
"Selamat pagi Adam selamat pagi Aisyah" Sapa Ayahku.
"Bagaimana Asiyah apakah semalam kalian baik-baik saja?" Ayah melirik ke arahku.
"Yaa, Tidak terjadi apa-apa" Ucapku berbohong pada Ayah
"Hemmpp.. Wahh! sarapan pagi ini sepertinya sangat spesial sekali"Ucap Ayah.
Ada Nasi Goreng Telur Dadar kesukaan Ayah di meja itu.
Aku bingung, tentang siapa yang sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
Padahal, yang aku tau.. Aku bangun pagi dengan perasaan hampa, lalu segera turun menuju meja makan seperti biasa.
Tanpa mandi tentunya.
"Aisyah yang memasaknya Om" Sambung Adam.
Aku yang sedang minum saat itu, saat mendengar perkataan Adampun sangat terkejut sampai tersedak, dan batuk.
(Oohhhookkkhh Ohhokkhh...)
"Kamu kenapa Aisyah?" Tanya Adam.
"Tidak! Sama sekali tidak apa-apa" Jawabku.
Wah gila! aku bingung harus menjawab apa.
Apa tadi responku itu sudah sangat berlebihan?
Oh.. Benar-benar hal yang tidak disangka-sangka.
"Wahh Aisyah, Ayah tidak pernah tau kamu bisa memasak seenak ini.." Kata Ayah, sembari menyantap makanan.
-Jangankan Ayah. Aku sendiri juga tidak menyangkanya sama sekali-Dalam hatiku.
Ayah melihat kesekeliling meja makan dan dapur.
Dia melihat, ada hal yang luar biasa di depan matanya..
Tepat itu terlihat sangat bersih.
Padahal, saat kami semua meninggalkan tempat ini dan pergi ke kamar masing-masing.
Ruangan Makan, dan Dapur itu masih sangat kotor dan berantakan.
Tapi, pagi ini semuanya terlihat sangat rapi dan juga bersih.
Bahkan, sudah ada makanan dan minuman lezat di meja makan.
Wajah Ayah terlihat berkagum-kagum.
Matanya berbinar sangat terang, dengan mulutnya yang terbuka lebar.
"Wah... Bersih sekali!" Puja Ayah pada Ruangan.
-Oh! iya juga ya.. Aku baru sadar! semalam rasanya tidak sebersih ini.. Siapa yang sudah merapikan Rumah hingga bisa terlihat serapih ini?- Tanyaku dalam batin.
"Hari ini Aisyah sudah bekerja dengan keras Om, Dia bangun lebih awal untuk membersihkan tempat ini"Sambar Adam dengan cepat.
Dia bilang pada Ayah, akulah wanita mulia.. Yang sudah membersihkan seluruh Rumah itu, tanpa membiarkan suamiku tercinta (Adam) membantuku sedikitpun.
"Widihhhh, Tumben sekali Aisyah seperti itu.. MasyaAllah Aisyah! Ayah bangga padamu.."Ayah terlihat kagum padaku.
Dia langsung mengelus-elus kepalaku, lalu tersenyum manis di depanku.
Aku seperti orang bodoh, yang tidak tau apapun dan hanya bisa mengangguk-nganggek sambil tersenyum aneh seperti orang gila.
Seketika itupun,
Aku langsung melototi Adam.
-Apa yang dia lakukan? membersihkan apa? bangun pagi apa? aku bahkan tidak sempat merapikan tempat tidurku pagi ini- Dalam hatiku.
Yang dia lakukan kali ini benar-benar gila.
Apa dia berbohong agar terlihat keren seperti Saskeh di mata Sakura?.
Mungkin, setelah tidak aku perbolehkan untuk tidur bersamaku, semalam.
sudah membuat dia begitu depresi dan kehilangan akal sehat.
Aku jadi merasa prihatin dengannya.
Adam Tersenyum..
"Aisyah! berhentilah memelototiku seperti itu, aku jadi gugup. Haha(tertawa jahat) makan saja dengan benar, nanti akan aku beri waktu berduaan agar kamu bisa dengan puas memandang manis indah wajahku ini" Ledeknya.
"Hahhh!!! Apa yang kau bicarakan Adam! Kau ini sud--" Ku potong Kata-kataku.
Aku hampir lupa kalau disini masih ada Ayah, di samping kananku.
-Sabar Regina! Sabar!- Aku mencoba menenangkan hatiku.
Rasanya aku ingin menampar mulut busuk Adam di depan Ayah.
Tapi, itu tidak mungkin.. Kalau aku tetap melakukan itu di depan Ayah.
Itu hanya akan memperkeruh keadaan, dan membuat Ayah marah besar padaku.
"Yaa, yaa, yaa.. Ayah tau kok, Adam sudah membuatmu tersipu malu, bukan? " Jawab Ayah.
Syukurlah saat itu Ayah tidak curiga terhadapku.
Meskipun, aku sama sekali tidak mengerti apa yang Ayah katakan barusan.
