
Aku begitu kaget lalu berteriak begitu keras.
"Aaaaaa!! Adam!"
Mendengar teriakanku yang begitu keraspun membuat semua orang datang dan masuk ke Kamarku.
"Aisyah ada apa!. Lohh Adam! kenapa dengan Adam?" Tanya Ayahku.
"Iya Non, Den Adam kenapa non?" Tanya para pekerja yang pada hari itu sudah mulai bekerja kembali seperti biasa.
"Maaf Mbak, dari tadi mas Adam di suruh ke Rumah Sakit malah ngga mau, katanya mau nunggu Istrinya pulang dari Rumah temennya." Wanita asing itu berkata sembari berdiri di samping Adam yang sedang duduk lemas di atas Sofa.
-Siapa Wanita itu. Apa hubungan dia dengan Adam?- Tanyaku dalam hati.
"Mbak cepet tolongin Suami Embak, ini darahnya keluar terus dari tadi, kalo ngga cepet-cepet di tolongin saya takut Mas Adamnya kenapa-kenapa"
"Kenapa harus aku?."
"Maksud Embak??" Tanya dia.
"Iyaa. Kenapa harus aku? aku sibuk banyak sekali hal yang lebih penting yang masih harus aku urus!"
"Tapi Mbak ini Suami Embak udah nungguin Embak dari tadi loh.."
"Aisyah!" Bentak Ayah.
"Ada apa denganmu! dia suamimu! Cepat bawa dia ke Rumah Sakit!. Mau jadi Istri durhaka kamu?!."
Saat itu Ayahku terlihat begitu marah melihat tingkah burukku.
"Tapiiii Ayah..."
"CEPAT!!" Bentak Ayahku semakin keras.
-Hebat kamu Adam! Hebat!- Dalam hatiku.
Akupun terpaksa membawa Adam ke Rumah Sakit, aku tak punya pilihan lain aku harus membawanya pergi atau aku akan di marahi habis-habisan oleh Ayahku.
Aku dan Ayahku bahu membahu menggendong Adam keluar. Dia sangat terlihat pucat dan lemas. Tangannya terlihat menutupi sesuatu tetapi aku tak mau pedulikan itu.
-Dasar Adam sialan! Berat sekali tubuh kau! kenapa juga harus aku yang membawamu seperti ini! kalau bukan karna Ayahku yang meminta, aku pasti sudah membiarkanmu mati di dalam sana.- Dalam hatiku penuh benci.
Sesampainya di luar Rumah, Ayah menyuruh Pak Budi menyiapkan Mobil dari Bagasi untuk mengantar kami menuju Rumah sakit.
"Budii! Buddii! Cepat siapkan Mobil! Kita ke Rumah Sakit sekarang!"
"Lohh! Den Adam kenapa pak?" Tanya Pak Budi.
"Udah ngga usah banyak nanya! siapin aja Mobilnya sekarang! cepet! cepet!"
"Baik Pak!"
Tak lama kemudian Pak Budipun datang dengan menggunakan Mobil kami. Kami bergegas menuju ke Rumah Sakit. Di dalam mobil, posisiku ada di sebelah kiri Adam di bagian tengah Mobil, Ayahku menyenderkan kepala Adam di pundaku.
-Duhh berat sekali!, dia ini benar-benar membuatku selalu dalam kesusahan. Mau sampai kapan dia seperti ini- Dalam hatiku
"Mbakk, berat ngga? mau gantian?" Tanya Wanita itu, dia duduk tepat di belakang kami.
"Iyy.....a"
"Udah engga usah!" Tegas Ayahku.
Ayah menjawab pertanyaan Wanita itu dengan sinis, sepertinya dia sangat tidak menyukai Wanita itu.
"Aisyah bisa sendiri kok dia kan Istrinya Adam. Udah, kamu diam saja di situ." Tegas Ayahku lagi.
Wanita itu terdiam.
-Sial! padahal tadi itu kesempatan bagus.- Dalam hatiku.
Tak Lama kemudian, Adam mengigau. Dia sepertinya kesakitan, tubuhnya menggeliat dan tangannya yang sedari tadi menutup perutnya semakin kuat dia tekan.
"Aisyah kenapa Adam?" Tanya Ayah.
"Gina ngga tau Yah."
"Coba cek perutnya Adam!"
"Ngapain si Yah? ya paling kena tonjok apa memar dikit"
"Udah cek cepetan!" Bentak Ayah.
Akupun menuruti perkataan Ayah, aku membuka kemeja berwarna hitam itu dengan hati-hati. Ku lihat Darah di baju itu memang lebih banyak dari pada di bagian lainnya. Aku curiga Adam itu memang sedang kenapa-kenapa.
"Yah! Ayah! perut Adam berdarah!. hampir seluruh tubuhnya memar dan penuh darah, sepertinya darah tidak hanya keluar dari mulut Adam tetapi juga keluar dari perutnya" Kataku kaget melihat kondisi Adam yang semakin parah.
