
Bab 18
Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi menandakan para siswa dan siswi memasuki kelasnya masing-masing dan melanjutkan pelajaran. Mimpi tahu, seharusnya ia pun duduk manis di kelas dan menyimak pelajaran. Dia tidak seharusnya masih berjalan ke ruangan rahasianya, apalagi bersama dengan cowok terpopuler yang baru saja patah hati.
Tak berapa lama, mereka tiba di depan gudang yang dimaksud. Mimpi membuka pintu gudang, lalu segera masuk, diikuti Bangun di belakangnya. Sesekali dia menoleh ke belakang dan memberikan tatapan tidak suka kepada Bangun. Di belakang mereka, pintu itu otomatis terkunci kalau tertutup.
Mimpi berjalan ke dalam, melewati celah sempit ke ruangan rahasianya. Dia melongo saat melihat ruangan rahasianya dipenuhi dengan balon-balon gas.
“Apa-apaan, nih?!” pekik Mimpi terkejut. Suaranya tercekat di tenggorokannya. “Lo apain ruangan gue?!” Mimpi berbalik menghadap Bangun dan menyerangnya dengan tatapan tajam.
Sebenarnya bisa saja dia menaikkan intensitas suaranya, namun, Mimpi tidak ingin berteriak saat melihat ekspresi duka yang terpatri di wajan Bangun Adhiguna yang semakin mengenaskan.
Masa bodoh cowok itu sedang berduka dan patah hati karena baru saja diputusi oleh Mila. Masa bodo juga dengan keadaan Bangun yang seperti mayat berjalan alias zombie. Masa bodoh dengan....
Cowok itu hanya melintasi Mimpi, menghalau pita balon-balon warna-warni yang menjuntai dan di ujungnya terikat sebuah foto. Satu balon memiliki satu foto. Banyak sekali balon-balon, mungkin ada dua puluh? Mimpi pun enggan menghitung setelah melihat tiga foto yang paling dekat dengannya bahkan dekat dengan hidungnya menampkkan wajah Mila yang dipotret diam-diam. Mimpi pun mengalihkan perhatiannya kepada Bangun yang sudah duduk di kursi, menghadap meja. Mimpi menyadari di atas meja itu sudah bersih dari tumpukan buku-buku kesayangan Mimpi. Berganti dengan sebuah kotak berpita merah.
Tentu saja Mimpi penasaran dengan apa yang terjadi. Ia pun mendekatkan diri, duduk di kursi yang ada diseberang Bangun. Meskipun terbilang lancang, Mimpi membuka pita dan kotak itu. Bangun hanya melihat dan membiarkan Mimpi melakukan itu. Dia tidak berniat marah sedikit pun. Menandakan bahwa Bangun tidak keberatan dan setuju akan tindakannya. Dan betapa terkejutnya Mimpi sat melihat kue Red Velvet bertuliskan “Happy 6th Monthaversary” di sana.
Seketika bibir Mimpi tertarik ke atas, dengan sengaja ia langsung mengeluarkan gelak tawa yang sangat heboh, “Ha ha ha... perayaan yang gagal maksudnya?” Dan menoleh ke arah Bangun yang masih duduk di kursi dengan wajah yang lesu.
“Shut up!” Bangun pun akhirnya bersuara. Pandangan nanar, mata memereah menatap Mimpi.
Cewek itu pun sedikit gentar, “Turut berdukacita,” respon spontan yang diberikan dengan gelengan kecil dari kepalanya, tentu saja masih dengan nada tawa. “Kalau mau nangis, ya nangis aja. Anggap aja gue gak ada di sini.”
Bangun menaikkan satu sudut bibirnya, lalu tertawa lirih. Mungkin dia sedang menertawakan nasib buruk yang menimpa dirinya kali ini. Menyiapkan sebuah perayaan, bahkan ada kuenya juga! Berniat untuk memberikan kejutan, lalu suprise! Dan ternyata..., Bangun duluan yang mendapatkan kejutan berupa pemutusan hubungan cinta dari Mila. Miris!!
Mimpi tidak membiarkan kue itu begitu saja yang hanya menjadi pajangan di atas mejanya. Ia pun segera mengambil pisau plastik yang ada di dalam kotak itu, lalu memotong kue. Lagi-lagi Bangun tidak mengindahkan tindakan Mimpi, yang diartikan oleh Mimpi sendiri sebagai persetujuan. Seumur-umur, Mimpi tidak pernah merasakan begitu suka dengan seseorang sampai melakukan hal absurd semacam ini.
