
Bab 13
Sebuah keluarga mempunyai ceritanya masing-masing. Tidak ada keluarga yang sempurna. Yang ada hanyalah keluarga yang sedang belajar memahami satu sama lain. Dan tidak semua pembelajaran berjalan dengan baik. Terkadang sesuatu yang berharga belum terasa keberadaannya hingga mereka menghilang satu per satu sampai habis tak tersisa.
Mami tidak pernah suka terhadap Mimpi, bahkan itu anaknya sendiri, tak lantas membuat Mimpi merasa mirip Cinderella. Pertama, dia tidak punya sepatu kaca, labu yang berubah menjadi kereta kencana, atau berjumpa dengan pengawal jelmaan tikus. Kedua, Mimpi tak mengalami penyiksaan seperti yang dialami oleh Cinderella. Ini kenyataan sesungguhnya, Papa bukanlah ayah Cinderella yang begitu mencintai anaknya.
Jadi, kepulangan Papa dari Inggris biasa saja bagi Mimpi. Mimpi melirik Belia yang kegirangan karena mendapat oleh-oleh dari Papa, lalu fokus kembali kepada chanel televisi yang ada di depannya yang sedang tayang.
“Ini buat Mimpi,” ucap Papa, menyerahkan sebuah tas tote kepadanya.
Pelipisnya pun berkedut. Dia menatap Papa tidak percaya. Sejak kapan Papa memberikannya hadiah semacam itu. Pandangannya pun beralih ke arah Mami yang sama-sama terkejut.
Dia mengambil tas itu dan melirik isinya.
“Waktu Papa melintasi jalan London street, ada toko buku pinggir jalan. Ternyata ada buku itu di sana. Jadi Papa belikan buat kamu.”
Mimpi mengeliarkan sebuah novel berbahasa Inggris dari dalam tas tote. Anna Karenina. Papa tidak pernah tahu kalau Mimpi tidak akan bisa membaca novel itu lagi. Bukan karena bahasanya yang tidak dia mengerti, melainkan jalan ceritanya. Cerita Anna Karenina mengingatkannya kepada mendiang ibu kandungnya sendiri. Ingatan tentang Mama adalah ingatan yang tak ingin dia lekatkan dalam benaknya.
Tak ada yang mengetahui Mimpi sempat membenci ibunya itu.
Tapi Papa membawakan buku ini untuknya. Karena tak mampu mengendalikan gemuruh aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Mungkin Papa sedang berusaha memperbaiki hubungan dnegannya. Mungkin ini ajakan yang secara tak langsung dari Papa agar mereka berbaikan. Mungkin tidak ada kata terlambat untuk membenahi sebuah hubungan yang sedemikian canggungnya.
“Thanks, Pa.”
Mimpi tidak lagi mampu memberikan jawaban yang lebih baik dari apa yang baru saja dia ucapkan.
...****************...
Seharusnya Ayah belajar dari kepergian Surya. Hanya saja, Ayah tetap mendahulukan arogansinya. Selesai makan malam, Ayah meletakkan sendok dan garpu dalam posisi menyilang, pertanda sebuah pembicaraan akan dimulai.
Bangun hanya bisa mengambil sikap siaga. Dia tahu setiap kali Ayah libur dari masa tugasnya sebagai pilot, selalu saja terjadi perang kecil antara anak dan Ayah.
Ayah membuka pembicaraan di malam itu, “Bagaimana kabar sekolah kamu, Bangun Adhiguna?” Suara yang berat dan terdengar datar itu menyeruak dan sampai dengan baik di telinga Bangun Adhiguna-anaknya.
Bangun pun melirikkan matanya ke arah Bunda yang ada di samping Ayahnya. Apa jangan-jangan Ayah tahu sesuatu? Seingatnya, berita kenakalan terakhir yang sampai di telinga sang Ayah adalah peristiwa dua bulan lalu saat dia ketahuan berantem. Dia tidak bisa menyembunyikan luka dan lebam yang bersarang di wajahnya saat itu. Informasi kenakalan kecil semacam terlambat sekolah selalu saja berhenti di Bunda.
Seharusnya peristiwa dua hari lalu tidak diketahui kedua orangtuanya. Pak Burhan pun mengatakan kalau mereka tidak berhasil melakukan hukuman hari itu, besoknya orangta mereka akan dipanggil untuk datang ke sekolah. Nyatanya, Bangun dan The genk tidak menerima perintah dan sukses menyelesaikan hukuman.
Masih terekam jelas dalam ingatan Bangun bagaimana ekspresi Pak Burhan yang terpatri di wajah beliau, saat beliau membuka pintu gudang, mendapati ruangan yang sudah bersih dan rapi. Tidak seperti awal mula ruangan itu yang penuh dengan debu dan berserakan tak karuan. Jelas saja beliau tidak akan mengira Bangun Adhiguna sang badboy terkenal bandel, dapat menyelesaikan hukuman itu dan dinyatakan lolos. Dia ingin menginspeksi lebih lanjut. Namun, parfum bau melati itu menyengat membuat Pak Burhan mengurungkan niatnya dan memilih keluar dari ruangan itu dengan segera. Wali kelasnya itu geram.
Sedangkan saat itu, Mimpi bersembunyi di bawah meja setelah Bangun meyakinkan cewek itu kalau Pak Burhan tidak akan melakukan inspeksi sampai keruangan di balik rak. Dan nyatanyamemang demikian. Bisa dibilang Bangun bisa membaca pikiran Pak Burhan saking seringnya mereka terlibat dalam permasalahan.
