku itu membuatnya tak bisa mengintip apa yang dilakukan oleh cowok bad boy itu.
“Menurut lo, bagusnya buat mural tema apa, ya?” Bangun memulai pembicaraannya.
Mimpi acuh tak acuh saja mendengarkan pertanyaan itu. Biarkan mengambang di udara.
“Hei...,” Bangun memanggil. “Ngomong dong. Gue gak punya temen ngomong, nih dari tadi.” Lanjut cowok itu.
Mimpi mendesah kesal. Tapi ia malah mendengar kekehan dari sebelah.
“Lo emang nyebelin, ya! Suka semaunya sendiri!”
“Gak juga. Gue bahkan gak tahu apa yang gue lakuin sekarang,” jawab Bangun.
“Meskipun gue gak suka sama Mila, gue jadi paham kenapa lo bisa diputusin sama dia.” Ucapan kesal itu keluar dari bibir Mimpi.
“Kenapa lo gak suka sama Mila?” tanya Bangun.
“Gak usah kepo lo!” hardik Mimpi.
Bangun terkekeh. “Ya sudah.”
Hening pun menyambut keduanya. Bahkan sapuan kuas Bangun terdengar oleh Mimpi.
“Gue heran sama lo. Kenapa rak buku ini lo tutupin, sih?”
“Gue gak suka sama tumpukan buku, bahkan gue gak suka buku,” jawab Bangun.
Mimpi mencoba mencerna apa yang telah dikatakan oleh Bangun. Gak suka buku?
“Gak usah kaget gitu. Ya kalau gak percaya, ya sudah. Tapi memang gitu.” Jelas Bangun yang mendapati Mimpi terdiam.
Masih tidak dapat mempercayai apa yang telah dikatakan, “Gimana ceritanya lo bisa sekolah sampai kelas sebelas kalau emang lo gak suka sama buku?” Mimpi bertanya.
“Rahasia!” Jawab Bangun dengan kekehan khasnya. “Gimana kalau kita main one day one fact? Gue bakalan cerita kalau lo penasaran tentang hal itu.”
Mimpi berpikir sejenak dengan adanya tawaran permainan yang diajukan oleh bad boy. Apa dia mau curhat? Dia hanya menyunggingkan bibirnya ke atas. Tanpa berpikir lagi dan menebak-nebak, akhirnya dia menyetujuinya.
“Oke. Kita mulai permainannya saat istirahat jam kedua.”
“Artinya lo juga harus menceritakan satu fakta tentang lo ke gue.”
Mimpi melempar lirikannya dan bergeming.
“Deal?”
Diam beberapa detik, kemudian terdengar suara menyetujui permainan ini.
“Deal.”
...****************...
Jan lupa tinggalkan jejak. Thanks.