The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Wanita Sedingin Es



(Huhhhhfffttt)aku menghela nafas dalam-dalam..


"Dinginnya..!" Aku terbangun karna merasa sangat kedinginan.


"Maaf Aisyah! aku membangunkanmu, ini sudah hampir jam 6 malam, kamu tertidur semenjak kamu pergi dari acara pernikahan.. Aku takut, itu tidak baik untuk kesehatanmu.


Setidaknya, bangunlah sebentar untuk membersihkan tubuhmu dan mengisi perutmu setelah Shalat.." Adam mengelus-elus kepalaku.


Aku hanya mengercap sembari mengucak-ngucak mataku yang masih terasa sepat.


"Emmpphh, masih mengantuk... Kepalaku sakit, aku mau tidur lagi saja!" Kataku tanpa sadar Adamlah pria yang sedari tadi ada di dalam Kamarku.


"EeeHHHHHHHHHHHHHH!!! Kenapa kau disini?"


Akupun tersadar ada yang aneh dengannya..


Ya! sejak kapan pria asing itu berada di sampingku! dan apa yang dia lakukan padaku?


"Hahahahaha.." Adam Tertawa


"Kenapa kau tertawa, Adam!" Bentaku pada Adam


"Emph, maaf Aisyah. Habis, kamu lucu sekali.. Responmu, yang telat itu membuatmu terlihat sangat manis di mataku, Hahahaha!" Sambungnya.


"Diam, berhenti tertawa! apanya yang lucu?" Kataku dengan penuh amarah.


Tadinya aku berharap, aku akan bangun dari tidurku dalam keadaan psikologisku yang lebih baik.


Tapi, yang terjadi justru sebaliknya! Adam dengan tidak sopannya telah menerobos masuk kedalam kamarku, tanpa seizinku terlebih dahulu.


"Maaf Aisyah.. Jika aku sudah lancang masuk ke kamarmu.


Tapi, itu karena aku tidak punya pilihan lain, ini demi kamu dan Ayahmu juga, aku tidak mungkin tidur secara terpisah denganmu.. Apa lagi, sekarang kita adalah sepasang suami istri!" Bujuk Adam.


Alasannya memang cukup masuk akal. Tapi, tetap saja hal seperti itu tidak mungkin bisa aku terima dengan sangat mudah.


"Tidak usah bertingkah seakan-akan kamu adalah suamiku! Adam! sampai kapanpun aku tidak akan mengakuimu sebagai seorang lelaki yang telah menolongku, apa lagi mengakuimu sebagai seorang suami!" Hardikku, semakin keras..


Hal itu cukup mencengangkan.


Aku tidak pernah berada di mood sejelek ini sebelumnya..


"Maaf Aisyah, tapi aku adalah orang yang sedikit keras kepala, aku tidak akan berhenti sampai kau benar-benar mengakuiku! dan aku tidak akan lelah untuk terus mendampingimu hingga maut memisahkanku denganmu..


Sekalipun, aku bukanlah orang yang dengan tulus mencintaimu.. Aku pasti akan selalu ada untukmu" Adam menatap mataku..


"Karna, kau sekarang adalah istriku!" Lanjutnya, suaranya mulai melantang.. Mempertegas pernyataannya.


Memang benar! Sudah menjadi tugas seorang suami untuk selalu ada di samping istrinya di kala suka maupun duka.


Namun, aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu! bagiku sekarang dia bukanlah seseorang yang berharga.


Lalu, untuk apa aku harus tetap berada di sisinya!


"Aku akan pergi untuk membersihkan tubuhku!" Aku beranjak, berdiri dari Tempat tidur.


Aku bergegas menuju Kamar mandi, sedangkan Adam masih duduk di Tempat Tidurku sambil matanya terus. memperhatikanku setiap waktu.


"Setelah aku selesai, aku harap kamu sudah pergi dari hadapanku!" Kataku sembari menutup pintu dengan kasar.


(Jebreeettt!!) Suara pintu Kamar Mandi yang ku tutup secara cepat.


Adampun, lantas tersentak dan kaget tidak terkira.. Wajahnya terlihat sangat sedih, memurung.


Saat aku selesai mandi, waktu menujukan pukul 19:10 WIB.


Aku memang sengaja berlama-lama di kamar mandi, supaya Adam semakin tidak betah dalam menantiku keluar sehabis mandi.


Aku memutar gagang pintu perlahan-lahan sambil mengamati situasi dan mengintip sedikit, untuk melihat apakah Adam sudah pergi dari kamarku.


Dan siallnya!!!


"O-ohhh..! Aisyah! kau sudah selesai bersih-bersih, ya? apa kau sudah mengambil air wudhu.. Kemarilah(melambai ke arahku), mengaji bersamaku.." Ternyata Adam masih ada di dalam Kamarku.


-Sial!! Dia benar-benar keras kepala!- Dalam hatiku.


Aku mencoba mengabaikannya lagi. Sekeras apapun aku mencoba mengusirnya, sepertinya dia tetap tidak akan pergi.


Dia benar-benar sudah membuatku merasa sangat kerepotan.


