
Bab 21
Setelah kejadian naas yang menimpa Nanda, sang ketua OSIS yang di akibatkan oleh Bangun Adhiguna. Pihak sekolah langsung menindaklanjuti kejadian itu. Memanggil orangtua dari Bangun Adhiguna.
Siang itu Bunda datang memenuhi peanggilan sekolah dan sudah berada di ruangan Bimbingan Kelas (BK) disertai Bangun sendiri dan Bu Aini selaku guru BK.
Bu Aini menyambut Bunda Bangun dengan senyuman.
“Maaf, Bu, saya mengganggu waktunya dan meminta ke sekolah sekarang,” ucap guru BK kepada Bunda.
Bunda membalas senyuman dengan hangat guru cantik itu. Namun, Bunda merasa tidak enak hati. Ini bukan kali pertama Bunda diminta untuk datang ke sekolah. Jika dipanggil, tentu saja kebanyakan untuk menyelesaikan perkara yang terlah dibuat oleh anaknya, Bangun Adhiguna.
“Apa lagi yang telah dilakukan oleh anak saya, Bangun, Bu?” tanya Bunda dengan ramah.
Sedari tadi Bangun hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya, bahkan tak ada keberanian untuk menatap sang Bunda. Sambil memainkan jari jemarinya.
“Bangun tadi memukul Nanda, Bu. Itu perbuatan yang fatal adalam pelanggaran aturan sekolah.”
Bunda terkesiap, lantas melirik ke arah Bangun. “Astaga, kenapa bisa, Nak?” Bunda meminta penjelasan terhadap Bangun.
Bungkam. Hanya itu yang dilakukannya saat ini.
Untuk beberapa saat ruangan itu hening sampai Bu Aini membuka suaranya lagi. “Jadi begini, Bangun tiba-tiba saja masuk ke ruang kelas Nanda dan langsung melayangkan pukulannya ke wajah Nanda.”
Bunda terpekik, “Ya Ampun!”
“Ini sudah kelewatan, Bu. Beberapa minggu lalu Bangun baru saja membolos pelajaran dan merokok di kafe belakang sekolah.” Bu Aini mencoba menjelaskan beberapa kejadian yang lalu yang di alami oleh anak muridnya.
“Saya sudah mendapatkan hukumannya untuk itu, Bu!” Bangun dengan segera menyela ucapan Bu Aini. “Pak Burhan aja yang gak sprotif!”
Bunda segera menginjakkan kaki Bangun yang berada dekat denganya dan memperlihatkan mata yang melotot menghadap ke arah Bangun isyarat agar Bangun menutup mulutnya rapat tanpa menjawab pernyataan dari gurunya, karena ia sedang menjadi terdakwa di sini.
“Dan baru-baru ini, sekolah dikejutkan dengan adanya pembuatan seorang murid yang menggambar wajah Pak Burhan dan menjadikannya sebagai bahan olokan di lapangan upacara...”
“Sekolah gak punya bukti kalau saya yang melakukan hal itu, Bu!” Bangun tak ingin diam. Ia kembali menyela gurunya. Lagi pula, gambarnya sudah tidak ada. Anak OSIS dan petugas kebersihan langsung mengecat ulang lapangan upacara saat itu juga.
Bu Aini tampak tak acuh dengan ucapan Bangun.
Bisa Bangun pastikan dirinya masih dituduh melakukan hal itu.
“Coba buktikan kalau saya pelakunya!” geram. Bangun langsung mengatakan hal itu kepada sang Guru.
“Bangun!” Kali ini nada suara dan pandangan sang Bunda jauh lebih serius. Apalagi Bunda memanggilnya dengan nada naik satu oktaf.
Mau tak mau Bangun pun kembali membungkam mulutnya.
Bunda mengambil laporan itu yang diserahkan oleh Bu Aini. Kemudian Bunda melihat laporan itu. Bunda hanya bisa mengembuskan napasnya berat. Yang berarti, Bangun harus bersikap baik hingga kelulusannya nanti atau ia bakal dikeluarkan dari sekolah atas pelanggaran yang dilakukannya di kemudian hari.
“Harap ini menjadi perhatian kita bersama, Bu. Untuk pelanggaran atas kejadian pemukulan Nanda, Bangun akan mendapatkan skorsing selama satu minggu. Berarti dia harap melakukan pembelajaran mandiri di rumah. Sebagai efek jera, wali kelas Bangun, Pak Burhan, dan guru-guru yang mengajar di kelas Bangun memutuskan Bangun harus menyelesaikan tugas-tugas selama dia diskros.” Bu Aini menyerahkan lembaran kertas kepada Bunda.
