
Di sisi lain, akupun akhirnya sampai di tempat tujuan..
Aku sudah sampai di dalam Rumahku.
Saat aku memutuskan untuk langsung masuk ke dalam Kamar dan duduk di atas Tempat Tidur..
Aku teringat tentang semua hal yang sudah aku bicarakan dengan Ayah..
Aku langsung mengambil Tellphone genggam, yang sudah aku simpan di dalam tas yang selalu aku bawa-bawa.
Segera, setelah itu aku mulai berniat untuk membicarakan kabar baik itu pada Nadia.
Saat aku menyampaikan padanya lewat Tellphone.. Nadia terlihat sangat senang, dan penuh semangat.
"Ya, aku sudah mendengar kabar baik itu juga dari Rudi.. Aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya, sahabatku yang paling aku sayangi ini akan segera terbebas dari beban menyakitkan itu!" Nadia terdengar gembira, melompat-lompat di atas kasurnya sambil tertawa.
tiba-tiba.. Aku mendengar suara tangisan seseorang.
Suara tawa yang terdengan sangat manis itu, berubah menjadi suara tangisan yang sangat menyayat hati.
Suara yang terdengar sangat tidak asing itu adalah Nadia..
Dia menangis tersedu-sedu, setelah sempat tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya.
Dia sepertinya merasa sangat senang, sekaligus terharu atas nikmat Tuhan yang telah ia berikan pada kami semua, selama ini.
Dan Nadia mungkin juga tengah merasa sangat bersyukur, karna harapan baiknya kali ini juga berjalan dengan sangat-sangat lancar.
Itu adalah bukti kasih sayang yang sangat luar biasa suci dan tulus dari Nadia, untukku.
Aku benar-benar beruntung bisa memiliki seorang sahabat, yang sangat memperdulikanku melibihi segalanya.
Akupun tersenyum.. Membayangkan ikatan kami berdua yang semakin erat setiap waktu.
"Aisyah..."
"Ya?"
"Terimakasih banyak!"
Kata terimakasih itu tiba-tiba tertuju padaku.
Aku sangat terkejut, dan merasa senang mendengarnya.
Dia begitu murah hati tak terkira.
"Untuk apa?" Tanyaku.
"Untuk semuanya.." Nadia, kembali tersenyum.
Harusnya, akulah yang harus berterimakasih atas segalanya yang telah dia lakukan, selama ini.
Dedikasi, serta perhatiannya yang tak pernah surut sedari dulu.
Selalu aku apresiasi sepanjang masa..
Ketika aku lelah, dia selalu ada untukku.. Ketika aku jenuh, dia selalu ada menemaniku.. Dan ketika aku sedang merasa sedih, dia selalu ada sebagai penyemangatku.
Rasanya, aku ingin menangis juga bila memikirkan itu semua.
Aku sangat menyayanginya!
Aku sangat-sangat menyayanginya!
"Tidak!"
"Akulah yang seharusnya berterimakasih atas segalanya.. Untuk itu! TERIMA KASIH BANYAK!" Seruku.
Luapa air mata itu tak sanggup lagi aku tahan..
Akhirnya! suasana penuh haru itupun mencuat ke permukaan.
Kami berdua menangis sekencang mungkin, sedalam mungkin, dan sepuas mungkin.
Perasaan kami saat ini, telah terhubung satu sama lain..
Kami berdua berjanji, kami akan mewujudkan semua mimpi-mimpi kami.
Kami berdua bersumpah, akan meraih harapan kami berdua bersama-sama!
"Ya sudah, nanti aku hubungi kamu lagi.. Sudah, jangan menangis lagi, ya!"
Akhirnya, akupun menutup Tellphoneku.
Aku tidak ingin suasana yang penuh haru itu semakin menyesakkan batinku ini.
Tak tahan lagi aku menahannya terlalu lama..
Akupun mencoba untuk menenangkan diri, dengan merebahkan tubuhku di atas Kasur di dalam Kamar Tidur.
Aku merentangkan tanganku selebar-lebarnya.
Lalu, menatap langit-langit, sambil terus membayangkan wajah Nadia.
****
(Huhhuhhuhhhuuhu) Suara tangisan itu semakin kencang.