Dengan tubuhku yang sudah aku balut dengan Baju Tidur yang sangat rapi, yang sudah aku pakai sewaktu aku di Kamar Mandi.. Aku melangkahkan kaki untuk menuju ke Ruangan Khusus.


Belum sampai aku di tempat itu, telingaku sudah tergoda dengan suasana dari suara sejuk nan menenangkan jiwa.


"Bismillahhi rrahman ni rrahim" Adam mulai mengaji.


Suaranya begitu indah, sangat halus dan tidak ada fans sedikitpun.


Dia sungguh sangat mahir mengaji..


Benar kata Nadia waktu itu..!


Mungkin, Adam memanglah pria idaman bagi Wanita Muslimah seperti kami.


Tapi tetap saja, saat itu hatiku sudah terlanjur di butakan dengan perasaan benci, dan dengki yang tak terbendung sama sekali.


Aku tidak dapat melihat keindahan itu, apalagi menikmatinya secara seksama.


Aku terus mengabaikannya, tidak mau menatap wajahnya, dan tidak mau berlama-lama berada di sampingnya.


Aku bahkan sama sekali tidak mau untuk mengingat seperti apa wajahnya, aku hanya tau bahwa dia itu Adam..


Tetapi, untuk wajahnya itu.. Aku sama sekali tidak ada keniatan untuk mengingat sedikitpun atau sekedar mengenalna.


Aku hanya melihatnya sekilas saat aku tak sengaja melirik kearahnya di pesta pernikahan itu, dan sampai saat inipun.. Aku selalu melupakannya begitu saja.


Jika dia hilang ke dasar Bumipun.. Mungkin, aku tetap tidak akan merasakan kehilangan.


Dia tidak pernah ada di hidupku! dia bukan siapa-siapa! dan dia bukanlah orang yang aku cinta, mungkin hanya sebatas itulah arti dirinya di dalam hidupku.


Aku benar-benar egois, aku melampiaskan kekesalanku pada Adam.


Aku tidak mau tau soal perasaanya padaku, aku juga tidak mau tau apa yang dia rasakan saat aku bersikap buruk padanya.


Karna, Adam yang sekarang hanya sebatas orang aneh yang berlaga sok pahlawan kesiangan bagiku.


"Sodhakallah hulladzim" Adam selesai mengaji.


"Aisyah, apa kau lapar?" Tanya Adam


Dia meletakan perlengkapan shalatnya itu di tempat dia mengambilnya semula.


"Akan aku buatkan makanan untukmu! walau aku laki-laki, tapi aku paling jago masak loh di rumah!" kata Adam dia masih bersikap manis denganku.


-Aku mulai tidak tahan dengan senyumannya itu!- Dalam hatiku.


"Tidak usah! aku bisa sendiri..!" Cletukku sambil pergi meninggalkannya sendirian di dalam Kamar dan melangkah kakiku, menuju ke Dapur.


Sesampainya aku di Dapur, aku sangat bingung dan kaget dengan suasana dapur yang tidak biasa.


"Lohh kok sepi??" Tanyaku kebingungan.


Ayah tidur di kamar, aku sudah mengeceknya tadi..


Tapi, tidak ada satupun pelayan di rumah ini! aku bahkan sampai tidak tau kenapa rumah begitu sepi.


Dapur itu terasa sangat lembab dan gelap, piring kotor dan perlengkapan Dapur yang belum sempat di bersihkan itupun masih berserakan dimana-mana.


"E-hehhh... Nggak ada makanan!!" Aku membuka Lemari Makanan dan tudung saji yang ada di atas meja makan.


Kataku sambil memperhatikan meja dan bekas makanan basi di meja itu.


"Lah ini siapa yang mau beresin coba? masa iya, aku yang mesti beresin ini semua sendirian... Kan capek!" Keluhku.


Huuhhhfftttt... Saat aku sedang sibuk berkomentar buruk dengan keadaan Dapur yang kacau itu.


Tiba-tiba ada angin lembut yang bertiup, menembus, dan mengerayap di seluruh tubuhku..


Suasana Ruangan yang sangat mencekam itupun, turut membuat seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri merinding.


Aku sama sekali tidak berani menoleh ke arah manapun.


Mataku, kusipitkan supaya aku tidak dapat melihat dengan jelas apa saja yang ada di sekitarku.


-Ya Tuhan lindungi aku- Dalam hatiku.


Aku benar-benar ketakutan setengah mati, tubuhku bergetar dan tanganku juga terasa sangat kaku tidak dapat aku gerakkan.


Telapak tanganku semakin bercucuran keringat panas dingin tidak menentu.


Apa lagi ketika.. Aku mendengar sesuatu memanggil-manggil namaku dengan nada yang terdengar samar-samar.


"Aisyahh..."


.


.


.


"A-iiiss-syaa-ahh..."


.


.


.


"Aisya-ahh..."


(Huhhhhfft.......)(Fyuuuuuhhhfftt....)


Iringan angin lembut menambah ketegangan di Ruangan itu.


Decitan kaca meja di depanku yang tengah menari-nari sedari tadipun semakin terdengar jelas memecahkan telingaku.


