
"Oh! maaf maaf" aku menyatukan kedua tanganku memohon maaf kepada mereka karna sudah mengabaikan mereka selama beberapa waktu.
"Hemm, iya nggak apa-apa kok" Senyum Dr. Rudi.
"Nad, kayanya aku ngga bisa lama-lama deh, Jadi! tolong di percepat ya pembahasannya" Lanjutnya.
-Nad? memangnya mereka sudah sedekat itu, perasaan kedatanganku kemari tidak terlalu lama- Dalam hatiku.
"Apaan sih kamu Gin? ngga usah pasang muka heran gitu kali! aku sama Dr. Rudi kan udah nyampek dulu, tadinya juga ngga seakrab ini kok" Kata Nadia.
Ternyata dia peka sekali terhadapku, seperti biasanya dia selalu tau apa yang sedang aku fikirkan.
"Iyaa, Nadia sudah menyuruh saya untuk memanggilnya Nad seperti temannya sendiri, karna sebentar lagi kita akan bekerja sama, saya rasa hal itu sedikit di perlukan juga" Sambung Dr. Rudi
"Ohh, gitu ya.. "
"Oh ya Rud! jadi kit--" Nadia menghentikan ucapannya, dia melirik kepadaku lalu melanjutkan ucapannya kembali.
"Dr.Rudi, kita enaknya mulai dari mana nih?"
"Kenapa di ganti Dr. Rudi lagi? katanya udah saling kenal, ya udah Rudi aja ngga papa kali Nad, ngga perlu nglirik ke arahku juga" Kataku.
"Iyaa.. kalian boleh manggil siapapun sesuka kalian kok, tenang aja" Timpal Dr. Rudi.
"Oke, aku juga panggil kamu Rudi aja ya" Timpalku.
"Oke!, udah ya bahas panggilannya.. Kayanya ada yang lebih penting nih yang mesti di bahas selain bahas nama panggilan" Lanjut Nadia.
"Nadia tadi sudah menjelaskan sedikit akar permasalahan kita, jadi aku juga sudah sedikit memprediksikan apa maunya kalian.. Aku sudah memikirkan beberapa hal yang kalian butuhkan nantinya, soal Rumah Sakit, Soal reccomendasi Dokter dan Psikiater, dll. Aku baru saja memikirkannya beberapa waktu yang lalu, dan sepertinya.. Aku punya jawabannya!" Kata Rudi.
"Nah.. Keren kan dia Gin? biarpun baru sebentar saja, dia sudah bisa memikirkan banyak hal.. Selain tampan, dia juga terkenal pintar dan cermat, pokoknya cocok banget dehh sama misi kita kali ini!"
"Bener juga sih Nad, kita ngga salah pilih orang nih kayaknya!"
"Haha, Kalian terlalu berlebihan! saya belum bantu apa-apa kok.. Seperti yang saya bilang tadi, saya ngga bisa lama-lama disini dan baru tahu akar permasalahannya tadi, jadi! yang saya bawa ya cuma data diri saja saja.. Maaf yaa!" Kata Rudi sambil tangan kanannya menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya dan tertawa kecil.
Aku tersenyum padanya, aku meraih tangan kirinya yang ada di atas meja dengan menggunakan tangan kananku, aku menepuknya sedikit sambil berkata.
"Makasih banyak ya, biarpun katanya (Cuma)kaya gitu doang, tapi itu sudah sangat membantu kami berdua kok"
Wajah Rudi terlihat memerah...
"Oi Oi Oi, udah dong mesra-mesraannya" Nadia melepas tanganku dari atas tangan Rudi.
Aku melirik padanya, dan menutup mulutku.
"Ciee, ada yang cemburu nih? wkwk tenang dong tenang! akunya bukan temen yang suka makan temen kok, wkwkwk" Ledekku.
"Ihh.. Apaan sih kalian ini, udahlah bahas yang penting aja!" Nadia cemberut.
Kamipun melanjutkan pembahasan kami tadi, aku membawa buku dan pulpen dari Rumah, aku mencatat segala sesuatu yang penting yang keluar dari mulut Rudi.
Kami benar-benar membahasnya dengan sangat serius..
-Demi kesembuhan Ayahku, dan juga demi kebebasanku. Pasti! apapun pasti akan aku lakukan- Dalam hatiku penuh rasa optimis.
Aku sangat yakin, dengan adanya mereka berdua di sampingku maka rencanaku akan selesai dengan cepat, kesembuhan Ayahku yang aku utamakan demi rencanaku menyingkirkan Adam akan semakin mudan dilakukan, dengan beberapa nama-nama orang hebat di samping kami. Aku sangat yakin kami pasti mampu melakukan perlawanan, tanpa perlu menyakiti hati Ayahku.
Rudi memberikan kami sebuah lembaran berupa gambar diri dan data diri lengkap, ada beberapa hal yang aku perhatikan dengan cermat.
Melihat keahliannya dan eksistensinya di bidangnya ini, aku tidak heran jika dia adalah seorang Dokter lulusan terbaik di Amerika.