"Mbak! saya sebenernya udah tau itu, Mas Adam ngga cuma ngeluarin darah dari mulut tapi juga dari perut, makannya saya panik sekali dari tadi. Sebenernya, Mas Adam itu perutnya ketusuk pisau waktu mas Adam nolongin saya pas saya mau ngomong sama Embak, Mas Adamnya bilang katanya (ngga usah nanti Aisyah khawatir)." Jelas Wanita itu.
"Apa katamu!" Ayahku kaget.
"Coba lihat!" Ayahku mengecek perut Adam.
"Tapi kok ngga keliatan lukanya?" Tanya Ayah.
"Lukanya di tutupin sama tangan Mas Adam, coba Bapak liat aja tangan Mas Adam yang lagi megangin perut. Ini, Lukanya pasti di sini." Kata Wanita itu sembari mencoba membuka tangan Adam yang menutup luka di perutnya.
Sekeras apapun usaha Wanita itu untuk membuka tangan Adam, Adam tetap tidak mau membiarkannya begitu saja, usaha mereka sama sekali tidak membuahkan hasil, aku hanya diam melihat mereka semua panik dengan kondisi Adam yang kian menghawatirkan.
-Siapa juga yang mau peduli- Dalam hatiku.
Aku menoleh ke arah kaca mobil di sebelahku sambil melihat-lihat pemandangan yang kami lewati di sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Mereka semua masih berusaha untuk membukanya dan tetap tidak berhasil juga.
"Aisyah........ Aisyah......" Suara Adam mengigau memanggil-manggih namaku.
"Hemmmpp...." Kataku masih dengan posisi yang sama.
"Aisyah!. Adam manggil-manggil namamu dari tadi ini loh! kok malah cuek gitu sih!"Ayahku mulai terlihat emosi.
Aku benar-benar tidak peduli dengannya.
"iyaa Ayah.."
"Huhhhffftt" Suaraku menghela nafas..
"Adam. Udah deh, kamu seneng banget ya liat aku di pojokin mereka berdua kaya gini?. Udah dong aktingnya dong aduh..."
"Maaf Ais....syah.."
Adam terlihat sangat tidak karuan. Darah ada di mana-mana. saat itulah aku mulai sedikit khawatir.
"Ya udah. Pak Budi, tolong di percepat ya pak."
Aku meminta Pak Budi untuk mempercepat laju Mobil kami.
-Mau hidup mau mati. Selaluuuuu saja bikin orang orang lain susah. Hiihh!!-Dalam hatiku.
Setelah beberapa menit perjalanan. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
"Alhamdulilahh.. Akhirnya sampai juga" Kataku penuh rasa syukur.
-Sumpah! Badan aku pegel semua. Haduhhh Adam! Adam! awas kamu ya.- Dalam hatiku
Saat kami sampai di Rumah Sakit terdekat, Ayahku langsung memanggil Para Medis untuk membawa Adam ke ruang ICU.
Aku, Ayahku, Pak Budi, Dan Wanita Asing itu duduk di kursi tunggu sambil menunggu Dokter keluar dari Ruangan.
"Hey kamu!" Ayahku memanggil Wanita asing itu.
"Saya?"
"Iya kamu!"
"Iyaa Pak, ada apa ya?" Tanya Wanita itu.
"Ada apa ada apa! aku mau menanyakan sesuatu padamu. Coba ceritakan apa yang terjadi pada Adam!" Ayahku terlihat sangat marah dan tidak suka dengan Wanita itu.
Entah kenapa. Tapi, sepertinya Ayahku tidak rela jika Adam melakukan hal bodoh seperti itu demi orang yang tidak di kenal seperti dia. Dan sepertinya Ayahku mengira bahwa Wanita itu memiliki maksud yang buruk.
"Maaf sebelumnya Pak, saya sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Mas Adam kenapa-kenapa. Dan saya memohon maaf sedalam-dalamnya jika saya ini lancang terhadap Bapak. Tapi, sikap Bapak terhadap saya ini sangat kurang bisa saya terima. Saya di sini juga korban Pak saya tidak pernah meminta Mas Adam untuk menolong saya tetapi tidak dapat saya pungkiri juga Pak. Saya sangat membutuhkan bantuan seseorang pada saat itu. Dan sepertinya, Sebelum Bapak bersikap lebih buruk lagi terhadap saya. Ada seseorang yang jauh lebih pantas untuk Bapak beri pelajaran soal masalah ini."
Wanita itu terlihat kesal dengan perlakuan Ayahku terhadapnya.
-Sial!. Kenapa perasaanku mulai tidak enak.- Dalam hatiku.
"Apa maksudmu? apa kamu bermaksud untuk mengelak. Bahwa, Adam jadi seperti ini itu semua gara-gara kamu?." Wajah Ayahku terlihat semakin kesal.
"Bukan begitu, Tapi lihat dia!" Wanita sialan itu menujuk ke arahku tanpa merasa berdosa.
-BERSAMBUNG-