
"Apa! aku?" Seketika itu aku langsung berdiri.
"Ada apa denganku? apa hubungannya denganku?" Tanyaku.
"Ohh... jadi gitu, jadi kamu ngga merasa bersalah sama sekali? Ohh.. jadi perlakuan kamu ke Mas Adam tadi itu kamu anggap perlakuan yang baik?, bisa becus dikit nggak sih jadi Istri?"
-Wahh kurang ajar nih orang- Dalam hatiku.
"Maksud kamu apa ya ngomong kaya gitu sama anak saya?" Mata Ayahku memelototi Wanita itu. Dia tidak terima jika aku di hina seperti itu.
"Emang kamu itu siapa? berani banget kamu ngomong kaya gitu ke anak saya, walau bagaimanapun dia itu Istrinya Adam, punya hak apa kamu ikut campur urusan Rumah Tangga mereka!"
-Haha! Rasakan kau!- Dalam hatiku.
"Kalo kamu ngga mau cerita soal apa yang terjadi pada Adam. Ya sudah, kamu tinggal pergi saja sana kamu ingin di tolong kan? sudah kan? terus kenapa kamu masih di sini? urusanmu sudah selesai dengan Adam. Dan perlu saya tekankan sekali lagi, sekarang tanggung jawabmu akan menjadi tanggung jawab Aisyah! ISTRINYA ADAM!"
Wanita itu diam saja, ku lihat dia sepertinya semakin marah, wajahnya memerah dan kedua tangannya terlihat mengepal sangat kuat.
-Sepertinya akan terjadi perang dunia ke 7 nih.. Wah! ngga bisa di biarin!- Dalam hatiku
Aku yang tidak mau kerusuhan ini semakin berlanjut akhirnyapun segara mengambil inisiatif untuk meminta maaf kepada wanita itu. Sebenarnya aku malas untuk melakukan hal yang sia-sia seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? aku juga tidak mau namaku di cap sebagai istri yang durhaka terhadap suami sendiri di mata orang lain.
"Sudahh.. Sudahh.. Kalian apa-apaan sih, kok jadi ribut gini? kasian Adam, dia masih di tangani Dokter di dalam sana, kalian ngga mau do'ain Adam aja apa? biar cepat sembuh"
"Loh? baru sekarang perhatiaannya? dari tadi ngapain aja?"
Wanita itu membuang wajahnya dari hadapanku.
"Kamu...!!!!!"
"Udahhh Ayah! udah cukup.."
Aku mencoba menenangkan Ayahku.
Dan setelah itu.. Suasanapun berubah menjadi canggung, masing-masing dari kami tidak mau saling menatap ataupun saling berbicara. Tak lama kemudian Nadiapun datang..
"Haii Gin!" Sapa Nadia dari kejauhan.
"Iyaa kesini aja, Ruangan Adam di sebelah sini"
"Oke!"
Nadia datang di waktu yang kurang tepat, dia kebingungan dengan suasana yang canggung itu.
"Salah waktu kamu Nad!" Kataku.
"Kayanya sih gitu.."
"Ehh! ini siapa Gin?" Tanya Nadia siapa Wanita asing itu.
"Kenalin Mbak saya Clarissa temennya Mas Adam" Clarissa mengarahkan tangannya ke Nadia.
"Ohh gitu ya, aku Nadia Sahabatnya Regina, temen Adam juga" Nadia tidak membalas tangan Clarissa dan malah berpindah tempat duduk.
"Loh kok pindah Mbak? ngga mau di sebelah Saya?"
"Engga, ngga apa-apa saya lebih nyaman di sini bareng Regina"
Nadia sepertinya tidak begitu menyukai Clarissa, dia bersikap dingin sekali dengan Clarissa.
"Bau-bau pelakor deh Gin.. Hati-hati!" Bisik Nadia.
"Lah, bukannya bagus? kalo dia pengen jadi pelakor ya udah biarin aja.. Kan dengan begitu hubungan aku sama Adam bisa berantakan, Abis itu tinggal cerai aja dehh"
"iii..iyaa sihh.. Tapi, kok aku ngga suka ya sama cewek itu?"
"Aduhh sayangkuuh! kamu itu kan Sahabat aku ya udah jelas lah kamu ngga nyaman sama cewek yang mau ngrebut suami sahabatmu, meskipun sebenernya yaaa aku sih happy-happy aja.."
"iyaa yaa.."
"Oh iya! Gimana keadaan Adam?" Tanya Nadia.
"Ngga tau, Dokter belum keluar Ruangan dari tadi kayanya sih gawat"
"Apaa!!!!" Nadia berdiri dari kursi.
"iihh apaan sih Nad? tuh di liatin orang-orang, bisa ngga sih responnya biasa aja!" Aku menarik tangan Nadia supaya dia duduk kembali.
"Maaf maaf.. Aku cuma kaget aja, kok bisa sih sampe kaya gitu? emang awalnya gimana?" Tanya Nadia.
"Gak tau!"
"iihh kok ngga tau sihh?!"
"ih lagian kamu peduli banget sih Nad!, udahlah kalo kamu mau tau kamu tanya aja sama Clarissa" Kataku sedikit kesal.
Nadiapun berdiri lagi lalu berpindah ke kursi tempat Clarissa duduk.
Saat Nadia hendak duduk, tiba-tiba Dokter keluar dari Ruangan ICU.
"Keluarga pasien, Apa ada di antara kalian yang merupakan Keluarga pasien?" Tanya Dokter.
"Saya temennya Dok" Jawab Clarissa dan Nadia bebarengan.
"Saya Istrinya Dok"
Aku berdiri dan mengangkat tangan, Nadia dan Clarissapun langsung menatapku dan terdiam.
