The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Masa Lalu



Akhirnya Clarissapun pergi meninggalkan kami berdua, dia bergegas pergi tanpa mengatakan apapun..


Singkat cerita, akupun mengambil kursi di belakangku lalu membawanya dan meletakannya di samping kiri Ayah, aku langsung duduk di kursi itu lalu memegang tangannya.


"Ayah..." Aku menatap wajahnya dengan penuh kesedihan..


"iyaa Aisyah?" Ucapnya sembari menengokku lalu mengusap-usap pipiku dengan lembut..


"Aku khawatir sekali dengan keadaanmu, akuu...." Aku tak kuat menahan air mataku, rasanya berat bila harus melihat Ayahku dalam keadaan seperti itu.


"Kenapa kamu menangis?, Ayah baik-baik saja" Kembali tangannya mengusap air mataku.


"Aku sedihh, aku takut aku akan kehilangan Ayah, aku takut Ayah akan pergi seperti mereka dua.."


"Ayah tidak akan kemana-mana, Ayah akan selalu ada di sampingmu sama seperti dulu" Ayah mencoba tersenyum meski matanya jelas terlihat berkaca-kaca.


"Aku tau suatu saat Ayah juga akan pergi meninggalkanku, tapi jujur! aku tidak tau apakah aku akan sanggup menerimanya dengan lapang dada" Aku semakin erat memegang tangannya, dan diapun melepaskan tangannya dari pipiku, lalu menepuk-nepuk tanganku.


"Sudahhlahh, yang lalu biarlah berlalu, Mereka yang sudah pergi biarlah pergi dengan bahagia" Ayah tersenyum lagi.


Aku tau! hal ini juga sangat berat baginya, Ayah harus kehilangan kedua orang yang dia sayang..


Aku ingin..n sekali membahas hal ini dengan Ayahku, aku ingin mengeluarkan segala yang aku rasakan sampai detik ini pada Ayahku, tapi! keadaanya sangat tidak memungkinkan, aku hanya bisa sekedar mengingat kembali rasa sakit itu dalam benakku.


-Tapi!!! aku akan tetap mencoba untuk membahasnya sekali lagi, aku benar-benar ingin tahu semuanya! dan aku sudah sangat merindukan kalian berdua- Dalam hatiku.


Akupun kembali meneguhkan hatiku dan kembali memberanikan diri untuk bertanya padanya..


"Ayah..."


"iyaa, Aisyah?"


"Aku ingin tidur di samping Ayah.." Aku menyenderkan kepalaku di bahu Ayahku, aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya lalu memeluknya dengan erat.


"Ayah juga ingin tetap seperti ini denganmu" Kepala Ayahku bersentuhan dengan kepalaku, tangan kanannya mengelus-elus kepalaku dan sedikit bermain-main rambutku.


"Ayah ingat saat aku masih kecil?" Tanyaku..


"Hemmpp"


"Aku sering memelukmu seperti ini"


"iyaa.."


"Aku rindu, apa aku boleh mengingat kembali masa-masa itu Yah?" Tanyaku..


"Kamu tau keadaan Ayah seperti ini kan? kamu masih ingin membahas itu meskipun kamu tau Ayah tidak akan baik-baik saja setelah kembali mengingatnya?"


"Kamu masih saja kekanak-kanakkan Aisyah" Lanjut Ayahku..


"Maaf kalo Gina keras kepala, tapi Gina ingin tau segalanya Ayah! Kenapa Ana ikut pergi dan kenapa Ibu sangat membenciku"


-Sepertinya, memang inilah saat yang paling tepat- Dalam Hati Ayah.


"Baiklah Ayah akan menceritakannya, sebelum itu.. Kamu harus berjanji dulu kamu tidak akan membenci Ayah karna hal ini" Aku langsung menarik kepalaku dan melepas pelukanku, aku semakin penasaran dengan apa yang akan Ayah ceritakan padaku, lalu Ayah menatapku.


"Kenapa kamu melepas pelukanmu? apa kamu sudah membenci Ayah sebelum Ayah sempat untuk menceritakan segalanya padamu?" Tanya Ayahku.


Akupun menggeleng-gelengkan kepalaku mengisyaratkan bahwa aku tidak membencinya sama sekali.


"Baiklah, Bantu Ayah duduk! Ayah akan menceritakannya dari awal" Akupun segera memegangi tubuhnya lalu membantunya untuk duduk.


"Jadii... Sebenarnya, Ibumu dan Ana itu tidak pergi meninggalkan kita begitu saja, waktu itu umurmu masih sangat kecil.."


"Tapi yang aku ingat, Ayah bilang ibu meninggalkan kita dengan membawa Ana bersama laki-laki lain.. Kalian sering bertengkar dan Ibu sering melampiaskan kemarahannya padaku!"


"Tidak! itu tidak benar, Ayah berbohong... Selama ini Ayah sudah menipumu! Ayah sudah menipumu mentah-mentah" Aku kaget mendengar pernyataan Ayah, Ayah langsung menangis, dia menangis begitu keras seperti anak kecil, aku sebenarnya merasa sangat marah pada waktu itu! tapi.. Aku juga tak tega melihat Ayahku menangis seperti ini.