(Ciieeeetttt....) (Ciiieeeee....ttt) (Ciii...eeeett...)


Jantungku semakin memburu nafasku. Nafas yang semakin terengah-engah itupun membuat seluruh tubuhku semakin berkeringat deras.


Aku benar-benar ketakutan.


Lampu Dapur mulai berkerlap-kerlip seperti lampu rusak, dan hawa dingin ini seperti bukan hawa dingin yang biasa.


Seram..! gelapnya malam semakin mengelumat seluruh jiwa ragaku.


-Sama sekali tidak ada orang di sini, aku takut, aku tidak berani menengok ke belakang- Dalam hatiku.


"Ya Tuhan! Ya Tuhan tolong aku..." Bisiku dengan lirih, aku takut hantu akan mendengar doaku dan terus menakut-nakutiku.


Saat aku semakin kuat memejamkan mataku ini sedemikian rupa..


Tiba-tiba dengan cepat dari arah belakang...!


"DORRR!!!"


Satu kalimat kecil itupun mampu memecah suasana dengan gebrakan hebatnya yang juga menghantam tubuhku dengan sangat-sangat kuat.


"HUUUUAAAAHHHHHHHHH...!!!" Teriakku sambil menarik tanganku untuk menutup mata dan berjongkok secepat kilat.


"Ahahahahaha! Ahahahahahahahaha.." Suara tawa tak asing itu.. Menyimpulkan hal yang cukup tidak menyenangkan bagi diriku.


Adam telah menjahiliku!


Dialah orang yang sedari tadi mengipas-ngipas dan meniup-niup tubuhku agar aku merasa takut, dia juga yang sudah membuat suara-suara seram yang aku dengar tadi.


Bodohnya aku!, aku menutup mataku sehingga aku sama sekali tidak sadar akan kehadirannya di ruangan itu.


Akupun dengan reflek yang cepat, mengambil posisi jongkok sembari terus menutupi kedua mataku dengan tubuh dan jantungku yang semakin bergetar hebat.


"Adam!!!" Bentakku sambil gemetaran, aku menangis..


Setelah aku tau bahwa itu adalah perbuat jahil Adam..


Aku segera berdiri dan membuka kedua mataku yang penuh air mata itu di depan Adam.


Aku menamparnya! Dan...


(Plaakkkk!!!) satu tamparan keras itupun cukup mewakili perasaanku selama ini.


Adam terlihat mengelus-elus pipinya yang terlihat memerah kesakitan.


Aku langsung pergi meninggalkannya di tempat itu dan lari menuju Kamarku.


"Maaf Aisyah! aku tidak bermaksud membuatmu menangis.. Maaf Aisyah! maaf..." Ucapnya dengan raut pilu di wajah karna telah merasa bersalah.


Adam mencoba menenangkanku. Namun, aku sudah terlanjur pergi meninggalkannya.


"Aisyah! tu-tunggu!"Serunya, Adam mengejarku ke lantai atas.


Sesampainya dia di depan pintu kamar, dia mencoba mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali dan mencoba untuk masuk ke dalam.


Tapi, hal itu sudah tidak berguna lagi.. Aku sudah lebih dulu masuk dan mengunci pintu Kamar itu serapat mungkin, dia tidak akan bisa masuk kedalam Kamar tanpa seizinku lagi.


"Aisyah, buka pintunya... Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu menangis! maafkan aku Aisyah!"


"A-aku hanya ingin tertawa bersamamu, aku ingin sekedar menjahilimu, Aisyah...! bukan karna aku ingin melihat ini, tolonglah dengarkan aku!" Bujuknya.


Aku menutup telingaku rapat-rapat, di balik pintu itu.. Aku menangisi segalanya.


Tidak hanya soal sepele itu, tetapi aku juga semakin meratapi hidupku yang penuh drama ini.


Takdir, yang tak pernah di duga-duga membuatku begitu putus asa..


Aku benar-benar belum bisa ikhlas menerima segalanya.


Tak lama, setelah aku puas meratapi nasib burukku itu.. Akupun memutuskan untuk merebahkan tubuhku kembali di atas Tempat Tidur, lalu memejamkan mataku.


Ternyata, Tuhan tidak sepenuhnya tidak berpihak kepadaku..


Setelah rasa sesal yang teramat dalam itu menjejali seluruh isi pikiranku.


Akhirnya rasa sesak serta air mata ini sudah membuat mataku terasa lebih berat..


Rasa kantuk, yang semakin terasa mengelilingi bola mataku itupun membuatku kembali tertidur dengan sangat pulas.


Aku terlalu lelah dan stres menghadapi cobaan yang begitu berat, aku hidup di dunia dengan penuh rasa sakit dan haus akan kasih sayang seseorang.


Soal Adam, aku tidak peduli dia tidur di mana.


-Kenapa juga aku harus peduli pada orang seperti dia- Dalam hatiku.


Aku tidak lagi mendengar ketukan pintu di Pintu kamar.. Mungkin, adam sudah pergi dan tidur di Kamar tamu.


Akan lebih lega lagi, jika dia benar-benar tahu diri.. Dan, mau pergi meninggalkan hidupku untuk selama-lamanya.