The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Hari Pernikahan



Matahari telah terbit menampakan cahaya yang indah, menyinari bumi dengan kehangatan fananya.


Namun, apa ini? Aku terus menangis di depan Cermin riasku.


"Loh, Kenapa kamu menangis? Ohh.. Kamu pasti terharu ya karna hari ini adalah hari yang sangat spesial untukmu? Aisyah!" Kata si Perias Pengantin yang tidak lain adalah sahabatku sendiri, Nadia.


"Seharusnya aku tidak perlu berada di sini, tidak bisakah kamu menggantikanku saja Nadia?, aku ingin mengakhiri sandiwara ini secepatnya!" Kataku, sembari menangis.. Menatap mata Nadia.


Nadia berhenti berkata-kata, dia terus meriasku dengan kedua tangannya yang terampil.


Entah mengapa, tetapi hari itu segalanya terasa sangat dingin dan hampa, Nadia tak biasanya diam saja seperti itu.


Dia adalah orang yang paling peduli denganku.


Namun, hanya saat itulah.. Nadia seakan terhipnotis dengan suasana yang ada.


Sesekali, dia memang sedikit meledekku seperti tadi.


Tapi! aku tau, ada yang berbeda darinya. Dia sedikit acuh tak acuh terhadapku hari ini.


"Nahh.., lihatlah Aisyah betapa cantiknya dirimu, Aduuhh senangnya.. Kamu sangat beruntung sekali bisa mendapatkan laki-laki pengganti sebaik Adam!" Kata Nadia


"Jangan memanggilku dengan Nama itu lagi Nadia! dan seharusnya kamu sudah tau, aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini di lanjutkan! aku ingin pergi, Nadia! aku ingin mencari dia! aku tidak ingin menikahi laki-laki yang sama sekali tidak pernah aku cintai!"


Air mataku menetes menyusiri pipi.. Nadia menggenggam tanganku, mencoba menghapus air mataku lalu menepuk-nepuk bahuku supaya aku segera tenangkan diri.


"Sudah.. Sudah.. Ikhlaskan saja, mungkin memang ini yang terbaik"


"Tap-piiii--"


Tak sempat aku membantah ucapan pasrah Nadia lebih jauh, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu Kamarku dengan cukup keras.


-Tok! Tok! Tok!-


Suara ketokan pintu Kamar yang sedari tadi sudah setengah terbuka lebar.


"Aisyah!, apa kamu sudah siap? cepatlah! mempelai pria dan seluruh tamu undangan sudah berkumpul di Lantai bawah"


Ternyata dia Ayahku, dia menyuruhku untuk segera bersiap-siap dan turun ke bawah melaksanakan acara akad nikah.


Aku tadinya hanya ingin terus menangis di dalam Kamarku.. Hatiku yang sudah terlanjur terasa sesak, seakan tidak mampu lagi kutahan sendirian.


Alhasil! air matapun serasa begitu keras menyumbat kedua bola mataku, rasanya seperti batas debit air mataku sudah tak bisa di bendung.


Tapi, melihat wajah Ayahku yang terlihat begitu lega karna putrinya telah menikah, hatiku sedikit terbantu.


Aku berusaha untuk menipu diriku sendiri dan menutupi perasaanku dengan mencoba untuk menahannya sekuat tenaga.


-Setidaknya, hingga acara ini selesai- Dalam hatiku.


"Iya Ayah! Gina akan segera turun kebawah"


Aku mulai mencoba untuk menghapus air mataku sambil terus berpura-pura tersenyum di depan Ayahku.


"Ayah, soal nama Aisyah, bisakah kau tidak menyebut nama itu lagi? Setidaknya untuk hari ini.. Aku muak jika harus mengingat nama itu, padahal aku sedang dalam situasi bahagia seperti ini. Kau juga merasa begitu kan Ayah.. Apakah, Ayah tidak ingin melupakan nama itu saja, supaya Ayah dapat terus melanjutkan hidup Ayah dengan damai?" Kataku agak sedikit kasar.


Seketika itu mata Ayahku terlihat mulai berkabut, tiba-tiba dagunya turun kebawah dan wajahnya terlihat seperti sedang tertekan.


Tapi, aku tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang telah aku katakan padanya.


