The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Rencana Tahap Ketiga(Membujuk Ayah)



Padahal..


Aku sama sekali tidak pernah menceritakan apapun soal rencana itu pada siapapun, selain Nadia dan Rudi.


Tapi, kenapa Ayah bisa tau?.


"Tu-tunggu dulu! jangan memandang Ayah dengan wajah aneh seperti itu. Ayah tau ini rencana kamu dengan Nadia, yaa... Karena..."


"Karna! kamu sama Nadia itu sahabat dekat. Ya... Haha(tertawa aneh)itu dia maksud Ayah!" Sambungnya, sambil menunjukan jarinya kearahku.


Benar juga, siapa yang tak bisa menebak hal itu dengan sangat mudah.


Mengingat, hubungan persahabatan kami yang sudah berlangsung sangat lama itu, sudah membuat masing-masih dari kami sangat terbuka satu sama lain.


Tentu saja, hal itu sangat mudah untuk di tebak.


-Tapi, aku harus tetap menyembunyikam fakta itu dari Ayah!- Dalam hatiku.


Aku sudah berjanji, saat kami bertiga masih berada di dalam di Caffe itu.


Kami bertiga sudah sepakat, bahwa kami akan menyembunyikan fakta soal asal-usul ide itu di buat, dan tujuan dari ide itu di bentuk.


Ayah tidak akan pernah setuju, jika dia sampai tau bahwa Nadia adalah dalang dari semua ini.


Semenjak Ayah mengenal Adam.


Dia sama sekali tidak suka jika aku dekat-dekat dengan Nadia..


Padahal, Nadia itu baik!


Dia sahabat terbaikku sejak aku masih kecil. Dia yang selalu ada untuk mendukungku di setiap langkah rumit dalam hidupku.


Tapi, Nadia di mata Ayah justru sangat berbeda, dari sosok Nadia yang ada di pandanganku selama ini.


Menurutnya, Nadia itu hanya membawa pengaruh buruk untukku.


Pendapat itu juga di dasari tanpa adanya sebuah alasan yang jelas.


Maka dari itu, keputusan kami untuk menyembunyikan fakta di balik rencana ini padanya, adalah satu keputusan yang paling tepat.


Apa lagi, jika rencana ini memang bertujuan untuk menyingkirkan Adam dari kehidupanku.


Wah! bisa sangat gawat kalau Ayah sampai tau segalanya, sebelum rencana itu sempat terrealisasikan dengan baik.


"Itu rencana Aisyah sendiri kok, Ayah nggak perlu khawatir berlebihan seperti itu"Tegasku.


"Huhhhfft.. Syukurlah.." Ayah menghela nafas, sembari mengelus dada, untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Jadi.. Mau, nggak?"Bujukku, dengan memasang wajah semanis mungkin.


-Ah, manisnya putriku...(super terpesona)- Dalam hati Ayah.


"Kalo itu benar-benar ide kamu, tanpa ada campur tangan orang lain. Ayah dengan senang hati, akan menuruti semua permintaan Putri Ayah yang satu ini!" Ayah merangkul pundakku, mendekapnya, lalu tersenyum.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"


Aku menjelaskan segalanya pada Ayah.


Aku memperkenalkan Ayahku dengan Rudi lewat Tellphone, dan membuat janji bertemu dengannya.


Lusa, kami akan bertemu untuk membicarakan rencana pengobatan Ayahku itu. Di Rumah Sakit Siaga Medical, tempat dimana Rudi melakukan praktek pengobatannya.


-Yey! akhirnya, Ayah akan mendapatkan pengobatan yang lebih layak!- Dalam hatiku, penuh gembira.


Biasanya, Ayah akan sangat sulit untuk di ajak bicara.. Jika itu menyangkut dengan penyakitnya.


Tapi, syukurlah hari ini sedikit berbeda.. Tanpa sungkan-sungkan, dia sudah mengizinkan kami, untuk merawatnya dengan senang hati.


"Oh ya, ada satu hal yang ingin Ayah tanyakan terlebih dahulu denganmu. Hal ini menyangkut Adam, suamimu!" Ayah menarik kembali tangannya dari pundakku.


Lalu, mengajakku untuk duduk di kursi. Di bagian depan gedung Rumah Sakit.


-Hah? Adam?-Dalam hatiku.


"Apa Ayah boleh membicarakan hal ini dengan Adam?"


"U-untuk apa? haha (tertawa kecil), ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia!"


