The Secret, You And I

The Secret, You And I
Bab 24



Bab 24


Mimpi sudah kembali ke ruang kelasnya, menyisakan Bangun yang sendirian di ruangan rahasia itu. Bangun segera mengemasi peralatan yang digunakan untuk melukis dinding, lalu beranjak ke teritorial Mimpi. Dia menghempaskan tubuh di atas karpet yang berbulu empuk di tengah ruangan. Berbaring menghilangkan penat yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. Beberapa kali dia membolak-balikkan badan, mencari posisi yang ternyaman, tapi matanya enggan menutup. Dia mengingat ucapannya tadi bersama Mimpi mengenai permainan itu. Tentu saja dia tidak akan membeberkan fakta rahasia dirinya, kenapa dia sampai membenci buku, atau hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Di samping itu, Bangun teringat dengan tumpukan kertas yang telah diberikan oleh gurunya di ruang BK beberapa hari yang lalu. Bangun membuka tas ranselnya dan mendapati kertas yang sudah lecek. Di pandanginya kertas itu. Merasa malas untuk mengerjakannya.


Dengan masih uring-uringan, Bangun memilih untuk mengerjakan satu per satu tugas yang ada di kertas itu, di mulai dari pelajaran Kewarganegaraan. Dia menyalin dengan cepat soal yang harus dikerjakan, lalu berselancar di dunia maya untuk mencari jawaban. Setidaknya, dengan menyibukkan diri, dia bisa membuat waktu berjalan cepat sambil menunggu Mimpi datang pukul dua belas siang nanti.


Tak lama, bel sekolah yang menandakan istirahat kedua berbunyi, Mimpi datang ke ruangan rasahianya. Dia menemukan Bangun duduk bersandar pada tembok yang masih polos.


“Dua belas lewat dua menit. Lebih cepat dari biasanya. Lo lari, ya? Biar cepet ketemu gue di sini?” goda Bangun sambil menatap arlogi yang ada di pergelagan tangan kirinya.


Mimpi tak acuh dengan pertanyaan yang telah dilontarkan ke arahnya. ‘Pertanyaan macam apa itu? Kepedean!’ hatinya bergumam sediri. Dia berjalan melewati Bangun yang duduk dengan tatapan tajam. Percuma juga dia mau menyangkal, dadanya naik turun karena mengatur napas yang masih tersengal.


“Bener, kan?” Cowok itu terkekeh dengan dugaannya.


Saat menghampiri mejanya, Mimpi melihat sebuah kotak makan diatasnya. “Apaan nih?” spontan Mimpi menoleh dan bertanya kepada Bangun.


“Chicken terriyaki, buatan nyokap gue. Besok lo gak usah makan lagi di kantin. Nyokap masak buat kita.”


Tercenung lama dengan penuturan yang disampaikan Bangun sebelum ia membuka kotak makan itu. Aroma bumbu khas menggelitik hidungnya. Tangannya tak sabar ingin membuka kotak makan di hadapannya.


“Jadi lo bisa lebih lama di sini, gak perlu ke kantin lima belas menit sebelum bel masuk,” ucap Bangun.


Mimpi melongo mendengar ucapannya. Bagaimana bisa Bangun menyadari hal remeh semacam itu, atau fakta bahwa Mimpi selalu memilih makan siang lima belas menit sebelum bel masuk untuk menghindari keramaian kantin? Padahal intensitas mereka berinteraksi baru hitungan hari.


“Selamat makan,” ucap Bangun dari ruangannya.


Mimpi masih ragu. Setelah beberapa saat dia mengambil sendok dan mulai menyantap makanan itu. Namun, baru saja makan beberapa suapan, cowok itu kembali merecokinya. Tapi Mimpi memilih masa bo*doh dengan hal itu, ia tetap menikmati makanan yang di masak oleh Bunda Bangun. Akhirnya Bangun pun menyerah.


“Makanannya enak, thanks ya...,” ucap Mimpi setelah menyelesaikan makanannya.


“Jadi, one day one fact apa yang mau lo sampaikan ke gue sekarang?” tantang Mimpi kemudian. Ia tidak mau menanggapi kembali pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh Bangun nantinya yang merujuk ke arah makanan tadi.


“Fakta apa yang mau lo tahu dari gue?”


“Gak ada!”


Bangun tertawa di seberang sana. “Oke, gue ceritain fakta tentang kenapa gue benci sama buku tapi bisa naik kelas. Sebagai pecinta buku, lo pasti penasaran, kan sama itu?”


“Sebenarnya sama aja kaya macet. Gue benci macet, tapi terpaksa gue terjang untuk bertahan hidup,” lanjut Bangun lagi. Ada satu helaan napas sebelum dia melanjutkan kalimatnya. “Jadi, gue gak mati kalau di paksa baca buku. Hanya...,”


“Hanya?” Mimpi bertanya masih dengan rasa penasaran tinggi yang menyelimutinya.


