The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Harapan Yang Muncul Di Saat-Saat Terakhir



Adampun tersenyum..


-Rupanya, ada yang tidak rela aku kalah begitu saja!-Dalam hati Adam.


"Aku bersumpah! tidak akan mengingkari sumpahku sendiri!"Seru Adam.


Dia langsung memasang kuda-kuda di depan Sekertaris Ken, dengan tubuh yang sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk.


Mata Adam, menajam, menembus, menatap mata Sekertaris Ken.


Harga diri yang tadinya terbuang sia-sia itupun, kini kembali dengan keyakinan sepenuh jiwa.


Sekertaris Ken terlihat sangat terkejut.


Dia sangat senang jika di berikan waktu untuk bermain-main dengan Adam lebih lama lagi..


Tapi, ketika dia melihat mata Adam dia merasa ada yang berbeda dari tatapan sinis itu.


-Sorot mata menusuk tanpa rasa takut itu, tidak sama seperti tatapan seorang berandalan muda, yang aku temui beberapa tahun silam..-Dalam hati Sekertaris Ken.


Adam tidak peduli lagi tentang kemenangan ataupun kekalahan yang akan dia raih hari ini.


Dia hanya ingin membuktikan kepada Sekertaris Ken, siapa dia yang sebenarnya dan sebesar apa kepeduliannya terhadapku(Aisyah).


Demi, Ana..! Seseorang yang sama sekali tidak dia kenal di dalam ingatannya.


Dan demi aku, seorang wanita yang dia cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya.


Dia rela mempertaruhkan apa saja..


Termasuk nyawanya sendiri.


(Wuuussshhh)


Angin berhembus dari arah selatan (sebelah kiri Adam)dengan sangat kencang.


Hawa dingin yang menerpa tubuh Adam karena hembusan angin tersebutpun, membuat luka di seluruh tubuh Adam semakin terasa menyakitkan.


Mata Sekertaris Ken tak bisa berhenti menatap Adam dengan tatapan buasnya itu.


Dia segera memasang kuda-kuda yang lebih tegap lagi kokoh, dari pada sebelumnya.


-Sekarang, waktunya untuk bersenang-senang-Dalam hati Sekertaris Ken.


Dia kembali melangkahkan kaki besarnya itu menuju santapan paginya.


Adam terus memasang tubuhnya, sekuat dan semampunya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Hyyaaaaaacckkkk"


Teriakan Sekertaris Ken, ketika dia tengah berusaha menghancurkan beton pertahanan itu, dengan seluruh kekuatan yang ada pada kedua tangannya.


Adam terus berusaha bertahan.


Dia tetap tersenyum selebar mungkin, meskipun serangan bertubi-tubi itu terus datang menghampirinya.


Masih ada harapan untuk bertahan..


Percaya pada keyakinan yang sebelumnya telah goyah, adalah hal yang tidak mudah.


Tapi, seseorang yang punya semangat juang yang tinggi dan memiliki sebuah tekad yang kuat.


Dia tidak akan peduli tentang hal buruk apa yang telah menimpa dirinya, dia akan tetap bangkit dengan seluruh kekuatan yang ada pada jiwa raganya.


Sekalipun, dia hanya memiliki sebuah motifasi kecil untuk melakukannya.


Itulah sang pria sejati..


Mereka akan melakukan hal yang besar, demi untuk melindungi seseorang yang sangat mereka sayangi, sekalipun mereka harus tetap bertahan hidup lalu mati tanpa mampu memiliki sedikitpun.


(Tappp!!!)..


(Taaaaaappp!)..


(Plaakk!)..


(Buuggh!)..


(Srakkkk!!!)..


(Crakk!)...


(Bugghh!)....


Serangan yang sangat berfariasi itu semakin menunjukan sisi negatifnya.


Tangan Adam yang mulai mati rasa dan seakan lumpuh itu, tidak mampu lagi menahan gelombang serangan tersebut.


(Hahahaha)Tawa Sekertaris Ken.


"Apa kau sudah ingin menyerah? ini baru permulaan, Adam. Aku bahkan belum sempat menyentuh nyawamu sedikitpun!"Seru Sekertaris Ken, sembari terus memukuli Adam.


Adam tersenyum..


"Luka di tubuh saya ini belum seberapa, di bandingkan dengan luka yang masih membekas di hati saya, saat saya harus melihat Aisyah berdampingan dengan laki-laki lain!"Adam terkekeh.


Dia memang melihat keseriusan itu sudah ada pada diri Adam.


Namun, dia masih ragu dan masih tetap tidak bergeming dengan perkataan Adam barusan.


Selanjutnya..


Dengan fikiran kebencian yang masih sangat tersimpan di dalam hatinya.


