
"Saya kira, kita akan menuju ke atap.. Tapi, ternyata anda lebih suka dengan tempat yang teduh seperti ini.."Adam mencoba meledeknya.
Mereka berdua tiba di suatu Ruangan kosong di lantai paling atas Gedung itu..
Ruangan itu sangat gelap dan tenang, tetapi sangat teduh dan lembab.
Ruangan kosong yang terlihat sangat luas melebihi seluruh Ruangan yang ada di Rumah Sakit itupun.
Sengaja dia pilih sebagai Ruangan khusus, untuk menyiksa Adam.
"Disini.. tidak akan ada yang bisa menghalangi pertarungan kita" Kata Sekertaris Ken, sembari membuka jendela panjang yang terdapat pada tembok tinggi, di sepanjang bagian selatan Ruangan itu..
(Krakk! Kraaakk! Kraakk! Kraakk! Kraakk!)
Di sana, terdapat 5 jendela berbentuk pintu yang menghubungkan antara satu jendela utama dengan jendela yang lainnya.
Jika bagian paling kanan di tarik dan di geser ke arah kiri, maka bagian kanan itu akan beralih ke bagian depan jendela sebelah kiri, dan terus seperti itu hingga sampai pada jendela yang paling akhir.
Setelah jendela itu sudah saling tertumpuk satu sama lain, jendela itu akan terkunci secara otomatis.
Jendela itu di lengkapi dengan sebuah Barcode, dimana hanya bisa di atur melalui sebuah aplikasi khusus, yang hanya di miliki oleh pemilik resmi / penyewa Ruangan tersebut.
Sungguh sebuah jendela yang sangat, unik, apik, langka, dan super modern.
Jendela yang sangat ringan lagi kokoh itupun, bisa di copot pasang dan di letakkan pada sebuah lemari yang di buat khusus untuk menaruh tumpukan jendela tersebut.
"Ruangan yang sangat luar biasa.. Apa, anda yang mengaturnya khusus untuk saya?" Kata Adam sembari melihat ke berbagai arah Ruangan kosong tersebut.
Sekertaris Ken mulai terlihat membuka Jasnya, lalu membuangnya ke lantai..
"Hm, aku selalu menyiapkan sesuatu dengan sangat sempurna, sudah ku katakan.. Bahwa, aku akan menghabisimu hari ini!"Seru Sekertaris Ken.
Setelah mengatakan hal itu pada Adam..
Dia langsung berlari ke arah Adam, yang tengah berdiri tepat di depan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Dia melancarkan sebuah serangan yang sangat cepat dan secara tiba-tiba.
"Cih! anda sangat tidak sabaran!"Kata Adam.
Satu pukulan telak telah mendarat di pipi Adam, berlanjut dengan pukulan-pukulan mematikan lainnya..
Adam yang saat itu sudah sangat kesulitan untuk berjalanpun, sangat kesulitan pula untuk sekedar mengelak ataupun menghindar.
Adam hanya bisa berjalan beberapa langkah kebelakang, dan itupun karna dorongan kuat dari tubuhnya untuk menghindari serangan yang bisa berakibat fatal.
Tubuh Adam yang lemah itupun, terasa semakin lemah dan semakin melemah saja..
Namun, Adam tetap saja bersikeras untuk tetap melanjutkan pertarungan mereka.
-Jika aku di serang seperti ini terus, maka tubuhku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.. Sekertaris Ken benar-benar tidak mau menahan diri-Dalam hati Adam.
Satu tendangan yang bertumpu pada lutut Sekertaris Ken, menembus pertahanan tangan Adam, merobek kembali luka di perutnya menjadi lebih lebar.
(Aaaarrgghhhkkkk)Teriak Adam.
Darah yang keluar dari perut Adam semakin terlihat jelas.
Namun, tendangan yang di lancarkan oleh Sekertaris Ken itu tidak berhenti sampai disitu saja.
Pukulan demi pukulan dia arahkan secepat kilat.
Meretakan sebagian kecil tulang rusuk Adam, dan membuatnya semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
Semakin cepat pukulan itu, semakin banyak pula darah yang keluar dari tubuh Adam.
Merasakan rasa sakit di dalam tubuhnya, yang kian memburuk..
Membuat Adam hanya mampu memikirkan, tetang sebuah hasil akhir yang menyedihkan.
Adam sangat menyadari perbedaan yang signifikan di antara dia dan Sekertaris Ken.
Dan hal itu, hanya menambah buruk suasana hatinya, dan membuatnya hanya bisa diam saja dan menundukan pandangannya, seperti layaknya seorang pengecut.
"Jangan Menundukan pandanganmu, ketika sedang menghadapiku!!"Teriak Sekertaris Ken.
Dengan cepat dia menarik rambut Adam, dan membuat Adam sedikit menggelantuh di depan Sekertaris Ken.
Cengkraman itu begitu kuat dan penuh kebencian.
Sangat kuat, membuat sebagian besar rambut Adam rontok di dalam genggamannya, karna tak kuat menahan beban tubuh Adam.
(Ggrrrrrooaakkkkkk)
Sekertaris Ken menghantamkan kepala Adam pada lutut kanannya yang terasa begitu keras.
Wajah Adam, jelas langsung menghantam lutut Sekertaris Ken tanpa adanya halangan apapun.
Hantaman yang kian bertubi-tubi itupun, semakin membuat luka di sekujur tubuhnya semakin memarah.
(Hooaahhhkkkkk)
Darah yang terlihat sangat kental berwarna merah itu, keluar dari dalam mulut Adam.
