
Pertarungan tak seimbang, yang hanya berlangsung selama beberapa menit itu..
Seakan-akan telah berlangsung selama beberapa jam.
Adam masih belum dapat sadarkan diri sedangkan Sekertaris Ken, hanya mampu membantu Adam dalam bentuk sebuah do'a..
Semoga, Tuan Muda barunya itu bisa cepat mengstabilkan diri, menyadarkan dirinya dari tidur panjang yang menyedihkan.
Dia sadar bahwa segala yang dia lakukan itu sangatlah berlebihan, namun apalah daya..
Dia hanyalah seorang Sekertaris pribadi Keluarga Regian, yang sangat mencintai mereka melebihi apappun.
Sekertaris Ken, terus saja bermodar-mandir tidak mau bersikap tenang, di depan Ruangan UGD VIP itu.
Tak lama kemudian, Ayahpun datang menemuinya..
Dengan harapan yang sama, bahwa Adam akan baik-baik saja di dalam sana.
Mereka berdua begitu menghawatirkan Adam, dan sangat memperdulikannya seperti anak mereka sendiri.
Namun, sudah 2 jam setelah Dokter masuk kedalam Ruangan, dan sama sekali belum terlihat keluar sama sekali.
"Maafkan saya.."Kata Sekertaris Ken, sembari menundukan pandangannya di depan Ayahku.
"Kenapa?"Tanya Ayah.
"Seharusnya dari awal, saya tidak pernah meragukan anda sedikitpun.."
"Andaikan saja, saya lebih pandai dalam menilai seseorang tidak hanya dari masalalunya saja..
Mungkin, semua kebodohan ini tidak akan pernah saya lakukan"Sambung Sekertaris ken.
Dia adalah seorang pria yang sangat keras, namun memiliki sebuah hati yang sangat lembut.
Dan dia selalu mau, jika harus mengakui kesalahannya..
"Aku sudah tau, apa yang akan terjadi padanya hari ini.. Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu"Ayah mendekat pada Sekertaris Ken, yang masih berdiri saja sedari tadi tidak mau tenang, tidak mau duduk, ataupun melakukan hal yang lain.
"Aku tidak main-main dengan perkataanku, jika memang tadinya dia menolak untuk menerima tantanganmu itu, untuk berjuang demi Putriku..
Maka, mungkin aku sendiri yang akan menghabisi dia kapanpun aku mau"Sambung Ayah.
Sekertaris Ken, terlihat mulai tenangkan diri.
Dia mulai kembali yakin, bahwa Adam akan baik- baik saja dan dia percaya bahwa apa yang dia lakukan hari ini sudahlah tepat.
Kini, dia bisa percaya sepenuhnya pada berandalan bangs*t itu dengan sepenuh hatinya.
Tidak akan ada ragu lagi sedikitpun, dan tidak akan pernah ada lagi sebuah rasa benci di dalam hati, yang harus Adam bayar suatu hari nanti.
-Demi seseorang yang sudah membuatmu bertahan sampai sejauh ini, semoga engkau akan baik-baik saja..-Dalam hati Sekertaris Ken.
Sementara di tempat lain..
Sangat berbanding terbalik dengan keadaan Adam saat ini.
Dia sedang berjuang mati-matian di Ruang UGD selama berjam-jam lamanya.
Namun, aku justru ada di tempat tongkrongan bersama Nadia, untuk bersulang merayakan keberhasilan langkah ke tiga kami kemarin.
"Kanpaiii" Seru Nadia, menyodorkan Coffe Latte, lalu mengajaku untuk bersulang.
"Yeah..."Akupun meladeni tawarannya, dengan bersulang dengannya.
Dia tidak mungkin berani untuk meminum minuman beralkohol di depanku, maka sebagai gantinya..
Dia mengajakku minum Coffe Latte di sebuah Caffe tempat kita sering berkumpul bersama.
Kami sangat menikmati kebersamaan kami..
"Haha(tertawa kecil), ini adalah tempat paling nyaman di dunia"
-Selain di Diskotik dan Hotel tentunya..-Dalam hati Nadia.
Aku tersenyum, menyetujui pernyataannya..
"Oh, ya. Aisyah, Kalau kamu sudah bercerai dengan Adam, apa kamu punya keniatan untuk menikah kembali?"Tanya Nadia.
Aku tak menyangka bisa mendengar hal itu..
Tapi, yaa.. Memang perlu di fikirkan lagi, setiap orang pastilah ingin memiliki sebuah keluarga yang utuh dan sempurna, yang di dasari dengan rasa cinta dan kebahagiaan.
"Mungkin... Aku masih ingin mencari keberadaan Alexas"Kataku, dengan nada ragu-ragu.
