
Saling membisu, itulah hal pertama yang sedang terjadi saat ini di antara kami berdua.
Masing-masing dari kami justru merasa bingung akan melakukan hal apa.
Akupun tidak mungkin meninggalkannya begitu saja tanpa menyeselaikan tugasku sebagai seorang(Istri Dadakan)kali ini.
Walau bagaimanapun aku juga tidak ingin mengingkari kata-kataku kepada Ayah untuk merawat Adam menggantikan posisinya.
Melihat Adam yang masih dalam posisi terlentang membuatku berinisiatif untuk memulainya dengan membantunya duduk bersandar pada bantal yang telah aku sisipkan di bagian punggungnya.
"Biar aku bantu duduk"
Saat aku mulai mendekat dan menyentuh tangannya. Aku tidak sengaja sedikit melirikan mataku mengarah padanya.
Ku rasa, saat itu bibir Adam masih terlihat sedikit pucat.. Namun suhu tubuhnya sudah mulai terlihat membaik.
Aku mengambil perlengkapan mandi dari atas meja di samping sofa, dan menaruhnya di atas meja di samping tempat tidur.
"Airnya sudah agak dingin, biar ku ganti dulu sebentar.."
"Tidak perlu! biarkan seperti itu!"
Adam mencegahku mengganti air yang sudah terlanjur dingin itu, wajah Adam terlihat menunduk seakan dia sedang merasakan atau memfikirkan sesuatu di dalam dirinya yang sama sekali tidak dapat dia bagi denganku.
Tiba-tiba sikapnya berubah dingin padaku.
Dengan mengerahkan para jari jemariku yang gemetaran dan hatiku yang berdebar-debar, perlahan ku buka seragam pasien yang sedang dia kenakan.
Aku sedikit malu melihat tubuhnya, aku membuka satu demi satu kancing bajunya itu dengan kedua mataku yang ku tutup rapat-rapat supaya aku tidak dapat melihat hal yang senonoh itu dengan gamblangnya.
"Kenapa menutup mata? apa aku semenjijikan itu dimatamu?" Seru Adam, dengan wajah yang masih tidak menoleh sedikitpun ke arahku.
"Jika kau terpaksa, kau boleh pergi!"
Aku sangat kaget mendengar hal itu keluar dari mulutnya.
-Ada apa dengannya? bukannya dia senang jika aku membantunya untuk membuka baju lalu memandikannya! bukankah ini tujuannya?... Lalu, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah menjadi sangat angkuh seperti itu?- Dalam hatiku.
Dengan fikiranku yang terus bertaburan kemana-mana, aku mencoba untuk tetap melanjutkan aktifitasku membuka kancing baju Adam dengan mata yang masih ku tutup sekencang mungkin.
Aku mencoba mengabaikan kata-katanya dengan diam seribu bahasa dan menutup telingaku rapat-rapat.
Tanpa ku sadari, secepat kilat Adam mengarahkan kedua tangannya untuk menggenggam kedua pergelangan tanganku dengan sangat kasar lalu meremasnya sekuat tenaga.
Matanya melotot padaku seakan dia sedang dalam mood yang sangat-sangat tidak baik, dan aku sedang berada di posisi yang kurang menguntungkan.
"Aaauuugghhhhhh! sakit!!!" Suaraku menggema di udara, rasa sakit karna pergelangan tangan yang di remas itu benar-benar tidak terelakan lagi.
"Ohhh... Maaf! aku tidak sengaja!" Dengan cepat dia melepas genggamannya, seketika setelah dia mendengar jeritanku yang sangat keras itu.
"Kamu ini sebenarnya kenapa? tanganku rasanya sakit sekali... Rasanya, benar-benar seperti mau patah!"
Mataku tidak mampu menahannya lagi, buih air mata itupun perlahan menetes menyusuri pipiku tanpa di sengaja dan tanpa memberikan aba-aba apapun.
Air mataku mengalir perlahan-lahan melewati daguku lalu terjatuh di antara Tubuhku dan juga Adam.
"Apa kamu menangis?"
"Tidak!"
Aku menghapus air mataku secepat mungkin menggunakan tanganku yang masih terasa sedikit sakit dan juga sangat lemas, Adampun kembali memalingkan wajahnya dan terdiam lagi.
