The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Pertemuan Pertama



Aku kaget sekali!


-Ini masih sangat pagi, tapi kenapa Clarissa sudah ada di tempat ini!- Dalam hatiku.


"Clarissa! ini masih pagi, kenapa kamu sudah ada di sini? apa yang sedang kalian lakukan?" Protesku.


"Kau tidak bisa lihat aku sedang apa? aku sedang menyuapi Mas Adam sarapan pagi!" Kata Clarissa dengan santainya menyuapi Adam dengan semangkuk soup hangat di depanku.


Aku sedikit kesal melihat tingkah Clarissa yang seenaknya saja, dia itu!!! Ah! intinya aku sangat tidak suka.


"Kenapa Aisyah? tidak apa-apakan Clarissa membantuku sedikit? kamu cemburu?" Kata Adam sambil tersenyum kepadaku.


"Ih! apaan sih! ya enggak lah, terserah kalian mau ngapain.. Aku cuma ngga suka aja kalo Clarissa berbuat seenaknya sama salah satu anggota keluargaku!" Aku mencoba menampik kata-kata Adam.


"Sejak kapan kamu peduli dengan Adam? bukannya, kamu tidak pernah menganggap Adam itu suamimu sendiri?" Clarissa berbicara dengan wajahnya yang terlihat songong.


-Menyebalkan sekali dia!- Dalam hatiku.


"Alahhh... Udahlah! terserah kalian mau ngapain.. Siapa juga yang peduli! Adam!, aku cuma mau numpang tidur! jangan ganggu!" Akupun memalingkan pandanganku dari mereka berdua, aku bergegas menuju kesofa dan memposisikan tidurku seperti sebelumnya.


-Masa bodoh! siapa juga yang peduli!- Dalam hatiku.


Entah mengapa, sofa di Ruangan Adam yang ini terasa lebih empuk dan nyaman dibandingkan dengan sofa yang ada di Ruangan Adam sebelumnya. Tapi, hatiku tidak setenang sebelumnya, hatiku terasa seperti bergemuruh dan mataku tiba-tiba saja terasa berhenti mengantuk.


-Sial! aku sudah tidak nafsu lagi untuk tidur!-Dalam hatiku.


Aku langsung beranjak dari tidurku.


"Kenapa kamu berdiri lagi? kamu bilang, ingin tidur saja di atas sofa?" Tanya Clarissa.


"Brisikkk!! karna kalianlah, nafsu tidurku sudah tidak ada lagi!" Aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Aku menuju keluar Ruangan dengan perasaanku yang penuh amarah.


"Kurang ajar mereka! lihat saja, sebelum mereka sempat berbuat seenak mereka lebih jauh lagi, aku pasti sudah mendepak Adam keluar dari Rumahku!" Seruku, wajahku terasa panas.. Tubuhku juga terasa sangat berat, aku melangkahkan kakiku dengan lebar supaya cepat keluar dari Ruangan itu.


"Pagi-pagi sudah di buat emosi!"


Aku tidak mengerti apa yang membuatku sangat marah dengan mereka, aku tidak peduli dengan mereka.. Tapi!!! aku benar-benar tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau tidak.


-Kriing-Kriing-kriing-


Aku menghentikan langkahku saat menemukan telfon genggamku berdering sedari tadi di dalam saku..


"Siapa sih yang telfon-telfon mulu!!" Seruku dengan nada yang tidak pelan..


-Oh! ternyata Nadia yang menelfon!- Dalam Hatiku.


"Hy Nad! ada apa kamu menelfonku pagi-pagi begini?" Tanyaku sambil mengangkat telfonnya.


"hah? pagi?"


"Iya! pagi! ada apa?" Kataku.


"Ini sudah hampir siang Gina!!, kamu pasti baru bangun tidur ya?"


"Oh ya?, aku sudah bangun dari tadi kok!"


"Terus! kenapa kamu masih bilang ini masih pagi? Hey! kamu nggak lupa kan hari ini kita ada janji sama DR. Rudi di Caffe?" Tanya Nadia.


"Ya ampun! aku lupa Nad! ya udah aku pulang dulu, siap-siap, sarapan dulu, mandi, trus otw kesitu deh!" Kataku sambil menepuk-nepuk kepalaku karna lupa dengan janji itu.


"Iihh lama deh! ngga usah kelamaan! aku udah mau jalan ke Caffe sama DR. Rudi nih! Awas ya kalo lama!" Nadia terdengar sangat kesal.


"iyaa, iyaaa maaf deh maaf.. Aku pulang dulu siap- siap abis itu langsung otw deh ngga pake sarapan!"


