The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Kepolosan, Keluguan, Dan Kebodohan Putri Ayah!



Hati yang telah bergemuruh, membuatku semakin terasa tidak nyaman dan ingin segera pergi dari pintu Ruangan itu.


Aku kembali menapakan kedua kakiku secara bergantian.


Dengan lebar berlari menyusuri koridor demi koridor Rumah sakit, setapak demi setapak, melalui banyak detik demi detik..


Berlarian kesana kemari mencari dimana keberadaan Ayahku berada.


Dengan jantung yang masih terasa berdebar hebat, aku turut mengabaikannya perlahan-lahan.


Fokusku hanya memandang dan memperhatikan seluruh area di Rumah Sakit itu..


Lantai 1, lantai 2, lantai 3, sampai pada lantai teratas hingga terbawahpun sudah aku cek satu persatu.


Namun, aku sama sekali tak kunjung menemukan keberadaan Ayahku.


"Sebenarnya di mana dia?!" Aku mulai menggerutu, dan mulai merasa tidak sabar.


Aku sudah mengecek seluruh Rumah Sakit termasuk bertanya pada para Petugas di sekitar sana.


Namun..


-Aku tidak menemukan dia dimanapun!- Dalam hatiku.


Akupun segera melanjutkan pencarianku di area yang lain.


Yups!! aku mencarinya keTaman..


Taman adalah sebuah tempat yang paling nyaman.


Apa lagi jika kita berada di bawah sinar mentari yang panas..


Di kelilingi dengan bunga warna-warni nan cantik dan juga wangi.


Di tengah Taman itu, ada sebuah Pohon Rindang yang sejuk bercampur dinginnya angin sepoy-sepoy yang mampu menenangkan jiwa yang resah.


Siapa yang tak mengenal tempat senyaman itu?..


Meskipun, aku tak begitu yakin Ayahku ada di sana, tengah menikmati kenikmatan Tuhan yang maha sempurna itu.


Tapi, tidak ada salahnya juga aku coba mengecek tempat itu sekarang!


Akupun segera menuju Taman Asri di depan Rumah Sakit itu dengan cepat.


Kulihat orang-orang menikmati pemandangan dengan wajah yang riang dan penuh kebahagiaan..


Aku segera menubruk Pohon Rindang itu sedini mungkin.


Karna, kufikir hanya di area itulah.. Orang-orang Classic seperti Ayahku yang sangat menyukai ketenangan dan ketentraman sejati, berada.


Tempat lain terlalu ramai!


Aku sendiri bahkan sangat tidak menyukainya.


Tapi, jika di bawah Pohon besar di tengah taman itu..


Selain kita bisa menatap orang lain dari kejauhan, kita juga dapat memperhatikan mereka semua hanya dengan berduduk santai di atas kursi, yang sudah ada di bawah Pohon tersebut.


Lantas, bagaimana orang lain?


apakah tidak ada orang lain yang akan mengganggu kita, sewaktu kita menikmati hari-hari kita berada di dekat Pohon?


Entahlah, tapi.. Jika ada bunga indah di taman.


Maka, mana mungkin kau akan mengabaikannya begitu saja.


Jika ada yang lebih menarik di Taman itu.


Maka, mana mungkin kau akan tertarik dengan kenikmatan yang terkesan sepele seperti itu.


Kau bisa menikmati manisnya bunga-bunga itu di bawah sinar mentari, bukan?


Tapi, Ayahku tidak suka bunga.


Begitulah.. aku mengambil kesimpulan sederhananya.


-Ayolah! jangan memaksaku berfikir yang terlalu rumit seperti itu!- Dalam hatiku.


Saat penubrukan (haha! penubrukan!) itu berlangsung..


Aku melongok ke depan, tepat dimana tempat duduk itu berada.


Kulihat ada seorang pria berkepala lima di balik Pohon..


Sedang duduk bersandar pada kursi Taman, dengan Tellphone genggam yang dia letakkan di telinga kanannya.


"Itu hadiah untukmu!" Suara itu sangat terdengar jelas di telingaku.


-Ayah! sedang apa dia duduk di balik Pohon, seperti ini?- Dalam hatiku.


Aku semakin mendekatkan tubuh dan telingaku, supaya aku dapat lebih jelas mendengarkan percakapan dia di Tellphone dengan seseorang.


"Sial! aku sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa!"


Angin yang sepoy-sepoy, tiba-tiba berubah menjadi angin yang lebih ganas dari biasanya..


