
Bab 22
Seharusnya Mimpi sudah tidak menyimpan kunci ruangan itu di tempat biasanya ia menyimpan. Apalagi setelah Bangun mencuri kuncinya untuk menyembunyikan atribut perayaan gagal itu. Nyatanya Mimpi masih menaruh kunci di tempat yang sama. Seolah, dia berharap Bangun dapat masuk ke gudang itu lagi.
Tidak sejalan dengan omongan yang telah diucapkannya Mimpi selalu mencecar Bangun dengan sebutan cowok badboy yang suka melanggar peraturan sekolah bahkan peraturan yang sudah dibuatnya bersama dirinya. Tak sejalan pula dengan ekspresi kemarahan yang muncul dalam kalimatnya barusan. Entahlah, dia jadi bingung dengan dirinya sendiri. Dan kebingungan itu membuat dia ingin marah-marah.
Mimpi juga sudah menduga siapa yang berada di ruang rahasianya saat dia melihat pintu yang tidak tertutup rapat. Bisa dipastikan Bangun sudah ada di dalam. Karena tahu ruangan ini mengunci dengan sendirinya, dia pun mengganjal pintu dengan sebuah batu bata. Mimpi jadi tak repot untuk mengambil kuncinya dan membukanya lagi.
Mimpi benar-benar marah saat dia masuk ke ruangan. Bagaimana tidak, selain Bangun masuk dengan seenaknya, entah bagaimana ceritanya, cowok itu menutup rak buku itu yang mengelilingi ruangannya dengan lembaran kain putih nan panjang.
“Belum puas ya lo ganggu gue? Gila lo! Dapat dari mana kain putih sepanjang ini? Dan ngapain lo nutup rak buku gue seenak lo?”
“Sorry,” jawab Bangun sekenanya. Cowok itu tidur terlentang di karpet di tengah ruangan itu.
“Gak habis thinking gue sama lo! Gila!” Mimpi melotot dengan kedua tangannya bersedekap di depan dadanya.
Dia berjalan melewati kaki jangkung cowok itu yang menginvasi lantai ruangan yang tak terlalu lebar itu. Mimpi duduk di kursinya dan meletakkan lengan di atas meja. Melebarkan kedua bola matanya seolah ingin keluar kepada Bangun.
“Jelasin!” ucap Mimpi masih menatap geram.
Bangun menolehkan wajahnya ke kiri, menatap sorot mata Mimpi yang menyoroti dirinya. Dia susah menebak ekspresi Mimpi, entrah penasaran, atau marah, atau bagaimana. Yang jelas itu bukan tatapan marah. Bangun sudah pernah mendapatkan serangan marah dari cewek yang duduk di kursinya itu.
“Tentang?”
“Apa pun! Eh, tapi gak usah cerita kenapa lo ada di sini sekarang! Gue sudah tahu! Insiden tonjokan dan skors seminggu yang lo jalanin, kan? Itu gosip rame sekang.”
“Orang-orang bodo*...,”ucapnya terbahak.
“Siapa?” Mimpi menurunkan intensitas suaranya.
“Mereka, lah. Yang bikin akun gosip! Kurang kerjaan banget.” Ucap Bangun menimpali.
Dalam hati Mimpi menyetujui dengan adanya pernyataan itu. Siapa pun yang ada di balik akun anonim, penyebar berita-berita tak penting hanyalah orang-orang bodo* yang kurang kerjaan. Meskipun Mimpi menikmati juga suguhan gosip mereka. Mimpi tidak dapat memungkirinya.
Tapi kan, Mimpi sedang marah, dia tidak boleh setuju dengan pernyataan Bangun. “Jadi, mana penjelasan lo?! Kenapa lo justru ada di sini dan masuk seenaknya ke ruangan gue ?!”
“Lo selalu menyebut gudang ini ruangan rahasia. Mananya yang rahasia, sih?” Bangun malah bertanya dengan Mimpi.
“Gak usah mengkritik gue deh, ya!” hardik Mimpi.
Sekali lagi, Mimpi ingin menanyainya, “Kenapa lo di-,” belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya itu sudah di sela oleh Bangun.
“Gue di usir dari rumah!” jawab Bangun langsung. Tetapi ekspresinya sedikit menunjukkan tawa di wajahnya. Dia menatap langit-langit yang kosong dengan pandangan mata yang kosong pula.
