The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Ada Apa Dengan Adam?!



Clarissa mencoba mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Adam.


"Aku sama sekali tidak faham" Katanya.


"Apanya yang tidak Faham?" Tanya Adam.


"Kamu menyuruhku untuk tenang, padahal sikapmu ini sudah sangat tidak wajar, sebenarnya apa yang ada di dalam diotakmu itu?" Seru Clarissa.


"Kenapa kamu menyerukan suaramu seperti itu? tidak bisakah kamu berbicara pelan di depanku? kamu itu perempuan! bersikaplah layaknya seorang perempuan!" Seru adam semakin meninggi.


Clarissa tersentak lalu terdiam..


"Aku tau apa yang aku lakukan, jangan mentang-mentang aku menyayangimu.. Kamu bisa bertingkah seenaknya saja!"


"Kenapa kamu bersikap seperti ini? Tapi--"


-Terkadang sikap Adam memang suka tiba-tiba berubah jadi seperti ini, tapi kenapa dia kembali menjadi Adam yang seperti dulu lagi! aku takut jika harus menghadapi sikapnya yang sekasar ini padaku- Dalam hati Clarissa.


"Akkhhhhhhh!!!! Sial! Kepalaku sakit! Akkkhhhh!!!" Adam mengerang-erang kesakitan.


Clarissa sangat panik dengan situasinya itu, tanpa aba-aba apapun tiba-tiba saja Adam berteriak kesakitan, dia memegangi kepalanya dan memutar-mutar, lalu tiba-tiba megebrak-gebrakan kepalanya ke atas dan kebawah seakan dia tengah merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Adam! coba tenangkan dirimu dulu, jangan terbawa emosi lagi!" Clarissa mencoba menenangkan Adam.


Tiba-tiba


"Aaakkkhhhh!!!..."


(PPRAAANNKKK)


Tangan Adam menampik tangan Clarissa, membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai.


Semangkuk Soup hangat itu berhamburan kemana-mana memenuhi tubuh Clarissa dengan Cairannya dan memecahkan mangkuk itu karna ikut terhempas ke Lantai sewaktu Clarissa terjatuh tadi.


"Ahhhhwww!! Mas Adam!" Teriaknya, mata Clarissa terlihat sangat berkaca-kaca.


"Ahhhhkkhhh! Huaaaahhhhkkkhh!!! Maaf Clarissa, tapi rasa sakit ini! Arrrgghhhhhh!"


Adam memejamkan kedua matanya, saat dia memejamkan kedua matanya.. Dia seperti tengah mendengar sesuatu.


~Kau harus berjanji padaku!


-Berjanji soal apa?


~Kau harus menjaganya demi aku!


-Maksudmu Adikmu?


~Iya! Adikku!


-Tentu saja, aku sangat menyukainya!


~Kalau begitu, jaga dia untukku!


-Ehmm! tentu saja! aku janji!


"Ahhhkkkhh sakit sekali!, Suara itu terdengar lagi! kenapa kepalaku sangat sakit saat mendengar suara itu? Akhhhhh!! Sialan!!"


Suara kedua Anak laki-laki yang asing itu terdengar setiap kali Adam bersikap buruk.


Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, namun Adam tau sangat tau persis kapan pertama kali dia terus menerus mendengar percakapan aneh itu di kepalanya yang membuat kepalanya terasa sangat kesakitan, hal itu di mulai saat dia mengalami suatu kecelakaan yang hebat, yang menewaskan ibunya dan membuatnya sempat koma beberapa bulan di Rumah sakit.


"Sial! Sial! Sial!.. Iya aku janji! aku janji akan menjaganya, tolong jangan mengangguku lagi! aku janji aku bersumpah! Aargghhhhhhkkhhh!!!" Rasa sakit itu terasa semakin menjadi-jadi.


"Aku bersumpah meskipun aku tidak mengingat apapun! aku berjanji padamu! tolong jangan lagi! aku mohon! rasa sakit di kepalaku ini benar-benar tidak tertahankan! Aaarrggghhhhh Aaaaahhhkkhh" Teriaknya.


Dan anehnya lagi, setiap kali Adam sudah berjanji seperti itu, rasa sakit yang tiba-tiba datang itupun akan berangsur-angsur sembuh sendiri.


Dia selalu percaya, bahwa rasa sakit yang sering dia derita itu hanyalah sebuah pertanda dan peringatan dari seseorang yang penting baginya di masalalu, dia percaya bahwa seseorang itu pastilah memiliki maksud lain di balik segelintir peristiwa atau percakapan-percakapan yang sering di ingat dan dengar secara samar-samar di dalam kepalanya.


