
-Tok tok tok-
"Regina, apa kau di dalam?"
"Yaa, aku di dalam masuk lahh.."
"Yaa ampun Ginnn!!!!, Kamarmu berantakan sekali?" Nadia kaget melihat kekacauan Kamarku.
"Astaga Dragon! Ginaa!! Nagina Slavina!!!. Kok, Kamarmu kaya kapal pecah sih?" Kaget sekaligus ngelawak.
"Itu Nagita Slavina dodol :v" Jawabku.
"Iya tau, ini apa? kok Kamarmu berantakan? kamu apain coba?" Tanya Nadia.
"Ya aku berantakinlah!" Jawabku dengan ketus.
"Bukan itu maksudku!" Nadia memandang dengan sinis.
"Coba kamu ceritakan apa yang terjadi? kenapa bisa jadi begini?. Aku paling tau kamu. Gin!" Tanya Nadia.
"Aku capek Nad, aku tidak tahan harus terus bersandiwara di depan Ayahku seperti ini"Kataku dengan nada sedih.
"Ya ampun Ginaa, Tapi ngga gini juga kali! kalau kamu kaya gini terus yang ada kamu stres." Kata Nadia.
"Aku tau kok. Tapi aku benar-benar bingung, aku tidak tau bagaimana caranya supaya aku bisa lepas dari Pria itu." Kataku.
"Oke. Oke. Pertama, coba kamu ceritakan dulu dari awal" Kata Nadia.
"Jadi Begini..." Aku menceritakan kejadian saat Pesta Pernikahan berlangsung, kejadian tadi malam, dan aku juga menceritakan apa yang terjadi di meja makan pagi tadi kepada Nadia.
"Ihh kok gitu si Gin? Ayahmu lebih membela Adam dan Adam juga bertingkah seenaknya padamu. Sepertinya Adam dari awal memang mempunyai maksud lain, maka dari itu dia bersikap manis padamu dan inilah buktinya, belum apa-apa Ayahmu sudah bersikap tidak adil terhadapmu." Kata Nadia.
"Nahh, itu dia Nad yang bikin aku emosi. Dia itu selalu saja bersikap seakan-akan dia adalah Rajanya. dia bisa mengendalikan Ayah kapan saja. Aku benci mengakuinya. Tapi, menurutku caranya itu benar-benar halus dan hebat." Kataku.
"Hemm, jadi. Intinya dia itu tidak mudah terpengaruh, dia itu sabar, dan dia itu ganteng?" Berbicara dengan wajah sok mikir.
"Ganteng? Hah!. Nad! serius loh ini lagi ngomongin serius!" Kataku mulai kesal pada Nadia yang sedari tadi melawak.
"Hehe abis.. aku paling ngga suka Gin liat muka kamu yang sok serius, panik kaya gitu. Santai aja kali Gin!, kamu ingat saat tadi kamu menelfonku untuk datang kemarin dan aku bilang aku akan datang setelah aku melakukan sesuatu hal yang keren?."
"Iyaa aku ingat, Lalu apa hubungannya dengan ini?" Tanyaku pada Nadia.
"Jadi gini.. Aku tanya ya. Sebenernya, kamu itu nggak berani buat ngaku sama Ayah kamu kalo hubungan kamu dan Adam itu tidak sedang baik-baik saja. Itu kenapa?." Tanya Nadia.
"Ya elahh kirain mau nanya apa, mukamu sampai seserius itu. ya karna Ayahku punya riwayat penyakit Jantunglah!. Aku takut jika aku dan Adam tertindak buruk atau mengaku soal hubungan kami pada Ayah. Ayah akan kaget dan tubuhnya tidak dapat menerima tekanan ini. Kamu tau sendiri kan penyakit Ayahku itu semakin memburuk terutama pada saat aku di tinggal pergi oleh kekasihku sendiri tepat di hari pernikahan kami. Jadi itu alasannya kenapa aku dan juga Adam sama-sama berfikir untuk menyembunyikan persoalan hubungan kami ini, meskipun kami tidak ada kesepakatan seperti itu sebelumnya. Jika saja aku tidak peduli dengan Ayah. maka mungkin aku sudah pergi dari rumah, mengusir Adam, atau berbuat yang lainnya.. Tapi, Nyatt..ta..." Ceritaku belum selesai, tetapi Nadia dengan songongnya menyambar.
"Udahh oke. oke. udah cukup udah cukup ceramahnya" Kata Nadia.
