The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 19



Bab 19


Mimpi membuka pintu kamarnya. Memandangi ruangan yang seperti istana baginya. Dan ia meletakkan tas ransel nya ke kursi, langsung merebahkan dirinya di kasur, lalu memejamkan mata. Satu hari terlewati dengan rangkaian yang penuh dengan drama panjang hari-hari sekolah. Tak lepas dengan itu semua ia juga harus melalui rangkaian itu dan tak dapat mengelak. Untung saja hari ini berlalu seperti biasa. Hanya saja menyisakan pekerjaan rumah dan satu tugas kelompok, yang di mana seperti biasa teman-teman sekelompoknya mengabaikan dirinya dalam berdiskusi dan pembagian tugas. Sebenarnya itu menyenangkan bagi seorang Mimpi, asal tidak ada kejadian seperti yang Mila lakukan beberapa waktu lalu.


Kejadian luar biasa semacam bersinggungan kembali dengan cowok badboy, Bangun Adhiguna, ia berharap tidak akan terjadi lagi. Bangun benar-benar lenyap dari kehidupannya. Tidak ada lagi insiden yang menimbulkan mereka berdua saling bersinggungan kembali dan insiden kunci ruang rahasia yang hilang atau kemunculan barang aneh di dalam ruangan nya.


Mimpi jadi teringat akan sesuatu. Berbeda dengan Bangun, Mila menjalani kehidupannya dengan bahagia. Cewek yang satu itu begitu cepat melanjutkan kisah asmaranya meskipun belum genap seminggu putus dari yang lama. Dia bahkan digosipkan lagi dekat dengan ketua OSIS saat ini, Nanda. Mimpi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja saat mendengar gosip itu. Merasa iba dengan apa yang di alami oleh Bangun Adhiguna, si cowok badboy. Kembali lagi, terserah pada cewek itu. Toh dia tidak memperdulikan dan bukan urusan Mimpi yang harus mengurusi kehidupan cewek yang, yah... populer.


Namun, bagaimana Mimpi tidak peduli dengan Bangun, kalau saja cowok itu memfollow akun Instagram Mimpi dan selalu meninggalkan jejak “love” di postingan-postingan Mimpi. Hanya kepikiran saja, karena biasanya tidak ada yang meninggalkan jejak seperti itu di kolom postingannya.


Mimpi kini uring-uringan memikirkan hal itu. Dia menutup wajah dengan bantal dan memukul tangan di permukaannya. Saat dia menyingkirkan bantal itu, pandangan Mimpi berserobok dengan seseorang yang mengintip di jendela pintu. Dia sepertinya melupakan sesuatu. Dan benar saja, ia mendapati pintu kamarnya yang terbuka sedikit.


Menyadari sesuatu yang seperti ada seseorang yang mengintip, ia meraih kacamata kucingnya di nakas, lalu memakainya.


Belia, sang adik tiri yang baru berusia lima tahun itu, tampak terkejut dan hendak menutup pintu kamarnya ketika dia kedapatan sedang mengintip Mimpi. Mungkin anak itu takut bakal dimarahi Mami kalau ketahuan mendekatinya. Atau mungkin juga, dia masih takut dengan Mimpi karena selama ini mereka tidak pernah terlibat dalam suatu perbincangan. Mimpi melambai kepada Belia dan terkejut dengan gerakan tangannya. Mimpi pun merubah posisi rebah menjadi duduk di atas kasusnya.


Belia pun menjawab lambaian itu dengan membuka pintu dan menutupnya rapat saat masuk ke kamar Mimpi.


“Bantuin aku warna,” ucap Belia yang masih terlihat malu-malu. Di punggungnya, Belia telah membawa tas ransel kecil bertema princess. Begitu ia mendapatkan anggukan sebagai jawaban, gadis kecil nan imut itu langsung menghambur ke kasur mendatangi Mimpi. Ia langsung mengeluarkan buku mewarnai dan krayon dari tasnya.


“Aku di sekolah belajar warna,” kata adik kecilnya itu.


Mimpi hanya menganggukan kepalanya tanda ia mengerti apa maksud dari adiknya itu.


“Oh ya? Warna apa?”


“Warna pemandangan!”


Mimpi menikmati momen berharga yang jarang-jarang dia temukan dan lalui bersama adiknya. Walaupun adiknya adalah adik tiri saja, ia tidak ingin merusak kebahagian ini dengan seputar pertanyaan-pertanyaan seputar Mami.


Belia pun dengan semangatnya menunjukkan hasil karya mewarnai. Mimpi merasakan hatinya disambut dengan rona bahagia. Dia pun bergegas mengambil krayon berwarna biru dan membantu mewarnai langit.


