
"Mbak Desy!!" Ternyata benar, Perempuan itu adalah tetangga ku yang Rumahnya terletak tidak jauh dari Rumahku.
"Ya Tuhann Mbak! Maaf saya ngga sengaja nabrak Anak itu Mbak! Sumpah Mbak! saya janji saya bakalan tanggung jawab! saya janji!"
Aku memohon-mohon padanya dan meminta maaf padanya, dia mentapku dengan penuh rasa iba, dia menangis histeris lalu berdiri dan memukul-mukul dadaku.
"Dasar pembunuh! Dasar pembunuh!!" Teriaknya.
Tak lama kemudian, Semua orangpun langsung mulai berdatangan, mereka semua hanya menatapku dengan penuh rasa benci dan iba sama seperti Mbak Desy.
"Mbak sumpah saya nggak sengaja nabrak anak Embak!, maafin saya Mbak maafin saya!"
"Apa katamu? Anak saya??!!" Mbak Desy tiba-tiba menatapku dengan tatapannya yang semakin berapi-api.
Lalu...
(Plakkkkkkkkkkk!!!!!)
Sebuah tamparan keras telah mendarat di pipiku.
"Itu Anakmu!!!"
Aku hanya terpaku dengan kata-katanya itu, Aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan barusan.
"Haha.. Engga! itu ngga mungkin!, anak saya sedang menunggu saya di Rumah! itu pasti anak Embak kan? Haha! iya kan? Anak Embak seusia sama anak saya kan? SAYA NGGA MUNGKIN NABRAK ANAK SAYA SENDIRI KAN?!!.. ANAK SAYA LAGI NUNGGUIN SAYA DI RUMAH KAN?!! Mbak janga...nn...."
(PLAKKKKKKKKKKK!!!!)
Kembali tamparan itu mendarat dipipiku untuk yang ke dua kalinya, kali ini tamparan itu terasa dua kali lebih keras..
"Anakku sedang tidur di dalam" Kata Mbak Desy, dia menangis semakin kencang..
Akupun langsung memastikannya sendiri, Aku langsung duduk dan membalikan tubuh Anak laki-laki itu menghadap padaku..
Dan ternyata kecemasanku kali inipun benar, Tubuh Anak laki-laki yang sudah bersimpah darah itu ternyata adalah anak putraku sendiri ( Ana Afnan Husen), Aku tak kuasa menahan tangisanku lagi..
"Anaaaa!!!!!!!!!!!!!!.. Maafkan Ayah!!!!!!!" Aku segera menganggat tubuhnya dan memeluknya, Aku berteriak dan menangis sekuat tenaga, aku tak peduli siapapun! aku sangat menyesali kebodohanku itu..
"Rumah Sakit! Aku akan membawamu ke Rumah Sakit!.. IYA! BERTAHANLAH! kita akan cepat sampai ke Rumah Sakit! aku janji! aku akan menolongmu secepat mungkin! kita akan segera menuju ke Rumah sakit!"
Aku kembali mengangkat tubuhnya, berdiri, lalu menggendongnya.
Saat aku hendak menuju ke Mobil dan sedang mencoba untuk meraih gagang pintu Mobilku.
Tiba-tiba Mbak Desy menepuk punggungku seraya berkata..
"Ikhlaskan saja.. Semua sudah terlambat"
Ya Tuhan! Tubuhku lemas sekali rasanya, kakiku bergetar sangat hebat dan aku merasa tak kuat lagi menopang beban seberat ini..
Aku menundukan pandanganku, aku tak tau harus berbuat apa lagi, Jantungku terasa seperti berhenti berdetak, Kepalaku terasa semakin berputar-putar, Pandanganku mulai kabur dan aku seakan-akan sudah kehilangan separuh dari semangat hidupku.
-Aku harus pulang ke Rumah, Aku harus bertahan demi Istriku dan juga Aisyah- Dalam Hatiku
Saat itupun aku berhenti menangis, aku tak mengatakan sepatah katapun..
Aku berjalan menuju Rumah dengan membawa mayat anakku yang bersimpah darah itu perlahan-lahan, setiap langkah yang ku ambil saat itu bagaikan sedang berjalan di atas tumpukan bara api yang panasnya tidak terkira..