Sekertaris Ken mulai menendang di bagian perut Adam, yang sudah terluka akibat tusukan waktu itu.


(Hhoooaaaaakkkkh)Darah merah itu kembali memuncrat dari dalam mulut Adam.


Namun, Adam masih saja bersikeras untuk tetap kembali tersenyum dan kembali bangkit, memasang tegap tubuhnya untuk menahan seluruh hantaman maut tersebut.


Sekertaris Kenpun langsung terkejut, dia terpaku melihat apa yang telah Adam tunjukan kepadanya..


Setelah semua serangan besar itu benar-benar menghancurkannya, Adam justru terus tersenyum tanpa ragu dan terus bangkit dari rasa sakit.


Sekertaris Ken mulai menghentikan serangannya.


"Kenapa berhenti?"Tanya Adam, sembari terus memasang kuda-kuda tanganya, yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya.


"Aku hanya, memberimu sedikit nafas agar tetap hidup!"Kata Sekertaris Ken.


Sekertaris Ken mulai heran dengan apa yang Adam lakukan di hadapannya..


Dia sangat lemah dan tidak berdaya, dia sempat jatuh berkali-kali dan di pukul sampai mengeluarkan begitu banyak darah.


Harusnya, jika itu orang lain..


Mungkin orang itu sudah tewas sedari tadi.


Tapi, dia masih tetap berdiri meskipun Sekertaris Ken sudah membuatnya babak belur seperti itu.


-Sebenarnya, dia itu manusia atau monster?-Dalam hati Sekertaris Ken.


Mata Adam mulai terasa berkunang-kunang, tangannya tak kuat lagi untuk tetap bertahan.


Kakinya gemetaran, dan keringat dingin bercampur darah terus bercucuran dari sela-sela kulitnya.


-Tuhan, Apakah ini adalah akhirnya?-Dalam hati Adam.


Tiba-tiba..



Sekelebatan ingatan itu semakin tampak jelas di kepalanya.


"Ah siapa mereka?"Tanya Adam, sembari bergumam.


-Seorang pria sejati.. Tidak akan menghianati sumpahnya sendiri!


Kata-kata yang sangat syarat akan arti tersebut, begitu menganggunya..


Pertanyaan -pertanyaan gila mulai muncul di kepalanya.


-Ah! dia sama sekali tidak mau membiarkan aku untuk menyerah begitu saja! dasar anak kecil aneh menyebalkan!-Dalam hati Adam..


"Tapi, aku benar-benar sudah berusaha sangat keras! setidaknya.. Tunggu aku hidup kembali, di kehidupan selanjutnya!"Kata Adam, dengan mata yang semakin terasa berat.


Tangannya terjatuh lemas, lututnyapun ikut terjatuh kelantai..


Matanya terpejam, tertunduk dan Adam tidak mampu lalu untuk menopang beban tubuhnya..


Dan.. (Brruukkk)


Mungkin, itu adalah akhir perjuangannya.


Dia akan jatuh dan tidak akan pernah bangkit kembali..


Tapi, hal yang lebih menarik justru terjadi sebaliknya.


Adam memang terjatuh, tetapi dia terjatuh tepat di pelukan Sekertaris Ken.


Sekertaris Ken dengan sigap berusaha menahannya, agar tubuh sang pejuang sejati itu tidak jatuh tengkurap lagi menyentuh lantai.


Dia memeluk Adam, dengan posisi kedua lututnya yang menempel ke lantai, lalu mengelus-elus punggung Adam.


"Sudah.. Tuan Muda, maafkan atas kelancangan saya selama ini"


"Saya janji, saya akan membantu anda dalam menaklukan hati Nona Muda.. Dan mengakui anda sebagai Tuan Muda saya!"Sambung Sekertaris Ken.


Melihat perjuangan Adam, yang begitu gigih berani untuk menunjukan dedikasinya dalam mempertahankan rumah tangganya denganku.


Membuat Sekertaris Ken, begitu bangga dan sangat menyesali perbuatannya.


Dia menilai, bahwa tidak ada laki-laki yang lebih pantas untuk mendampingiku selain Adam, di Dunia ini.


Hanya Adamlah, seorang laki-laki sejati yang mampu tetap berdiri dengan senyum di wajahnya, tanpa rasa takut, tanpa rasa khawatir, dan tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.


Berdiri dan bangkit, demi menunjukan perasaannya yang sebenarnya untukku..


"Maafkan saya tuan.. Tapi, sepertinya anda masih harus terus berjuang untuk tetap hidup, demi bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi anda!"Ucap Sekertaris Ken, sembari membantu Adam untuk segera berdiri dan membantunya untuk keluar dari tempat mengerikan itu.