
"Aisyah" Ayah memanggilku.
"Bagaimana keadaan Adam?" Tanya Ayah dengan kerut khawatir di dahinya.
"Adam baik-baik saja kok, Ayah ngga usah khawatir"
"Mbak, Mas Adamnya udah boleh di jenguk belum?" Tanya Clarissa.
-Bawel banget sih- Dalam hatiku.
"Iyaa, udah boleh kok"
"Ya udah saya masuk duluan yaa" Clarissa langsung menyerobot masuk ke dalam.
"Ehhhh!!!! Tunggu dulu!" Ayahku menghentikan Clarissa yang saat itu sudah menggenggam gagang pintu dan mendorongnya sekuat tenaga.
"Tutup lagi!" Pinta Ayahku.
"Tapi pak, ini pintunya udah setengah saya buka loh, liat tuh Mas Adam juga udah ngeliat saya mau masuk."
"Udah tutup dulu!" Hardik Ayahku.
Clarissapun kembali menutup pintu, aku tidak peduli dengan mereka berdua, aku hanya berdiri di depan mereka sambil menyenderkan tubuhku ke dinding di sebelahku.
-Huuaaahhhmmm (mengantuk), sebenarnya mereka itu ngapain sih, mau ketemu Adam aja kaya mau ketemu sama selingkuhan baru, semangat banget :v - Dalam hatiku.
"Kenapa sih Yah?? Ayah udah diem aja deh.. Kalo Clarissa pengen cepet-cepet ketemu Adam ya udah biarin aja, mungkin dia cuma pengen ngucapin apaaa.. Gitu ke Adam" Kataku dengan santuy.
"Kamu tuh gimana sih? ini Adam loh yang lagi sakit, kok kamu malah kaya ngga peduli gitu sih?, malah Clarissa yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya Adam, kamu suruh masuk duluan. Kamu juga Clarissa! sudah berapa kali saya ngomong sama kamu! kamu itu bukan siapa-siapa disini! kamu itu...."
Ayahku tiba-tiba terjatuh lemas, tubuhnya terhempas jatuh ke lantai, ia terkapar dengan nafas yang terlihat memburunya secara membabi buta.
"Ayahh!!!" Teriakku.
"Ayah bangun! Ayah!! jangan membuatku takut Ayah bangun!!" Aku panik melihat Ayahku jatuh sakit seperti ini.
"Susterr! Susterr!!!" Teriak Clarissa memanggil-manggil Suster yang lewat.
Sepertinya, Penyakit jantung Ayahku kambuh, dia tertekan dengan keadaan di sekitarnya sehingga membuatnya stres dan begitu tertekan..
Tak lamapun, Para suster datang membawa Ayahku pergi dari Ruangan Adam.
"Clarissa! kamu masuk saja temui Adam, aku mau lihat kondisi Ayahku dulu" Pintaku.
"Aduhh... Mbak, mendingan Mbak disini aja temenin Mas Adam, nanti Ayahnya Embak biar saya aja yang ngurus"
"Lah? emang kenapa??"
"Iyaa Mbak, kalo nanti Ayahnya Embak bangun trus liat saya ngga ada atau beliau tau kalo yang nemenin Adam itu saya, aduhhh!! saya takut keadaannya bisa makin gawat nanti..."
Seketika itupun aku langsung berfikir bahwa perkataan Clarissa itu ada benarnya juga, demi kebaikan Ayahku, akhirnya akupun langsung memutuskan utuk mengIyakan saja permintaan Clarissa itu.
"Yaa udah, Tolong jagain Ayah aku ya Saa.." Aku memohonnya dengan wajah memelas.
"Iyaa mbak tenang aja, pasti saya jagain, udah! saya kesana dulu ya Mbak"
Clarissapun bergegas mengikuti para Suster menuju Ruangan Ayah. Sedangkan aku tengah kebingungan berfikir akan masuk kedalam Ruangan Adam atau tidak.
"Duh, masuk ke dalem apa nggak ya? ya ampun... Males banget>_<"
"Aisya...hh Aisyah...hh apa kau di luar...?" Suara lirih itu mencekik gendang telingaku, entah mengapa, tapi! suara itu terdengar tak asing.
-Oh! itu pasti Adam- Dalam hatiku
-Aduhh..hh! kok akunya malah masuk sihh!!! Begonya aku ya tuhan!>...<- Dalam Hatiku
Kulihat tangan Adam mencoba meraihku, dia mengulurkan tangannya seakan-akan ingin aku segera masuk dan berlari meraihnya.
"Aisya...hh kam....uu kemarila..hh" Kata-katanya terdengar lemas dan sedikit terbata-bata.
Akupun mendekat padanya, ku lihat wajahnya begitu pucat dan bersih..
Ku lepas pandanganku dan mencoba untuk melihat ke arah yang lain, aku tak mau memandangnya lama-lama.