(Wuuuusssshhhh) (Wuussssshhhh) (Wuuuuusssshhhhh)...


Suara angin kencang, menerjang tubuhku dengan kasar dari arah depan.


"Aawwwcchhhhh!!!" Aku berteriak..


Angin tadi telah membuat tubuhku sedikit bergeser.


Aku melindungi diriku dari terjangan kencang itu dengan cara memegang Pohon di depanku sekuat tenaga.


Namun, sangat naas! saat aku memegang badan Pohon itu dengan kuat..


Jariku tergores bagian kulit kayu yang sudah mengelupas.


Terlihat, setengah dari kulitnya memang masih cukup kuat melekat pada badan Pohon yang kokoh.


Kulit yang kokoh lagi keras, serta tajam itu telah melukis luka di jari manisku, hingga tersayat cukup dalam.


Saat aku tetap mencoba untuk mengabaikan lukaku dan kembali memperhatikan Ayahku dari balik Pohon.


Ternyata, aku sudah benar-benar tidak dapat mendengar apapun dari sana.


Ayahku telah menutup Tellphonenya, dan menyadari kedatanganku di sekitarnya.


Ayah segera menghampiriku setelah dia melihatku terus memegang tangan kananku yang terluka itu.


Dan bertanya...


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Aisyah nggak apa-apa kok, cuma kegores dikit"


Sebenarnya aku sedikit berbohong, rasanya benar-benar perih sekali!


Darah segar murni milikku ini tak mau berhenti menetes dan merembas keluar dari jari-jemari.


Warnanya merah darah, dan terlihat sangat gelap!


Aku adalah anak orang yang sangat kaya raya di Ibu Kota Jakarta.


Ku kira, darahku itu akan berwarna biru seperti kata orang-orang kebanyakan. (Aisyah putri Sultan! berdarah Biru, keturunan orang super kaya raya!)


Ahh..!! ternyata sama saja, darahku itu berwarna merah!


Aku jadi semakin penasaran dengan darah biru milik para Anak Sultan asli di luaran sana...


Jika aku yang biasa di sebut Anak Sultan oleh banyak orang ini tidak juga memiliki darah biru, seperti yang mereka katakan.


Maka mungkin aja, darah Biru hanya bisa di dapatkan / di miliki oleh Anak Sultannya para Sultan!


Ya Tuhan.. Otaku terasa benar-benar buntu!


Aku mulai gila memikirkan hal itu..


Tapi, jika aku terus membahas lukaku yang tidak penting ini..


Maka, aku tidak akan punya kesempatan untuk berbicara pada Ayah, mengenai maksud dari pembicaraannya di Tellphone tadi.


Tentu saja aku menolaknya!


Aku menarik tanganku kembali..


"Aku tidak apa-apa! ini cuma luka kecil.. Lagipula, ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengan Ayah..!"


Aku melangkah melewatinya, duduk di Kursi Taman, lalu mengambil Handsaplas dari dalam tas dan membalut lukaku.


Ayah terlihat membengong..


-Apa dia mendengar semua pembicaraan kami?!- Dalam hati Ayah.


Pasti ada banyak tanda tanya di dalam kepalaku ini..


Aku ingin mengetahui segalanya, Segera!


Dengan tangan yang gemetaran dan keringat menetes dari dahi, menembus pelipis, dan berlenggak lenggok di atas pipi Ayah yang lembab itu.


Ayah mencoba untuk tetap tenang, terutama ketika duduk di sampingku.


Tanpa basa-basi..


Aku memulai pembicaraan itu dengan pertanyaan yang tidak bisa di katakan (Ringan).


"Apa yang Ayah lakukan disini?" Tanyaku, dengan nada serius dan mata dingin yang menakutkan.


"A-ayah...."


"Katanya sakit! kok malah nyantai di tempat seperti ini?"


"A-ayah...."


"Ayah tau kan Aisyah ini sangat khawatir dengan keadaan Ayah!"


"Maaf, tapi tadi Aya-h...."


"Kenapa keluyuran sendirian seperti ini?"


Aku terus memotong perkataanya, dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, dan kurang penting.


Ya, maaf...! kepolosan dan kebodohanku ini memang terkadang suka kebangetan, dan sudah berada di luar nalar.


Baru sebentar aku memikirkan soal pertanyaan berbobot itu di dalam otakku.


Kenapa, dengan cepat aku justru mengacaukan segalanya dengan mudah...


Kasih sayangku terhadap Ayah sudah terlalu membutakan mataku.