-Aku Ingin Jatuh bersama Anakku, Aku ingin pergi menemuinya- Dalam Hatiku
Pintu gerbang yang tadinya terlihat sedikit jelas, sekarang perlahan-lahan terlihat semakin menjauh, dari kejauhan itulah terlihat Istriku Mayang sedang mencari-cari Ana..
"Ana!!.. Ana!! kamu di mana? main petak umpetnya udahan yuk? bentar lagi Ayah pulang loh... Ana!!"
-Ya tuhan! hamba mohon, kuatkanlah hamba- Dalam hatiku
Aku mendekati Istriku dari arah belakang, saat dia berbalik ke arahku..
"Loh, Ayah udah pu...."
"ANaaaaa!!!!!! ANaaaaa!!!"
"Maafkan Aku! Maafkan Aku!" Kataku sambil menangis..
"Apa yang terjadi pada putraku? kenapa bajumu penuh darah putraku? apa kau sudah membunuh putraku?"
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja! maafkan aku"
"Huaaaghhhh.. Ana!!!!!! Dasar pembunuh! kamu sudah membunuh putraku! kamu sudah membunuh putraku!!!!!!!!!!"
Istriku Memukul-mukul tubuhku lalu dia merebut Ana dari pelukanku..
"Jangan sentuh dia!! Huuaaaghhhh!! Anaa putra Ibu!!! Anaaa!!!!"
Istriku terjatuh sembari tubuhnya terus memeluk Ana sekuat tenaga, aku hanya diam dan menyaksikan duka yang mendalam yang menyelimuti kami semua..
Tak lama kemudia Putriku yang umurnya 1 tahun lebih muda dari Anapun keluar dari rumah, dia menarik-narik baju Istriku sambil berkata..
"Ibu ayo main pentak umpet lagi bu, Ayoo!! ayo!!"
"Ibu, kenapa ibu menangis? ayo bu main lagi! ayo kak Ana! ayo!!"
"DIIIIIAAAAAMMMM!!!" Istriku mendorong Aisyah hingga dia terjatuh dan kepalanya terbentur ke tanah..
Aku yang tidak tega melihat Aisyah di perlakukan seperti itupun langsung menghardik Istriku..
"Mayang!!! Apa yang kau lakukan!"
Istriku tetap menangis dan tiba-tiba dia menatapku dan berteriak dengan keras.
"Dia bukan anakku lagi! gara-gara dia sudah mengajakku dan Ana bermain petak umpet, Ana jadi seperti ini! Kalian berdua Pembunuh!!!"...
Sejak kejadian itulah, Aisyah sangat di benci Ibunya, Dia terus-terusan di siksa dan di pukuli oleh Istriku..
Aku tidak dapat berbuat banyak, aku juga harus bolak-balik ke Kantor Polisi untuk mengurus kasus itu, namun syukurlah aku hanya di tahan untuk beberapa waktu saja, aku menyewa pengacara terhebat untuk membelaku..
Tapi! aku melakukan ini bukan semata-mata hanya untuk membela diriku sendiri, aku melakukannya demi putriku Aisyah, dia tersiksa dan merana sepanjang waktu, dia selalu menjadi subjek amarah ibunya sendiri.. Tapi, sayangnya terkadang aku hanya bisa terdiam dan menyaksikan anakku menderita di depanku..
"Aisyah.. Maafkan Ayah"
Hanya itulah kata-kata yang sering keluar dari mulutku, Seiring berjalannya waktu.. Tingkah Istriku semakin menjadi-jadi, dia begitu depresi dan tertekan karna kematian Ana..
Dia tak segan-segan melukai Aisyah dengan menggunakan benda-benda yang berbahaya.
Aku tak bisa tinggal diam.. Akupun sudah mencoba untuk membawanya ke Rumah sakit jiwa dan juga menyewakannya seorang Psykiater, Aku mulai menentangnya dan mulai membela Aisyah di saat Aisyah sedang menjadi bahan pelampiasannya.. Aku sering bertengkar dengan Istriku demi membela Aisyah, aku juga benar-benar sudah mengerahkan segalanya demi kesehatan Istriku supaya bisa kembali menyayangi kami seperti dulu.. Namun, usahaku itu sama sekali tidak membuahkan hasil..
Aisyah, di usianya yang masih mengincak umur 5 tahun itu harus terus menahan rasa sakit dan tertekan oleh tingkah laku ibunya sendiri..