Belia begitu serius memberikan warna abu-abu pada gambar batu. Seketika perasaan sedih tiba-tiba muncul. Seolah Mimpi melihat proyeksi dirinya di masa kecil dengan seumuran Belia. Umumnya ingatan tentang dirinya saat berusia empat atau lima tahun mulai memudar dibenaknya, tergerus usia yang semakin waktu semakin bertambah. Nyatanya, Mimpi masih dapat mengingat momen-momen pilu masa kecilnya.


Disorot banyak kamera. Disuruh berjalan di atas catwalk sesuai intruksi Om kurus di bawah panggung, melanggak lenggok dan tersenyum kepada penonton, melemparkan gestur cium jarak jauh dan mendapat tepukan riuh sebagai balasan. Belum lagi, para penggemar tak jarang menyapanya saat berada di pusat perbelanjaan atau di mana saja. Semua orang akan memaksanya harus tersenyum manis di setiap saat. Jika Mimpi kecil menangis, mama akan memarahinya di mobil sehingga akhirnya dia berhenti menangis. Cubitan gemas nan gemas tidak sekali dua dia terima pada saat itu.


Setiap hari ia juga harus melihat deretan majalah wanita maupun majalah ibu dan anak yang menampilkan foto dirinya yang tersenyum manis, dengan baju balet atau gaun rok kembang, bergaya seru atau dipangkuan sang Mama. Masing-masing menampilkan headline-nya. “Nayla dan Mimpi Swastri, Ibu dan Anak yang Meniti Karir Dalam Dunia hiburan Tanah Air” atau “Mimpi Swastri, Artis Cilik Sukses Mencuri Perhatian dengan Bakat Modeling”.


Setelah lancar membaca, ia sangat penasaran apa saja isi kolom wawancara atau setiap artikel tentang Nayla Swastri dan dirinya. Salah satu artikel dari tumpukan majalah yang dikoleksi Mama itu pun dibacanya.


Mimpi pun merasa sangat mual setelah membacanya.


Mimpi merupakan anak semata wayang dari artis Nayla Swatri. Dia punya banyak penggemar, terutama ibu-ibu yang mengharapkan balita mereka juga bisa tenar seperti dirinya kala itu. Dia adalah manekin yang dipaksa tersenyum dan berceloteh riang di depan kamera. Mengenang masa-masa itu membuat hatinya ngilu sendiri. Membuat trauma yang teramat membekas dengan paparazi yang selalu menguntit di siang dan malam, mengharapkan seorang Mimpi yang berumur lima tahun selalu ceria dan tertawa. Tawaran syuting membuatnya tak punya waktu untuk sekadar cukup tidur, atau bahkan bermain bersama teman-teman seumuran dengannya layaknya anak balita di usianya. Itu merupakan hal yang sangat langka bagi dirinya.


Dalam lamunannya, Mimpi tak sengaja mewarnai terlewat garis yang seharusnya sehingga Belia pun menegur kakaknya itu.


“Kak, warnanya kelewatan!” Belia menegur.


“Oh, astaga! Maaf....” Mimpi hanya meringis melihat goresan krayon birunya yang menembus gunung. “Mana ada gunung yang warnanya biru, ya?” lanjut Mimpi dengan tertawa. Belia pun ikut tertawa dengan melihat hasil pekerjaan itu. “Nanti ditumpuk sama warna hijau saja ya, Bel. Gak apa-apa, kan?” bujuk Mimpi.


Belia mengangguk, tersenyum senang. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai. Sementara dalam benak Mimpi kembali ke masa-masa kecilnya.


Bagi dirinya, menjadi tokoh terkenal atau orang terpopuler adalah sebuah kutukan. Membuatnya kehilangan masa kecil yang menyenangkan. Bisa berkumpul dengan teman-teman dan bermain sepuasnya telah sirna dengan adanya kegiatan padat yang harusnya dilakukan oleh orang dewasa. Menjadi terkenal juga membuat sang Mama pergi demi orang lain dan berpisah dengan Papa. Itulah mengapa dirinya tidak menyenangi sorotan atau dekat dengan orang-orang terkenal dan populer. Ada perasaan bahagia saat dirinya bisa mengurung diri dan menyendiri, menjelma Mimpi yang asosial dan berpenampilan aneh seperti sekarang ini. Dengan penampilannya saat ini, tidak akan ada seorang pun yang menyangka bahkan mengenal dirinya bahwa adirinya dulu merupakan sosok imut yang menggemaskan yang pernah mewarnai dunia layar kaca Indonesia.


Mimpi pun menggulungkan rambutnya ke atas, membentuk cepolan di puncak kepalanya sebelum kembali berkutat dengan buku mewawrnai milik sang adik tirinya.


...****************...


Selamat membaca gratiz ❣️