-Faktanya memang seperti itu- Dalam hatiku


"Aisyah adalah nama yang terdengar lebih indah di bandingkan dengan Regina. Ayah hanya menyukainya, Ayah tidak sedang mengingat-ingat orang itu, Ayah hanya sekedar menyukai nama Aisyah saja"


"Sudahlah Aisyah!, ayo turun ke bawah! jangan membahas sesuatu yang tidak penting seperti itu" Lanjutnya.


Aku kembali tersenyum di depan Ayah, aku juga mencoba tersenyum di depan Nadia.


Wajahnya terlihat muram, mungkin dia juga sedang mencemaskanku.


Singkat cerita..


Akupun segera turun menuju lantai bawah tempat semua orang berkumpul. Sungguh ramai tempat itu, mereka semua memakai pakaian yang sangat indah dan terlihat sangat menawan.


Seluruh ruangan itu di hiasi dengan bunga mawar putih yang cantik.


Ya! itu adalah bunga favorit aku dan juga dia.


Hiasan ini!, nuansa mewah ini!, tamu undangan ini!, dan juga tema hitam putih yang sudah kami rancang sedemikian rupa..


Sungguh! pemandangan yang luar biasa.


Andaikan , segalanya berjalan dengan semestinya.


Mungkin, hari ini akan jadi hari yang paling indah dalam hidup kami.


Aku pun duduk di samping Pria itu, Aku enggan untuk menatap wajahnya..


Aku tidak peduli dengan orang-orang di sekitarku..


Aku juga tidak berniat sedikitpun untuk pasrah dan mencoba menerima keadaanku yang sekarang.


Aku yang sudah terlanjur mencintai orang lain, tidak akan mudah untuk berpaling.


Bagiku sekarang, Adam hanyalah orang asing yang tidak akan pernah aku anggap siapa-siapa.


Adam, hanyalah pria egois yang terus menerus memanggil namaku Aisyah padahal dia tau aku sangat membenci nama itu.


Lagipula, dia sama sekali bukan tipeku! dia terlalu sok alim! aku sangat membencinya.


"Hay Aisyah, apa kau tidak ingin melihat wajah calon suamimu ini? berhentilah menundukan pandanganmu seperti itu. Cobalah, untuk sedikit saja melihat ke arahku!" Adam berbisik kepadaku sambil tersenyum kepadaku.


"Diamlah! namaku Regina! bukan Aisyah! selesaikan ini dengan cepat dan jangan cerewet lagi!" Jawabku dengan ketus.


"Iyaa, Untukmu.. Pasti akan aku selesaikan ini dengan cepat, meskipun sebenarnya ini masih sangat pagi. Tapi, sepertinya kamu sudah terlihat kelelahan, kamu boleh langsung beristirahat setelah ini jika kau kamu.."


"Sudah Cukup! jangan membuatku muak! Aku akan tetap disini. Tapi, hanya sebentar!"


"Ba-baiklah.."


Dia kembali tersenyum dengan canggung, kali ini senyum di wajahnya terlihat lebih kaku dan susah di jelaskan.


-Sepertinya ada yang tersangkut di giginya sampai-sampai dia tidak bisa berhenti tersenyum. Selain tidak berguna, mungkin bakat lainnya adalah bertingkah seperti orang gila!- Dalam hatiku.


"Dasar Menyebalkan!"


Tapi aku masih saja merasakan sesak di dada.


Apa lagi, saat para tamu undangan mengucapkan kata "Sah" secara serempak.


Tuhann...!!! hatiku terasa seperti sedang di cabik-cabik!


Aku tidak kuat dengan semua ini, aku tidak ingin merasakan sakit lebih lama lagi.


Aku menangis tiada henti di depan Adam, lalu bagaimana dengan reaksi para tamu undangan? mereka justru tersenyum melihatku menitihkan air mata pilu seperti itu..


Mereka sama sekali tidak memahami apapun yang aku rasakan saat itu.


-Wahh.. Mempelai wanitanya terharu sampai menangis seperti itu!


~ Indahnya..! Mempelai wanita terlihat sangat bahagia.


_ Aku jadi iri!


~Iyaa, aku juga ingin jadi seperti dia..


- Iyaa... Sepertinya, dia sangat bahagia sekali dengan pernikahannya.


~Mereka itu benar-benar serasi sekali yaa!!


- Iya, mereka terlihat sangat sempurna dan serasi sekali.


Mereka menggunjingiku dengan kata-kata sadis itu tepat di depan mataku.


Mereka semua mengatakan hal sepahit itu secara terang-terangan.


