
Menerka-nerka, apa yang sedang di rencanakan oleh kedua gadis manis itu..
Adalah, sesuatu yang sedang Adam dan Ayahku lakukan.
Seperti sedang menjalankan sebuah misi rahasia yang besar, mereka berdua terlihat sangat serius dalam mengantisipasi langkah Aisyah dan Nadia yang selanjutnya.
"Jadi, Aisyah menolak untuk mengatakan hal sepenting itu padaku dan juga Sekertaris Ken?" Adam terkejut, sekaligus bertanya-tanya.
Saat ia mendengar, semua yang telah Ayah ceritakan padanya.
"Kenapa?" Sambungnya.
Ayah tersenyum..
"Itulah kepolosan Aisyah.. Dia tidak pandai dalam berbohong pada Ayahnya!"Senyum Ayah terlihat bangga.
"Itu bisa terlihat jelas dari matanya, yang tidak bisa tenang melirik kesana-kemari, saat Ayah berencana mengatakan hal itu padamu dan Sekertaris Ken.. Dia langsung tidak menyetujuinya, dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal" Sambungnya.
Adam mulai berfikir kembali, apa maksud dari semua ini.
Dia berfikir sekeras mungkin untuk mencari jalan keluar dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.. Akibat, dari pernyataan-pernyataan Ayah yang tertuang melalui mulutnya.
-Kenapa, Aisyah tidak ingin semua orang tau tentang rencana baik itu untuk Ayah?-Dalam hati Adam..
Akhirnya, diapun mencapai pada batas pemikirannya yang kritis.
Dia menyimpulkan, ada satu hal yang menarik baginya.
Dan, diapun kembali tersenyum..
"Nadia hanya melarang Aisyah untuk memberitahukan, siapa orang di balik rencana itu kepada semua orang. Tanpa memperhitungkan siapa yang sedang Aisyah ajak bicara!"
Ayah hanya terdiam kebingungan.
Maksud Ayah tersenyum bangga, hanya karna dia tau kalau Aisyah dan Nadia bekerja sama untuk rencana ini.
Akan tetapi, asumsi Adam justru menunjukan sisi yang berbeda dan lebih tajam.
"Ma-maksud kamu?"Tanya Ayah.
Adam melirik padanya...
"Artinya, jika Nadia sampai menutupi sebuah fakta bahwa dialah dalang di balik semua ini.
Maka, bisa di pastikan bahwa.. Ini adalah rencana yang di buatnya, khusus untuk menyingkirkan Ayah dari sampingku. Dan, membuat kita tidak saling terhubung lagi satu sama lain"Kata Adam.
Ayah semakin yakin, apa yang Adam fikirkan itu benar adanya..
Semua yang Aisyah lakukan kali ini adalah murni rencana Nadia, yang dia buat untuk menjauhkan Ayah dari jangkauan Adam.
Supaya, semua orang yang dekat dengan Adam dan mendukungnya.
Perlahan akan pergi, di jauhkan dari Adam dengan dibuatkanlah kesibukan mereka masing-masing.
Seakan, semua berjalan tanpa adanya gejala / sesuatu yang dapat memicu Adam tahu bahwa dia sedang berada dalam genggaman rencana Nadia.
Nadia mungkin berfikir, bahwa jika semua orang yang membantu Adam untuk mendapatkan hati Aisyah sudah tidak ada lagi.
Maka, besar kemungkinan untuk Nadia melancarkan serangan yang lain terhadap Adam.
Yang mampu memojokkan Adam, supaya dia tidak dapat berkutik atau berbuat apapun.
Akan semakin memiliki peluang kemenangan yang lebih besar..
Dan lebih berbahaya.
"Pastilah, Nadia sudah memikirkan hal ini sejauh mungkin.." Kata Ayah dengan nada cemas.
Adampun terlihat begitu cemas..
Meskipun dia dapat menebak rencana ini dengan sangat mudah.
Tapi, seseorang selicik Nadia tidak akan berhenti sampai disini saja.
Adam khawatir, ada hal lain yang akan dia lakukan di balik rencana ini.
Apa lagi, sekarang Ayah sudah menyetujui rencana itu..
-Satu hal yang pasti, Nadia tidak tau bahwa aku dan Ayah sudah mengetahui siapa dalang dari rencana ini- Dalam hati Adam.
Nadia memang pintar dan sangat licik, tetapi dia juga tak kalah cerobohnya.
Dia pasti sedang bersenang-senang dan berfoya-foya ria merayakan satu kemenangan kecil itu.
Nadia, adalah seseorang yang sangat mudah puas hati.
dia tidak akan mampu berfikir sampai sejauh itu, apa lagi ketika kepalanya sudah di isi dengan hal-hal yang menyenangkan.
"Aisyah berfikir supaya Ayah dapat segera sembuh, dan bisa menerima kenyataan.. Jika aku pergi dari hidup kalian, suatu hari nanti"
"Tapi, aku tau.. Semua tidak akan sesederhana itu!" Sambung Adam.
Adam terlihat sangat terpuruk dan stres..
Dia merasa sangat kasihan pada Aisyah, sekaligus merasa sangat kecewa padanya.
Wanita yang dia bela-bela selama ini, sudah di manfaatkan oleh sahabatnya sendiri..
Dan wanita itu, justru menuduhnya telah menghancurkan masa depannya yang indah.
Dari pada berfikir bahwa Adam adalah seorang pria yang tulus menolongnya selama ini.
