
Bab 12
Entah bagaimana kesialan terus saja menghampiri Mimpi. Biasanya dia hanya harus berurusan dengan Mami nya di rumah. Sekolah yang membuat Mimpi nyaman, kini justru menjadi tempat yang sama menyebalkannya dengan rumah.
Demi menyelamatkan ruangan rahasianya, Mimpi berakhir dengan alat pel dan harus rela membiarkan si Badboy mengklaim hasil kerjanya, yaitu membersihkan gudang, kepada Pak Burhan. Dengan barter janji cowok itu akan melupakan keberadaan ruangan rahasianya untuk selamanya.
“Lo harus ingat kalau gue satingkat di atas lo!” Mimpi mencengkram gangang pel untuk menahan emosi.
“Gue tau kok kalau lo kakak kelas gue. Masih mau main ancam-ancaman?” gurau Bangun Adhiguna.
Mimpi mengumpat dalam hati. Mimpi teringat sesuatu.
“Lo sama pacar lo itu sama aja! Gak ada bedanya!” Mimpi bergumam sambil memulai kembali mengepel ruangan koridor.
“Gue denger,” hardik cowok itu, sambil menyusun barang-barang yang berceceran di rak.
“Bodo!” Mimpi mengeraskan suaranya.
“Lo kenal sama Mila?”
“Bukan urusan lo!”
Mimpi menatap tajam saat cowok itu mendekat dan mengambil tongkat pel yang Mimpi pegang saat ini.
“Kita belum kenalan dengan layak.”
‘hah? Apa ? kenalan dengan layak? Yang benar aja, hei wahai badboy!’ hati Mimpi berbicara.
“Seharusnya lo bilang begitu sama Pak Burhan!”
Mimpi melihat Bangun tersenyum dengan hangat, Sangat menyebalkan!
“Bangun Adhiguna.” Cowok itu mengulurkan tangan. Padahal dia tidak perlu menyebutkan nama lengkap. Semua orang juga tahu namanya.
Pandangan Mimpi yang semula ke arah uluran tangan berpindah ke arah wajah Bangun, menatap dengan intens, “Mimpi,” Mimpi menjawab. Mimpi membalas uluran tangan Bangun yang menggantung di udara. Tapi segera menarik tangannya kembali.
“Sudah. Sekarang mau lo apa?”
“Gue berterima kasih sama lo. Lo udah bantuin gue pas gue pingsan sampe siuman. Seharusnya lo bisa tinggalin gue sendiri di sini, tapi kenyataannya lo masih di sini.”
“Ya, bisa aja,” jawab Mimpi.
Bangun pun tergelak.
“Ya... kalau jadi lo, gue bakal berpikir kek gitu. Tapi lo di sini dan kasih minyak kayu putih ke gue. Dan lagi, lo udah bantu gue menjalankan hukuman.”
“Lo ngancem gue!”
“Hahahaha... Iya, sorry,” Bangun menarik sudut bibirnya.
Mimpi melihat tarikan bibir itu dengan tulus, atau mungkin dia memang punya keahlian memanipulasi senyumnya di waktu-waktu tertentu. Setidaknya itu cukup logis mengingat Bangun yang digilai banyak siswi di sekolah ini. Cowok itu pasti punya ajian tersendiri untuk memikat para kaum hawa di sekolahan ini yang terletak pada senyumannya itu sehingga para kaum hawa tergila-gila dan luluh seketika!
“Biar gue yang lanjutin. Gue boleh minta tolong ke lo aja yang menyortir dan merapikan buku-buku di dalam kardus itu?”
Mimpi terdiam. Pekerjaan itu jauh lebih mudah ketimbang mengepel lantai. Dan jujur, butuh berminggu-minggu untuk mengepel ruangan rahasia hingga bersih nan kinclong.
“Gue... alergi sama buku,” aku Bangun sambil menunduk.
Mimpi hanya mengerutkan dahinya. ‘Alergi buku?’ Tapi dia terlalu tak acuh untuk sekadar bertanya. Dia pun perlahan bergerak menuju tumpukan-tumpukan buku yang dimaksud. Tanpa suara, Mimpi memulai pekerjaannya untuk merapihkan buku-buku itu dan meletakkannya kembali di kardus yang masih layak pakai.
“Thanks,” ujar Bangun tiba-tiba.
Meskipun tidak melihat wajahnya langsung, rasanya Mimpi bisa memprediksi bagaimana raut wajah Bangun saat ini dari nada suaranya.
Perasaan canggung mendadak muncul di sekeliling mereka. Mimpi bersuara,
“Gue melakukan ini biar rahasia gue gak kebongkar sama lo. Bukan buat bantuin lo secara murni. Jadi gak usah kepedean lo!”
Mimpi hanya mendengar Bangun terkekeh geli dengan ucapannya itu dan hanya sesaat. Keduanya kembali menyibukkan diri dan membiarkan keheningan menjalar di sekeliling mereka.
...****************...
selamat membaca ❣️
kali ini part-nya dikit.