Aku tidak dapat membedakan mana yang harus di utamakan dan mana yang harus di abaikan.


Aku memeluk tubuh Ayahku.


Aku menangis di pelukannya, sambil terus bertanya pertanyaan tidak penting seperti tadi tiada henti.


Ayah tersenyum..


-Bagaimana aku bisa lupa bahwa putri kesayangku ini sangat polos dan juga lugu!..


Di banding harus memikirkan hal-hal yang rumit di kepalanya.. Tentulah dia akan lebih memilih untuk menghawatirkan Ayah kesayangannya ini terlebih dahulu- Dalam hati Ayah.


Ayahkupun lantas membalas pelukan itu dengan erat.


Dia menyandarkan kepalanya di atas kepalaku dan mengelus kepalaku dengan tangan kirinya.


Ayah tersenyum sembari menutup kedua matanya.


"Gadis luguku sudah sangat besar ya sekarang.." Katanya.


Ketenangan yang bersumber dari luapan kasih sayang di antara kami benar-benar sangat terasa sekali.


Kebersamaan yang tak pernah berkurang karena waktu, kehangatan yang tak pernah bisa berhenti berkobar di antara kami..


Sungguh, ini adalah sebuah ikatan antara Anak dan juga Ayah yang sesungguhnya.


Aku melepas pelukanku dan kembali duduk menghadap kedepan.


Ayah membuka matanya dan tersenyum padaku.


Sendangkan aku? karna kata-kata legend (lugu) itu keluar dari bibir manis Ayah.


Aku telah mengingat tujuan awalku yang sesungguhnya.


"Apa aku boleh melanjutkan pertanyaanku?"


Ah! beruntungnya..! keluguan dan penyakit pikunku itu kali ini tidak berlangsung lebih lama dari biasanya! aku ingat semuanya.


Wajah Ayah yang tadinya terlihat senangpun berubah kembali menjadi tegang.


-Ternyata kebodohan putriku hanya sampai disini saja, ya? merepotkan sekali!- Dalam hati Ayah.


"Ayah pikir aku ini lupa?"


Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa Ayah disini?"


"A-ayah..."


Aku semakin curiga dengan tingkah anehnya itu.


Dia terus saja berbelit!


"Selamat sore Pak Regian!" Sapa Sekertaris Ken.


Kedatangan Sekertarin Ken yang sangat tidak diduga-duga itupun, membuat kami berdua kaget dan bingung.


Tapi,....


"A-hah iya! ini..." Ayah menarik tangan Sekertaris Ken untuk duduk di samping kanannya.


Kesadaran Ayah lebih dulu muncul sebelum aku.


"Pak, maaf! ada ap--" Suara itu terhenti..


Diam-diam, Ayah mencubit paha Sekertaris Ken dengan cukup keras.


Seketika itupun, wajah Sekertaris Ken terlihat sangat kaku dan memerah, menahan rasa sakit di pahanya.


Ayah mengedip beberapa kali kearahnya, sebagai isyarat bahwa dia membutuhkan bantuan Sekertaris Ken.


Seketika itupun Sekertaris Ken langsung faham.


Lantas dia berbisiki lirik ketelinga Ayah..


"Iya pak saya faham.. Tolong..! ini sakit..!!"Pintanya.


Ayahpun melepas cubitannya.


Kedatangan Sekertaris Ken yang tiba-tiba itu sudah menolongnya beberapa kali.. Termasuk hari ini.


Dia adalah Sekertaris kebanggaan Ayahku.


Ku dengar, dia sudah tidak bekerja lagi dengan Ayahku.


Tapi, entahlah! melihat mereka masih sedekat ini, saling sapa dan masih terlihat sibuk dengan urusan mereka.


Sepertinya, hal itu hanya omong kosong belaka.


Sekertaris Ken masih sangat setia dengan Ayah.


"O-ohh... Ayah disini menunggu Sekertaris Ken?" Dengan polosnya aku percaya perkataan Ayahku.


"I-iya.. hahaha!(tertawa aneh)"


Ayah menepuk-nepuk pundak Sekertaris Ken dengan kasar sambil sesekali melirik ke arahnya.


"Ada beberapa hal yang ingin Ayah bicarakan di tempat ini bersama Sekertaris Ken. Setelah Ayah selesai memeriksakan diri" Lanjutnya.


Penyakit Kepolosan yang sudah mendarah daging itu, mulai menggerogoti otak dan seluruh unsur di dalam tubuhku.