Aku memandang sinis Nadia, dia menyebalkan sekali hari ini, dan dia juga sudah memotong kata-kataku sebelum aku selesai bicara.
"Hiissss!!! ngga usah sinis gitu kali Gin!. Yang penting kan aku udah tau masalahnya apa. Oke." Nadia menenangkan aku yang sedang setengah ngambek padanya.
"Oke. Jadi intinya kamu ngga mau kan penyakit Ayah kamu itu menjadi semakin parah karna perbuatan kalian berdua?." Tanya Nadia.
"Ya udah sih, kalau masalah penyakit mah gampang kalau sakit ya tinggal di obatin aja. Udah, beres kan?." Kata Nadia.
"Hahh, Maksud kamu?" Tanyaku bingung.
"Iyaa gitu.. Ih dasar Aisyah Soebandono!!!" Nadia ngelawak lagi..
"Itu Alisya!!!"
"haha, iya gitu intinya kalo emang kesehatan Ayahmu memburuk, ya tinggal di obatin. Supaya, ketika kita akan membuat suatu rencana untuk melengserkan si Adam dari posisi sebagai seorang suami di rumah ini. Kita ngga perlu takut tuh sama penyakit Ayah kamu. Kalau kita obatin dia dan bikin tubuh dia vit lagi, dia ngga bakalan deh tu kaget-kaget ataupun kenapa-kenapa sama apa yang kita lakuin ke Adam. Kalo kesehatan Ayahmu membaik dan suwaktu-waktu kambuh lagi, mungkin itu tidak akan berakibat sangat fatal padanya. Asal, kita tau pertolongan pertamanya dan siap dengan segala macam alat medis dan bantuan medisnya." Dia menjelaskan segalanya.
"Ohhh jadi gitu, ini cuma perang soal mental Ayah sama sedikit keberuntungan doang ya?. Oke. Oke. tapi aku juga perlu menyusun rencana untuk Adam juga kan? kira-kira apa hal ya yang bisa membuat si Adam itu marah dan kesal, sampai-sampai dia mau untuk memutuskan hubungan antara aku dan juga dia?." Aku berfikir keras..
"Emmmmpphh.. Tenang. Kan ada Nadia di sini" Muka sombong Nadia mulai terlihat.
"Yaaa terusssss?????" kataku.
"Aku punya rencana. Ini sedikit menyakitkan untuk Adam dan hanya bisa berhasil jika kamu dan Ayahmu siap." Mata nadia melotot tajam..
"iiiiy yaa a... pasti siap lahh!!!" Kataku dengan sedikit keyakinan.
"Jadi gini..........." Nadia berbisik.
"Ehhhhhh!!!!! serius Nad? itu sama aja aku membully dia dong?. Trus aku beneran bisa nggak yaaa." Kataku semakin tidak percaya diri.
"Ya kamu harus yakin dulu lah!. Kok kamu, keliatan ragu kaya gitu sih?" Tanya nadia..
"Yaa..aa bukannya ragu Nad. Tapi yaa, emang.... Emang itu ngga keterlaluan Nad?" Kataku sambil terbata-bata.
"Yaa enggalah iihh kamu tuh, makannya jadi orang ngga usah terlalu naif. kita sama saja sedang berperang iniiiiii!." Sambung Nadia.
"Tappii...." Aku merasa sangat kebingungan.
"Apa kamu sudah tidak menginginkan Adam pergi jauh dari hidup kamu?, apa hati kamu mulai ragu dan luluh terhadapnya?, apa kamu mulai menaruh hati padanya?." Tanya Nadia.
Saran Nadia itu sedikit berlebihan, tapi aku tidak punya cara lain dan aku harus cepat bertindak supaya Adam tidak berlama-lama ada di dalam hidupku.
Aku ingin dia cepat menyingkir dari jalanku.
"Oke.. Aku setuju, akan aku lakukan" Kataku dengan tanganku yang sedikit gemetar..
"Hemm gitu dong" Nadia tersenyum padaku..
"Ya sudahh sekarang lebih baik kita membersihkan kekacauan ini sebelum para pria-pria tamvan kita tiba di rumah." Sambung Nadia sambil Melihat seluruh sudut ruanganku.
"Hehe iyaa ayo, makasih ya Nad karna kamu selalu ada untuk membantuku tanpa lelah." Aku memeluk Nadia.
"Iyaa iyaa santai aja. Jangan lupa, aku ini Sahabat kamu bukan orang lain" Nadia berbalas memelukku dengan erat.
-BERSAMBUNG-