"Aku sangat bahagia bisa mewujudkan semua mimpi kami bersama-sama" Nadia duduk di atas Kasur, menangis di dalam Kamarnya.
Dia menghapus Air matanya dan tersenyum.
"Haha! Tapi bo'ong!!" Serunya.
Alexas yang sedari tadi berdiri di samping Nadiapun tersenyum padanya dan bertepuk tangan.
"Hahaha! akting yang sangat bagus sayang..!" Alexas menggeleng-gelengkan kepala sembari berputar-putar di dekat Nadia.
Nadia melemparkan Tellphone genggamnya kepojok kamar.
(Prakkk!!)suara Tellphone genggam yang rusak dan pecah terbentur tembok.
Dia melirik ke arah Alexas, dengan wajah sinis dan juga dingin.
Alexaspun menghentikan langkah kakinya, tepat di depan Nadia.
Nadia turun dari Kasur, dan berdiri di depan Alexas..
Sekarang, posisi mereka tepat saling berhadap-hadapan.
Saat pulang dari Caffe beberapa waktu yang lalu, Alexas membuat janji untuk bertemu di kamar Nadia..
Meskipun, awalnya Nadia menolaknya dengan keras.
Tapi Alexas tetap saja nekat menemuinya di depan Rumah.
Untuk menghindari hal itu dapat di ketahui oleh dari orang lain..
Dan supaya nama baik keluarga Hellena tidak tercoreng, karna Putri semata wayang mereka terlihat membawa seorang pria asing untuk masuk kedalam Rumah mewahnya.
Akhirnya Nadia memutuskan untuk meminta Alexas untuk bertemu dengannya di sebuah Hotel mewah dekat pinggiran kota Jakarta, Hotel Cempaka Perak.
"Jadi, disinilah kita sekarang.." Alexas memandang Nadia dengan mata penuh hawa nafsu yang membabi buta.
Nadia tersenyum..
"Apa kau datang kemari untuk menukarkan sebuah Mata Uang dengan sesuatu yang lebih baik?" Tanya Nadia.
Alexas tadinya hanya ingin meminta Uang itu secara langsung, dengan menemui Nadia..
Tapi, sepertinya Nadia sedang menawarkan sesuatu yang lebih menarik.
"Ya.. Aku memang menginginkan sesuatu yang lain" Liriknya.
Nadia kembali tersenyum, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Alexas, sembari mendekatkan tubuhnya dengan Alexas.
"Hari ini aku sedang bergembira.." Kata Nadia, sembari menggigit bibir bagian bawahnya, dan terus menatap mata Alexas.
Tinggi tubuh Nadia dengan Alexas, hanya selisih satu jengkal saja..
Itu bisa terlihat saat dia begitu dekat, tinggi Nadia terlihat hampir sejajar dengan tinggi letak telinga Alexas.
Melihat hal itu, nafsu gairahnyapun semakin tidak bisa di tahan.
Alexas langsung memegang pinggul Nadia, dan menariknya untuk lebih dekat lagi dengan tubuhnya.
Sekarang, tubuh mereka berdua sudah saling menempel satu sama lain.
Saling menggesek-gesekan hidung mereka, dan saling menatap mata..
"Aku tau kau ingin menukar Uang itu dengan bersenang-senang denganku, kan?"
"Aku juga sering melihatmu berpergian dengan beberapa pria tampan, di berbagai daerah untuk memuaskan hasratmu" Lanjutnya..
Nadia memejamkan matanya dan meletakan kepalanya, bersandar di tubuh Alexas.
"Jadi, kau melihatnya ya?"Tanya Nadia.
Selama ini, ternyata Nadia diam-diam sudah melakukan sebuah hubungan terlarang dengan beberapa pria tampan, tanpa sepengetahuan siapapun.
Namun, Alexas berhasil mengetahuinya..
Saat, dia sedang berjalan berdua dengan pacarnya yang lain..
Dan melihat Nadia dengan pria asing, sedang memasuki sebuah Hotel prostitusi di sebrang jalan raya (jalan rahasia, hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu).
"Itu sebabnya, dari awal aku lebih tertarik padamu dari pada tertarik dengan wanita bodoh itu!"Jawabnya.