"Oh ya, kok kamu bisa barengan gitu sih keCaffenya sama DR. Rudi? bukannya kalian juga baru saling kenal?" Tanyaku dengan nada terheran-heran.


"Oh! itu.. Hmmm itu sih cuma kebetulan aja pengen bareng, tadi aku hubungin dia buat ke Rumahku dulu baru ke Caffe, soalnya ya... Intinya lebih efisien kaya gitu deh! ah kamu banyak nanya! udahlah cepetan ke Caffe!" Seru Nadia.


"Oh.. Ya udah nih aku lagi otw pulang, tungguin yaahh.."


Akupun menelfon ke Nomor Adam dan bicara padanya bahwa aku ada keperluan mendadak sebentar..


Ku lakukan itu bukan karna aku peduli dengan Adam, tapi supaya Ayahku tidak khawatir terhadapku dan mencariku karna aku tidak sempat menemuinya untuk berpamitan dengannya.


Aku langsung memesan taxi online supaya lebih cepat, aku bersiap-siap sebisaku dan secepat mungkin supaya aku bisa datang ke Caffe menemui mereka berdua.


Sesampainya di Caffe..


"Hy Gin! sebelah sini" Nadia terlihat melambai-lambaikan tangannya, mengajakku untuk mendekat ke meja mereka.


"Aku lama banget ya?" Tanyaku.


"Uhhhffftt!!!!!!! Laaaammaaaaaa banget! pokoknya lama selama-lamanya! abis ngapain aja sih?"


"Yaa siap-siaplah! uhhh! padahal ini udah di cepet-cepetin juga loh! aku aja sampe ngga sempet nyeruput wedang sedikitpun di Rumah!" Kataku.


"Aduh, jangan di biasain kaga gitu dong mba! ngga sehat loh buat badan mba!" Kata seorang Pria yang ada di depanku.


"Oh! maaf pak, saya ngga sadar ada bapak di sini.. Hehe" Kataku, cengengesan.


"Dia ini orangnya Cuek, Jutek, trus Dingin banget Dok.. Jadi tolong maklumin aja ya kalo dia ngga pernah peduli siapa aja yang sedang ada di sekitarnya.." Nadia melirik padaku.


"Haha, iya ngga apa-apa mba, Oh ya! tolong panggil saya Rudi / Dr. Rudi saja ya, jangan pak! hehe soalnya kedengeran tua banget loh.. Padahal biarpun kaya gini, saya ini masih muda loh!" Rudi tersenyum pada kami.


-Iyaa juga sih, dia masih terlihat muda.. Duhh aku udah ngga sopan banget deh manggil dia Pak- Dalam hatiku.


"Iyaa, maaf ya udah manggil Pak" Kataku.


"Iyaa"


"Tapi mbak, maaf juga sebelumnya saya ngga bisa lama-lama juga di sini ya! kita bahas sebentar.. Selebihnya Mbak bisa datang langsung ke Rumah Sakit dengan Calon pasien biar lebih jelas"


"Loh, emang mau kemana?" Tanyaku.


"Dia ini kan Dokter Gin! ya kerja lah, ngga kaya Adam yang kerjanya cuma numpang di Perusahaan Ayah kamu.. Ya kan" Kata Nadia dengan Nada seperti orang sombong.


Tapi ku fikir kata-kata Nadia itu memang ada benarnya juga!.. DR. Rudi itu keren, ganteng, mandiri lagi.. Sedangkan Adam?


Dia cuma karyawan Perusahaan Ayahku, Karyawan paling terpercaya Ayahku setelah Sekertasi Ken..


Aku masih heran, kenapa Ayah lebih memilih orang itu untuk menjadi calon suamiku dulu! padahal tidak ada hal yang sangat istimewa di dalam diri si Adam itu! dan pernikahanku dulu masih bisa di tunda untuk mencari calon yang lebih baik!.


-Kenapa harus Adam? Padahal aku juga masih berharap Alexas akan kembali kepelukanku lagi- Dalam hatiku.


Aku membayangkan masa-masa indah saat aku masih bersama dengan Alexas..


Aku tersenyum dan tertawa-tertawa kecil seperti orang gila di depan mereka berdua..


"Woyyyy!!!!!" Nadia menggebrakk meja di depan kami dengan kedua tangannya.


"Astaghfirullah!" Seruku, Kaget!


DR. Rudi juga terlihat sangat terkejut dengan tindakan Nadia barusan, tapi dia meresponnya dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa..


"Ngelamun mulu!!" Seru Nadia, menengok ke arahku.