Dia tidak percaya, aku akan sebodoh ini mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintaiku dengan tulus.
Dia senang, mendengar bahwa aku masih sangat mengharapkan Alexas dan ingin segera kembali bersamanya.
Dengan begitu, kesempatannya untuk merekatkan kembali hubunganku dengan Alexas, akan semakin mudah untuk di lakukan.
-Dasar Aisyah, bodoh!-Dalam hati Nadia.
Dia terkekeh di depanku, melihat wajahku yang terlihat sangat polos dan juga bodoh..
Benar-benar membuatnya merasa sangat puas dan gembira tak terkira.
"Apa kamu benar-benar masih mencintai laki-laki itu?"Tanya Nadia.
Akupun dengan sigap menjawabnya..
"Tentu saja, tapi.. Entahlah, aku tidak terlalu yakin dengan hal itu"Kataku sembari memalingkan pandangan, perlahan memutar-mutar gelas di tanganku, melirik kearah lain penuh ragu.
Nadia mulai menghawatirkan hal lain..
Sepertinya, dia menyangka bahwa aku tidak benar-benar mencintai Alexas seperti dulu.
Namun, aku masih belum menyadarinya.
-Tidak bisa di biarkan, jika dia mulai sadar bahwa perasaannya itu palsu.. Maka dia akan meninggalkan Alexas dengan mudah, dan berpaling darinya.
Ini benar-benar gawat!-Dalam hati Nadia.
"Hahaha(tertawa aneh)Sepertinya tidak begitu.. Mungkin, kamu memang sangat mencintainya. Maka dari itu, kamu tidak bisa melupakan kenangan indah kalian begitu saja"Saut Nadia, Mencoba meyakinkanku.
"Em... M-mungkin...?"Kataku.
Nadia kembali tertawa canggung di depanku.
Dia tidak rela jika aku menaruh hati pada Adam, dan mulai tidak peduli lagi dengan Alexas.
Karna, jika sampai hal itu terjadi..
Maka rencana yang selama ini dia bangun susah-susah akan dengan mudah aku hancurkan begitu saja.
Nadia melirik kearahku, lalu mulai yakinkan diri untuk menatapku dan langsung memegang kedua tanganku yang sedang memutar-mutar gelas.
"Aisyah, aku tau kamu sangat mencintai Alexas lebih dari apapun.. Jadi, aku mohon berjuanglah demi hal itu. Aku tidak mau melihatmu menderita, harus terus berada di pelukan Adam!"
Mata Nadia terlihat berkaca-kaca..
"Kamu harus berjuang keras untuk memisahkan dirimu dari Adam, dan kembali ke pelukan Alexas seperti dulu.. Aku sangat yakin, Alexas juga pasti masih sangat mencintaimu dan dia memiliki alasan lain, kenapa dia memilih untuk meninggalkanmu hari itu"Kata Nadia, dengan nada sendu yang mampu mengoyak-ngoyak perasaanku.
Oh..Tuhan, hatiku benar-benar tidak mampu menerima perlakuan semanis ini.
Dia sangat peduli denganku, dia sangat memikirkan tentang masa depanku yang indah.
Aku percaya pada Nadia, melebihi siapapun.
Dia adalah yang terbaik, dia paling tau apa yang aku rasakan dan apa yang aku butuhkan.
Aku merasa sangat senang.. Aku memilikinya, layaknya seperti seorang saudariku sendiri.
"Aku tau, kamu orang yang baik.. Kalau kamu sudah mengatakan hal seperti itu, maka mungkin itu adalah hal yang paling terbaik pula untukku"Kataku, sembari tersenyum di depannya.
Setelah hari itu, akupun semakin memantapkan diri untuk berjuang menyelamatkan diriku sendiri, dari pria tidak tau diri seperti Adam.
Aku tidak pernah sadar, bahwa ketika aku sedang berjuang keras untuk menyingkirkannya dari hidupku.
Adam justru sedang berjuang keras, di samping sang Malaikat Maut yang siap mencabut nyawanya kapanpun Tuhan mengizinkan.
Adam ingin aku mengakuinya sebagai seorang suami yang di cintai istrinya..
Sedangkan aku, tengah berjuang di garis lain sebagai seorang istri yang ingin segera menyingkirkan suaminya dari kehidupannya.
Miriss.. Benar-benar pemandangan yang sangat miris.
Dua insan bodoh sedang saling bertarung satu sama lain, mencari sebuah kebahagiaan mereka masing-masing.
Namun, yang lebih bodoh adalah aku.
Seorang wanita bodoh yang sampai kapanpun, tidak akan pernah mampu memahami isi hatinya sendiri.
Dan selalu tergantung, pada orang yang salah seperti Nadia.