Hingga suatu hari, Istriku tiba-tiba saja terdiam dan tidak melakukan apa-apa, aku sangat menghawatirkannya.. Aku takut dia akan melakukan hal yang lebih buruk dengan Aisyah suwaktu aku pergi jauh dari mereka.. Akhirnya, Saat aku hendak pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan pokok kami sehari-hari, akupun memutuskan untuk pergi dengan membawa Aisyah di sisiku..
Aku mengunci Istriku di dalam Kamar, Aku juga meletakan boneka kesayangan Ana di dalam sana supaya dia bisa dalam keadaan yang tetap tenang..
"Sayang, kita pergi dulu yaa"
Aku mencium keningnya yang sedang dia tempelkan ke jendela sambil menatap kearah gerbang tempat dia menemukan tubuh Ana yang sudah meninggal..
Singkat Cerita, Akhirnya kamipun selesai berbelanja, Saat aku masuk ke dalam Kamar untuk mengecek keadaan Istriku di dalam sana, aku panik.. Aku tidak menemukan dia di mana-mana..
"Ayah... Ada Air keluar dari kamar mandi" Kata Aisyah sambil tangannya menunjuk-nunjuk pintu Kamar Mandi.
Airpun semakin keluar berhamburan kemana-mana mengisi seluruh ruangan, aku segera mencoba membuka pintu Kamar Mandi..
-Tok Tok Tok-
"Sayang, apa kau di dalam? tolong matikan kerannya! Airnya mulai keluar dan menyebar kemana-mana! Sayang... Sayang.."
Istriku tidak menjawab panggilanku..
"Ayah.. Airnya berubah berwarna merah.." Aisyah kembali menunjuk-nunjuk ke arah Air itu berasal..
-OHH TUHAN! APA MUNGKIN ISTRIKU?- Dalam hatiku
Akupun langsung menggendong Aisyah dan membawanya keluar kamar..
"Aisyah tunggu di sini saja yaa.."
"Tapi Ayah..."
"Sudah.. Aisyah anak baik, anak manis nurut yaa sama kata Ayah"
"Emmmpphh"
Aku menutup pintu kamar, menguncinya lalu menuju Kamar mandi dan mendobraknya.
(GUUUBBBRAAKKKK!!!!)
Pintu itupun terbuka, Aku menemukan istriku sedang berada di bak mandi dengan Air yang menyembur keluar dari bak, Air itu berwarna merah..
Istriku telah tiada dengan mengakhiri hidupnya..
"MAYANG!!!!!!!!"
Seketika itupun Dadaku mulai kembali terasa sesak, mataku berkunang-kunang dan segalanya terasa melayang-layang, aku mencoba meraihnya dengan kedua tanganku, namun.. sebelum aku sempat untuk menyentuh tubuhnya sedikit saja, Aku sudah terjatuh dan pingsan..
Saat aku terbangun, aku sudah berada di Rumah sakit, Aku di temukan dalam keadaan pingsan di depan mayat Istriku, Tetangga mengetahui aku sedang dalam hal buruk berkat Aisyah yang saat itu menangis sangat keras memanggil-manggil namaku dan membuat para tetangga mulai curiga bahwa di Rumah kami ada hal yang tidak beres..
"Sebelum Istrimu pergi, dia sempat menitipkan ini padaku" Kata seorang tetangga samping Rumah kami..
"Apa ini"
"Sesuatu yang mungkin penting baginya, dia bilang.. Dia ingin kalian membukanya saat umur Aisyah sudah menginjak dewasa" Dia memberikanku kotak kecil berwarna merah Maroon..
Akupun menyimpan kenangan itu dengan baik, aku juga mengubur dalam-dalam nama Istriku dalam Hatiku.. Saat itu, akupun di Vonis mempunyai Riwayat penyakit Jantung oleh dokter, Istriku di makamkan oleh tetangga dan para kerabatku selagi aku di rawat di Rumah Sakit, Aku memutuskan tidak akan mengungkin-ngungkit masalalu ku yang kelam ini dan berjanji akan menjaga satu-satunya harta paling berharga dalam hidupku (putriku) dengan baik, Dan akhirnya akupun memutuskan untuk pindah jauh dari Rumah itu..
-BERSAMBUNG-