Mimpi memakan kuenya dalam diam.
Sementara Bangun hanya diam dan mengamati tindakan Mimpi.
“Enak. Mau?” kata Mimpi menawarkan kue yang ia makan.
Bangun menggeleng lemah.
“Jadi, lo beneran suka sama Mila.” Barusan itu pernyataan yang memang tidak bisa dibantah oleh Bangun Adhiguna. “Dan lo,” kali ini Mimi menyipitkan matanya, mendekat ke arah Bangun, “pembuat grafiti yang ada di halaman upacara!”
Mendadak ekspresi patah hati yang terpatri di raut wajah Bangun menghilang.
“Lo gak punya bukti sedikit pun!”
“Kalau lo bisa nyiapin ini semua entah kapan dan menyembunyikan di tempat ini, kenapa lo gak bisa balas dendam atau apa gitu ke Pak Burhan?” Mimpi mulai menyelidiki.
“Lo gak punya bukti.”
“Gue gak butuh bukti dari lo. Dan itu gak penting juga, sih. Bukan urusan gue juga,” jawab cewek itu. Ujung bibirnya belepotan dengan krim kue yang baru dilahapnya, dan diusapnya dengan jari.
“Gimana caranya lo bisa tahu kunci ruangan ini? Ooh, gue tahu. Lo nguntit gue, ya?!”
Bangun tak bergeming. Dia hanya diam.
“Ngaku! Lo nguntit gue, kan?!”
“Sorry...”
Kesadaran kali ini membuat Mimpi geram menahan kekesalannya yang membludak. Empatinya karena Bangun baru saja diputusin oleh Mila langsung pergi tak berbekas.
Setelah menyelesaikan hukuman dari Pak Burhan, Bangun semacam punya firasat kalau ruangan rahasia ini akan bermanfaat untuknya kelak, dan dia memutuskan untuk menguntit Mimpi secara diam-diam sampai ia tahu tempat persembunyian kunci itu.
“Dan ini, terakhir kalinya kita ketemu!” ucap Mimpi.
“Janji.”
Bangkit berdiri, lalu keluar dari ruangan itu. Dia keluar dari gudang tanpa sepatah kata pun.
Mimpi hanya melihat sekelilingnya. Balon-balon dan kenangan-kenangan yang terukir indah yang di alami oleh Bangun dan Mila masih ada. Dia memikirkan cara membereskan semuanya. Setidaknya dia mendapat sedikit keuntungan dengan memegangi sekotak kue red velvet yang rasanya tidak dipungkiri lagi. Lezat.
"Besok aja deh," gumamnya dan melanjutkan makan kue yang sedang dinikmatinya saat ini.
...****************...
Bangun kembali berjalan menelurusi koridor menuju kelasnya. Sesampainya di depan kelas, ia pun mengetuk pintu meminta izin untuk masuk ke kelas mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.
“Dari mana kamu?” tanya Guru yang sedang mengajar.
“Maaf, Bu. Saya dari toilet. Saya sakit perut,” jawab Bangun dengan menampilkan wajah lesunya.
Teman-teman sekelasnya memandangi dirinya yang masih berdiri di depan kelas. Dan Bu Guru pun mempersilahkan Bangun masuk untuk mengikuti pelajaran yang sedikit ketinggalan itu.
Tanpa menunggu lama di depan kelas, Bangun langsung menuju ke kursinya yang ada di kelas dan langsung mengeluarkan buku pelajarannya. Tetapi ia membiarkannya saja. Bahkan ia menelungkupkan wajahnya, tak berniat untuk mengikuti pelajaran.
Pandu, Alan, Joye pun melihat ke arah ketua geng nya itu. Masing-masing mereka ingin menanyakan keadaan yang di alami oleh ketua genk-nya itu di dalam grup mereka.
Pandu pun bergegas mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan di laman grup The Huruhara.
Pandu
Lo gak papa, Bro?
Muka lo sedih amat, kek orang lagi putus cinta.
Dibalas dengan yang lainnya.
Joye
Bener banget.
Ketara tau, BrO
Alan mengetik...
Sabar, ya... Jangan sedih habis ini kita ke kantin aja minum teh es.
Pandu dan Joye sama-sama mengetikkan kata, “dodol” di laman grup mereka.
Sedangkan Bangun hanya membiarkan ponselnya yang dari tadi bergetar tanpa henti.
...****************...
Selamat membaca gratiz ❣️