"Kenapa kamu memanggilku? istirahat saja yang benar! kamu itu sudah sangat menyusahkanku hari ini" Aku membuang wajahku dan segera beranjak pergi dari Ruangan.
Saat aku hendak menutup pintu, ku lihat bibir Adam tersenyum padaku, aku tidak tau maksud dia itu apa, jadi! aku hanya mengabaikannya lalu segera ku tutup pintu itu.
"Dia masih saja tersenyum meskipun dalam keadaan seperti itu, sebenarnya dia itu sedang mengejekku atau apa!" Umpatku.
Akupun kembali ketempat duduk dan bermain Game Online yang ada di ponselku.
Sudah satu jam sejak aku selesai masuk ke Ruangan Adam, aku penasaran dengan keadaan Ayahku.
"Apakah Ayahku akan baik-baik saja ya? Ya tuhan! tolong Ayahku.. Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk padanya, Aamiin"
Aku sangat menghawatirkan kondisi Ayahku, aku benar-benar tidak dapat menahan diri untuk tidak menemuinya, aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku menuju Ruangan tempat Ayahku di rawat.
Saat aku hendak membuka pintu, aku mencoba untuk mengecek keadaan Ayahku dari balik jendela kecil di pintu masuk terlebih dahulu, aku melakukannya supaya aku tau bagaimana kondisi Ayah saat itu sembari melihat kira-kira ekspresi seperti apa yang sedang terpasang di wajahnya.
-Aku harus memastikannya terlebih dahulu sebelum masuk, aku tidak mau Ayahku memarahiku karna membiarkan Adam sendirian dan memilih untuk datang menemuinya- Dalam Hatiku.
Dan benar saja, wajah Ayahku terlihat sedang tidak enak di pandang, dia memasang wajah marah sembari mengeluarkan kata-kata kasar di depan Clarissa.
-Wahh.. sepertinya Clarissa sedang di marahi, kira-kira! apa ya yang sedang mereka bicarakan? kenapa Ayah sampai semarah itu pada Clarissa?, aku penasaran- Dalam hatiku.
Aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka lebih dalam lagi, tapi sialnya! pintu Ruangan ini cukup tebal, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa.
Sangkin penasarannya, akhirnya aku mencoba untuk membuka sedikit pintu itu diam-diam, tapi sialnya lagi! aku gagal! aku hanya mendengarkan sedikit saja kata-kata keluar dari mulut Ayahku sebelum akhirnya mereka sadar akan kedatanganku ke Ruangan itu.
(Terlalu ceroboh dan berlebihan!) Begitulah kira-kira kalimat yang Ayah keluarkan.
"Ehh.. Aisyah! kamu kenapa ada disini? sejak kapan?" Tanya Clarissa.
"Kalian sedang membicarakan hal apa? sepertinya serius sekali"
"Ohh... iii...nii, Clarissa katanya mau pulang, padahal dari tadi dia paling semangat buat ketemu Adam, tapi! sekarang pas Adamnya udah bangun malah katanya pengen cepet-cepet pulang, katanya ada urusan yang sangat mendesak, bener kan Clarissa?" Ayah menatap mata Clarissa sambil sedikit tersenyum dingin.
"iii..iyaa, hehe! maaf Aisyah aku ngga bisa lama-lama nih, soalnya aku udah di tungguin Nyokap katanya mau ngadain acara gituuu.. salamin ke Adam aja yaahh"
"kok gitu sih?, yakin! nggak mau ketemu Adam dulu?" Kataku.
"Kok aneh banget sih tiba-tiba kepengen pulang gitu? Terus tadi sebelum masuk aku sempet nguping pembicaraan kalian sedikit, maksudnya Ceroboh sama berlebihan itu apa ya?" Aku Curiga kepada mereka, mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ohh..!! tad...dii itu sih serius karna inii.. emmmph..." Clarissa terlihat sedikit menggaruk-garuk dahinya dengan telunjuknya lalu mengusap-usap baju Ayah dan mencoba menujukan sebuah noda teh di baju Ayahku kepadaku.
"ini loh.. liat deh baju Ayahku, kotor kan?"
"Nahh! iyaa.. ini nih yang bikin Ayah marah sama Clarissa, liat! masa baju Ayah sampe kotor begini, Clarissa itu ceroboh sekali, Ayah minta tolong sama dia buat ngambilin teh manis buat Ayah malah di tumpahin ke baju Ayah. Liat! jadi basah kan? kotor juga nih.." Ayah juga menunjukan bajunya padaku.
"Ohh.. kirain apa, Ya udah lain kali Clarissa! kamu harus lebih hati-hati yaa!, jangan berbuat ceroboh lagi terutama di depan Ayahku. Kalau tidak! bisa kena marah terus kamu!" Aku tidak membiarkan fikiran burukku terhadap Ayah semakin mengudara. Aku sangat percaya pada Ayahku, jadi.. Alasan classic seperti itu saja sudah cukup bagiku.
-BERSAMBUNG-