Mimpi menjadi penasaran. Meskipun dalam hati ia bingung, sejak kapan dirinya suka kepo terhadap urusan orang lain? Mimpi kemudian mencoba mengusir pemikiran dalam kepalanya yang mulai perlahan tidak ingin menuruti dirinya yang acuh tak acuh terhadap orang lain. Tapi jujur, dia juga penasaran.
Mimpi membelalakkan matanya, menatap Bangun dengan penuh penasaran. “Serius?”
“Bikin kaget aja lo! Gue pikir beneran!” Kemudian Mimpi manggut-manggut kenapa cowok itu pakai seragam sekolah meskipun sedang menjalani masa hukuman skorsing.
“Nyokap gue nyuruh gitu biar bokap gak tahu kalau gue lagi diskors,” lanjut Bangun.
“Jadi gue ke sekolah, lewat tembok belakang. Sudah cukup penjelasan dari gue kenapa gue bisa ada di sini?”
Bangun tersenyum dengan hangat. Mimpi melihat sekilas senyuman hangat itu, walaupun ia menyangkal senyuman itu hangat sehingga menolak mempercayainya. Mimpi pun kembali menampakkan wajah sebalnya. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Bangun.
“Tapi lo gak ada izin ke ruangan gue! Dan gue juga gak bakal izinin lo buat ke ruangan ini!” Mimpi mempertegas kalimatnya dengan kata izin.
“Kalau lo gak izinin gue masuk ke ruangan ini, lo bakal pindahin kunci itu ke lain tempat.”
Bangun terkekeh kali ini, melihat ekspresi yang terukir di wajah Mimpi yang terlihat memerah. Entah karena marah atau... untung saja bingkai kacamata yang dimiliki Mimpi cukup besar untuk menyamarkan rona wajah yang ada di pipinya itu. Bisa dibilang, ucapan Bangun sungguh mengena telak.
Benar, kenapa Mimpi tidak membawa atau memindahkan tempat persembunyian kuncinya?
Kemudian, Bangun merogoh saku, lalu melemparkan kunci ruangan dengan gantungan storberi itu kepada pemilik aslinya. Dengan sigap. Mimpi menangkap kunci itu.
“Gue udah punya duplikatnya,” ucap Bangun sambil mengedipkan sebelah matanya. Kemudian, dia kembali tidur telentang.
Mimpi hanya memekik terpaku menatap Bangun yang santai dan mengabaikan dirinya. Dia mengumpat dalam hati. Beranjak dari ruangan itu dengan segera sebelum bel tanda masuk berbunyi.
...****************...
Jam Istirahat ke-2
Mimpi tak berniat untuk kembali ke ruang rahasianya. Dia hanya ingin menetap di dalam kelasnya saja menghabiskan waktu istirahat dengan membaca buku. Tapi sayangnya, Bangun selalu meneror dengan mengirimi direct messages melalui Instagram Mimpi. Membuat Mimpi geram dengan Bangun Adhiguna.
“Kenapa lagi, sih, ini si badboy gila!” gumamnya sendiri.
Dibukanya direct messages itu dan terpampang nyata banyak sekali pesan yang masuk. Di bacanya dan hampir semua sama isi pesan yang tak lain dari Bangun Adhiguna. Dia menyampaikan bahwa dia kelaparan. Mau tak mau, Mimpi pun menuruti apa yang ada di pesan itu. Sangat menyebalkan!
“Nasi goreng di Pak Mun! Jangan yang lain!” Begitulah bunyinya.
Mimpi berjalan menuju ke kantin Pak Mun. Seperti biasa kantin itu ramai dipenuhi dengan siswa cowok. Memesan apa yang telah di pesan oleh Bangun.
Dan ketika dia sampai di ruangan rahasianya, Bangun menyambut nasi goreng yang datang di bawa oleh Mimpi dengan wajah yang sumringah.
“Ini terakhir kalinya lo ribetin gue!” Tegas Mimpi. “Dan bawa bekal sendiri!” lanjutnya lagi.
Bangun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia segera duduk di kursi di hadapan Mimpi dan menghampar nasi goreng pesanannya di meja. Menyantapnya dengan lahap.
...****************...
selamat membaca ❣️