-Memangnya, Ayah tau apa?-Dalam hatiku.
Kami berdua terpaksa berbohong seperti ini, seakan hubungan kami baik-baik saja.
Mau bagaimana lagi, Ayahku itu punya riwayat penyakit jantung..
Dia sudah berkali-kali masuk rumah sakit karena aku.
Hal ini jugalah, yang mungkin mendorong Adam untuk segera menyetujui permintaan Ayah, sekaligus menawarkan diri untuk menikahiku waktu itu.
Mungkin, Adam khawatir dengan kesehatan Ayahku.. Sedangkan aku? aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Selalu saja hal itu yang menjadi sorotan kisah hidupku.
Menikah vs Penyakit Jantung.
"Yasudah, Ayah sudahi dulu sarapannya ya, Ayah masih harus bekerja di kantor karna masih banyak dokumen-dokumen yang harus Ayah tanda tangani"
Ayah berdiri, dan langsung mengambil Jas dan Tasnya yang sudah di letakan di tempat penaruhan barang, di dekat Pintu Ruangan.
Tempat penaruhan barang berbentuk lemari tiga tingkat, tanpa pintu itupun.
Sengaja di siapkan, karna Ayah sering membawa barang-barangnya ikut masuk kemanapun, sebelum dia berangkat kerja.
"Ohh ya Om, boleh ngga aku yang nganterin Om? sekalian aku mau ngambil barang-barangku yang masih ada di Rumah.. Biar nanti bisa di simpan di kamar kami dan merapikannya" Tanya Adam.
Aku mulai menggerutu penuh kesal, mataku terasa pedas, dan kepalaku terasa sangat panas.
Aku tengah menahan diri, agar luapan emosi itu tidak jatuh banjir kemana-mana.
"Emm.. Itu bukan ide yang buruk.. Baiklah, Ayah akan berangkat kerja bersamamu. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin Ayah sampaikan padamu, Dam!" Kata Ayah.
Adampun langsung berdiri dan mendekat, untuk menghadap kepadanya.
"Apa itu?" Tanya Adam.
Ayah tersenyum, lalu mulai memegang kedua pundak Adam seraya bertakat..
"Mulai sekarang, jangan panggil Om ini Om.. Kan Om sudah menjadi Ayah kamu, jadi tolong panggil Om itu.. Ayah, saja ya!" Ucap Ayah.
Adam terlihat senang, dia langsung berdiri dengan posisi tegap. Sembari tangan kanannya, berhormat di depan Ayah.
"Ohh.. Siap! Om. E-heh, maksud Adam Siap! Ayah!" Jawabnya sambil Kegirangan.
Merekapun akhirnya melangkahkan kaki, dan pergi bersama..
Aku sangat tidak menyukainya..
keakraban mereka itu, sepertinya hanya akan membawa dampak yang buruk untukku.
"Ehhh.. Ada satu hal lagi yang penting! Ayah hampir lupa!" Ayah menghentikan langkahnya.
Memutar badan, dan menoleh kearahku..
"Apa itu Ayah?" Adam & Aku bertanya secara bebarengan.
"Hahaha kalian kompak sekali" Ayah tertawa.
Aku langsung menghentikan acara makanku, dan berdiri menghadap padanya.
Hal serius apa yang akan Ayah katakan padaku..
Peraturan yang mengerikan lainnya mungkin akan segera muncul di depanku.
Dengan hati yang berdebar-debar, akupun mencoba untuk mendengarkan..
"Emm.. Soal barang-barang Adam yang sepertinya tidak kalah banyaknya dengan barang-barang milikmu.." Ayah melirik kearahku.
"Akan lebih baik jika, kamu sedikit menyingkirkan barang-barang milikmu yang sudah tidak berguna, untuk menyimpan sebagian besar dari barang-barang milik Adam, nantinya!"
Aku terkejut bukan main!
Bisa-bisanya Ayah menghukumku dengan mengatakan hal yang sekeji itu di depanku.
Wajah Adam terlihat sangat puas, pastilah saat ini dia sedang merasakan kepuasan dan kemenangannya itu, dengan perasaan bahagia tiada batas.
"Apa Ayah! Apa yang barusan Ayah katakan.. Lalu, bagaimana nasib semua koleksi sepatu, tas, baju, dan koleksiku yang lainnya? aku tidak mau menyingkirkan mereka semua!" Aku membantah Pernyataan Ayah.
Aku semakin kesal pada mereka..
"Kamu itu!"Ayah nenghardikku, dan hampir menamparku dengan tangan kanannya, yang sudah terlihat mulai di angkat.
"Adam itu Suamimu! dia berhak atas hidupmu dan segala sesuatu yang ada pada dirimu. Begitupun sebaliknya, kamu jangan durhaka terhadap Suamimu sendiri!" Hardik Ayah, semakin menyeru.
Mereka lantas pergi meninggalkanku begitu saja.