Aku sama sekali tidak mengerti dengan situasi Adam saat ini, tingkahnya itu sangat sulit di tebak!
terkadang dia tertawa dan jahil, terkadang dia tersenyum manis kepadaku, terkadang dia sangat pasrah dan mengerti keadaanku, terkadang dia juga ceria selalu bersikap seperti manusia tanpa dosa di depanku.
Tapi, hari ini aku baru melihatnya bersikap sekasar ini. Seperti, ada sesuatu yang membebani fikirannya setiap waktu, dan aku tidak mengetahui hal apa itu.
Tanpa berfikir lebih keras, akupun memberanikan diri untuk kembali melanjutkan aktifitas kami tadi.
Aku membuka semua baju yang melekat pada tubuhnya, mengambil lap handuk yang sudah aku celupkan kedalam air di dalam baskom itu, lalu memerasnya sedikit untuk menghilangkan kadar air di dalam lap kurang lebih 85%.
Kali ini aku tidak lagi memejamkan kedua mataku, aku takut perlakuan buruknya tadi akan terjadi lagi jika aku menutup kedua mataku sewaktu aku membersihkan tubuhnya.
Ini adalah pengalaman pertama aku memandikan seorang Pria dalam hidupku, rasanya begitu (Dag-Dig-Dug) tak menentu dan jari-jariku juga terus bergetar sendiri dari tadi.
Kulihat, dada Adam berbentuk kotak sempurna dan terlihat sangat kokoh, di bagian perutnya terdapat perban yang melilitnya guna menutupi luka tusukan itu, bahunya sangat bidang dan luas, kulit putihnya itu terasa sangat halus dan juga bersih.
Aku heran kenapa seorang Pria kasar seperti dia bisa memiliki kulit putih sebersih ini, ku lihat di sekitar Ruangan itu.
Ruangan itu juga sangat terlihat rapi dan juga bersih mengkilap.
Sungguh, ini adalah pemandangan yang sangat luar biasa! dia juga sedikit terlihat sangat menawan hari ini.
-Aku baru pertama kali, memperhatikan Adam sampai sedekat ini.. Hatiku! kenapa aku merasa gelisah berada di dekatnya?- Dalam hatiku.
Ahh.. Rasanya sangat aneh, kegelisahan ini semakin membuatku tidak nyaman! sepertinya memang aku tidak cocok dengan Adam jika harus berpasangan apa lagi melakukan aktifitas khusus seintim ini.
Aku mengelap tubuhnya perlahan-lahan dengan handuk itu sebersih mungkin, saat aku sedang sibuk mengelap tubuhnya itu.
Tiba-tiba, Adam kembali menggenggam kedua pergelangan tanganku dengan kedua tangan lembutnya. Kali ini, cengkramannya tidak terlalu kasar bagiku.
Tak lama kemudian.. Adam menarik kedua tanganku dengan cepat lalu mengarahkan wajahnya supaya dekat dengan wajahku.
"Tu-tunggu dulu! ke-kenapa wajahmu begitu dekat denganku!"
"Kenapa?, karna aku sangat menyayangimu!"
Aku tersipu malu, aku tidak sedang terbawa suasana.
Tapi, itu terjadi secara tiba-tiba jadi aku bingung harus bertingkah seperti apa di depannya.
Aku tersenyum di depannya dengan wajah yang memerah dan mata yang tidak bisa diam melirik kesana-kemari.
"Jangan tersenyum!" Hardik Adam.
"He-eeh?!" Aku kanget sekali, tubuhku bergetar semakin kencang.
-Tuhan! apa dia marah? tapi kenapa?- Dalam hatiku.
Wajah Adam terlihat sangat serius. Mata kami saling menatap satu sama lain dalam keheningan itu, kami saling terlelap dalam keheningan dan kecanggungan itu lebih dalam.
"Ke-kenapa lagi? To-tolong jangan melakukan hal yang buruk padaku! aku janji aku tidak akan tersenyum padamu. Tapi, berikan alasan yang masuk akal padaku! Ke-kenapa!"
Aku menutup mataku dan memalingkan pandanganku padanya, tangannya semakin kencang menarikku lebih dekat.. Lebih dekat.. Lebih dekat.. Dan lebih dekat lagi dengannya.
(Dag-Dig-Dug)jantung ini berdeguk semakin kencang, dan...! (Huhhfft)(Huhhfft) (Huhhfft)(Huhhfft)(Huhhft)
Nafasku semakin terengah-engah tidak menentu.