Air mata terus mengalir dari pipinya, meskipun dia hanya terdiam mematung.
Dengan tangisannya yang sama sekali tidak bersuara seperti seorang yang sedang menangis..
Tetapi, Ayah juga dapat merasakan penderitaannya sebagai sesama lelaki.
Pastilah ini adalah saat-saat terburuk dalam hidupnya..
Menangis dalam diam? rasa sesak yang dia rasakan dalam dadanya, pastilah terasa berkali-kali lipat lebih sakit.
Ayah sangat terenyuh melihat keadaan Adam yang terlihat sangat buruk.
Dia langsung mendekati Adam, untuk menenangkan Adam dan mengelus pundak Adam.
Darah terlihat semakin merembas, keluar dari perban di perutnya.
Ayah mulai panik!!
Dia langsung berterik dan memanggil-manggil Dokter untuk datang ke Ruangan Adam.
Sangkin paniknya, dia sampai lupa ada tombol khusus di samping kanan tubuh Adam.
"Dokter! Dokter!!!" Teriak Ayah.
Adam yang melihat kepanikan itupun, langsung berhenti menangis dan mencoba menenangkan Ayah mertuanya.
Dia menarik tangan Ayah, dan menahannya supaya Ayah tidak berteriak terus-menerus seperti itu.
"Sudah, sudah, aku tidak apa-apa"
"Luka ini akan kembali mengering seperti sebelumnya.." Lanjutnya.
Ayah semakin tidak bisa tenangkan diri.
Dia terus menoleh kesana kemari mencari bala bantuan.
"Ayah!" Hardik Adam.
Ayah terdiam..
Dia langsung menatap mata Adam..
"Ma-maaf.. Bukan maksud Adam unt--"
Rasanya tidak enak sekali, membentak Ayah mertua sendiri seperti tadi..
-Ah sial! kepalaku mulai sakit lagi!-Dalam hati Adam..
"Tidak apa-apa! maaf jika Ayah terlalu berisik, Ayah hanya sedikit khawatir.." Ayah menarik tangannya dari genggaman Adam dan bergegas pergi ke arah sofa, duduk di atasnya.
Wajah Ayah terlihat sangat marah dan cemberut.
Dia mungkin merasa sangat kesal karna perhatiannya sama sekali tidak di pedulikan oleh Adam..
Adam hanya tersenyum melihat tingkah Ayah..
Dia kembali merasa bahagia bisa mendapatkan seorang mertua sebaik Ayah.
Ayah duduk dengan angkuh, memalingkan pandangannya dari Adam.
Sedangkan Adam?
Melihat reaksi Ayah, yang panik setelah melihat darah keluar dari perutnya itu membuat Adam sedikit menahan rasa sakit di bagian kepalanya..
Dia terus menerus menahan rasa sakit itu, supaya tidak menimbulkan kepanikan yang lain, dan mencoba menahan darah yang keluar dari tubuhnya dengan menggunakan saput tangannya.
"Kamu jangan merasa sendirian.."Kata Ayah.
Dia masih tidak mau menoleh ke arah Adam.
"Jika kamu benar-benar sayang dengan Aisyah.. Buktikan!" Sambungnya.
Adam hanya terpaku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ayah.
"Jika hanya mendapat sedikit desakan seperti ini saja kamu sudah loyo.. Lebih baik, dari awal kamu menyerah saja!" Seru Ayah.
Adam mulai tersadar kembali, dia tidak sendirian!
Adam banyak orang yang ada untuk membantunya mendapatkan Aisyah.
Meskipun banyak rintangan, dan banya hal yang harus dia lalui demi mendapatkan wanita yang sangat ia kagumi.
Dia akan bekerja sekuat tenaga untuk memenangkan tantangan ini!
Tidak ada alasan lagi baginya untuk menyerah dan jatuh begitu saja.
Adam tersenyum kembali, dia menghapus air matanya dan kembali membusungkan dada sebagai wujud kesiapannya, untuk kembali melawan Nadia.
-Rasa sakit di hati, di perut, dan di kepala ini bukanlah apa-apa!-Dalam hati Adam..
"Aku pasti akan membuat Aisyah jatuh cinta padaku!" Serunya.
"Aku bersumpah! aku tidak akan mudah terjatuh, hanya karena desakan sesepele ini!"
Seperti halnya Adam yang tersenyum ketika mendengar kata-kata penyemangat itu keluar dari mulut Ayah.
Ayahpun juga tersenyum lebar ketika dia mendengar kata-kata penuh semangat itu kembali berkobar dalam diri Adam.
Ayah memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, berdiri, lalu pergi menuju pintu keluar.
Saat dia sampai di depan pintu dan hendak menyodorkan tangan kanannya untuk membuka pintu Ruangan..
Ayah tersenyum di balik tubuhnya sembari berkata..
"Aku akan mencarikan satu rekan hebat untukmu.."
Adam tersenyum..
Dan Ayah pergi meninggalkannya..
Rasa sakit di kepala Adam perlahan mulai menghilang, darah di perutnya juga perlahan mulai membaik.
Dia hanya perlu memanggil suster untuk membantunya mengganti perban.
Dia tidak membutuhkan yang lain, dia akan serusaha sekuat tenaga supaya bisa segera sembuh dari sakitnya.
Dan demi dapat melakukan sesuatu, untuk menangkis serangan telak itu dari Nadia..
-So! tunggu pembalasanku, Nadia!- Dalam hati Adam..