Ayah menjatuhkan tangannya kembali, dan pergi dengan wajah kesal bercampur marah.
Aku juga tak kalah kesalnya dengan keputusan Ayah..
Saat mereka sudah terlihat pergi meninggalkan Rumah, aku langsung pergi kedalam Kamar dan mengamuk Sepuas hati.
"Sial! Sial! Sial! Adam lagi Adam lagi! kenapa aku harus menuruti perintah Ayah demi seseorang seperti dia!"
Aku mulai mengamuk dan mengobrak-abrik seluruh isi kamarku.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak membuang semua barang-barangku ke lantai.
Aku tidak peduli Ayah akan melihat ini, aku hanya kesal dan ingin segera mendepak Adam keluar dari Rumah ini.
Aku terus berfikir dan berfikir. Bagaimanapun caranya, aku harus berhasil mendepak lelaki sok pahlawan itu keluar dari Rumah ini..
Aku tidak sudi jika harus terus berlama-lama tinggal satu atap dengannya.
****
Di dalam Mobil..
"Ayah, Apa tidak apa-apa jika Ayah bersikap keras seperti itu terhadap Aisyah? aku tau, mungkin saat ini Aisyah sedang sangat marah dengan keputusan Ayah. Aku takut dia akan berbuat nekat yah!"Kata Adam.
"Kamu tidak perlu menghawatirkan Aisyah, dia bukan seseorang yang akan melukai dirinya sendiri sebelum dendamnya terbalaskan.. Ayah, hanya sedikit marah karna dia sudah membiarkanmu tidur semalaman di lantai depan pintu Kamar.
Dia harus berfikir dewasa dan Move On dari masalalunya itu..
Ayah juga tidak suka melihatmu harus merapikan seluruh Ruangan di Rumah itu sendirian seperti tadi pagi. Seharusnya, Aisyahlah yang bertugas membersihkam Rumah itu.
Seharusnya, dia di hukum karna telah pergi meninggalkan tamu undangan di tengah-tengah pesta yang sedang dia adakan" Tegas Ayah.
"Aku tau, Ayah! tapi mungkin Aisyah hanya butuh waktu untuk sendiri..
Aku juga tidak keberatan jika harus terus di perlakukan seperti ini.
Walau bagaimanapun juga.. Aisyah itu istriku loh! Ayah!" Jawab Adam sambil Tersenyum.
Ayah memperhatikan Adam.
"Kamu itu Guaanntheng loh dam.. Tapi, kenapa kok Aisyah ngga bisa ngeliat kegantengan kamu itu gimana loh?"Ayah tersenyum sembali memperhatikan wajah Adam.
"Kamu Tinggi, mata kamu sipit, hidung kamu mancung, kulit kamu bersih, terus alis kamu bagus, kamu juga punya tahi Cicak di dagu sebelah kananmu itu.. Ganteng loh kamu Dam!" Sambung Ayah sambil bercanda.
"Hahaha Ayah ini! bisa banget ngelawaknya! masa tahi Cicak si yah? Gueedee banget dong? ini tahi lalat, yah.. Ukurannya kecil, nggak gede-gede amat, Hahaha!" Jawab Adam Sambil tertawa.
Mereka tertawa tiada henti, menertawakan hal yang tidak penting dan terkesan sepele.
Mereka sangat menikmati hari-hari mereka dengan hati riang gembira..
Sedangkan aku??
****
"Huuacchiiimm!!!"Tiba-tiba saja hidunggu terasa sangat gatal, dan mengakibatkan bersin.
-Kenapa aku merasa ada yang sedang menggibahiku, ya?- Rasaku Dalam hati.
Aku duduk untuk menenangkan diri, Aku mencoba untuk tenang meskipun aku tau aku sudah mengacaukan Kamarku.. Tepat, sebelum aku melakukan hal ini.
Lalu, sekarang apa yang akan aku lakukan.. Aku berkata bahwa aku tidak peduli jika Ayahku datang dan melihat kekacauan ini.
Tapi nyatanya, aku lupa dengan penyakit yang Ayah derita
Hari itu sungguh kacau, aku harus membersihkan semua kekacauan yang aku perbuat sendiri, aku sangat marah dan malas sekali. Tapi, mau bagaimana lagi.
-Oh iya! Soal makanan dan Ruangan yang bersih, siapa yang melakukan itu ya? masa iya Adam yang bersihin semuanya sih? Dihhh! Cowok sok keren seperti dia yang bisanya meledekku.. mana mau repot-repot membersihkan Rumah.. Aduhh, ya ampunn! Apa yang aku fikirkan ini? Seharusnya aku bersyukur dong sudah ada orang yang mau repot-repot mengemas Rumah? Lagi pula.. Bodo Amat! mana peduli aku dengan hal tidak penting ini?!- Dalam hatiku.
"Pokoknya Aku harus fokus menyingkirkan Tikus itu dalam hidupku, aku tidak perlu memikirkan yang lain.. Titik!" Kataku penuh ambisi.