"Jangan menunjukan senyum manis itu lagi di depanku! Karna jika kamu terus tersenyum seperti itu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Maka, hal itu hanya akan menimbulkan perasaan rindu di dalam hatiku"
Akupun terkejut mendengar hal itu, pipiku kembali memerah, dan aku semakin tidak bisa berkutik, tubuhku kaku seperti batu.
Ini adalah situasi paling canggung yang pernah aku rasakan.
Perlahan-lahan mataku terbuka lebar, dengan wajah yang semakin memerah seperti Apple, dan rasa panas dingin itupun semakin menyelimuti tubuhku.
Adam menghentikan cengkraman tangannya lalu perlahan-lahan mengarahkan tangannya kembali kewajahku, tangan adam semakin dalam menyusuri pipiku sampai di telingaku, mengelus-elus kerudungku lalu mencium keningku dengan sangat lembut, suasana tegang itupun seketika berubah menjadi suasana yang sangat romantis dan manis.
Tak ku sangka, akan ada sebuah kecupan mesra yang mendarat dengan damai di dahiku hari ini.
Kecupan ini sangat berbeda dengan kecupan yang pernah Alexas berikan padaku sewaktu aku masih bersama dengannya dulu.
Aku dapat merasakan ketulusan dan cinta yang besar tersalurkan dengan sempurna melalui sentuhan bibir yang lembut di keningku ini.
"I-ini...." Aku meletakan Baskom dan perlengkapan mandi lainnya di atas paha Adam.
"Aku serahkan sisanya untukmu, sekarang kewajibanku sudah selesai sampai di sini"
Aku meninggalkan Adam di tempat itu sendirian.
Dengan tubuh yang baru setengah ku bersihkan, Adam akan baik-baik saja jika ku tinggalkan dia seperti itu.
Meskipun begitu, Adam terlihat sangat senang dangan pelayananku yang tanpa keikhlasan sedikitpun.
Akupun akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari Ruangan itu, berlari sekuat tenaga, membuka pintu itu, lalu menutupnya kembali.
Aku bersandar di pintu itu sambil menekannya supaya tertutup sangat rapat, tanganku terasa sangat kaku dan tak berdaya lagi.
Air mataku kembali menetes, melembabkan pipiku yang sempat mengering karena waktu.
"Kenapa? kenapa harus Adam yang menikahiku! kenapa harus Adam yang aku benci kenapa!"
Aku merasa frustrasi dengan semua yang terjadi dalam hidupku, aku tidak ingin membenci siapapun!
aku tidak ingin menghianati siapapun!
aku juga tidak ingin bersekongkol untuk menghancurkan siapapun!
Tapi, takdir sudah berkata lain..
Takdir sudah membawaku ke keadaan dimana aku harus membenci seseorang dan mengutuk seseorang.
Takdir kejam yang memisahkan seseorang yang aku cintai, dan mempertemukanku dengan seorang Pria asing yang sampai kapanpun tidak akan pernah aku akui sebagai bagian dari hidupku.
Aku harus membenci orang-orang di sekitarku agar aku bisa lepas dari takdir terkutuk ini.
"Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi semakin lama!"
Tekadku untuk menyingkirkan Adam dalam hidupku akan aku mulai lagi dari sini.
Takan aku sia-siakan waktuku sedikitpun, akan aku gunakan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk menyingkirkannya dan membuat dirinya menyesal karna telah menggertaku, membuatku takut, dan menciumku tanpa seizinku.
-Tapi, perasaan aneh ini masih saja menggangguku... Jantungku masih saja berdetak kencang seperti ini- Dalam hatiku.
Alexas! aku kembali teringat lagi dengannya. Karna dia jugalah! aku harus menanggung kenyataan pahit ini sendirian.
Aku juga mengutuknya! aku tidak akan tinggal diam di sakiti dan di tinggal pergi seperti ini, aku akan berjuang dengan caraku sendiri untuk mencari pengakuan yang sesungguhnya dari dirinya!.
Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku, dan dia harus kembali lagi untuk memperbaiki semua kesalahannya padaku sebab.
Aku sangat membencinya! aku sangat-sangat membencinya! aku sangat membenci dirinya itu..
Aku ingin dia kembali lagi denganku!
-Dan aku tidak mau kehilangannya, lagi!- Dalam hatiku.