"Iyaa Dok ini Istri pasien" Kata Ayahku.
"Baiklah, Mari ikut ke Ruangan saya"
"Baik Dok" Kataku.
Aku dan Dokter itupun bergegas menuju Ruangan Dokter, Namun.. baru saja aku hendak memulai untuk mengambil langkahku yang pertama menuju Ruangan itu, tiba-tiba Clarissa mencegat langkahku dari arah depan.
"Maaf sebentar Mbak saya mau nanya penting"
-Sumpah ini orang songongnya ngga ketulungan, main cegat-cegat aja- Dalam hatiku
"Iya.. ngga apa-apa silahkan" Kataku.
"Makasih mbak.."
"Dok, ini Mas Adamnya udah bisa di jenguk apa belum Dok?" Tanya Clarissa.
"Untuk sementara ini pasien belum bisa di jenguk, nanti akan saya sampaikan lebih rinci lagi di dalam bersama Istri pasien"
"Boleh saya ikut?!"Tanya Nadia, memotong pembicaraan Clarissa dan Pak Dokter.
Aku kaget, Nadia kembali mengangkat tangannya dan berkata dia ingin ikut ke dalam Ruangan bersamaku.
Clarissapun tak mau tinggal diam.
"Iya! saya juga Dok, boleh kan?"
"Hehh! kalian apa-apaan sih? yang Istrinya Adam itu Aisyah bukan kalian, kok kalian malah ribut sih" Bentak Ayahku.
"Maaf Om, kalo aku mah cuma pengen nemenin Regina aja di dalem biar ngga sendirian Bener kan Gin?" Kata Nadia.
"Ya udah kalo mau masuk tinggal masuk aja bareng aku Nad, Ayah sama Clarissa tunggu aja di sini, ngga usah khawatir aku sama Nadia aja udah cukup kok. Ya udah, yuk masuk" Aku mengajak Nadia untuk masuk bersamaku.
Akhirnya aku dan Nadiapun masuk ke dalam Ruangan Dokter, disini di jelaskan apa saja yang terjadi kepada Adam.
Tubuh Adam luka parah dan banyak mengeluarkan darah, di bagian perut ada sebuah luka tusukan ringan tetapi cukup membahayakan jika tidak di tangani dengan benar, kata Dokter jika tadi Adam tidak segera di larikan ke Rumah Sakit atau terlambat sedikit saja.. Mungkin, nyawa Adam akan dalam bahaya.
"Lalu, apa dia juga memerlukan transfusi darah Dok?" Tanya Nadia.
"Tentu saja, seperti yang tadi saya jelaskan Pasien sudah mengeluarkan terlalu banyak darah dalam tubuhnya"
"Trus Dok, apa stock transfusi darah di Rumah Sakit ini cukup untuk Adam?" Tanyaku.
Dokter menjelaskan bahwa segala Fasilitas dan apa saja yang di butuhkan Adam di Rumah Sakit ini sudah cukup memadai, jadi kami tidak perlu khawatir dengan kondisi Adam saat ini, karna kondisinya saat ini juga sudah semakin membaik.
"Sepertinya, pasien memiliki semacam urusan atau sesuatu yang cukup berharga bagi pasien, sehingga memiliki semangat juang yang sangat tinggi, meskipun keadaan sebelumnya itu sangat menghawatirkan tetapi saat kami mencoba untuk membantunya sedikit saja, tubuhnya langsung merespon dengan baik. luka di tubuhnya juga mulai berangsur-angsur mengering, memang ini terkesan begitu singkat.. Tetapi itulah kenyataannya, sungguh! Saya akui Suami anda sangat hebat, Dia mampu bertahan sampai sejauh ini... Luar biasa sekali."
Dokter itu tersenyum padaku. Aku tidak tau harus bagaimana, apakah aku harus senang karna Suamiku adalah Suami yang kuat? Atau justru sedih? karna kesempatanku untuk lepas dari hubungan ini justru lenyap begitu saja.
"Oh ya satu hal lagi, Pasien saat ini sudah sadarkan diri.. Dan anda tau tidak apa hal yang pertama kali pasien ucapkan saat pasien mulai sadarkan diri?" Tanya Dokter padaku.
"Apa dok?"
"Aisyah.. Aisyah.. Aisyah.. Dari sini bisa saya tarik kesimpulan bahwa, Pasien itu sangat menyayangi anda, anda patut bersyukur karna telah beruntung sekali telah mendapatkan lelaki yang tulus menyayangi anda"
"Ohhh.. Gitu ya Dok, iya saya juga merasa beruntung sekali sudah memiliki Adam sebagai suami saya" Jawabku.
-Apaan sih Adam bikin malu aja- Dalam hatiku.
"Ya udah Dok, kita keluar dulu ya Dok kita mau langsung menjengkuk Adam"
"Iya silahkan.."
Aku dan Nadia berdiri dan beranjak pergi dari Ruangan itu.
Ku lihat wajah Nadia terlihat begitu pucat dan lemas, aku sangat khawatir di kenapa-napa.
"Nad! Nad! kamu kenapa? kok pucat gitu?"
"Engga ko.. Aku ngga papa, cuma agak pusing aja kayanya aku sedikit ngga enak badan, ehhh.. Udah jam Satu siang toh? aku pulang duluan aja yaa, aku mau istirahat trus bobo di Rumah"
Nadia tersenyum padaku lalu pergi begitu saja.
-Nadia mungkin sedang kelelahan-Dalam Hatiku
Akupun langsung menuju ke Ruang ICU menemui Ayahku dan Clarissa.
-BERSAMBUNG-