-Ya tuhan, seperti inikah rasa sakit yang Ayah sembunyikan dariku selama bertahun-tahun?- Dalam Hatiku


"Maafkan Ayah Aisyah.. Maafkan Ayah.." Tangisan Ayah semakin menjadi-jadi, Aku langsung memeluknya sekuat tenaga..


"Tidak Ayah, itu bukan salah Ayah, tenanglah.. Gina tidak membenci Ayah, Gina akan tetap menyayangi Ayah" Aku mencoba untuk menenangkannya.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja tangisannya itu terhenti, aku melepaskan pelukanku lalu kembali menatapnya..


"Ayah juga ingin seperti itu, tapi.. Ayah pikir kamu sudah cukup dewasa, sudah saatnya kamu tau apa yang terjadi sebenarnya" Ayah menghapus Air Matanya..


• FLASH BACK ON


• AKU ADALAH AYAH


Waktu itu, Aku sedang di Kantor mengurus berkas-berkas kantor yang menumpuk di mejaku, saat aku sudah hampir menyelesaikan pekerjaanku itu.. Tiba-tiba Ponselku berdering sangat keras.


"Duhh..!! siapa sih yang nelfon-nelfon mulu!" Kataku dengan nada kesal.


ternyata itu adalah Istriku (Mayang Haryantika Anisya)dia menelfonku, seketika itupun wajahku berubah menjadi sangat gembira.


-Ku kira siapa, ehh.. Ternyata Istri kesayanganku yang menelfon- Dalam Hatiku


"Hallo..." Kata Anisya.


"iyaa, Hallo Sayang.." Jawabku.


"Sayang... Cepat pulang ya, aku sama Anak-Anak udah masakin Nasi Goreng Spesial kesukaanmu nih.." Katanya dengan nada manja.


"Oh ya? Oke dehh, aku langsung pulang sekarang nihh... Kebetulan kerjaanku juga sudah selesai semua"


"Emmpphh jangan lama-lama ya Sayang.."


"iyaa sayang... Tunggu aja di luar atau di dalam yaa, aku cepet-cepet otw nih.."


"Emmpphh.. Oke deh, kita tunggu yaa.."


Istrikupun menutup telfonnya, aku bergegas dan bersiap-siap untuk pulang, aku menyuruh Sekertaris Pribadiku (Sekertaris Ken Josua) untuk mengurus sisanya.


"Ken! urus sisanya, aku mau pulang ke Rumah dulu sebentar" Kataku sembari meletakan sisa-sisa berkasku ke Mejanya Ken.


"Baik pak!"


-Untung Ruang Kerja Sekertaris Ken aku atur supaya berdampingan dengan Ruang Kerjaku, jadi aku tidak perlu jauh-jauh harus berjalan kaki keRuangannya hanya untuk meletakan Berkas-berkasku ke Mejanya - Dalam Hatiku.


Akupun bergegas menuju ke Parkiran Mobil untuk mengambilnya lalu menyalakan mobil dan langsung menancapkan Gasku supaya cepat sampai ke Rumah, Aku sudah membayangkan makan bersama dengan Anak dan Istriku, tertawa bersama dan saling menyuapi makanan satu sama lain.


-Wahh, senangnyaa... Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu mereka- Dalam hatiku


Aku melewati satu demi satu pohon di jalanan, melewati satu demi satu Gedung-Gedung, dan juga melewati banyak orang yang sedang seraktifitas di luaran sana..


Saat ku lihat pintu gerbang Rumahku yang terbuka itupun mulai terlihat sedikit jelas, seketika itupun aku langsung memantapkan diriku untuk menancapkan gas mobilku lebih dalam lagi..


Tiba-tiba! ku lihat seorang Anak kecil menintas di depan Mobilku, aku tidak sempat untuk mengambil Rem, saat itu Mobilku sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.. Dan akhirnya..


JEBREEEETTTTT!!!!


"AAAAAAAAAaaaaaaa!!!!!" Suara teriakan seseorang itu seakan telah mencabik-cabik udara di sekitarku.


Suasana berubah menjadi tegang, aku menghentikan laju Mobilku, lalu ku buka jendela Mobil.


"Ya tuhan! Siapa yang sudah ku tabrak barusan!"


Aku panik, aku telah menabrak seseorang.. Dan lebih parahnya lagi! aku tidak tau siapa orang itu.


"Sepertinya aku sudah menabrak salah satu tetanggaku, aku harus turun dan mengeceknya!"


Akupun membuka pintu Mobil lalu menutupnya, ku lihat ada Seseorang yang sedang menangisi korban tabrak lari itu..


Aku tidak bisa melihat mereka dengan benar, tubuh Perempuan itu menutupi tubuh si korban.


-Siapa perempuan itu?- Dalam hatiku.


Aku mendekatinya lalu menepuk pundaknya..


"Mba, maafin saya.. Saya ngga sengaja nabrak mbak..!!"


Wanita itupun menoleh padaku..


-BERSAMBUNG-