"Ini, Data diri saya.. Semoga membantu kalian, dan jika kalian membutuhkan data diri reccomendasi yang tadi saya katakan kepada kalian sebelumnya, kalian bisa datang saja ke Rumah Sakit tempat saya bekerja" Katanya sambil menyodorkan selembaran kertas putih ke hadapan kami berdua.
Akupun menerimanya dengan senang hati, dan membukanya.
Di bagian pertama lembaran itu terdapat foto dan data diri secara singkat di bawahnya, lalu di susul dengan data diri secara lengkap di bawahnnya lagi..
Aku malas membaca, aku hanya membaca sebagian kecil data dirinya saja.
Lahir : Pemalang, 16-Januari-1994
Putra Bapak : Puji
Putri Ibu : Kustari
"Maaf jika foto yang ada di lembaran itu kurang enak di pandang, saya sangat terburu-buru mencetaknya lalu datang kemari menemui kalian" Kata Rudi.
"Tidak apa-apa, kami berdua sangat faham betul kok kesibukan anda" Lanjut Nadia.
Dari segi nama kedua orang tuanya yang tanpa nama belakang, sepertinya Rudi bukan anak konglomerat seperti yang aku bayangkan, mungkin dia hanya anak petani kecil yang hidup di pelosok negri.
Tapi aku menyukainya dia bisa sampai sejauh ini, diakui dunia karna kemampuannya yang hebat dan juga menjadi orang yang di percaya banyak orang lain, mendedikasikan diri dalam suatu bidang yang bisa di bilang cukup ekstrime menurutku, dia sangat luar biasa.
"Kamu hebat ya, bisa sukses sejauh ini apa lagi umur kamu hanya selisih Tiga tahun lebih tua dari kami" Kataku.
"Hahaha (tertawa kecil), saya tidak sehebat itu mbak perlu proses yang sangat panjang dan tidak mudah supaya saya bisa berdiri tegak seperti ini, saya bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka berdua.. Mereka sangat menyayangi saya dan adik saya, dan mereka berjuang keras meskipun hanya hidup sebagai seorang petani kecil" Tuturnya.
-Ternyata dugaanku benar, dia memang bukan orang yang biasa!- Dalam hatiku.
"Aku kagum denganmu, aku saja yang terlihat kalem seperti ini lebih mementingkan menikah dengan Alexas di bandingkan memilih untuk merampungkan kuliahku dulu"
Nadia ikut tersenyum..
"Udah di bilang dari tadi, dia itu hebat! di jamin deh kehebatannya.. Nggak salah kita milih dia!"
"Haha (tertawa kecil) kamu benar Nad!"
"Ya sudah saya mau pamit dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus saya urus dulu.. Soal Bapaknya Mbak Gina, Bapak Regian ya?" Tanya Rudi.
"Iyaa.." Jawabku
"Nanti saya coba untuk mengutamakan beliau di atas pasien yang lain.. Karna sepertinya kalian lebih sangat membutuhkan bantuan dari saya" Lanjutnya.
Rudipun berdiri dari tempatnya duduk, kami ikut berdiri bersalaman lalu dia beranjak pergi dari Caffe itu..
Aku dan Nadia kembali duduk lalu menulis beberapa kesimpulan dari pertemuan kami tadi, ada beberapa hal yang harus di fikirkan dan persiapkan terlebih dahulu.
"Oh ya Nad, terus kita kapan dong ketemu dia lagi? kan dia sibuk! udah gitu tadi ngga pake acara janjian dulu sama dia! duh! gimana dong?" Kataku menepuk kening.
"Tenang, aku udah minta nomor phonecellnya dia kok.. Ini nomor pribadinya, udah aku simpan di dalam Phonecellku jadi kamu ngga usah khawatir, kita bisa hubungi dia kapanpun kita mau!"
"Huhhfftt Syukur deh kalo kaya gitu" Kataku.
Aku dan Nadia melanjutkan rencana kami sembari memesan makanan untuk sarapan dan segelas coffe hangat yang pastinya terasa sangat nikmat..
Mau bagaimana lagi? karna sejak pergi dari Rumahn perutku sudah sangat keroncongan aku sama sekali tidak sempat sarapan di Rumah tadi pagi.
#Sementara itu di dalam Ruangan Adam.
"Mas Adam kok tadi nggak coba buat cegah Aisyah pergi sih?" Tanya Clarissa.
"Ngapain? terserah dia mau apa, di cegah juga percuma pasti sekarang dia sedang bertemu dengan Nadia untuk merencanakan sesuatu yang gila!" Kata Adam sambil mengunyah makanan yang disuapkan Clarissa kemulutnya.
"Biasanya kamu paling ngga suka liat cewek bertingkah seenaknya sendiri! apa lagi, dia itu istrimu harusnya kamu sedikit lebih perhatian padanya!"
Adam menelan makanan itu perlahan-lahan..
"Sudah habis! mana? suapi lagi aku!" Perintahnya.
Clarissa kembali menyuapinya lagi..
"Aku lagi ngomongin hal yang penting loh mas, kok kamu kaya ngga peduli gitu sih?"
"Udah tenang aja!" Kata Adam dengan nada agak meledek.