Alexas mendorong pinggul Nadia dan menjatuhnya di atas Kasur.
Nadiapun terjatuh dengan posisi terlentang, dengan setengah tubuh yang masih menggantung ke lantai (bagian lutut kebawah).
Nadia yang saat itu hanya mengenakan sebuah baju pendek bermodel tangtop tipis berwarna pink, dan sebuah rok mini bermotif kotak-kotak yang lebar, berwarna merah maroon.
Telah membuat mata Alexas tak bisa berhenti untuk memandanginya.
Nadia hanya menggigit jari kanannya, sembari tersenyum melihat wajah mesum Alexas dari bawah.
Tanpa basa-basi, Alexas langsung menyentuh wajah Nadia, perlahan mulai mengelus-elus pipi Nadia sampai ketelinganya..
Meletakan pandangannya pada kedua gunung kembar itu..
Dan menggerayapnya dengan ganas.
Dia menarik bagian tengah baju Nadia kedua arah yang berlawanan, merobeknya, dan mencium gundukan itu sekuat tenaga.
Baju yang sangat tipis, terlihat menerawang itupun..
Sangat mudah ia taklukan.
Dia melihat mata Nadia yang terlihat merem-melek.
Sepertinya, tidak ada masalah dengan hal itu..
Alexas langsung berfikir untuk melakukan hal lain, yang lebih berani.
Setelah puas, bermain-main dengan bagiannya..
Bibir yang sedikit kasar itupun langsung berpindah tempat menyentuh bibir Nadia.
Alexas mengelumat seluruh bibir Nadia dengan ganas dan lembut.
Berputar-putar di dalam mulut, dan membuat mulut Nadia terasa sangat penuh kenikmatan.
Tangan kirinya, bermain-main dengan yang lain..
Sedangkan tangan kanan Alexas mencengram rambut Nadia, membuat dia sedikit kesakitan.
Tangan Nadia terus mencengkram sepray, dan berkali-kali harus menahan bibir Alexas untuk mengambil Nafas.
-Ah.. Sial, aku sama sekali tidak di beri jeda waktu sedikitpun, untuk mengambil nafas- Dalam hati Nadia.
Semua yang ada di antara mereka berdua terlepas begitu saja..
Kenikmatan yang tiada tara, telah mereka rasakan saat ini.
Tidak peduli dengan dosa yang harus mereka tanggung, mereka mencapai sebuah kenikmatan surgawi itu saat mereka masih hidup di dunia.
Nafas Nadia mulai terengah-engah, kenikmatan itu sudah mencapai batas maksimal.
Sentuhan demi sentuhan yang dia rasakan, terasa sangat nikmat dan elegan.
Ya! Nadia mulai menyukai sikap Alexas yang sangat agresif ketika sedang menyentuhnya.
Begitupun dengan Alexas, dia juga sangat menyukai respon tubuh Nadia.. Yang sangat mahir dalam memainkan perannya.
-Kenapa tidak dari dulu saja, aku melakukan ini dengannya- Dalam hati mereka berdua.
Ini adalah kemenangan besar bagi Alexas, dia bisa menukarkan sebuah kenikmatan.. Hanya dengan beberapa Uang yang tidak bernilai.
-Ah, uang itu bisa aku minta lagi kapan saja.. Untuk saat ini, aku hanya ingin menyentuhnya dan merasakan keindahan tubuhnya-Dalam hati Alexas.
Kegiatan yang cukup menguras keringat.. Sangat memompa banyak Nafas keluar dari hidung dan mulut itupun, berlangsung cukup lama..
Alexas berencana untuk meninggalkan beberapa tanda bibirnya di beberapa tempat tertentu..
Dengan harapan, semoga Nadia bisa segera merindukan pemilik tanda bibir itu.. Dan segera menemuinya kembali.
****
#Adegan ini di buat saat bulan Ramadan..
#Jadi Author minta maaf, jika konten Author yang satu ini sedikit berlebihan..
#Author sadar Author salah, tapi ini adalah bagian dari cerita itu sendiri..
#Akan sangat aneh dan tidak menarik nantinya, jika di cut dari sini..
#Terima_Kasih, atas pengertiannya♥