Tubuhnya tak kuat lagi menahan gejolak yang terus timbul akibat dari sentuhan-sentuhan maut itu.
Matanya lebam, tubuhnya lebam, goresan luka akibat pertempuran berat sebelah itu ada dimana-mana.
Seluruh darah berceceran di atas lantai, di tempat yang kian terlihat sangat mencekam..
Dia sama sekali tidak ada apa-apanya di depan Sekertaris Ken.
Mungkin, pilihannya untuk menerima tantangan itu dan berharap dia akan menang adalah keputusan Adam yang paling salah.
Tubuh Adampun langsung terjatuh, tanpa sempat melakukan perlawanan apapun..
"Aku sudah berlatih sangat keras, dan mempersiapkan segalanya untuk hari ini.. Tapi, sepertinya kamu sama sekali tidak pantas untuk aku lawan! (Cuih!)"Sambung Sekertaris Ken, sembari meludahi kepala Adam yang sudah jatuh tengkurap di depan kakinya.
Sekertaris Ken terlihat sangat senang melihat keadaan Adam yang sangat menyedihkan.
Dia berfikir, bahwa seorang berandalan kurang ajar yang selama ini menghantui fikiranya, benar-benar telah kalah telak melawannya.
Dia langsung menginjak-injak tubuh Adam dengan sangat kasar..
Tidak peduli, apakah Adam itu seorang manusia atau bukan.
Dia hanya puas dengan segala kekesalannya yang telah tercurahkan saat itu juga.
"Bangun!... bangun! pecundang!"Kata Sekertaris Ken, sembari kaki kanannya mengoyang-goyangkan kepala Adam seperti sebuah bola tanpa jiwa.
Saat tubuh lemahnya itu di hajar habis-habisan oleh Sekertaris Ken.
Disisi lain..
Adam tengah berfikir untuk menyerah saja dari pertarungan itu..
-Sepertinya...
Memang tidak mungkin, ya?-Dalam hati Adam.
Dia mulai larut dalam keputusasaan tanpa perlawanan itu semakin dalam.
Tubuhnya mulai terasa sangat kaku dan sulit untuk di gerakkan.
Seluruh sendinya terasa sangat terkoyak, setelah menerima beberapa pukulan mematikan itu dari Sekertaris Ken.
Tak di sangka-sangka..
Ternyata tanggung jawabnya kali ini bisa terasa seberat ini.
Sekarang, dia justru mulai ragu untuk melanjutkan tekadnya itu.
-Apa..
Aku hanya akan berakhir di tempat seperti ini?-Dalam hati Adam.
(Hahahahahahaha!!!!)
Suara gelak tawa sang pemenang sementara itu, terdengar nyaring menggema di seluruh Ruangan.
"Pecundang bodoh! berdirilah atau menyerah saja. Dan, cium kakiku ini!" kata Sekertaris Ken, sebari berganti mengijak-injak tangan Adam sampai tangan itu tak bisa lagi di gerakan sedikitpun.
"Kenapa? apa kau sedang merasakan sakaratul maut? (Hahaha)"Tawa itu semakin dan semakin mengudara.
Sekertaris Ken mulai bosan dengan sikap Adam yang terus diam saja menerima pukulan demi pukulan yang dia berikan kepadanya.
Dia mulai mengambil cara lain untuk bersenang-senang.
Dia tersenyumm..
Menarik tubuh Adam dan memaksanya untuk berdiri.
"Cepat berdiri!"Hardiknya..
Adam hanya mengercap, matanya tak bisa melihat Sekertaris Ken dengan jelas karna luka lebam yang membengkak di seluruh wajahnya.
Dia mencoba untuk berdiri sekuat tenaga, dan mencoba untuk tetap bangkit sesuai dengan permintaan Sekertaris Ken.
Sekertaris Ken mulai terlihat kembali bersemangat..
"Haha (tertawa sangat keras), dimana sifat sombongmu yang tadi kamu tunjukkan kepadaku?"
Adam masih terdiam, memikirkan keputusannya yang salah.
Dia semakin tidak dapat berfikir dengan jernih, dan ingin segera menyerah.
-Apa inilah akhirnya? aku ingin menyerah saja... Tapi, kenapa tubuhku justru berdiri menuruti kata-katanya? padahal aku ingin tidur saja untuk selama-lamanya-Dalam hati Adam.
Fikiran Adam memang sangat kacau, tubuhnya terluka parah, dan dia sama sekali tidak punya kekuatan untuk bangkit lagi.
Tapi, dia tak sadar..
Ada kekuatan yang lebih hebat dibandingkan dengan kekuatan Fisik dan logika.
Yakni, kekuatan hati.
Hal itulah, yang mendasari kenapa tubuhnya dengan sangat sigap kembali menantang kata-kata Sekertaris Ken.
Tubuh yang lunglai, lemas, tenggelam dalam kekecewaan itu..
Mencoba untuk bertahan, mempertahankan harga dirinya.
Saat itu pula..
Adam teringat oleh suatu kalimat percakapan cukup panjang, yang menggema di dalam kepalanya.
-Aku akan melindungi pacarku!
~Apa kau yakin bisa melakukan hal itu? aku ini sangat kuat!
-Aku yakin, Ana! aku akan menjadi kuat.. Dan akan melampauimu!
~Kau pasti membual..
-Tidak! aku bersumpah! dan seorang pria sejati.. Tidak akan menghianati sumpahnya sendiri!
Tapi, kali ini percikan ingatan itu.. Tidak di barengi dengan rasa sakit..