Bangun langsung mengambil alih kertas-kertas itu dari tangan Bunda.
Glek.
Bangun menelan ludahnya kasar melihat tumpukan kertas yang baru saja diambil alih olehnya dari tangan sang Bunda. Ini namanya sama saja pembalasan yang mereka berikan untuk Bangun sebagai timbal balik dari akibat semua pelanggaran yang telah dilakukannya. Hanya saja, ini menyeret Bunda ke dalam masalah yang menimpanya yang membuat Bangun sendiri tidak bisa berkutik lagi.
Bunda pun berpamitan dari ruang Bu Aini. “Ayo, Bangun Adhiguna, Bunda akan tunggu kamu di mobil.”
Bunda berjalan lebih dulu, sementara Bangun masih bergeming. Dia mengepalkan tangannya kuat dengan mata menatap ke arah Bu Aini, lalu berkata, “Saya harap Ibu bisa adil dengan Mila dan Nanda saat memberikan hukuman untuk mereka berdua.”
Bu Aini yang mendengar itu pun bertanya dengan Bangun, apa maksud dari ucapannya itu.
“Nanda itu ketua OSIS yang tidak pernah berbuat pelanggaran. Sedangkan Mila merupakan siswi berprestasi. Coba kamu jelaskan kenapa mereka juga harus dihukum?”
Bangun semakin berang dibuat guru yang satu ini. Kenapa mereka bersikap tidak adil kepada Bangun. Seolah-olah hanya dia yang pantas dihukum karena semua kenakalan yang sudah dibuatnya. Ingin rasanya Bangun melanjutkan kata-kata itu dengan memberitahu bahwa Mila dan Nanda itu berpacaran dan sudah berbuat yang tidak pantas di belakang sekolah. Itu merupakan pelanggaran etika! Namun, apa daya, sakit hatinya karena kenyataan itu masih menganga dengan lebar. Bangun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya.
Bangun pun bergegas berjalan menuju ke ruangannya untuk mengambil tasnya. Sesampainya di kelas, Bangun tak acuh terhadap lirikan teman-teman ke arah dirinya. Ia sempat melirik bahwa mereka ada yang mencuri bisik-bisik. Bangun meminta izin kepada guru yang mengajar dan bergegas pulang menyusul Bunda yang sudah menunggu di dalam mobil.
Bunda memberikan wejangan panjang kali lebar selama perjalanan dan saat mereka sampai di rumah. Kata-kata yang selalu Bunda tuturkan saat Bangun membuat kesalahan. Bangun tidak sedikit pun memotong wejangan Bunda. Bangun menghormati apa yang dikatakan oleh Bunda kepadanya, walaupun Bundanya hanya lah seorang ibu tiri baginya, tetapi Bunda menyayangi dan membela dirinya setiap menghadapi amukan dari Ayah. Bangun banyak berhutang kepada Bundanya itu. Mengetahui Bunda yang juga ikut terlibat dalam masalah yang dibuat oleh Bangun di sekolahnya, kini Bangun merasa menyesal telah berbuat seperti itu, tapi mau bagaimana lagi?
“Maaf, Bunda...” Ucap Bangun dengan lirih.
“Maaf itu gampang, Bangun! Tapi kalau kamu kembali melakukannya lagi ya percuma! Kamu gak bisa terus-terusan seperti ini!”
Bangun diam saja, tidak membantah. Ia membenarkan perkataan yang telah diucapkan oleh Bunda.
“Nanti malam Ayah pulang. Bunda gak mau Ayah tahu kalau kamu dapat hukuman skorsing!”
“Biar Bangun yang akan pikirkan, Bunda.”
“Bunda peringatkan, ini yang terakhir kalinya. Dan Bunda tidak mau berurusan lagi dengan pihak sekolah atas kelakuanmu, Bangun! Bunda mau kamu gak mengulangi semua kelakuan nakalmu itu lagi. Apa pun yang terjadi! Mengerti?!”
Bunda telah memberikan ultimatum kepada Bangun.
Bangun hanya menunduk dan perlahan menganggukkan kepalanya lemah. Sesampainya di kamar, ia melemparkan lembaran-lembaran berisi tugas itu ke tong sampah yang tepat berada di samping meja belajarnya. Ia sangat geram melihat tumpukan kertas yang baginya hanya pembalasan dendam dari semua para guru terhadap dirinya.
...****************...