Tapi, mau bagaimana lagi? Mereka memang tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Akupun kembali teringat, pria itu hanya meninggalkan secarik kertas berisikan ucapan perpisahannya untukku. Dan sebuah cincin tunangan kami berdua yang sudah dia bungkus rapi di dalam kotak berwarna putih.


-Tuhann!! Kenapa aku harus mengingatnya lagi!!- Dalam hatiku.


Aku sangat membencinya! aku sangat membenci Adam! aku sangat membenci Ayahku! aku sangat membenci para tamu undangan! aku sangat membenci mereka semua! mereka hanya memikirkan kerhormatan dan harga diri mereka sendiri tanpa memikirkan perasaanku sama sekali.


Ayahku setuju untuk menikahkanku dengan Adam, supaya ia dapat menutupi aib putrinya yang sudah di tinggal pergi kekasihnya.. Tepat, di hari pernikahannya.


Adam adalah Pria tidak berguna yang menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi seorang pengganti.


Dia tetap mau menuruti semua perkataan Ayahku meskipun dia tau hatiku sudah terlanjur hancur dan sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan pernikahan ini.


Mereka semua brengs*k! mereka semua egois! mereka hanya peduli terhadap diri mereka sendiri.


Saat aku sedang menangis dengan memejamkan sedua mataku, saat itulah ada sesuatu yang lembut dan terasa begitu hangat menyentuh pipi lembabku.


Perlahan, tangan itu mulai menghapus semua air mataku, mengurasnya hingga tak tersisa sedikitpun dipipiku.


"Sudahlah Aisyah..! teguhkan hatimu, tolong jangan menangis lagi..." Ucapnya sambil mengusap air mataku dengan kedua tangannya.


-Oh hangatnya! andaikan Adam adalah kekasihku.. Mungkin, aku akan merasa senang karna telah di perlakukan semanis ini- Dalam hatiku


"Singkirkan tanganmu!" Aku menghardiknya di depan orang-orang, lalu menampik kedua tangan Adam dan mencoba untuk pergi menjauh dari dirinya.


Aku tak peduli lagi dengan mereka! aku tidak peduli mereka akan menganggapku seperti apa!, aku hanya ingin pergi dari tempat itu secepatnya.


Aku segera berlari menaiki tangga, menapakan satu persatu langkah kakiku.. Melewati sebuah tangga yang terasa sangat, sangat panjang bagiku.


Saat aku hampir sampai di lantai ke dua Rumah kami.


Tiba-tiba, dari kejauhan aku mendengar Adam mengatakan sesuatu..


Seketika itupun reflekku berhenti sejenak, menengok ke arah sumber suara itu berasal.


"Selamat beristirahat Istriku"


Lagi-lagi, Adam berulah! aku merasa sangat jijik mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.


-Apa yang dia fikirkan? dasar tidak tau diri..!- Dalam hatiku.


Akupun segera malanjutkan langkahku, aku mengabaikan kata-katanya yang tidak berarti itu.


Saat, aku sampai di pintu Kamarku dengan nafasku yang masih setengah terengah-engah.


Aku melihat Nadia masih ada di salam sana.


Dia terlihat sedang duduk di Kursi Rias di samping Tempat Tidurku, bersandar pada kursi sambil menatap langit-langit..


Akupun, memutuskan untuk langsung masuk kedalam, dan berlari kearahnya.


Seketika itupun Nadia tersentak..


Dia mengehentikan lamunannya itu seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Aku langsung memeluknya dan menangis di pelukannya.


"Kenapa?"Tanya, Nadia.


Aku mnggeleng-gelengkan kepalaku..


"Aku hanya ingin tidur"Kataku.


Aku melepaskan pelukanku dan langsung merbahkan tubuhku di atas Tempat Tidur.


Aku ingin segera melupakan ini semua, dan berharap peristiwa ini adalah mimpi burukku semata.


Disisi lain, Nadia terlihat seperti sedang mengocehkan sesuatu, aku menutup kedua telingaku.. Aku tidak memperdulikan Nadia yang masih berada di dekatku.


-Aku hanya ingin tidur- Dalam hatiku.


Akupun hanya mampu menangis hingga terlelap dalam tidurku.


Bila ini adalah hal baik, maka aku akan mengingatnya.


Namun, bila ini adalah hal yang tidak baik bagiku! maka dengan mudah aku akan melupakannya.


Karna, seperti kata pepatah lama..


Ingatan itu hanya bisa di raih, dari pengalaman keras yang sangat berarti dan tidak mudah kita dapatkan.