"Mas Adam, maaf kalo Rissa sudah membuatmu sangat marah.. Tolong jangan bersikap sekasar itu lagi di depan Rissa" Clarissa berdiri dari lantai, kembali membujuk Adam supaya mau tenang dan mendengarkan setiap perkataannya.


Tangan Adam terlihat sudah mulai berhenti mengacak-acak rambut di kepalanya dan sudah mulai berhenti mengerang-erang seperti tadi.


Sepertinya rasa sakit itu, perlahan mulai menghilang dari kepalanya.


"Maaf, Mas Adam sudah bersikap kasar sekali denganmu.. Mas Adam hanya terbawa suasana, sama sekali tidak ada niatan untuk melukaimu sedikitpun" Katanya dengan mata yang sendu, dan wajahnya yang menunduk kebawah.


"Iyaa Rissa tau kok, Ya udah Rissa pamit pulang dulu ya.. Rissa harus membersihkan tubuh risa dulu" Kata Rissa sambil mengelus bahu Adam.


Adam yang sedari tadi duduk, mengabaikan Clarissa dan mencoba untuk merebahkan tubuhnya.


"Mau ku bantu?"


Adam masih tetap diam, Clarissa mengerti apa yang Adam rasakan, dan dia tidak mau lagi mempermasalahkan hal ini, dia membantu Adam untuk kembali tidur dengan tenang di atas kasurnya itu.


Adampun memejamkan kedua matanya, dan tak lama kemudian diapun terlihat sudah tertidur cukup lelap di balik selimutnya.


"Mas Adam, Rissa pulang dulu.. Rissa pamit ya mas, jangan bikin Rissa takut lagi.. Rissa sayang mas Adam!" Clarissa menundukan tubuhnya di depan Adam lalu mencium kening Adam dengan penuh kelembutan.


Saat Clarissa pergi dari Ruangan itu, Adam kembali membuka matanya.


-Maafin mas Adam Sa! Mas Adam udah kasar sama kamu, maafin mas Adam juga udah pura-pura tidur di depan kamu.. Mas Adam cuma pengen kamu cepet pergi dari sini, karna mas Adam butuh waktu buat sendiri- Dalam hati Adam.


Adam melamun menatap langit- langit Ruangan sendirian, dia tenggelam dalam ketidakpastian dan juga pertanyaan yang terus menyelimuti fikirannya.


Banyak hal yang sudah terjadi, dan dia tidak mengerti apa itu..


Banyak hal yang sudah berlalu, dan dia tidak memahami itu..


Banyak hal yang sudah di janjikan, dan dia tidak mengingat itu..


#Caffe


"huhhhfftt! Akhirnya selesai juga!" Kataku menghela nafas dalam-dalam.


"Coffe di sini rasanya nikmat sekali, ya! aku sangat menyukainya.. Dari dulu sampai sekarang rasa nikmatnya tidak pernah berkurang sedikitpun!" Lanjutku sambil menyeruput Coffe Latte yang sudah setengah habis.


"Iya, aku juga menyukainya"


Aku sudah selesai merangkum semuanya, dan aku berencana untuk memesan barang-barang yang di butuhkan nantinya di Sebuah Aplikasi Belanja Online yang terkenal Bonafid.


"Aku akan memesannya di Rumah, setelah aku selesai menyeruput kopiku ini, aku langsung pamit pulang ke Rumah ya!" Kataku penuh semangat.


"Okay!"


Aku sangat menikmati waktuku ini dengan Nadia, dia adalah satu-satunya sahabatku paling aku percaya di dunia.


Aku sangat senang, bisa menghabiskan segalanya dengan dia.. Andai aku dan dia ini saudara kandung, mungkin hidupku akan terasa lebih mengasyikan di bandingkan dengan sekarang.


"Tapi! aku tetap bersyukur bisa mengenalnya seperti ini" Gumamku.


"Hah! apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Nadia.


"Ahahaha (tertawa kecil) enggak kok, aku cuma sedang memperhatikanmu.. Sepertinya kamu sangat serius dengan pekerjaan kita ini!"


"I..itu! itu karna aku menyukainya, aku sangat menyukai setiap waktu yang aku habiskan denganmu" Katanya dengan Nada terbata-bata dan senyuman yang begitu manis di wajahnya.


-Sudah ku duga, dia juga berfikiran hal yang sama denganku- Dalam hatiku.


Hatiku sangat merasa senang mendengar itu, aku bahagia di anugrahi sahabat yang sangat peduli dengan hidupku ini.


-Aku sangat menyayangimu! Nadia- Dalam hatiku.