“Pokoknya gue gak mau aja. Kalau bisa gue hindari ya gue bakal hindari. Bagaimana pun caranya. Termasuk, yah, berhubungan dengan fakta yang lain sebenarnya, tapi ya udah deh, gue kasih buat lo. Termasuk pacaran sama cewek pintar atau yang bisa bantu gue mau belajar.”


Hanya kekehan lirih sebagai tanggapan Bangun dari argumen itu.


“Mungkin lo kena karma,” ucap Mimpi.


Sebenarnya Mimpi ingin ketawa lagi, tapi berhubungan ada setitik rasa kasihan dan empati terhadap nahasnya hubungan percintaan yang di alami oleh Bangun dengan Mila, akhirnya dia urungkan.


Rasanya bahagia sekali membuat cowok itu bungkam dengan kebanggaan sebagai seorang yang ganti-ganti cewek berkali-kali. Namun, di balik itu semua, Mimpi kaget bahwa alasan Bangun mempermainkan banyak cewek hanya demi nilai pelajaran. Ternyata ada cerita di balik Bangun yang terkenal bad boy itu.


“Sekarang giliran lo.” Ucap Bangun.


“Hmm, fakta...,” Mimpi berpikir sejenak. Memangnya fakta apa yang mau dia ceritakan kepada Bangun? Bahwa dia dulu seorang artis cilik cantik, imut, menggemaskan? Bahwa orangtuanya bercerai karena sang ibu selingkuh dengan pria asing dan meninggalkan anaknya untuk menjalani hidup baru di negeri orang? Bahwa dia tinggal bersama Kakek dan harus pindah dengan Papa setelah kakeknya meninggal dunia tiga tahun lalu?


Mimpi mengembuskan napas pelan.


“Kalau saja Mila gak nyindir gue di pelajaran Sosiologi, gue juga malas berurusan dengan dia atau anak-anak populer mana pun,” aku Mimpi. Menunjukkan fakta sepele sepertinya lebih baik, pikirnya.


“Kapan lo disindir sama Mila? Kenapa dia gak pernah cerita tentang lo ke gue?” tanya Bangun.


“Karena..., lo gak penting dalam hidup Mila.” Mimpi terkekeh dan samar menangkap kata yang tak pantas diucapkan dari seberangnya itu. “Bener, kan? Atau mungkin gue aja yang enggak penting dalam hidup Mila sampai dia gak mau ngadu ke lo.”


Orang seperti Mila tidak akan pernah tahu bahwa si debu sungguh-sungguh merasa terganggu ketika kehidupannya terusik. Mimpi terdiam cukup lama, juga tak ada balasan dari Bangun. Dia menoleh ke pergelangan tangan kirinya. Arloji nya menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit. Tak terasa istirahat kedua selama empat puluh lima menit itu sudah hampir habis. Masih ada sepuluh menit tersisa.


“Gue gak pernah ingin menanggapi kaum-kaum pemuja pansos yang haus akan perhatian. Tapi, ketika gue merasa diusik, maaf, gue bakal lupa meski pun gue gak berbuat apa-apa untuk membalas. Lagi pula, buat apa juga balas dendam ke orang yang gak penting dalam hidup gue? Justru dengan memberi balasan, tujuan kalian akan tercapai. Pencari perhatian, haus akan pansos, dan gila apresiasi, kan?” Mimpi tak bisa menghindari nada sinis yang sudah keluar dari bibirnya.


“Jadi, menurut lo gue ini pencari perhatian?”


“Mungkin,” jawab Mimpi. “Cuma lo yang bisa membenarkan atau mengelaknya.” Mimpi lantas beranjak dari duduknya dan bersiap untuk keluar gudang yang bukan sepenuhnya miliknya. “Gue harus masuk ke kelas. Pelajaran Bu Andini. Guru killer. Anak siswa-siswi gak boleh telat sedetik pun dalam kelas dia.”


Saat Mimpi melalui teritorial Bangun, dia melihat bangun masih duduk dengan kaki diluruskan ke lantai. Wajah yang tampak merenung. Mimpi penasaran kenapa ekspresi Bangun menjadi seperti itu. Alih-alih menatapnya dengan intens, Mimpi langsung mengalihkan pandangan.


“Jangan lupa kerjakan tugas-tugas lo,” ingat Mimpi kepada Bangun sebelum ia benar-benar beranjak dari sana.


...****************...


adik kelas yang baik hati bawain bekal.


kakak kelas yang cukup peduli ingetin adik kelas buat ngerjain tugas selama diskors.


selamat membaca ❣️