“Sekarang kamu sudah berani merokok?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut sang Ayah itu jelas bukan pertanyaan yang harus Bangun jawab.
Pak Burhan sudah mengingkari janjinya. Ayah pasti tahu perkara ini dari Pak Burhan. Tidak mungkin dari orang lain. Itulah yang ada dipikiran Bangun Adhiguna saat ini.
“Lupa kamu kenapa ibumu meninggal?”
Bangun kesal dengan pertanyaan yang menyangkut pautkan soal ibunya. Ia pun membanting sendoknya hinggal berdenting nyaring saat beradu dengan piring yang ada di meja makan. Kenapa Ayah membawa almarhuman ibunya?
Bangun mengumpat dalam hatinya. Sekujur tubuh Bangun terasa sakit karena memendam amarah. Dia benci dengan Ayah, dia juga benci dengan Pak Burhan. Hampir-hampir kemarahan yang Bangun pendam itu seketika ingin meledak.
“Yah...!” Bunda meletakkan tangannya di lengan sang Ayah. Suamianya itu terkenal dengan ringan tangan dan tempramental. Sebisa mungkin Bunda akan mencegah sang Ayah memukul anaknya. “Sudahlah, Yah!”
“Anak ini bod*h! bagaimana dia bisa melakukan hal sebodoh itu dan sememalukan itu?!” hardik sang Ayah.
“Dia lupa bagaimanan ibunya dulu meninggal?!” ujar sang Ayah dengan nada naik satu oktaf.
“Kamu selalu saja membela anak ini! Anak gak tahu diuntung! Lihat bagaimana kelakukan dia selama ini?! Sudah kaya samseng aja! Mau jadi apa dia?! Berantem, merokoko, bolos sekolah! Lihat saja, kalau kamu biarkan terus menerus, besok dia bakal terlibat dengan obat-obat terlarang!” hardik sang Ayah lagi.
“Ayah!” seru Bunda.
Bangun hanya bisa memberi tatapan membara dengan mata yang sudah memerah kepada sang Ayah.
Ayah pun tak berhenti disitu saja, ia melanjutkan kalimatnya untuk menyerang Bangun.
“Setelah Surya terkenal dengan segudang prestasinya di sekolah, sekarang kamu gak mau kalah terkenalnya dengan berbuat yang tidak karuan? Iya?! Puas kamu? Puas kamu, Bangun Adhiguna?!”
“Ayah, cukup!” Kali ini Bunda yang kehabisan kesabaran dan cara untuk berbicara baik-baik dengan Ayah.
Bangun tidak tahan lagi dengan semua yang dikatakan oleh Ayah. Ayah selalu berkomentar negatif tentangnya tanpa meminta penjelasan apa pun darinya. Apalagi Ayah selalu saja menyebut nama sang kakak, Surya. Semua orang tahu dan selalu bangga kepada Surya. Mereka tidak pernah tahu bagaimana, Surya. ‘Huft, entahlah...’ batinnya mengeluh. Tak ada yang akan percaya omongan Bangun.
Dia bangkit dari meja, bergegeas menuju kamarnya. Bunda mengikuti dari belakang. Bangun sedang tidak mengizinkan siapa pun mendekatinya. Sebelum Bunda mencapai pintu kamar, Bangun menutup dengan menghempaskan dan mengunci pintu.
“Bangun,” Bunda mengetuk pintu itu perlahan. “Bangun, buka pintunya, Nak!”
Bangun memilih membiarkan saja suara sang Bunda yang sedang memanggil dan memilih untuk tidak menjawabnya. Dia membenamkan wajahnya di bantal. Seketika ia merasakan akan ingin menangis dengan keadaan saat ini.
‘Gak, gue gak akan nangis!’ batinnya berucap.
Sudah lama sekali ia tidak menangis. Saat Bangun mengonfrontasi sang kakak di rumah sakit hingga sang kakak mengakui kesalahan dan meminta maaf, dia tidak mengeluarkan air mata setetes pun. Meskipun Surya yang hebat itu tersedu-sedu di hadapannya. Ketika Bangun dikhianati Nanda, mantan anggota gengnya, Bangun merasakan kecewa berat, tapi dia tidak meratap sedikit pun.
Apakah seorang laki-laki pantas menangis atau tidak? Baginya, hal-hal sentimentil semacam mengeluarkan air mata tidak akan meringankan apa pun yang sedang dipanggulnya.
Beberapa tahun lalu ia sering menangis setiap kali memimpikan sang Ibu. Lalu dia memutuskan untuk berhenti merasakan, berhenti memikirkan mendiang sang Ibu. Meskipun kesedihan dan duka tidak pernah berakhir begitu saja.
Seperti malam ini mimpi itu akan datang lagi.
Bangun membalikkan badannya, dia mengambil ponselnya.
Ia mengetikkan sebuah pesan menuju ponsel Mila.
Bangun
“Hai”
“Lagi apa?”
Pesan yang beberapa detik itu terbaca, tapi tak kunjung mendapat balasan dari sang empunya penerima pesan.
Mila
“Gue sibuk”
“Jan ganggu dulu”
Isi pesan yang diterimanya membuatnya kembali merasakan amarah yang mulai mereda. Ia kembali meledak. Seketika ponsel itu dia lempar sehingga menabrak dinding dengan keras dan mendarat tepat di atas keranjang pakaian kotor miliknya yang ada tepat di belakang pintu.
...****************...
entah ada yang baca apa enggak, iseng aja lah yaw.
selamat membaca dan menikmati kisahnya ❣️