"Ayah tetap akan membicarakan ini terlebih dahulu, dengan Adam dan Sekertaris Ken. Walau bagaimanapun mereka berhak tau, tentang hal besar apa saja yang akan Ayah lakukan!"


Sial! aku sama sekali tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang aka terjadi.


Jika mereka berdua sampai mengetahui semuanya.


Mereka berdua itu sama kacaunya.


Sama-sama rempong dan punya pemikiran yang kritis.


Mereka pasti tidak akan mengizinkan Ayah, untuk pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.


Meskipun aku tau, Dokter yang nantinya akan menangani Ayahku itu adalah Dokter yang sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya.


-Tapi, tetap saja! tidak semudah itu!- Dalam hatiku.


"Tidak,tidak, jangan Yah!" Seruku.


"Hah?"


"Mereka itu sangat merep--"


Hampir saja keceplosan! aku langsung menutup mulutku rapat-rapat, untuk menambal kebocoran fatal dari mulutku itu.


"E-heh! bukan, bukan! Maksudku.."


Aku menggeleng-gelengkan kepala, sembari melambai-lambaikan tanganku di depan Ayah.


"Aku hanya ingin kita berdua yang terlibat dalam hal ini, jangan seret orang lain dalam urusan pribadi kita! itu kebiasaan yang sangat buruk!" Seruku.


-Aduh, aku ini bicara apa sih?? mana mungkin alasan seperti itu bisa di terima dengan baik! Bodoh! Bodoh! aku Bodoh!-Dalam hatiku.


Aku sangat gugup dan khawatir, aku paling tidak bisa berbohong di depan Ayah.


Ya tuhan! aku tidak tau harus berbuat apa lagi, otakku benar-benar buntu hari ini.


Aku sama sekali tidak bisa mencari alasan yang lebih menarik, dan lebih masuk akal selain itu.


"Ok! jika itu keputusanmu!"


"E-heh........???????????"


Aku terkejut bukan main.


Tak kusangka, alasan sesederhana itu berhasil mengelabui Ayah dengan sangat mudah.


Mungkin karrier keGeniusanku dan berbohong akan di mulai dari sini.


Sudah kuduga, Orang-orang Classic seperti Ayah memang hanya membutuhkan alasan yang juga sama Classicnya.


-Yiipppiii!!!!(bersorak pora!)-Dalam hatiku.


Setelah itu..


Ayah langsung menyuruhku untuk pulang ke Rumah dan mempersiapkan semua kebutuhan pengobatannya secepat mungkin.


Dia berpamitan kepadaku untuk terlebih dahulu masuk kedalam Rumah Sakit, dan mengecek keadaan Adam, sekali lagi.


Setelah itu, dia berjanji akan segera menyusulku untuk pulang ke Rumah.


Tanpa mengatakan apapun mengenai rahasia itu kepada Adam.


Dengan senang hati.. Akupun langsung mempercayainya, dan mengiyakan semua kata-katanya.. Tanpa berfikir apapun.


****


"Ayah..?" Adam terkejut, melihat kedatangan Ayah keRuangannya yang sama sekali tidak dia sadari.


"Seperti biasa, Ayah selalu saja membuatku kaget dengan kedatangan Ayah, yang selalu saja tiba-tiba!" Adam tersenyum.


Ayah hanya meliriknya dengan sangat dingin, mengabaikannya, lalu berjalan mendekati sofa dan duduk di atasnya.


Wajah Ayah menekuk dahi, bibirnya terus membusung, sedangkan mata berwarna kecoklatan itu terlihat melamun, menatap lantai Ruangan.


Sedangkan tangannya, melipat di dada..


Dengan posisi punggungnya yang menempel pada sofa, merebahkan tubuhnya.


"Ada apa?" Tanya Adam dengan nada yang serius.


Ayah mulai memangkat kepalanya, memandang mata Adam dalam-dalam.


"Manusia licik itu, sudah mulai bergerak!"


Ayah segera berdiri dari sofa, lalu melangkah menuju Tempat Tidur Adam dan menggebraknya sekuat tenaga.


"Kurang ajar! kita sudah kecolongan start, Dam!" Seru Ayah.


"Oh. Sejak kapan?" Adam menjawabnya dengan santai, tetapi sambari berfikir.


Pembicaraan mereka berlangsung sangat serius sekaligus misterius.


"Aku tidak tau persis. Tapi yang pasti, dia sudah membuat Putriku yang lugu itu berani membohongi Ayah kesayangannya sendiri!"


"Jelaskan secara rinci!" Pinta Adam.


****